Oleh: hurahura | 4 Oktober 2014

Situs Gunung Padang: Tengahi Perseteruan, Timnas Bergerak

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Tim Nasional Penelitian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang. Kebijakan ini diharapkan dapat menetralkan perseteruan pendapat antarpeneliti terkait dengan Situs Gunung Padang.

Tim Nasional Penelitian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang diketuai Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Harry Widianto. Tim terdiri atas 47 ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti arkeologi, geologi, arsitek, dan teknik bangunan. Beberapa anggota Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), seperti Danny Hilman dan Ali Akbar, juga masuk di dalam tim tersebut.

”Timnas akan menindaklanjuti berbagai penelitian yang sudah dilakukan Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Bandung, dan TTRM Gunung Padang. Kami berharap penelitian Gunung Padang bisa dimuarakan dalam bentuk yang lebih komprehensif karena selama ini muncul kisruh dan arogansi dari peneliti-peneliti tertentu. Sekarang mereka (para peneliti) kami gabungkan saja,” papar Harry, Jumat (3/10), di Jakarta.

Timnas bertugas meneliti dan mengelola Situs Gunung Padang hingga tiga tahun ke depan. Untuk membiayai penelitian ini, Kemdikbud menyiapkan dana Rp 2 miliar.

”Mekanisme penelitian Timnas kali ini benar-benar berwawasan akademis dan pelestarian cagar budaya. Situs juga akan kami pugar dan tata ulang. Batu-batuan yang kini masih berserakan akan dikembalikan ke posisi semula satu per satu,” tuturnya.

Harry membantah anggapan bahwa Gunung Padang diperlakukan berbeda dengan situs-situs lainnya. Menurut dia, tidak ada perlakuan istimewa terhadap Gunung Padang karena pemerintah juga melakukan penelitian-penelitian serupa di tempat lain.

Meski demikian, faktanya, Kemdikbud bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Cianjur akan membebaskan lahan di kawasan Gunung Padang seluas 25 hektar. Rinciannya, 15 hektar lahan akan dibebaskan Kemdikbud dan 10 hektar dibebaskan Pemprov Jabar dan Pemkab Cianjur.

Gunung Padang sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat nasional sejak Januari 2014 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Penetapan itu memberikan konsekuensi bahwa segala macam aktivitas penelitian di Gunung Padang harus dijalankan dengan tetap berwawasan pada prinsip-prinsip pelestarian.


Penelitian kontroversial

Sebelumnya, penelitian Gunung Padang yang dilakukan TTRM banyak disesalkan sejumlah arkeolog. TTRM dinilai terlalu tergesa-gesa menyimpulkan hasil temuan, tidak jelas misinya, dan cenderung tertutup serta eksklusif dalam penelitian.

”Penelitian tidak jelas misinya, apakah akademik atau (untuk visi) lainnya,” kata arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo.

Penelitian TTRM makin menuai kontroversi pasca ditemukannya beberapa artefak koin logam, kujang, dan tembikar yang diklaim berasal dari masa penghunian situs antara 5.200-500 tahun sebelum Masehi.

Ketua Ikatan Asosiasi Arkeolog Indonesia Junus Satrio Atmodjo juga menyatakan keprihatinan dengan aktivitas penelitian TTRM di Gunung Padang. Menurutnya, aktivitas mereka semestinya dihentikan karena penggalian masif dan pengeboran di sana menyebabkan banyak data di lapangan hilang. (ABK)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 4 Oktober 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: