Oleh: hurahura | 23 November 2016

Prasasti Kuno dan Hari Jadi Kota

prasasti-harinjingPrasasti Harinjing (Koleksi Museum Nasional)

Nama prasasti pastinya sudah populer, terutama bila dihubungkan dengan peresmian proyek-proyek pembangunan. Pejabat negara semisal presiden ataupun menteri, sering kali membubuhkan tanda tangan pada prasasti batu. Pada zaman sekarang, peresmian suatu proyek pembangunan memang hampir selalu dilengkapi dengan penandatanganan prasasti.

Tradisi menuliskan prasasti berasal dari masa lampau. Penemuan prasasti merupakan bukti paling awal adanya tradisi tulis di Nusantara. Sebelum dikenalnya prasasti, masyarakat Nusantara hidup dalam masa prasejarah. Sejauh ini, tulisan tertua terpahat pada prasasti yupa yang ditemukan di Kalimantan Timur. Prasasti itu ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta, yang merupakan pengaruh kebudayaan India.

Kata prasasti berasal dari bahasa Sansekerta, arti harfiahnya adalah ’puji-pujian’. Secara luas prasasti dapat diartikan sebagai ’piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, dan tulisan’.  Prasasti terbanyak berasal dari masa klasik sejarah kuno Indonesia, yakni abad ke-5 hingga ke-15 Masehi. Sejumlah prasasti ditulis pada masa sesudahnya. Prasasti beraksara Arab, Latin, bahkan Mandarin juga banyak terdapat di Nusantara.


Hari Jadi

Prasasti merupakan sumber tertulis yang dipandang paling penting karena di dalamnya terkandung unsur-unsur penanggalan. Selain itu, prasasti menyebutkan nama pejabat dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan. Makanya prasasti dari masa lampau banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekarang, salah satunya untuk menentukan hari jadi sebuah kota.

Hari jadi kota Kediri di Jawa Timur, misalnya, ditetapkan 25 Maret. Hal itu sudah kesepakatan akhir yang ditandai dengan rapat DPRD setempat. Tentu pemilihannya tidak dilakukan sembarangan. Ahli epigrafi (ilmu yang mempelajari aksara dan bahasa kuno) M.M. Soekarto K. Atmodjo lah yang menganalisisnya berdasarkan Prasasti Harinjing A.

Prasasti Harinjing terbuat dari batu, ditemukan di perkebunan Sukabumi di Pare, Kediri. Kini prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D 173. Tulisan pada prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa kuno. Intinya menyebutkan bahwa pada 11 Suklapaksa bulan Caitra tahun 726 Saka (identik dengan 25 Maret 804 Masehi), para pendeta di daerah Culangi memperoleh hak sima atas daerah mereka karena telah berjasa membuat saluran sungai bernama Harinjing.

Dari uraian lainnya Soekarto menyimpulkan bahwa Kediri berasal dari kata ”diri” yang berarti ”adeg” (berdiri), lantas mendapat awalan ka yang dalam bahasa Jawa kuno berarti ”menjadi raja”.  Selanjutnya terjadi perubahan toponim dari Kadiri menjadi Kediri.

Hari jadi Kabupaten Blitar, juga di Jawa Timur, bersumber dari Prasasti Balitar I yang bertarikh 5 Agustus 1324. Dasarnya adalah pembacaan J.L.A. Brandes, yang antara lain menyebutkan Balitar dijadikan daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Di sini pun terjadi perubahan toponimi dari Balitar menjadi Blitar. Hingga kini tidak kurang belasan kota berhasil ditentukan hari jadinya berdasarkan pembacaan terhadap prasasti.


Aus dan rusak

Umumnya prasasti terbuat dari berbagai jenis bahan yang tahan lama, seperti batu dan logam. Hanya beberapa prasasti dituliskan pada lontar, itu pun mengundang perdebatan, yakni masuk koleksi epigrafi ataukah koleksi filologi (ilmu yang mempelajari naskah kuno). Dari ketiga jenis bahan, lontar adalah materi yang tidak dapat bertahan lama. Meskipun begitu, batu dan logam juga tetap tidak dapat melawan kuasa alam. Panas, hujan, dan angin ditambah faktor lain, seperti kotoran hewan dan getaran, merupakan musuh prasasti yang sulit dihindari. Apalagi banyak prasasti masih terdapat di tempat aslinya, umumnya di wilayah terpencil, bukit, atau pegunungan. Kalaupun sedikit mendapat perlindungan, itu karena sudah diberi cungkup.

Di mata ilmuwan, prasasti sering kali dianggap dokumen yang menginformasikan anugerah raja. Seperti halnya dokumen pada masa sekarang, zaman dulu prasasti juga dibuatkan salinan atau tembusan. Dokumen asli yang berupa prasasti batu, didirikan dekat tempat atau desa yang menerima anugerah raja. Sementara salinannya yang berupa prasasti logam atau prasasti lontar, disimpan oleh orang yang berkepentingan dan dalam keraton sebagai arsip.

Batu yang digunakan untuk memahat prasasti, kebanyakan batu andesit. Batu sungai ini tergolong tahan lama, sebagaimana tercermin dari bangunan-bangunan candi.  Namun untuk wilayah geografis tertentu, prasasti terpahat dari batu kapur atau batu karang. Batuan jenis ini tergolong lebih lunak dibandingkan batu andesit. Prasasti yang aus diketahui memakai jenis batuan ini.  Pada prasasti tersebut jelas adanya tanda-tanda aksara, namun karena fisiknya aus, aksaranya menjadi tidak terbaca.

Tidak dimungkiri selama perjalanan waktu ratusan tahun, banyak prasasti batu terkubur abu vulkanik gunung berapi, pasir, dan tanah. Maka dari itu banyak prasasti kuno ditemukan secara tidak disengaja, misalnya oleh petani ketika sedang mencangkul tanah di sawah, oleh tukang batu ketika sedang menggali pondasi rumah, dan oleh masyarakat awam lainnya ketika sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Itulah sebabnya kondisi prasasti sering kali rusak atau gompal, mungkin terbentur cangkul atau benda keras lainnya.

Umumnya mereka tidak tahu bahwa benda yang ditemukan itu adalah batu kuno yang mengandung tulisan. Tidak usah heran kalau keberadaan prasasti hampir selalu diabaikan masyarakat awam. Mereka membiarkan batu kuno itu tergeletak di tengah sawah atau dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, antara lain menjadi batu asah dan papan cuci pakaian. Bahkan, sejumlah prasasti sudah dipecah-pecah penduduk menjadi pengganjal pintu, tempat memasak, dan penguat tiang rumah.

Khusus prasasti di Jawa Timur, terutama dari zaman raja Airlangga, kebanyakan terbuat dari batu yang agak rapuh. Karena berbahan semacam batu pasir, maka pahatan tulisannya semakin lama semakin tipis. Museum Tulung Agung banyak memiliki koleksi prasasti seperti ini, semoga tidak terbengkalai.***

Penulis: Djulianto Susantio

 


Responses

  1. Yupss,, trims atas info nya..kang, semoga makin banyak lg,prasasti yg ditemukan.Agar,sejarah kuna bangsa kita,semakin jelas dan terang… Amiiiinn.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori