Oleh: hurahura | 9 November 2012

R.M. Irawan Suyono Straat

Warta Kota, Jumat, 9 November 2012 – Banyak nama jalan di Jakarta berasal dari nama-nama tokoh sejarah. Misalnya Dharmawangsa, Kertanegara, Brawijaya, Purnawarman, Mulawarman, Prapanca, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Raden Wijaya. Ada juga Diponegoro, Teuku Umar, Sisingamangaraja, Kartini, Dewi Sartika, Panglima Polim, Cut Nyak Dien, Sutan Syahrir, Moh. Yamin, Sam Ratulangie, Suwiryo, H. Juanda, Samanhudi, Sukarjo Wiryopranoto, Sudirman, dan M.H. Thamrin.

Penghargaan terhadap tokoh memang bersifat universal. Dalam arti ada di banyak negara dan boleh digunakan negara mana pun. Pemerintah kita yang pernah bersimpati terhadap perjuangan rakyat Afrika pernah mengabadikan nama Patrice Lumumba sebagai nama jalan di bilangan Kemayoran. Karena dianggap tidak nasionalis, kemudian jalan itu diganti menjadi Angkasa. Untuk menjalin persahabatan dengan Maroko, maka dinamailah Jalan Casablanca.

Ternyata bukan hanya kita yang menghormati tokoh-tokoh asing. Belanda yang pernah menjajah Indonesia juga mengabadikan nama sejumlah tokoh Indonesia sebagai nama jalan atau gedung. Yang paling populer adalah R.M. Irawan Suyono Straat di pusat kota. Jalan itu, sebagaimana pernah diwartakan Radio Nederland Siaran Indonesia, diresmikan oleh pemerintah Belanda pada 1990 untuk menggantikan nama jalan yang sebelumnya menggunakan bahasa Belanda.

Dalam buku-buku sejarah Indonesia memang nama R.M. Irawan Suyono tidak populer. Namun di Belanda nama R.M. Irawan Suyono sangat dihargai. Terlebih karena kegigihannya menentang penjajahan Jerman dan Jepang atas Belanda. R.M. Irawan Suyono adalah mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda. Dia termasuk salah seorang anggota Perhimpunan Indonesia, sebuah perkumpulan para mahasiswa Indonesia di Belanda.

Sebagai orang yang menentang penjajahan Jerman dan Jepang, dia turut mengeluarkan surat kabar bawah tanah. Dia pun banyak menulis tentang Indonesia untuk mencapai Indonesia merdeka dalam bentuk stensilan. R.M. Irawan Suyono ditembak mati tentara Jerman pada 13 Januari 1945 ketika sedang membawa mesin stensil yang waktu itu dianggap benda ilegal. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. luar biasa terimakasih atas informasi sejarah tentang R.M. Irawan Suyono


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: