Oleh: hurahura | 23 Februari 2017

Bicara Masjid Istiqlal, Harus Mengenang Wilhelmina Park

pameran-01Pameran Arsip Sejarah Istiqlal (Dokpri)

Dalam rangka merayakan milad ke-39, Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengadakan Pameran Arsip Sejarah Istiqlal pada 22-27 Februari 2017. Selain berupa arsip yang tidak pernah dimuat media mana pun, ada juga dokumentasi gambar dan foto seputar masa pembangunan Masjid Istiqlal. Misalnya suasana sekitar Wilhelmina Park atau Taman Wilhelmina, tempat Masjid Istiqlal sekarang.

Dari foto-foto lama itu diketahui, dulunya di Wilhelmina Park pernah berdiri Monumen Perang Aceh. Saat pembangunan Istiqlal, monumen itu dihancurkan. Begitu juga dengan benteng pertahanan yang pernah ada di Wilhelmina Park. Alasan penghancuran, ingin menghapus sejarah kelam bangsa Indonesia. Jadi bicara Masjid Istiqlal, kita harus mengenang Wilhelmina Park.

Koleksi lainnya berupa potongan surat kabar tentang sayembara perancangan Masjid Istiqlal. Arsip mengenai sejarah pembangunan Masjid Istiqlal merupakan koleksi Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional.


Toleransi

Menurut Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, diharapkan pameran ini bisa menguatkan rasa kebhinekaan, rasa saling pengertian dan toleransi antarumat beragama, serta menimbulkan kesadaran jati diri bangsa Indonesia. “Pameran ini merupakan langkah awal mengenalkan kebudayaan bangsa dari keberadaan masjid. Mendatang, akan diadakan festival dan pameran serupa di masjid-masjid tua di Jambi, Aceh, dan Ternate, serta daerah lainnya.

pameran-02

Pengumuman sayembara perancangan Masjid Istiqlal 1955 (Dokpri)

Hilmar juga menuturkan, adanya keragamaan dan toleransi tercermin dari bentuk Masjid Istiqlal, rancangan dari arsitek Indonesia, Friederich Silaban, yang beragama Kristen Protestan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy bersyukur mendapat amanah untuk terlibat dalam milad Masjid Istiqlal yang ke-39. Kata dia, pelestarian budaya merupakan program Kemdikbud.

“Kita akan gali terus kekayaan khasanah kebudayaan kita. Kita rawat dan fungsikan kembali sebagai sarana budaya untuk meningkatkan kebudayaan negara kita,” kata Muhadjir. Salah satunya untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui budaya yang telah dijadikan industri wisata. Sebab industri wisata merupakan salah satu andalan produksi ekonomi nasional. Demikian news.metrotvnews.com.

pameran-03

Monumen van Heutsz yang dihancurkan (Dokpri)

Muhadjir menambahkan, perayaan Milad Istiqlal ini bakal dijadikan festival tahunan. Selain fungsi spiritual, potensi wisata gedung masjid yang dibangun pada 1961 itu perlu ditingkatkan manfaat nilai ekonominya.”Festival Istiqlal akan kita jadikan tahunan. Kita ambil angle yang beda agar tidak monoton. Istiqlal harus menjadi simbol inklusivisme,” ujar dia.

Pameran ini menghadirkan pula beragam koleksi mulai dari lukisan, mushaf Al-Quran, hingga kaligrafi. Beragam objek yang dipamerkan itu merupakan pinjaman dari Galeri Nasional, Museum Nasional, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Sejarah, serta Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Koordinator acara ini adalah Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: