Oleh: hurahura | 3 November 2012

Fatahillah, Pahlawan atau Penjahat? (4 – Habis)

Warta Kota, Rabu, 31 Oktober 2012 – Identifikasi tokoh Fatahillah memang merupakan perdebatan akademis yang belum mencapai titik temu hingga kini. Hal itu menjadi rumit karena sumber-sumber yang tersedia masih terbatas. Umumnya sumber untuk mengetahui Fatahillah dan tokoh-tokoh lain adalah jenis historiografi tradisional yang bersifat mitologis, legitimatif, dan etnosentris. Dengan demikian kebenarannya masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Begitu pula pendapat Ridwan Saidi. Malah tokoh masyarakat Betawi ini, sebagaimana yang dia sampaikan beberapa tahun lalu dalam sebuah diskusi publik, menganggap Fatahillah bukan seorang ulama yang membebaskan Jakarta. Sebelum Fatahillah datang, sudah ada 3.000 orang Betawi yang Muslim. Bahkan ketika Fatahillah datang menyerbu kota ini, dia membumihanguskan kampung-kampung Muslim Betawi.

Atas dasar inilah Ridwan berpendapat Fatahillah adalah penjahat. Menurutnya, Fatahillah lebih tepat disebut sebagai pahlawan Muslim Cirebon, bukan Muslim Jakarta. Kedatangan Fatahillah berikut pasukannya dari Cirebon pada tahun 1527 semata-mata untuk merebut pelabuhan Kalapa. Ribuan unit rumah Muslim Betawi yang dibakar Fatahillah itu berada di Mandi Racan, Pasar Ikan.

Sayang hingga saat ini belum ditemukan sumber tertulis dan sumber tak tertulis (peninggalan arkeologi) yang memberikan informasi tentang tokoh-tokoh yang berhubungan dengan sejarah Jakarta itu. Penelitian paling mutakhir dilakukan Dadan Wildan (2001) untuk bakal disertasinya, Ceritera Sunan Gunung Jati; Keterjalinan antara Legenda dan Fakta. Umumnya naskah-naskah yang ditemukan berasal dari masa sekitar satu setengah abad setelah Sunan Gunung Jati wafat.

Memang ada beberapa sumber asing, seperti berita Portugis dan arsip Belanda. Namun belum ada kajian mendalam tentang sumber-sumber tersebut. Sayang, lahan Jakarta dan sekitarnya sudah banyak tertutup atau hilang oleh pembangunan fisik yang tidak terkontrol. Dengan demikian penelitian arkeologi sulit terlaksana. Sudah jelas generasi sekarang dan generasi mendatang yang dirugikan karena infornasi sejarah yang diperoleh menjadi tidak lengkap. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: