Oleh: hurahura | 5 Juli 2012

Batu Nisan di Kalibesar Barat (2 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 5 Juli 2012 – Untuk melengkapi kongres, panitia menyelenggarakan sebuah pameran dari berbagai ras Hindia Timur. Di depan hotel, cerita Yoshichika, penuh sesak dengan para wanita, pria, dan anak-anak yang memakai sarung batik berwarna-warni sambil memegang payung merah. Sado atau delman masih banyak berseliweran di jalan. Para peserta kongres kemudian melakukan karya wisata ke Pulau Krakatau.

Setibanya kembali di Batavia para peserta disambut pawai dan tarian tradisional. Acara tersebut diadakan di alun-alun taman hiburan Dieren-Tuin, di sebelah Taman Ismail Marzuki, Cikini sekarang. Penyelenggaranya adalah Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Lokasi alun-alun sebelumnya adalah sebuah kebun binatang. Gubernur Jendral ACD de Graeff ikut menyaksikan pawai.

Pembukaan kongres keempat itu digelar pada 16 Mei 1929. Kongres diadakan setiap tiga tahun. Sebelumnya kongres berlangsung di Honolulu (1920), Melbourne (1923), dan Tokyo (1926). Gubernur Jendral memberi ucapan selamat datang dan menyambut kehadiran para delegasi. Ikut memberikan sambutan Dr. O de Vries, ketua kongres.

Seusai kegiatan, Yoshichika berkeliling Batavia. Menurut laporannya, di depan konsulat Jepang terdapat sebuah makam orang Jepang bernama Michiel T. Sobe, kelahiran Nagasaki 1605 dan meninggal di Batavia 1663. Batu nisannya mula-mula ada dekat Kalibesar Barat, lalu dibawa ke Gereja Anglikan di Prapatan. Setelah itu dipindahkan ke pekarangan konsulat Jepang di Kebon Sirih No. 28. Sobe adalah seorang pebisnis kaya. Sayang batu nisan itu menghilang setelah proklamasi kemerdekaan RI. Namun sebagian ukiran berhasil disimpan di Museum Sejarah Nasional Jepang.

Yoshichika sempat berkunjung ke museum di Koningsplein-West (Medan Merdeka Barat) dan melihat meriam yang disakralkan penduduk di dekat Amsterdam Foort di Batavia lama. Dia juga masih melihat sebuah tengkorak di dinding sebuah pabrik minyak sawit. Tengkorak itu milik Pieter Erberveld, seorang keturunan Jerman yang dianggap memberontak kepada Belanda. Cerita tentang keheroikan Erberveld menjadikan daerahnya pernah disebut Pecah Kulit. Namun kini tanah miliknya sudah berganti menjadi ruang pamer mobil di Jalan P. Jayakarta, dekat Gereja Sion.

”Perjalanan kami di Pulau Jawa membawa kenangan yang indah dari negeri impian,” kata Yoshichika. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori