Oleh: hurahura | 15 September 2011

Jan Brandes, Dari Pendeta Menjadi Pelukis

Warta Kota, Selasa, 13 September 2011 – Nama Jan Brandes (1743-1808) memang tidak setenar Johannes Rach. Mungkin karena dia berkiprah belakangan dibandingkan Rach. Seperti halnya Rach, Brandes juga banyak melukis keadaan sehari-hari masyarakat Batavia.

Brandes berangkat dari Belanda menuju Batavia tahun 1778 semula untuk melayani jemaat Protestan (1779-1785). Pendeta baru itu bertugas di gereja Lutheran yang terletak di bilangan Kota.

Tiap Senin, Brandes berkhotbah di depan umat. Namun lambat laun materi ceramahnya terasa hambar. Akibatnya jumlah jemaat gereja merosot, sehingga jumlah sumbangan pun menurun drastis. Pendeta itu yang seharusnya antusias terhadap dunia bacaan, malah menjauhinya. Justru dia berkebun, memelihara burung, dan membuat sketsa.

Brandes kebanyakan melukis dengan cat air dan untuk diri sendiri. Ia merekam pertunjukan ronggeng, tari topeng, wayang, mengabadikan ritual Kong Hu Cu di kelenteng, dan juga persembahyangan di masjid. Ketika VOC pada 1783 meminta bala bantuan kepada keraton Solo dan Yogya untuk ikut menjaga Batavia dari serangan Inggris, ia pun melukis punggawa-punggawa itu.

Memang, lukisan Brandes merupakan sesuatu yang mungkin tidak menarik bagi pelukis profesional. Itulah sebabnya Rijkmuseum sampai sekarang getol memburu sketsanya, lalu bersusah payah menerbitkan buku luks The World of Jan Brandes. Brandes diketahui banyak melukis suasana sehari-hari kegiatan rumahnya dan lingkungan sekitarnya.

Brandes menikah di Batavia dengan Truy. Namun perkawinan mereka tidak lama karena pada 1780, istrinya meninggal terserang diare. Untung, Jantje, putra tersayangnya, selamat. Brandes sendiri pernah berulang kali terkena malaria. Setelah ditinggal istrinya, ia seolah mengisolasi diri dengan membeli lahan luas di bilangan Sunter. Di situ ia tinggal dalam sebuah rumah dengan perkebunan dan istal. Ia dianggap semakin tidak aktif di gereja setelah bentrok dengan pendeta lain. Tapi di kesepian itu ia malah produktif.

Setelah tujuh tahun di Batavia, pada 1785 ia pindah ke Srilanka. Dari situ ia balik ke Eropa dan memutuskan menetap di Swedia. Di sana ia meninggal pada 1808. Sampai sekarang Rijkmuseum tetap mencari karya-karya Brandes periode Batavia. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori