Oleh: hurahura | 6 Juli 2014

Menyelamatkan Naskah-naskah Nusantara

Seandainya pada abad ke-18 Heinrich Schliemann, seorang bankir Jerman, tidak memercayai kisah Perang Troya sebagaimana yang dia baca semasa kecil, kemungkinan letak Kota Troya kuno di Yunani sekarang, tidak akan terungkap. Konon, setelah membaca buku itu Schliemann bersikeras ingin membuktikan bahwa Kota Troya benar-benar ada. Tidak segan-segan dia mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan ekskavasi. Maka terkuaklah Kota Troya. Berbagai benda arkeologi banyak ditemukan di sana.

Dari kisah itu kiranya jelas bahwa naskah (manuskrip) dibantu tradisi lisan atau cerita rakyat, sebenarnya memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Di Indonesia, peranan naskah yang demikian besar, pernah disadari oleh ilmuwan-ilmuwan pelopor. Misalnya Moh. Yamin yang begitu mengagung-agungkan naskah Nagarakretagama dari Kerajaan Majapahit.

Tidak dimungkiri, kisah-kisah sejarah berbagai daerah juga sering kali disusun berdasarkan naskah-naskah kuno. Naskah Carita Parahiyangan, misalnya, merupakan sumber utama untuk penulisan Sejarah Sunda. Babad Tanah Jawi, meskipun banyak mengandung mitologi, menjadi babon kisah Sejarah Jawa. Hikayat Banjar menjadi dasar penyusunan Sejarah Banjar. Sajarah Melayu untuk Sejarah Melayu (mencakup Riau dan sekitarnya). Begitu pula dengan Hikayat Aceh, Kronik Maluku, Babad Lombok, dan lain-lain yang berkenaan dengan sejarah masing-masing daerah.


Belanda

Sesungguhnya, kandungan naskah kuno amat beragam. Ada yang berisi masalah pengobatan dan ramalan. Ada pula tentang pertanian dan agama. Ditinjau dari sarana penulisannya pun, berbeda-benda antardaerah. Naskah Jawa, misalnya, ditulis di atas daun lontar. Naskah Batak ditulis di atas kayu. Naskah Sunda ditulis di atas kertas (daluwang), dan sebagainya.

Karena unik dan langka ditunjang rasa ingin tahu yang besar dari ilmuwan-ilmuwan Barat, maka banyak naskah kuno kemudian dibawa ke mancanegara pada masa penjajahan. Untungnya di sana naskah-naskah tersebut dipelajari dan juga dirawat.

Memang, sejumlah naskah yang tergolong adikarya pernah dikembalikan ke Indonesia, di antaranya naskah Nagarakretagama. Namun sampai sekarang masih banyak naskah kuno Nusantara tersimpan di Universitas Leiden, Museum Amsterdam, dan Lembaga KITLV yang kesemuanya berada di Belanda.

Naskah kuno Nusantara juga banyak tersimpan di Inggris. Naskah-naskah tersebut diboyong ke sana sewaktu Raffles menjabat Gubernur Jendral Hindia Belanda (1811-1816). Jauh sebelum Raffles pun banyak naskah kuno sudah bermukim di Inggris. Kemungkinan hal itu mulai dilakukan pada abad ke-17.

Kepedulian beberapa sarjana Inggris seperti M.C. Ricklefs dan P. Voorhoeve, membuat naskah-naskah tersebut terdokumentasikan dengan baik. Mereka berhasil menyusun katalogus naskah-naskah kuno Nusantara yang berada di Inggris. Seluruh naskah yang tercatat berjumlah lebih dari 1.200. Naskah-naskah tersebut merupakan koleksi 20-an perpustakaan dan museum di beberapa kota di Inggris. Koleksi terbanyak berada di British Library dan School of Oriental and African Studies. Ditinjau dari daerah asalnya, diketahui naskah-naskah tersebut berasal dari Aceh, Bali, Bugis, Lampung, Madura, Makasar, Melayu, Minangkabau, Rejang, Sangir, dan Sasak. Sedangkan bentuknya adalah hikayat, syair, primbon, dan bukti transaksi dagang.

Kehadiran Raffles sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda rupanya membuka jalan bagi pihak Inggris untuk mendapatkan surat-surat dari berbagai raja di Indonesia. Surat-surat demikian menjadi koleksi unggulan sampai sekarang. Misalnya surat dari Sultan Pontianak kepada Raffles yang dikirim dalam sampul terbuat dari kain sutra berwarna-warni. Juga surat dari Raja Bali kepada seorang Gubernur Belanda di Semarang yang ditulis di atas lempengan emas.

Untuk menyelamatkan naskah-naskah Nusantara, pembuatan microfilm juga pernah dilakukan oleh pemerintah Belanda dan Inggris. Hal ini dengan pertimbangan naskah-naskah tersebut terbuat dari bahan yang mudah rapuh. Dengan adanya microfilm tentu saja kelestarian naskah-naskah kuno itu lebih terjamin.

Jelas kita memetik keuntungan dari upaya mereka itu. Tahun 1989 lalu ratusan microfilm naskah-naskah kuno yang disimpan di Inggris disumbangkan oleh pemerintah Inggris kepada Sri Sultan HB X dan Perpustakaan Nasional Jakarta.

Naskah-naskah Jawa di Indonesia juga pernah dibuatkan microfilm-nya oleh Dr. Jennifer Lindsay dari Australia. Selanjutnya lontar-lontar Bali pernah dikomputerkan oleh perusahaan raksasa IBM.

Ironis memang, naskah-naskah kuno Nusantara diperhatikan dan dipelajari oleh bangsa asing. Sebaliknya malah diterlantarkan dan diacuhkan oleh bangsa sendiri. Lebih dari seratus microfilm yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Solo, misalnya, tak ubahnya barang rongsokan karena jarang disentuh masyarakat Indonesia.

Yang menyedihkan, bangsa kita tega-teganya menjuali naskah-naskah kuno kepada bangsa asing, terlebih Malaysia dan Brunei Darussalam, demi uang. Hingga saat ini diperkirakan seluruh naskah kuno Indonesia masih berada di 20-an negara. Katanya kita adalah bangsa yang berbudaya. Justru kekayaan budaya sendiri tidak bisa dilestarikan dengan baik karena masyarakat dan pemerintah kurang peduli. (Djulianto Susantio)

Iklan

Responses

  1. naskah2 kuno nusantara yg lebih pnting pasti diprtahnkn oleh blanda n inggris. Naskah2 kuno yg dikmbalikn juga blum tntu isinya asli utuh.

  2. prasasti2,naskah2 yg masih berada di nusantara yg sudah diketahui dijamah pakr2 blanda n inggris tidak ada jaminan isinya smua ttap asli utuh/tdk dimanipulasi rekayasa(ada yg ditambah,dihpus,dikurangi,dsb). Prasasti2,naskah2 yg masih ada dinusantara n tdk diketahui tdk dijamah pakr2 blanda n inggris dpt dipastikn asli.

  3. Indon tak jual naskah atau takde yang simpan naskah tetapi jual kepada Malaysia?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: