Oleh: hurahura | 23 Februari 2012

Ekspedisi Cincin Api: Jejak Bencana di Borobudur

Kompas/Bahana Patria Gupta

Pekerja di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, membersihkan abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Merapi.

KOMPAS, Sabtu, 18 Feb 2012 – Sekitar 198 tahun lalu, Perwakilan Serikat Dagang Inggris di Hindia Timur, Letnan Gubernur-Jenderal Sir Stamford Raffles mendapat kabar ditemukannya monumen kuno yang sangat besar di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Namun, Raffles yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Semarang, Jawa Tengah, pada 1814 itu tidak bisa mengunjungi Candi Borobudur.

Ia kemudian mengirim anak buahnya, seorang insinyur Belanda bernama Cornelius, untuk melihat Candi Borobudur. Raffles, yang sangat tertarik dengan kebudayaan dan sejarah Jawa, menginginkan informasi lebih detail mengenai temuan baru itu. Cornelius dikirim karena dia berpengalaman menelusuri benda-benda antik di Pulau Jawa. Atas bantuan insinyur Belanda itu, Raffles mengumpulkan data sejarah dalam perjalanannya ke sejumlah kota di Jawa saat Inggris menguasai Nusantara tahun 1811-1816.

Cornelius tiba di Bumisegoro dan mendapati Candi Borobudur dalam keadaan rusak. Sebagian bangunan tertimbun dan semak belukar menyelimuti karya besar peradaban Buddha abad ke-9 itu. Sekitar 200 warga desa dikerahkan untuk memotong pepohonan, membakar semak belukar, dan menggali tanah yang mengubur kaki candi.

Pembersihan baru selesai dalam dua bulan. Sebagian kaki candi tidak bisa digali karena bangunan rawan roboh. Selama pembersihan Candi Borobudur, Cornelius menyusun laporan untuk Raffles disertai sketsa bangunan kuno itu.

Dalam Chandi Borobudur: A Monument of Mankind, 1976, Sukmono menyebutkan bahwa penemuan Candi Borobudur tidak dibahas secara detail oleh Raffles dalam dua buku mengenai Jawa. Pekerjaan membersihkan candi oleh ratusan pekerja selama dua bulan juga tidak dibahas lengkap. Dalam karya besarnya, History of Java (1817), hanya ada beberapa kalimat yang menyinggung Borobudur.

Kondisi Candi Borobudur setelah disingkap oleh Cornelius bisa dilihat dalam foto-foto lama di Studio Sejarah Restorasi Candi Borobudur di kompleks Taman Candi Borobudur, Magelang. Candi yang memiliki enam tingkat teras berbentuk persegi dan tiga tingkat berbentuk melingkar itu berada dalam keadaan rusak parah sebelum direnovasi selama empat tahun, 1907-1911. Lantai teras melengkung bergelombang akibat gempa, batu-batu penyusun stupa berjatuhan dan berserakan di lantai teras.

Di tingkat Arupadhatu, lantai 8, 9, dan 10, kerusakan sangat parah. Stupa utama yang merupakan puncak Borobudur menyisakan rongga menganga karena batu-batu penyusunnya berjatuhan. Stupa di sekeliling stupa utama juga runtuh sebagian. Jejak kerusakan candi yang tersusun dari 55.000 meter kubik batu vulkanis itu diyakini oleh sejumlah ahli kebumian sebagai akibat gempa bumi. Hanya kekuatan tektonik dalam skala besar yang mampu melipat teras bangunan candi dengan perhitungan konstruksi detail itu.

Selain membuat lantai candi bergelombang, gempa menyebabkan batuan penyusun candi berantakan. Padahal, batu-batu penyusun itu sudah diperkuat dengan kuncian, seperti tipe ekor burung, takikan, tipe alur dan lidah, serta tipe purus dan lubang.

Borobudur yang dibangun di sebuah bukit yang menjorok ke danau purba itu ditinggalkan kemudian terselimuti debu vulkanis dan material lahar dari gunung api yang mengelilinginya: Merapi, Sindoro, dan Sumbing. Material vulkanis itu menjadi media tumbuhnya semak belukar yang membelit bangunan kuno sehingga hilang ditelan waktu.

Lahar gunung api yang mengalir antara lain melalui Sungai Progo, Tangsi, dan Pabelan mengendap di danau yang menjadi muaranya. Jejak lapisan lahar itu ditemukan dalam penelitian Helmy Murwanto, geolog pada Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta. Lahar berselang-seling dengan endapan lempung hitam yang kaya bahan organik dari tumbuhan air.

Lempung hitam endapan danau purba itu juga mengandung fragmen batu apung hasil letusan gunung api. Endapan danau purba itu tersingkap jelas di Sungai Sileng di dekat Candi Borobudur.

”Endapan lahar dan fragmen batu apung dalam lempung hitam ini menunjukkan danau purba Borobudur sudah diganggu oleh aktivitas vulkanis,” ujar Helmy.

Borobudur berdiri di atas sebuah bukit yang membentuk tanjung di danau purba sehingga tidak terkubur. Borobudur rusak akibat proses tektonik yang melepaskan energi melalui sesar-sesar yang membentuk alur sungai Tangsi, Progo, dan Sileng. Sesar-sesar itu sebagian sudah ada sebelum Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi, pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, tahun 750-850 Masehi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori