Oleh: hurahura | 10 Agustus 2012

Candra Naya, Terjepit Gedung Tinggi (3)

Bangunan asli Candra Naya. Sekarang yang tersisa bagian depan, itu pun terjepit bangunan tinggi di kiri kanan dan belakangnya (Foto: internet)

Warta Kota, Kamis, 2 Agustus 2012 – Lumayan beruntung nasib Gedung Candra Naya di Jalan Gajah Mada. Meskipun kondisi bangunan sudah tak terurus lagi, bangunan bersejarah ini urung dibongkar. Kini yang tersisa hanyalah bangunan induk. Dulu ada rencana memindahkan gedung ini ke areal TMII. Tapi banyak pihak menolaknya karena dianggap melecehkan sejarah, termasuk “orang kuat” Jakarta ketika itu, Gubernur Sutiyoso. Bahkan dia berjanji akan mempertahankan gedung tua tersebut karena merupakan aset budaya Jakarta yang bernilai historis.

Candra Naya merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Penetapannya didasarkan SK Gubernur DKI Jakarta tahun 1972, lalu diperkuat SK Mendikbud tahun 1988. Terakhir, dipertegas lagi oleh Undang-undang Benda Cagar Budaya Nasional (UUBCB) tahun 1992.

Gedung kuno Candra Naya dimasukkan sebagai benda cagar budaya karena memiliki arsitektur China yang khas. Saat bangunan-bangunan berarsitektur China lainnya dirobohkan untuk pembangunan jalan tol dan pertokoan di daerah Pasar Pagi serta pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan di wilayah Senen, gedung Candra Naya tetap dipertahankan keberadaannya.

Hingga akhir 1992 Candra Naya masih digunakan untuk kegiatan sekolah. Namun sejak 1993 mulai datang kemelut ketika keturunan Khouw, pemilik Candra Naya, meminta kembali gedung tersebut. Tak lama setelah itu pembangunan gedung bertingkat di sisi kanan kiri gedung Candra Naya mulai dilaksanakan. Kini keberadaan Candra Naya ibarat terjepit gedung tinggi.

Candra Naya dibangun pada abad ke-18. Pemilik pertama gedung itu adalah seorang saudagar asal Tegal, Khouw Tjun. Seterusnya keluarga Khouw menguasai gedung itu. Banyak peristiwa bersejarah berlangsung di gedung itu. Pada 1946 berdiri Perhimpunan Sinar Baru (Sin Ming Hui) yang bergerak di bidang sosial. Masa berikutnya berdiri gedung sekolah, lembaga fotografi, dan klub bridge. Lembaga Fotografi Candra Naya dikenal luas sebagai tempat pendidikan yang menghasilkan fotografer-fotografer ternama Indonesia. Sedangkan klub bridgenya banyak menelurkan pemain berkaliber nasional.

Candra Naya juga berperan dalam sejarah pendidikan. Pada awalnya pendirian Universitas Tarumanagara dibicarakan di sini, termasuk RS Sumber Waras. Tahun 1960-an hingga 1970-an Candra Naya pernah menjadi tempat penyelenggaraan pesta-pesta pernikahan yang bonafide. Sebelum menjamurnya gedung-gedung resepsi khusus, Candra Naya tidak pernah sepi dari pesanan para calon pengantin. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori