Oleh: hurahura | 9 Oktober 2010

Sejarah Surakarta: Kristal Napoleon Hingga Medali Raja Siam

KOMPAS, Senin, 4 Okt 2010 – Memadukan budaya Jawa dengan elemen budaya Asia, seperti Tiongkok, dan Eropa merupakan salah satu kekhasan Pura Mangkunegara. Sebagai contoh, pendapa Mangkunegara yang konon terbesar di Pulau Jawa menjadi situs perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, dan Eropa.

“Langit-langit pendapa dihiasi lukisan indah yang menggambarkan filosofi Jawa, zaman Hindu-Buddha, Islam, dan Tiongkok. Lukisan ini dibuat tahun 1930-an oleh pelukis Lim To Eng yang didatangkan oleh Mangkunegara VII dari Tiongkok,” ujar Iffah Anggraeni, pemandu di Pura Mangkunegara.

Fresco ala Jawa-Tiongkok itu membentang di atap pendapa. Pelbagai simbol, hewan dan perhitungan semacam feng shui, digambarkan di langit-langit pendapa. Pada bagian atas ambang masuk pendapa tergantung ukiran ala Eropa dengan coat of arms (simbol kebesaran) Mangkunegara. Sepintas lalu mirip dengan ornamen bangunan di Eropa.

Di bagian belakang pendapa terdapat empat patung yang disepuh emas. Sepasang patung berasal dari Eropa dan sepasang lagi dari Tiongkok, yang didatangkan pada zaman Mangkunegara VII. Salah satu sayap bangunan di belakang pendapa dibangun bergaya Rococo oleh arsitek kondang Thomas Karsten. “Pengunjung bisa memesan khusus tempat ini untuk jamuan makan resmi dan menikmati hidangan khas Mangkunegara,” ujar Iffah.

Bangunan utama di belakang pendapa tempat penyimpanan pusaka menjadi saksi bisu pertemuan budaya Asia dan Eropa. Sebuah hiasan kristal berbentuk ikan terletak di dekat pintu, yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Mangkunegara II yang diberikan melalui Gubernur Jenderal Daendels sebagai wakil Perancis di Nusantara pada tahun 1808.

Pedang Spanyol, kereta kencana, hingga medali dari Raja Chulalongkorn (Raja Rama V) dari Kerajaan Siam disimpan di bangunan utama. Pada tahun 1896, Raja Chulalongkorn bersama rombongan mengunjungi Jawa untuk kedua kali.

Rombongan tiba di Surakarta tanggal 6 Juli. Imtip Pattajoti Suharto dalam buku Journeys to Java by a Siamese King mencatat, rombongan Raja Chulalongkorn diterima oleh Susuhunan Surakarta. Setelah itu, barulah tiba giliran Pura Mangkunegara menyambut Raja Chulalongkorn. Raja Chulalongkorn menyaksikan pementasan cerita Panji di Pura Mangkunegara pada tanggal 7 Juli petang. Baginda juga menyempatkan diri sowan kepada ibunda raja.

Beberapa pasang medali dengan bentuk gajah putih dan pita berwarna merah-putih-biru yang merupakan medali penghargaan Kerajaan Siam dapat dilihat di ruang pamer sebagai bukti kunjungan Raja Chulalongkorn di Pura Mangkunegara.

Pura Mangkunegara juga mengirim misi budaya ke mancanegara pada pengujung abad ke-19. Pada tahun 1889, di dekat Menara Eiffel di lapangan Champ de Mars berlangsung l’Exposition de Paris (Pekan Raya Paris) yang menampilkan anjungan Hindia Belanda. Sejumlah seniman Mangkunegara hadir di Paris kala itu.

Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia dan Orang Perancis (Kepustakaan Populer Gramedia) menulis, sebanyak empat penari dikirim Pura Mangkunegara. Mereka bernama Sarikem, Tuminah, Sukiyah, dan Wakiyem yang berusia 12 tahun hingga 16 tahun.

Para Parisien (warga Paris) yang terkagum-kagum melihat penari Jawa kerap mengundang mereka datang ke pesta-pesta kalangan elite di Paris. Pada zamannya, perpaduan dan misi budaya yang menjadi kekuatan Nusantara sudah ditorehkan dari sudut Surakarta.(Iwan Santosa/Sri Rejeki/Antony Lee)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: