Oleh: hurahura | 28 Maret 2011

Batavia, Kota Para Lelaki

Warta Kota, Sabtu, 26 Maret 2011 – Sejak awal kedatangan Belanda di Banten, orang-orang China sudah dianggap berperan penting. Banyak saudagar China berdomisili di sana. Tidak heran Sultan Banten amat menentang upaya Belanda untuk mengajak orang-orang China berpindah ke Batavia. Soalnya kalau orang-orang China pergi, perniagaan di Banten akan merosot drastis.

Namun kepergian orang-orang China sukar dibendung. Pada tahun pertama keberadaan Batavia, pemukim China berjumlah 800. Sepuluh tahun kemudian jumlah mereka meningkat jadi 2.000. Selain pedagang, mereka adalah nelayan, tukang jahit, tukang batu, dan tukang kayu.

Sayang orang-orang China di Batavia mempunyai kebiasaan buruk, yakni suka berjudi dan mengisap candu atau madat. Mereka sering tenggelam dalam kegiatan-kegiatan itu sehingga pemerintah memutuskan untuk menyediakan satu jalan untuk rumah-rumah judi. Semua orang Eropa dilarang memasuki jalan ini pada waktu malam. Hal ini untuk mencegah perselisihan dan perbuatan negatif yang mungkin terjadi.

Lokasi yang terkenal adalah di Jalan Jelakeng, sekarang Jalan Perniagaan Barat. Sesuai namanya, di kawasan ini pernah terdapat 26 bangunan (jie = 2 dan lak = 6), yang semuanya dimanfaatkan untuk tujuan wisata. Orang-orang kaya kerap datang ke tempat ini. Lantai bawah umumnya digunakan untuk mengisap madat, sedangkan lantai atas untuk prostitusi dan judi.

Seperti semua permukiman baru, Batavia memang adalah kota para lelaki. Ketika itu hanya sedikit orang China yang bermigrasi dengan istri mereka. Di Batavia mereka mengawini penduduk asli atau membeli budak perempuan yang umumnya berasal dari Bali. Namun mereka tetap berusaha keras mendidik putra-putra mereka sebagai orang China. Dengan begitu mereka tetap khas secara budaya karena memang garis keturunan mereka adalah patrilineal atau dari garis pihak lelaki.

Sebagai daya tarik, petinggi di Belanda pernah memberi perintah khusus bahwa semua saudagar China yang kapalnya membuang sauh di Batavia harus diperlakukan dengan hormat dan sopan. Namun, sebagaimana tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara, orang-orang China di Batavia berada di bawah pengaturan Kompeni. Dengan demikian mereka harus menaati hukum Belanda.

Setelah beberapa tahun, pemerintah memutuskan perkara yang kurang penting dan urusan warisan dilakukan oleh seorang kapiten China, yang ditunjuk oleh gubernur jendral. Selanjutnya ketika penduduk Batavia semakin bertambah, Portugis memperkenalkan sistem pengelompokkan penduduk menurut kebangsaan. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. itu terasa hingga kini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori