Oleh: hurahura | 14 Maret 2011

MUARO JAMBI Getarannya Masih Dirasakan Dunia

Kompas, Jumat, 11 Maret 2011 – Percandian Muaro Jambi tidak dapat kita temukan lagi secara utuh pada masa kini. Namun, peninggalan umat Buddha pada masa Kerajaan Melayu abad VII hingga XIV ini masih menumbuhkan getaran yang dirasakan dunia hingga kini. Di sinilah berdiri monumen kebesaran suatu bangsa.

Arsitek sekaligus pengagum Situs Muaro Jambi yang kini menetap di Australia, Salim Lee, menyatakan, Situs Muaro Jambi, di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, merupakan universitas tertua di negeri ini. Bahkan, menjadi pusat pendidikan yang berjaya paling lama, yaitu selama hampir tujuh abad.

Pada masa itu, ratusan biksu dari sejumlah negara berlayar ke Muaro Jambi untuk menimba ilmu. Tidak hanya untuk memperdalam agama, mereka juga mempelajari ilmu kedokteran, logika, filosofi, hingga tata bahasa.

Lana Atisya, seorang biksu muda dari India pernah bersekolah di Muaro Jambi selama 12 tahun, kembali ke negaranya dan menjadi kondang. Atisya membawa ajaran-ajaran dari Muaro Jambi ke India. Melalui ajaran yang dipegangnya, Atisya berhasil mengubah sistem keagamaan di Tibet, atas permintaan pemimpin setempat. Dia juga menghasilkan buku berjudul Bodhipatvapradipa yang kini menjadi semacam kurikulum keagamaan di negara tersebut.

Kemasyhuran nama Muaro Jambi sebagai tempat lahirnya para agamawan kondang terekam pula melalui Changkyo Dorpe, seorang biksu asal Tibet. Ia menimba ilmu di Muaro Jambi dan setelah kembali ke negaranya juga menjadi pembuat aturan dalam keagamaan, kemudian menjadi seorang pendeta utama di China pada abad XVI.

Salim memperkirakan kawasan percandian Muaro Jambi menjadi universitas bagi ribuan biksu, sebagaimana tertulis dalam catatan pendeta I-Tsing asal China yang pernah singgah pada abad VII. Dalam catatannya, I-Tsing menyebut ada ribuan orang belajar dalam bangunan-bangunan bertembok. Begitu banyaknya orang menimba ilmu. Masyarakat setempat dilibatkan dalam menyiapkan makanan dan bisa ikut belajar.

Salim menyimpulkan bahkan walau kini hanya menyisakan begitu banyak reruntuhan, Percandian Muaro Jambi merupakan monumen akan kebesaran suatu bangsa. Karena, di sini pernah menjadi kampus orang-orang kondang dunia di masa lalu. ”Getarannya bahkan masih dirasakan dunia hingga kini,” tutur Salim.

Menyusuri kompleks percandian seluas 2.612 hektar ini, kita akan banyak melihat bangunan berdinding tebal dari tumpukan batu bata. Sejauh ini baru belasan bangunan candi yang telah dipugar. Sebagian besar lainnya masih berupa menapo, yaitu struktur bata yang telah tertimbun tanaman lokal milik masyarakat setempat. Kondisi ini terjadi akibat bencana banjir yang dialami daerah yang berlokasi di tepi Sungai Batanghari tersebut.


Warisan Budaya Dunia

Arkeolog Bambang Budi Utomo memperkirakan para biksu belajar bersama dalam satu lapangan besar mendengarkan ceramah gurunya, yang lokasinya kini diperkirakan sebagai Candi Gumpung. Seusai belajar, para biksu beristirahat di sepanjang tepi sungai, dalam rumah-rumah yang dibangun dari kayu. ”Alam menyediakan banyak kayu dan dimanfaatkan sebagai tempat tinggal para biksu. Di sini kita temukan warna budaya lokal pada peninggalan Situs Muaro Jambi,” tuturnya.

Atas kemasyhuran sejarahnya, pemerintah mengajukan Situs Muaro Jambi sebagai warisan budaya dunia kepada UNESCO. Situs ini telah masuk dalam daftar tentatif warisan budaya dunia urutan ke-5.465 pada tahun lalu. Meski berada di bawah, Hari Untoro mengatakan, bukan tidak mungkin urutan untuk Situs Muaro Jambi dapat cepat naik. ”Itu sangat tergantung dari dukungan seluruh pihak,” ujarnya.

Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat melihat besarnya dukungan masyarakat setempat dalam merawat situs. Pengembangan kawasan perlu terus dilakukan. Sehingga, tidak mustahil dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Muaro Jambi ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. ”Jangan sampai terjadi pada kasus Borobudur yang semula masuk urutan 485, malah turun dan diambil alih Spanyol pada tahun berikutnya,” tutur Hari. (Irma Tambunan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori