Oleh: hurahura | 16 November 2012

Patung Selamat Datang

Warta Kota, Sabtu, 10 November 2012 – Banyak kota besar di dunia, termasuk Jakarta, memiliki patung dan/atau monumen bersejarah. Di Jakarta patung/monumen banyak dibangun pada zaman penjajahan. Namun kemudian dihancurkan karena dipandang merupakan sejarah kelam bangsa ini. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno banyak memberikan gagasan untuk pembangunan patung/monumen yang bernapaskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Bahkan Presiden Soekarno membuka kesempatan seluas-luasnya untuk para pematung muda Indonesia agar dapat mensejajarkan diri dengan para pematung Barat.

Beberapa patung/monumen didirikan pada era Soekarno. Yang paling dikenal adalah Tugu atau Monumen Nasional, kini populer disebut Monas. Kisah tentang Monas sudah disampaikan pada edisi Oktober lalu. Yang juga banyak dikenal adalah Tugu atau Patung Selamat Datang. Patung ini terletak di depan Hotel Indonesia (HI) yang bersejarah. Juga di tengah-tengah bundaran perlintasan kendaraan dari beberapa arah. Karena itu populer disebut Patung Bundaran HI.

Wujud patung berupa sepasang manusia, pemuda dan pemudi. Yang pemudi sedang menggenggam bunga, sementara pemuda-pemudi itu melambaikan tangan. Patung Selamat Datang dibuat dalam rangka persiapan penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan Asian Games 1962. Maksud dan tujuannya adalah untuk menyambut tamu-tamu asing yang tiba di Jakarta dalam rangka pesta olahraga tersebut. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan Hotel Indonesia merupakan pintu gerbang masuk kota Jakarta. Hotel Indonesia juga terletak tidak jauh dari Stadion Utama Senayan, tempat arena pertandingan.

Ketika itu lapangan terbang internasional berada di Kemayoran. Jadi dari Kemayoran tamu-tamu asing itu dibawa ke Hotel Indonesia sebagai pusat penginapan. Dengan demikian sebelum mencapai pintu gerbang Hotel Indonesia mereka akan disambut Patung Selamat Datang yang menghadap ke utara.

Gagasan pembuatan patung berasal dari Presiden Soekarno. Rancangan awal dikerjakan oleh Henk Ngantung, Wakil Gubernur DKI Jakarta waktu itu. Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter, sementara tinggi keseluruhan sampai ujung tangan mencapai 7 meter. Patung berbahan perunggu ini berdiri di atas tugu setinggi 10 meter. Pelaksana pembuatannya adalah tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso (Sejarah Singkat Patung-patung dan Monumen di Jakarta, 1985). Lama pembuatan patung sekitar satu tahun. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1962. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori