Oleh: hurahura | 19 Juni 2011

Krisis Peneliti Arkeologi


Sejumlah Situs Belum Diteliti

wartakotalive.com, Sabtu, 18 Juni 2011 – Indonesia mengalami krisis tenaga peneliti di bidang arkeologi. Padahal, bentang alam Indonesia yang begitu luas menyimpan banyak sekali situs bersejarah yang masih perlu diteliti.

Krisis tenaga peneliti ini dirasakan ketika satu per satu tenaga peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional mulai pensiun. Dari 70 tenaga peneliti yang ada, sekarang lembaga itu hanya tinggal memiliki 35 peneliti.

”Sejak tahun 1985 kami tidak mendapatkan tenaga peneliti baru untuk menggantikan yang pensiun. Baru dua tahun lalu kami mendapatkan dua tenaga peneliti baru,” kata Titi Surti Nastiti, peneliti senior di lembaga penelitian tersebut, Jumat (17/6) di Jakarta.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional merupakan satu-satunya lembaga di Indonesia yang berwenang menggali dan meneliti situs-situs di Tanah Air. Kalaupun ada lembaga lain yang menggali dan meneliti situs, lembaga ini harus bekerja di bawah pengawasan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Untuk mencari situs, Arkeologi Nasional dibantu oleh Balai Arkeologi yang berada di sejumlah daerah. Di Indonesia hanya ada 10 Balai Arkeologi yang masing-masing memiliki tenaga peneliti sebanyak 5-6 orang.

”Kalau dihitung peneliti di Arkeologi Nasional dan tenaga peneliti di Balai Arkeologi, jumlah seluruhnya sekitar 100 orang. Jumlah itu masih kurang,” ungkap Tony Djubiantono, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Selain kurang dari sisi jumlah, Arkeologi Nasional juga mengalami krisis tenaga ahli yang menekuni bidang epigrafi dan ikonografi. Epigrafi adalah ilmu cabang arkeologi yang mempelajari benda bertulis dari masa lampau semacam prasasti, sedangkan ikonografi mempelajari identifikasi, deskripsi, dan interpretasi benda bergambar seperti arca.

Peneliti epigrafi ada di sejumlah perguruan tinggi, sedangkan Arkeologi Nasional hanya memiliki satu peneliti epigrafi dan tak mempunyai ahli ikonografi. Karena kekurangan tenaga ahli, banyak situs belum diteliti.

Di Indonesia hanya ada empat perguruan tinggi yang membuka jurusan arkeologi, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana (Bali), dan Universitas Hasanuddin (Makassar).

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Bambang Wibawarta mengatakan, di universitasnya setiap tahun ada 30-50 lulusan arkeologi. (Kompas.com/IND)


Responses

  1. Kekurangan tenaga ahli di bidang arkeologi, maupun bidang-bidang pengetahuan yang tidak populer lainnya, tidak lepas dari bagaimana sebagian besar orang Indonesia melihat fungsi pendidikan hanya dari sisi ekonomi-nya saja. Sehingga, akhir tujuan dari diselesaikannya suatu jenjang pendidikan adalah mendapatkan pekerjaan, posisi dan pendapatan yang layak, sesuai dengan jenjang pendidikannya. Cara berpikir seperti ini tidaklah keliru, namun akan menyebabkan ketimpangan jumlah praktisi maupun profesional di beberapa bidang pengetahuan yang dianggap kurang populer dan ekonomis bagi masyarakat Indonesia. Sehingga, yang mungkin dapat dilakukan adalah memberi cara pandang yang baru, yang dapat menumbuhkan minat para generasi muda tentang beberapa bidang pengetahuan yang kurang populer ini. Untuk bidang arkeologi, misalnya dapat diadakan olimpiade arkeologi Indonesia tingkat SMP – SMU. Hal ini penting dilakukan, karena arkeologi dapat dijadikan salah satu acuan untuk membentuk identitas sebuah bangsa, yang dapat digunakan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dari generasi penerus sebuah bangsa.
    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui dengan pasti jati dirinya dan menghargai serta mempraktekan nilai-nilai luhur dari generasi-generasi sebelumnya. Saya sangat yakin, bahwa bangsa Indonesia, termasuk dalam barisan bangsa-bangsa berkebudayaan tinggi di masa yang sangat lampau, mengingat banyaknya artefak-artefak yang mulai bermunculan di seluruh negeri, jika bukan generasi muda Indonesia sendiri yang menemukan, meneliti dan mempelajari semua temuan itu, maka bisa saja semua temuan itu menjadi hilang dan membawa semua rahasia masa lampau bersamanya.
    Bisa juga, semua artefak itu menjadi milik pihak asing yang menggunakannya untuk menyelewengkan sejarah bangsa Indonesia untuk suatu kepentingan politik tertentu, sehingga generasi muda kita tetap tumbuh menjadi generasi yang tanpa kebanggaan apapun tentang darah dagingnya sendiri, menjadikan mereka sebagai generasi pengekor dan peng-imitasi dari budaya bangsa lainnya, yang disebabkan oleh adanya ketidak-tahuan terhadap jati diri bangsa yang sesungguhnya, yaitu sebagai bangsa yang mungkin saja di masa lampau sudah memiliki peradaban dan kebudayaan tinggi dengan usia peradaban dan kebudayaan yang sama tuanya atau bahkan lebih tua dari bangsa-bangsa pra sejarah yang sudah tercatat dalam buku-buku sejarah dunia.
    Bukankah kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja nyata ?, bukankah kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terbaca dalam artefak-artefak yang sudah ditemukan maupun yang masih terkubur di kedalaman hutan-hutan yang belum terjamah, di kedalaman tanah maupun di seluruh perairan yang ada di negeri ini ????

  2. Bukan hanya itu, lowongan kerja tidak dibuka setiap tahun. Malah pernah terjadi kekosongan selama beberapa tahun. Akibatnya para lulusan arkeologi itu lari ke bidang2 lain, seperti jurnalistik, fotografi, audio visual, dsb. Mereka dikenal sebagai Outsider Archaeology, salah satu contohnya saya. Rupa2nya mereka sudah kerasan di bidang non-arkeologi itu. Saya sendiri tetap memperhatikan arkeologi, buktinya yah adanya blog ini. Meskipun tanpa dukungan sesenpun dari instansi arkeologi, blog ini tetap berjalan kan? Mudah2an saja ada perhatian kepada arkeolog freelancer. Mereka bisa diajak bekerja sama untuk melakukan penelitian. Toh kemampuan mereka tidak kalah dengan peneliti2. Untuk penulisan, juga bisa kerja sama, mengingat selama ini publikasi2 arkeologi jarang sekali bisa diakses masyarakat.

  3. ironis yaa… ada headline “Krisis Peneiti Arkeologi” padahal banyak sekali sarjana2 lulusan arkeologi yg masih wara-wiri kanan-kiri tak dapat kerja….. saya setuju sepenuhnya dengan komentar2 bapak2 diatas, tidak perlu lagi saya tambahi

  4. klo mau belajar arkeologi dari kapal tengggelam dimana yah harus berguru……

  5. Bagaimana kalau di buat saja forum2 dulu di Blog..ya seperti ini sdh bagus. Paling tidak terjalin komunikasi dulu. Nah setelah ada minat dan dana bisa dilanjutkan mambuat kelompok, peneliti, peminat, atau siapapun yg peduli. Bukankah ilmu pengetahuan itu adalah hak semua orang..?? Jadi siapa saja boleh terlibat asal ada kemauan. Tdk usah menunggu para ahli yg peduli.

  6. saya kelas 2 sma dan minat terhdap arkeologi, apa ada persyaratan khusus untuk jdi seorg arkeolog?

  7. saya tertarik arkeologi sejak 1 sma mengapa jurusan ini tidak banyak diminati

  8. Itu karena jurusan ini tdk populer dan mungkin prospeknya dianggap kurang meyakinkan. Bung Nur, saya juga siswa SMA dan sedang mikir jurusan kuliah. Kebetulan saya menyukai bidang ilmu Humaniora (khususnya sastra dan sejarah), tp saya masih tdk tahu dan tak paham pekerjaan apa yg tepat bagi mahasiswa humaniora kalau sdh lulus. Saya mungkin mikirnya terlalu ekonomis, namun hal ini seharusnya jg mendapat perhatian dr pihak manapun, terutama pemerintah. Mereka2 yg pilih bidang ini perlu dihargai. Bagaimanapun mereka jg ingin cita2 mereka tergapai dan berupaya meraih hasil terbaik. Masalah kita sama, bung.

    Belakangan saya disarankan bapak saya utk masuk arkeologi–jurusan yg sama sekali asing bagi saya. Saya sangat butuh informasi tentang arkeologi. Untungnya ketemu blog ini. Hanya kini saya kembali didera kebingungan, seberapa besarkah biaya utk penelitian? dsk pertanyaan2 lain. Mohon bila ada yg berkenan menjawab.

  9. mas/mbaknya atau bapak/ibu team arkeologi,, apakah ada lowongan pekerjaan arkeologi di tahun 2017?

    • Lowongan harus ditanyakan ke instansi arkeologi terdekat seperti Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Museum, atau Dinas Kebudayaan.

  10. […] Majalah Arkeologi Indonesia […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori