Oleh: hurahura | 13 Desember 2017

Jejak-jejak Arkeologis di Polowijen: Korelasinya dengan Naskah Kuna, Prasasti, dan Tradisi Tutur

Suwardono-malang-02Punden Joko Lola (letaknya ±150 m di sebelah timur Sumur Windu). Dilihat dari timur laut (Dokpri)


Abstrak

Polowijen adalah sebuah wilayah Kelurahan, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Blimbing Kota Malang. Di Polowijen terdapat beberapa tempat yang dianggap keramat yang dapat dihubugan dengan sejarah masa lampau Polowijen. Jejak-jejak arkeologis tersebut dapat ditelusuri dan dapat dikorelasikan dengan naskah kuna, prasasti, maupun cerita tutur masyarakat Polowijen. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan historis dan etnoarkeologi berkenaan dengan data situs dan pola pemanfaatan benda tinggalan.

Hasil penulisan menunjukkan bahwa berdasarkan data-data yang terkumpul di lapangan, situs Sumur Windu merupakan tempat suci keagamaan di masa lampau. Menurut prasasti Wurandungan tahun 948 M adalah suatu ‘gurubhakti’ dan menurut naskah Pararaton adalah mandala ‘setra’ agama Budha Mahayana Tantra. Keberadaan goa-goa yang ada di Polowijen merupakan hasil perkembangan kepercayaan masa Majapahit akhir dengan tumbuh suburnya mandala kadewaguruan. Sementara indikasi adanya ‘parhyangan’ berada di sebelah timur desa (sekarang masuk wilayah Arjosari). Juga pemberitaan kondisi tanah di Polowijen yang merupakan tanah kering, sehingga memerlukan irigasi dari sungai yang disobek, yaitu Sungai Mewek (asal kata dari Masuwak/Masuwek). Di dalam cerita tutur yang masih tersimpan dalam masyarakat Polowijen, dengan yang disebut di dalam naskah Pararaton tentang Pu Purwa dan Ken Dedes, terdapat korelasi positif berkenaan dengan tokoh putri, kasus putri, tokoh pemuda, kasus pemuda, dan toponimim.

Kata kunci: Jejak Arkeologis, Naskah Kuna, Prasasti, Tradisi Tutur.

Abstract

Polowijen is an urban village area that is headed by Lurah. Administratively, it is a part of sub-district Blimbing, Malang Town. In this urban village there are some sacred places that are related to the history of Polowijen in past time. Those archaeological remains could be tracked by analyzing ancient manuscript, plaque or inscription, and Poliwijen folklore that are correlated to each other. Methodology that was used to write this study is historical and ethno archaeology approaches that are related to the data collected from archaeology site and historical heritage.

The field data analysis shows that site of Sumur Windu was a religious shrine in the past. According to Wurandungan inscriptions year 948 AD, it was kind of “gurubhakti” and based on Pararaton manuscript it was kind of mandala ‘setra’ for Mahayana Tantra Buddhism. The existence of many caves in Polowijen is the evidence of religion development in the final period of Majapahit era that spread mandala kadewaguruan. Meanwhile, there is an indicator of ‘parhyangan’ in the eastern village which now is included to Arjosari area and the dry land condition of Polowijen that required irrigation from the ripped river which known as Mewek (river from the word Masuwak or Masuwek in Javanese means ripped). In the folklore that is kept in Ken Dedes, there are positive correlation between the princess’ characters, princess’ cases, the youth characters, the youth’s cases, and toponimi.

Keywords: Archaeological remain, Ancient manuscript, Plaque or Inscription, Oral Tradition.

PENDAHULUAN

Secara administratif Polowijen merupakan sebuah wilayah kelurahan masuk wilayah Kecamatan Blimbing Kota Malang. Dipandang sepintas kelurahan ini tidak lebih menonjol dari kelurahan yang lain, dalam arti bahwa Kelurahan Polowijen ditinjau dari monografi kelurahan di Kota Malang, sejajar dengan kelurahan-kelurahan yang lain. Namun dari data sejarah dan arkeologis di lapangan, Polowijen memiliki sejarah budaya yang panjang. Hal tersebut dapat diidentifikasikan bahwa: 1) nama desa ini sudah dikenal pada masa Jawa Kuna, hal ini dapat dilihat pada prasasti berangka tahun 869 saka atau 948 M, yaitu prasasti Wurandungan B. Nama desa waktu itu adalah Panawijyan, 2) desa ini kembali muncul pada abad XII M. Naskah Pararaton mencatat desa ini bernama Panawijen, 3) di dalam naskah Pararaton disebutkan seorang pendeta agama Budha Mahayana di Panawijen, bernama Mpu Purwa, dan mempunyai seorang putri bernama Ken Dedes. Nama Ken Dedes sangat populer dikalangan masyarakat Polowijen melalui tradisi lisan secara turun temurun. Dalam cerita tutur tersebut, Ken Dedes disebut Putri Dedes, 4) terdapat situs arkeologis yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai ‘Sumur Windu’, fragmen umpak, bata merah tebal, periuk gerabah, serta situs goa bawah tanah.

Atas dasar uraian  di atas dapatlah dipahami bahwa Kelurahan Polowijen mempunyai potensi dan peran penting dalam mengisi lembaran sejarah lokal dan nasional serta menyumbangkan khasanah budaya dan nilai-nilai tradisi masyarakat. Dengan berdasar pada beberapa permasalahan tersebut, tujuan dari penulisan ini adalah :

  1. Mendapatkan gambaran obyektif keberadaan tinggalan arkeologis di Kelurahan Polowijen
  2. Mengetahui korelasi antara tinggalan arkeologis dengan prasasti, naskah kuna, dan cerita tutur

Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya Bab I Ketentuan Umum Pasal I ayat 5 bahwa yang dimaksud dengan Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.  Dengan diberlakukannya Undang-Undang tersebut dalam kepentingan pembangunan di daerah mengatur tentang kawasan yang akan dikembangkan apakah terdapat unsur-unsur cagar budaya dalam kawasan tersebut. Dengan demikian apabila kawasan tersebut memang mengandung unsur-unsur Cagar Budaya, maka instansi terkait perlu untuk berkordinasi untuk tindak lanjut penyelamatan dan pelestarian (Hari Lelono, 2013:65).

Situs di Polowijen yang merupakan jejak-jejak arkeologis, yang dalam penanganan pemerintah telah dilakukan pendataan atau belum, oleh masyarakat setempat dijadikan sarana untuk mengaplikasikan nilai-nilai budaya yang dituangkan dalam bentuk praktik-praktik tradisi berupa upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkup atau wilayah tempat tinggal mereka (dusun/desa). Hal itu dilakukan sebagai pernyataan dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam upaya ini pemerintah (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) sudah melakukan penulisan, inventarisasi, registrasi, pendokumentasian, serta bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat melalui ceramah, sarasehan, dan pameran (SPSP Jawa Timur, 1999:13).

Sementara naskah Jawa Kuna yang digunakan di sini adalah Pararaton. Sebuah naskah hasil pengumpulan rekaman tradisi lisan yang penyalinannya selesai ditulis antara tahun 1600 s.d 1613. Naskah Pararaton pertama kali dipublikasikan oleh JLA. Brandes dan NJ. Krom dalam Verhandelingen Bataviasch Genotschap van Kunsten en Wetenschapen, deel LXII. Dalam hal ini Brandes dan Krom memakai naskah-naskah rontal yang pada waktu itu disimpan di Museum Nasional Jakarta, masing-masing adalah kropak no.337, kropak no 550, serta kropak no. 600 (Pitono, 1965:6). Naskah-naskah itu sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI, yaitu naskah dengan no.337 terdiri dari 17 lempir, naskah no. 550, 47 lempir bertahun penyalinan 1535 saka (1613 M), naskah no.600, 53 lempir dan bertahun penyalinan 1522 saka (1600 M), ditambah sebuah koleksi naskah salinan baru yang diberi no.600b, 87 lempir bertahun 1915 saka (1993 M) (Kriswanto, 2009:3-4). Diduga naskah yang paling tua ditulis setelah tahun saka 1403 atau 1481 M pada masa pemerintahan raja Girindrawardhana Dyah Rana Wijaya, yaitu sebagai tahun yang dicatat terakhir dalam Pararaton (Djafar, 2009:20). Pararaton merupakan sumber yang secara eksplisit menyinggung tentang daerah yang bernama Panawijen.

Adapun prasasti yang dimaksud berhubungan dengan daerah Polowijen adalah Prasasti Wuradungan B. Prasasti Wurandungan terdiri dari tujuh  lempeng tembaga bertulisan pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama dan terakhir, ditemukan di daerah Malang, Jawa Timur. Merupakan salinan dari abad ke XIV dan sekarang sudah hilang. Aksara dan bahasanya Jawa Kuna. Isinya menyebutkan bahwa pada tanggal 10 paro terang bulan Phalguna 869 Śaka (= 23 Februari 948), Śrī Mahārāja mpu Sendok memerintahkan agar semua tanah yang menjadi tempat kahyangan yang termasuk wilayah kekuasaan Kanuruhan dijadikan sīma, terutama tanah tempat bangunan suci Sang Hyang Dharma Kahyangan i Wurandungan berada (Brandes, 1913:105-108).

Tradisi tutur adalah suatu cerita yang dituturkan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan dalam lingkup masyarakat tertentu. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa dalam cerita rakyat dianggap pernah ada dan terjadi pada masa lampau atau merupakan hasil rekaan semata-mata karena terdorong ingin menyampaikan pesan atau amanat melalui cerita tersebut (Team Ditjarahnitra, 1980:65). Pesan yang disampaikan pada umumnya berkisar kepada penghormatan terhadap tatanan dan lingkungan alam sekitar maupun tempat tinggalnya, sehingga dapat menimbulkan rasa bangga dan membangkitkan harga diri bagi daerahnya (Lelono, 2003:128). Ditinjau dari bentuknya cerita rakyat dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Mite, Legenda, dan Dongeng. Namun dalam penerapannya di masyarakat terkadang sulit untuk memisahkan antara mite, legenda, dan dongeng, karena cerita yang dituturkan itu merupakan campuran dari ketiganya. Sementara fungsi dari cerita rakyat diantaranya adalah sebagai bentuk hiburan, sarana pendidikan, penggalang rasa kesetiakawanan diantara warga yang empunya cerita, sebagai pengolah nilai-nilai sosial, serta sebagai pengontrol dalam kehidupan bersosial (Team Ditjarahnitra, 1980:66-68).

Dari uraian di atas  dicoba suatu analisis tentang hubungan antara jejak-jejak arkeologis di Polowijen dengan naskah Jawa Kuna, prasasti, dan cerita tutur. Yang nantinya dapat diketahui bahwa jejak-jejak arkeologis di Polowijen tersebut memang benar berasal dari masa atau peristiwa seperti yang diberitakan di dalam naskah Jawa Kuna, prasasti, maupun cerita tutur.


METODE

Mengingat obyek kajian berhubungan dengan kontinuitas historis, maka digunakan pendekatan sejarah (historical approach), yaitu untuk  mengetahui sejarah desa Polowijen di masa lampau. Adapun langkah-langkah dari metode penelitian sejarah sendiri bertumpu kepada empat kegiatan pokok, yaitu: 1) Heuristik; pengumpulan objek yang berasal dari zaman yang bersangkutan dan pengumpulan bahan-bahan tercetak, tertulis dan lisan yang boleh jadi relevan untuk disusun dalam bentuk sejarah sebagai kisah, 2) Kritik; menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian dari padanya) yang tidak otentik. Kegiatan ini meneliti apakah sumber-sumber itu asli baik bentuk maupun isinya. Dengan membagi menjadi kritik intern dan ekstern dalam melakukan pemilihan dan penentuan terhadap sumber sejarah yang diperlukan, 3) Interpretasi; menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik. Di sini kegiatan menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh, setelah fakta-fakta itu dibuktikan kebenarannya, 4) Historiografi; penyampaian sintesa yang diperoleh dalam bentuk suatu kisah sejarah yang berarti (Notosusanto, 1976:35-43; 1986:18).

Pendekatan lain yang dipakai dalam penulisan ini ialah pendekatan Etnoarkeologis, yaitu pendekatan yang dalam penelitiannya mengkaji tingkah laku dan benda-benda budaya dari masyarakat yang hidup sekarang (Bahn, 1992:162). Kegunaan kajian etnoarkeologi ialah untuk memperoleh pengetahuan bandingan dari sistem budaya tradisi yang masih dapat diamati, sehingga dapat memberikan pengertian dan kaitan-kaitan yang ada di dalam sistem budaya dan lingkungan masyarakatnya yang tidak dapat diperoleh dari data arkeologi, khususnya dari data tertulis.

Terdapat dua model yang mendasari pendekatan etnoarkeologi, yaitu direct historical approach dan general comparative approach. Direct historical approach didasari oleh pandangan bahwa budaya yang ada sekarang merupakan kelanjutan perkembangan budaya masa lampau dengan ciri budaya yang telah berkembang sebelumnya. Sedangkan pendekatan general comparative approach didasari oleh pandangan bahwa hubungan antara budaya arkeologi yang mendukungnya telah punah dengan budaya yang masih berlangsung, yang pada hakikatnya adalah hubungan bentuk (Moendardjito, 1981:17-29). Pendekatan etnoarkeologi yang dipakai dalam penulisan ini adalah general comparative approach atau pendekatan hubungan bentuk.


PAPARAN DATA

  1. Jejak-Jejak Arkeologis
  2. Situs Sumur Windu

Situs Sumur Windu atau pula sendang Ken Dedes, menurut keterangan penduduk, atau Situs Ken Dedes menurut versi Pemerintah Daerah, terletak di pinggiran sisi barat pemakaman umum Kelurahan Polowijen. Situs Sumur Windu sebenarnya merupakan tanah cekung yang hanya ditumbuhi satu pohon beringin putih yang kurus kering, dan di sekelilingnya sedikit ditumbuhi semak belukar pendek. Apa bila musim hujan tiba, semak belukar tersebut menjadi rimbun dan hijau subur, namun tidak tinggi. Di sebelah timur, utara, dan barat merupakan tanah tinggi. Kondisi tanah cekung ini didapati hingga akhir 1995. Menurut penduduk, sejak dahulu lahan ini dikeramatkan dan oleh karenanya dijadikan ‘punden’ oleh masyarakat Polowijen.

Suwardono-malang-05

Situs Sumur Windu yang sudah dibangun cungkup di atasnya, dilihat dari sudut tenggara (Dokpri)

Disebut ‘Sumur windu’ sebab apabila hujan deras bagaimanapun, air hujan membanjiri lahan cekung tersebut, sebentar saja airnya langsung habis. Karena air yang masuk sejak dahulu tidak kunjung memenuhi lahan cekung tersebut, maka penduduk menamakan ‘sumur windu’, yang arti harfiahnya ‘sumur delapan tahun’, maksudnya adalah sumur yang dalamnya tak terkirakan hingga delapan tahun perjalanan. Tetapi secara rasional, bagaimana sampai air hujan berapapun masuk tidak memenuhi lahan cekung tersebut, masalahnya di sisi utara tanah cekung adalah mulut dari sebuah goa buatan yang tidak diketahui kedalamannya, yang sudah ditutup oleh penduduk pada zaman Belanda. Beberapa waktu kemudian setelah tahun 1995, di atas tanah cekung tersebut dibangun oleh sebuah yayasan Jawa pemerhati tempat-tempat keramat dengan memberinya cungkup.

Areal situs memang dapat dikatakan luas. Di sebelah selatan situs Sumur Windu, yaitu di persawahan penduduk, terdapat fragmen pondasi bata merah sepanjang ± 7 m. Fragmen pondasi bata merah ini memanjang arah timur-barat dan terbenam di persawahan penduduk dengan kedalaman ± 0.5 m. Di sebelah barat dan barat laut situs, tanahnya tinggi, didapati struktur pondasi bata merah di atas lahan dengan luas sekitar 15 x 30 m. Dalam kandungan struktur ini tahun 1989 (laporan Seksi Kebudayaan Kota Malang), didapati periuk-periuk gerabah yang di dalamnya terdapat tulang-tulang hewan, serta beberapa pecahan keramik. Sementara di luar pagar situs Sumur Windu sisi utara, seperti yang telah disinggung di atas, terdapat mulut sebuah lorong besar yang sudah ditutup oleh penduduk dengan berbagai batang pohon dan sisa-sisa tanaman, sehingga keadaannya sekarang tertutup tanah.

Di atas lahan ini pula dahulu banyak ditemukan umpak-umpak batu dalam bentuk ‘batu kenong’. Menurut keterangan penduduk pula bahwa batu kenong itu dahulunya banyak, namun sekarang hanya tinggal satu. Itu saja beberapa bulan yang lalu pernah raib dicuri orang, namun sekarang batu kenong itu sudah berada di situs Sumur Windu lagi, dan ditempatkan di bagian barat di bawah pohon beringin.

Situs Goa Bawah Tanah

Pada tahun 1993, sekitar 500 m arah barat laut dari situs ‘sumur windu’ tersebut, di wilayah RT 01 RW 03, ditemukan sebuah goa bawah tanah ketika orang sedang membuat sumur. Goa tersebut menurut sementara dugaan pada waktu ketika ditemukan, adalah sebuah sistem pengairan bawah tanah masyarakat Panawijen di masa lampau. Namun demikian dugaan tersebut kiranya tidak dapat dipertahankan, karena ketika orang masuk ke dalam goa tersebut (salah satunya adalah lurah Polowijen saat itu, yaitu Hendry Priyanto), terdapat indikator bahwa goa tersebut merupakan tempat pertapaan bawah tanah. Petunjuk adanya sebuah pertapaan bawah tanah tersebut ditemukannya meja batu padas, pintu kamar goa yang ditopang batu, serta di kanan kiri pintu tersebut terdapat dua batu mirip arca (masih disangsikan terbuat dari batu atau batu padas, karena di dalam kondisinya pengap dan gelap).

Pada tahun 2011 ditemukan sebuah goa lagi di wilayah RT03 RW03 sekitar 500 m sebelah timur goa sumur. Dengan posisi situs Sumur Windu berada di sebelah timur laut. Goa ini pun ketika dimasuki pintunya agak sempit karena tertutup tanah, tetapi di dalam goa, langit-langit lorongnya agak tinggi sekitar 160 cm. namun sayang sampai sejauh 36 meter terdapat longsoran di dalam, sehingga menutup jalan goa, serta tidak didapati benda arkeologis yang dapat mengidentifikasi bahwa goa tersebut berhubungan dengan keagamaan tertentu.

Suwardono-malang-01Mulut goa yang dapat dimasuki. Dilihat dari sudut barat laut (Dokpri)

Situs Punden Joko Lola

Tempat berikutnya yang dapat dianggap keramat oleh penduduk Polowijen adalah punden Joko Lola. Area ini letaknya sekitar 100 m arah timur laut dari situs Sumur Windu. Punden Joko Lola adalah sebuah tempat yang dianggap sebagai tempat atau bersemayamnya Joko Lola ketika berada di Polowijen. Tempat itu adalah sebuah pohon beringin besar di tengah pemakaman, yang di kanan kirinya merupakan tanah kosong. Sekitar tahun 2002 tempat ini diberi pagar oleh pemerhati tempat-tempat keramat, dan di sebelah timur pohon beringin didirikan semacam sanggrahan untuk tempat orang yang bertafakur di sana. Menurut penduduk Polowijen antara situs Sumur Windu dan punden Joko Lola terdapat keterkaitan yang dekat.

Polowijen dalam Pemberitaan Naskah Pararaton

Dadi hana bhujangga boddhasthāpaka ring Panawijen, lumaku mahāyāna, atapa ring setraning wong Panawijen, apuspata sira Pu Purwa. Sira ta anakanak stri tunggal, duk derengira mahāyāna; atyanta ring listuhayuning putrinira, aran Ken Dêdês. Sira ta kawerta yen hayu, tan hana amadani rupanira yen sawetaning Kawi kasub têkeng Tumapêl. Karungu denira Tunggul Amêtung, tumuli sira Tunggul Amêtung datêng ing Panawijen, anjujug maring dukuhira Pu Purwa, kapanggih sira Ken Dêdês, atyanta garjitanira Tunggul Amêtung tumon ing rara hayu. Katuju sira Pu Purwa tan hana ring patapanira, samangka ta Ken Dêdês sinahasa pinalayokên denira Tunggul Amêtung. Saulihira sira Pu Purwa saking paran tan ketêmu siranakira, sampun pinalayokên denira sang akuwu ring Tumapêl, tan wruh ring kalinganira, ya ta sira Pu Purwa anibakên samaya tan rahayu, lingira:”lah kang amalayokên anakingsun mogha tan tutuga pamuktine matia binahud angêris; mangkana won Panawijen asata pangangsone, mogha tan mêtua banune bejine iki, dosane nora awarah iringsun yen anakingsun den walating wong”. Mangkana lingira Pu Purwa. “Kalawan ta anakingsun marajakên karma amamadangi, anghing sotmami ring anakmami mogha anêmwa rahayu den agung bhāgyane”. Mangkana sotira mahāyāna ring Panawijen (Padmapuspita, 1966:9-17),

Tersebutlah seorang pendeta sthapaka pemeluk agama Budha di Panawijen, menganut aliran Mahayana. Ia mempunyai pertapaan di lapangan penduduk Panawijen, bernama Pu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa kecantikannya, bernama Ken Dêdês. Dikabarkan ia sangat cantik. Tidak ada yang menyamai kecantikannya, termashur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel.

Tuńgul Ametuŋ mendengar kabar itu, lalu datang di Panawijen. Langsung menuju ke desa Pu Purwa, bertemu dengan Ken Dêdês. Tuńgul Ametuŋ sangat senang melihat perempuan secantik itu. Kebetulan Pu Purwa tidak ada di pertapaannya. Saat itu Ken Dêdês langsung dilarikan oleh Tuńgul Ametuŋ. Setelah Pu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak mendapati anaknya, sudah dilarikan oleh akuwu di Tumapel. Ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Pu Purwa menjatuhkan sumpah yang tidak baik:”Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam Kenikmatan, semoga ia ditusuk dengan keris dan diambil istrinya. Demikian juga orang-orang di Panawijen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tidak keluar air kolamnya ini, dosanya karena mereka tidak mau memberitahu bahwa anakku dilarikan orang dengan paksa”. Demikian kata Pu Purwa. “Adapun anakku yang telah mempelajari karma amamadangi, sumpahku kepadanya,  semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang besar”. Demikian sumpah pendeta Mahayana di Panawijen (Padmapuspita, 1966:9-57).

Polowijen dalam Pemberitaan Prasasti

Prasasti yang dimaksud berhubungan dengan daerah Polowijen adalah Prasasti Wuradungan. Prasasti Wurandungan terdiri dari tujuh  lempeng tembaga bertulisan pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama dan terakhir, ditemukan di daerah Malang, Jawa Timur. Merupakan salinan dari abad ke XIV dan sekarang sudah hilang. Aksara dan bahasanya Jawa Kuna. Isinya menyebutkan bahwa pada tanggal 10 paro terang bulan Phalguna 869 Śaka (= 23 Februari 948), Śrī Mahārāja mpu Sendok memerintahkan agar semua tanah yang menjadi tempat kahyangan yang termasuk wilayah kekuasaan Kanuruhan dijadikan sīma, terutama tanah tempat bangunan suci Sang Hyang Dharma Kahyangan i Wurandungan berada. Di dalam laporan Brandes-Krom OJO 50 (1913:106), kalimat yang berhubungan dengan daerah Polowijen, dikutipkan dari lempeng ke 4B-5A, sebagai berikut:

4a. ……………… ri kala ni kapū

4b. jāning kanuruhan irīka ta ng kawaligêran makāryya  ri kāla ni kapūjān i sang hyang rahyangta mwang i sang hyang kaswaban ya ta matangnyan wineh tumuta sakapagêh sakawnang ning watêk kanuruhan atêhêr dinūman sīmā lmah umah gaga sīmā sawah ri tāhun kalih jöng kapramanan sangkeng kanuruhan sīmā sawah ring panawijyan 13 jöng kingkaboringaranya sawah kawaligêran kapramāna sangkeng kanuruhan suwakan sajöng gaga rwang jöng kulwaning parhyangan gaga kulwaning gurubhakti kawaligêran kapramāna sīmā mangkana yan pamūjā i sang hyang rahyangta saji ning ma

5a. ngantukakên kbo buñcang pirak 2 ku pakrimah ngaranya kalasa wahupakundan haya(m) satali sukat sa 1 ………


Terjemahan bebas:

Pada saat pemujaan di wilayah Kanuruhan, yang pada saat itu diberikan guna kebutuhan pemujaan kepada Sang Hyang Rahyangta dan kepada Sang Hyang Kaswaban, yaitu diberikan menurut ketetapannya yang diperoleh dari wilayah kekuasaan Kanuruhan. Selanjutnya oleh Kanuruhan diberikan tanah sima pagagan dan tanah sima sawah di (setiap) panen seluas 2 jung. Sima sawah di Panawijyan seluas 13 jung, yang dapat dikatakan bercampur kering, diberikan oleh Kanuruhan yaitu suwakan 1 jung, pagagan 2 jung (yang terdiri dari) pagagan di sebelah barat parhyangan dan pagagan di sebelah barat gurubhakti. Itulah luas tanah sima yang diberikan bagi kelangsungan pemujaan Sang Hyang Rahyangta dengan sesaji (yang diambil) dari hasil pendapatan (sima tersebut), yaitu kebo buncang (kerbau untuk kurban), perak (seberat) 2 kupang dalam bentuk sobekan kecil-kecil, tikar baru, tempayan/tungku api untuk kurban, ayam seikat, dan rumput 1 sa (?.

Cerita Tutur

Cerita tutur masyarakat Polowijen yang hingga sekarang masih eksis berkenaan dengan Sumur Windu adalah cerita tentang putri Dedes sebagai anak perempuan penduduk Polowijen yang pada zaman dahulu disebut Panawijen. Menurut cerita tutur penduduk Polowijen tentang riwayat nenek moyangnya bahwa pada zaman dahulu di Panawijen terdapatlah seorang gadis yang cantik jelita bernama putri Dedes. Karena kecantikannya yang luar biasa, banyak para pemuda yang meminangnya, tetapi putri Dedes masih belum berkenan. Pada suatu ketika datanglah lamaran dari seorang pemuda yang bernama ‘Joko Lola’ dari desa Dinoyo. Joko Lola, menurut kata orang berwajah buruk, tetapi kesaktiannya tinggi. Sosok Joko Lola yang berwajah buruk ini oleh penduduk Polowijen pernah dikorelasikan dengan sebuah arca bermata satu dan kasar buatannya yang kabarnya ditemukan di Malang tanpa menunjuk di mana tempat asal arca tersebut (Blom, 1976:84). Ketika orang tua Joko Lola melamar kepada orang tua putri Dedes, putri Dedes menolak secara halus dengan siasat  agar dibuatkan sebuah sumur yang dalamnya mencapai 1 windu (8 tahun) perjalanan. Pemikiran putri Dedes, dengan syarat seperti itu tentunya Joko Lola tidak akan mampu melaksanakannya.

Di luar dugaan, ternyata Joko Lola mampu membuat sumur tersebut dengan waktu yang singkat. Oleh karena itulah mau tidak mau putri Dedes harus menerima pinangan Joko Lola. Akhirnya disepakati hari pernikahan antara Joko Lola dan putri Dedes. Dari pihak keluarga Joko Lola meminta bahwa pertemuan pengantin hendaknya dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan tidak melebihi dari para perempuan sedang memukul tempat nasinya, yang merupakan tanda bahwa hari sudah mulai pagi. Hal ini untuk menutupi wajah Joko Lola yang buruk itu agar tidak terlihat oleh putri Dedes. Demikianlah akhirnya hari yang sudah ditentukan tiba, kedua mempelai hendak dipertemukan pada tengah malam dengan diiringi musik gamelan.

Begitu hendak dipertemukan, tidak diketahui dari mana asalnya dan siapa yang mengkoordinir. Tiba-tiba terdengar suara ‘tompo’ (tempat nasi terbuat dari anyaman bambu) dibunyikan oleh para gadis Panawijen, dan sebagian ada yang membakar jerami di sebelah timur, sehingga dalam waktu singkat ayam berkokok bersahut-sahutan dan cahaya mulai menerangi sekitarnya. Tampaklah wajah Joko Lola yang buruk itu oleh putri Dedes, sehingga putri Dedes sangat terkejut, ia meronta dan  melarikan diri menuju sumur windu buatan Joko Lola, dan langsung menceburkan diri. Kegaduhan segera terjadi, para pengiring dari kedua belah pihak menjadi panik. Mengetahui putri Dedes meninggalkan Joko Lola, maka seketika itu pula Joko Lola mengumpat kepada para gadis Panawijen yang membunyikan tempat nasi, ‘semoga kelak semua anak perawan di Panawijen tidak akan kawin sebelum payudaranya turun ke bawah seperti orang yang sudah mempunyai anak’ (maksudnya agar kelak tidak menikah hingga usia lanjut). Setelah memberikan kutukan, Joko Lola mengejar putri Dedes dengan menceburkan dirinya ke sumur windu.

Sementara para pengiring bingung tidak menentu, maka terjadi perselisihan antara kedua orang tua mempelai. Kedua orang tua dari mempelai sama-sama membela diri bahwa kejadian tersebut membuat malu keduanya. Oleh karena itu kejadian tersebut cukup sekali ini saja, mereka bersumpah jangan sampai ada lagi pertunangan dan perkawinan antara orang Dinoyo dan orang Panawijen. Demikianlah akhir dari peristiwa antara Joko Lola dan putri Dedes. Joko Lola tidak diketahui rimbanya, sementara putri Dedes pun hilang tidak diketahui ke mana perginya. Beberapa lama kemudian baru diketahui melalui kabar bahwa putri Dedes menjadi istri pembesar di Tumapel, yaitu Tunggul Ametung (Sumber: cerita penduduk Polowijen).


PEMBAHASAN

Di dalam naskah Pararaton yang dapat dipetik untuk dikorelasikan dengan data arkeologis di lapangan adalah keterangan yang berkenaan dengan pendeta Budha Mahayana, yaitu sebagai berikut: “Dadi hana bhujangga boddhasthāpaka ring Panawijen, lumaku mahāyāna, atapa ring setraning wong Panawijen, apuspata sira Pu Purwa”. Tersebutlah seorang pendeta sthapaka pemeluk agama Budha di Panawijen, menganut aliran Mahayana. Ia mempunyai pertapaan di lapangan penduduk Panawijen, bernama Pu Purwa.

Naskah Pararaton menyebutkan bahwa di Panawijen tinggal seorang pendeta ‘sthapaka’ (utama) agama Budha Mahayana bernama Pu Purwa yang memiliki pertapaan di ‘setra’ penduduk Panawijen (Pitono, 1965:24; Padmapuspita, 1966:17; Kriswanto, 2009:38). Setra secara harfiah berarti ladang atau pula tempat pembuangan mayat (Poerwadarminta, t.t:223, Mardiwarsita, 1986:521, Zoetmulder, 2004:524).  Pertapaan merupakan tempat suci bagi seseorang yang mengasingkan diri dalam jangka waktu tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Santiko, 1990:164). Dengan demikian setra yang dimaksud di dalam Pararaton itu bukanlah sebatas ladang atau tegalan biasa. Itu tentunya mencerminkan sebuah lingkaran tempat suci dari sebuah sekte atau aliran tertentu, dalam hal ini suatu aliran dalam agama Budha Mahayana yang dianut oleh Pu Purwa. Oleh karena itu setra merupakan sebuah ‘yantra’, yaitu alat bantu atau sarana bagi latihan-latihan jasmaniah dalam mencapai ‘moksa’ (kelepasan jiwa) yang bersifat magis mistis (Pitono, 1969:2; Rita Istari, 2002:44). Dengan demikian tepatlah apabila setra yang dimaksud di dalam Pararaton adalah ‘lapangan mayat’. Sama halnya dengan tempat magis mistis yang terdapat dalam cerita Calon Arang. Pu Bharada dan Calon Arang, menggunakan setra/lapangan mayat sebagai sarana meditasinya (Poerbatjaraka, 1975: 22 dan 26). Dari beberapa keterangan di atas dapatlah diidentifikasi bahwa keagamaan pendeta Pu Purwa adalah Budha Mahayana beraliran Tantra. Oleh karenanya dapatlah kita pahami, mengapa ia memiliki tempat suci di sebuah ‘setra’ penduduk Panawijen.

Dari bukti-bukti artefak seperti struktur pondasi bata merah, batu kenong, serta mulut goa yang sudah tertutup tanah.  Di sini  pula dahulu ditemukan banyak batu umpak berbentuk kenong, sekarang tinggal satu. Struktur pondasi dan batu kenong menunjuk kepada adanya sebuah bangunan hunian, bukan tempat suci semacam candi atau kuil. Hal yang mengarah kepada sebuah bangunan bukan hunian biasa, tetapi merupakan hunian keagamaan, karena dalam kandungan struktur situs ini sekitar tahun 1989 didapati periuk-periuk gerabah yang di dalamnya terdapat tulang-tulang hewan, serta beberapa pecahan keramik. Juga menurut keterangan penduduk pula menyebutkan bahwa sekitar tahun 1950 an di tempat itu masih didapati arca (sebagai catatan bahwa indikator adanya ‘arca’ tidak perlu kita masukkan dalam konteks ‘setra’ sebagai benda mediator zaman Pu Purwa. Karena di pasetran, para Tantrin tidak memerlukan mediator arca. Kalaupun keterangan penduduk itu dapat dipercaya, di duga arca yang menjadi tinggalan arkeologis di Polowijen bisa saja merupakan arca tinggalan zaman ‘parhyangan’ masa sebelum Pu Purwa, atau bisa jadi itu adalah arca dari tempat lain yang di zaman kemudian disatukan di sana oleh penduduk. Mengingat tidak dapat diidentifikasikannya secara ikonografis maupun pantheis, sehingga tidak dapat ditentukan bahwa arca itu dari tinggalan kepercayaan dan zaman apa).

Jauh sebelum masa Pu Purwa, indikasi adanya tempat keagamaan di Polowijen ini sudah disinggung di dalam prasasti Wurandungan B yang dikeluarkan tanggal 23 Pebruari 948 M (Damais, 1955:172), yaitu pada zaman raja Sindok. Prasasti Wurandungan B menyinggung sebuah wanua (desa) bernama Panawijyan yang termasuk dalam wilayah watak Kanuruhan. Di  dalam wanua Panawijyan tersebut terdapat sebuah parhyangan dan sebuah gurubhakti. Istilah ‘sīmā sawah ring panawijyan 13 jöng kingkaboringaranya sawah kawaligêran kapramāna sangkeng kanuruhan suwakan sajöng gaga rwang jöng kulwaning parhyangan gaga kulwaning gurubhakti’ (Brandes, 1913:105). Sima sawah di Panawijyan seluas 13 jung, yang dapat dikatakan bercampur kering, diberikan oleh Kanuruhan yaitu suwakan 1 jung, pagagan 2 jung (yang terdiri dari) pagagan di sebelah barat parhyangan dan pagagan di sebelah barat gurubhakti. Parhyangan adalah tempat pemujaan dewa (Zoetmulder, 2004:374), sementara Gurubhakti arti harfiahnya adalah berbakti kepada guru (Mardiwarsito, 1986:200; Zoetmulder, 2004:321). Dengan demikian di Panawijen pada tahun 948 M sudah ada tempat pemujaan dewa (semacam candi desa), dan sebuah gurubhakti, yang dapat diinterpretasikan sebagai suatu tempat (mandala) belajar agama.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa di Panawijen pada masa Pu Sindok (abad X) itu adanya ‘parhyangan’ dan ‘gurubhakti’. Sementara kenyataan di lapangan yang kita dapati sekarang bahwa situs sumur windu dan sekitarnya tidak mengindikasikan sebuah parhyangan. Parhyangan secara sederhana dapat diartikan sebagai punden atau candi desa pada tahun 948 M ketika prasasti Wurandungan di tulis, dan itu menunjuk kepada adanya suatu kepercayaan Hindu yang bercampur dengan kepercayaan lokal. Di Jawa Timur kebanyakan parhyangan sepanjang yang sudah dikunjungi, dilihat dan didata, sebagian besar tinggalan parhyangan selalu menyisakan benda-benda indikasi arkeologis-religius seperti fragmen lingga, yoni, arca, beberapa bata merah atau balok batu. Di Polowijen terutama di situs Sumur Windu, kecuali bata merah dan fragmen umpak dalam bentuk batu kenong, indikator seperti tersebut lingga, yoni, arca, tidak ditemukan sama sekali. Apabila mengikuti pekabaran penduduk bahwa dahulu di sekitar Sumur Windu ditemukan arca, itupun masih menjadi suatu kesangsian. Bahwa arca tersebut memang in situ, atau arca itu dari pantheon apa, tidak didapat keterangan lebih lanjut yang memuaskan. Lagi pula kalau dilihat dari struktur kawasan situs dapat dikatakan bahwa kawasan situs mengandung adanya pondasi, umpak tiang, periuk-periuk gerabah berisi tulang, dan sebuah goa, lebih mengindikasi ke arah sebuah mandala keagamaan daripada parhyangan.

Indikasi sebagai mandala keagamaan, korelasinya lebih mendekati pemberitaan naskah Pararaton tentang adanya pertapaan milik pendeta Pu Purwa di ‘setra’ milik penduduk Panawijen, yang pada zaman Sindok, menurut prasasti Wurandungan tempat tersebut merupakan sebuah mandala gurubhakti. Di duga di zaman Majapahit boleh dikata lebih sinkretis lagi, yaitu suatu kepercayaan ganda yang bercampur pula dengan kepercayaan lokal, yaitu dimanis-animis. Kenyataan di lapangan mengindikasikan bahwa lorong bawah tanah yang dibuat di sekitar situs Sumur Windu merupakan bukti bahwa tempat tersebut belakangan menjadi sebuah mandala kadewaguruan.

Mandala kadewaguruan tidak lain adalah suatu pendidikan agama yang letaknya jauh terpencil di tempat sunyi. Karena mandala pertapaan itu dipimpin oleh seorang siddharesi atau maharesi yang disebut pula dewaguru, oleh karenanya mandala dikenal dengan sebutan kadewaguruan. Dewaguru memiliki murid-murid yang terdiri dari para pertapa laki-laki yang dikenal dengan sebutan kaki, dan pertapa perempuan (tapi) yang dikenal dengan sebutan endang (Santiko, 1990:163).

Para pertapa tersebut dalam melakukan semadi atau tapa memerlukan suatu tempat pengunduran diri yang sunyi guna mengendalikan diri yang dilakukan dengan semangat dan kemauan yang teguh yang menimbulkan ‘panas badan’, guna mencapai keberhasilan mencari kebenaran tertinggi dengan tujuan untuk mencapai kelepasan jiwa (Hopkins, 1971:27). Tempat sunyi guna mencapai kelepasan jiwa itu kiranya di wilayah Polowijen yang lokasinya jauh dari hutan, namun dekat dengan bekas ‘setra’, maka sengaja dibuatlah lorong bawah tanah mirip goa sebagai tempat bertapa.

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa situs Sumur Windu sebenarnya adalah sisa-sisa dari mandala keagamaan pada zaman Hindu, yaitu sebuah Gurubhakti pada masa Sindok, yang berubah menjadi mandala ‘setra’ agama Budha pada masa Pu Purwa. Dalam perkembangannya kemudian (diduga di zaman Majapahit akhir), di sekitarnya dibuat lorong-lorong bawah tanah sebagai tempat untuk memanaskan badan (tapa) bagi para pengikut kepercayaan kebatinan pada zaman ketika pengaruh agama Hindu dan Budha sudah luntur di masyarakat. Dengan demikian situs Sumur Windu memang bekas tempat yang religious sepanjang abad X s.d XV M.

Bagaimana dengan pemberitaan prasasti Wurandungan  yang menyebutkan bahwa di Panawijyan terdapat ‘parhyangan’? Apakah parhyangan di Panawijyan yang sekarang menjadi Polowijen itu sudah hilang tanpa bekas? Sementara di tempat lain kebanyakan parhyangan setingkat desa pun masih dapat kita jumpai bekas-bekasnya?

Apabila kita bersoal dengan masalah sisa-sisa arkeologis parhyangan di Polowijen, sampai saat ini pun tidak akan ditemukan. Sebagaimana umumnya, kebiasaan masyarakat Jawa membuat suatu pekuburan dengan memanfaatkan lahan sisa-sisa tempat suci pada masa Hindu-Budha. Punden desa di Polowijen secara umum adalah makam orang yang dianggap keramat pada masa perkembangan agama Islam. Pun di punden makam tersebut tidak mengindikasikan adanya sisa-sisa arkeologis yang dahulunya pernah berdiri sebuah parhyangan pada masa Jawa Kuna.. Jika demikian di manakah parhyangan di Panawijyan yang disebut-sebut di dalam prasasti Wurandungan tahun 948 itu?

Analisa berikut ini mungkin dapat mendamaikan antara pemberitaan di dalam prasasti Wurandungan dengan jejak-jejak arkelologis di Polowijen. Di seberang timur jalan utama Malang-Surabaya, sejajar dan sangat dekat dengan Kelurahan Polowijen, yaitu Kelurahan Arjosari Kecamatan Blimbing Kota Malang. Tepat di ujung timur kelurahan ini, di makam Islam ‘Kesek’, sebuah makam yang berada dekat dengan pertemuan antara Sungai Mewek dan Sungai Bango, terdapat sisa-sisa arkeologis dari sebuah ‘parhyangan’ Hindu. Benda yang dapat dilihat sekarang adalah fragmen yoni, beberapa bata merah tebal, dan pecahan lingga patok, yang ditempatkan di bawah pohon besar. Sekitar tahun 1989 masih sempat dilihat sebuah lingga pasangan yoni tersebut, pun bata merah tebal waktu itu cukup banyak. Seiring perkembangan zaman, benda-benda tersebut sekarang tersisa sedikit.

Suwardono-malang-03

Sisa-sisa fragmen parhyangan berupa ‘yoni, bata merah tebal, pecahan lingga patok’ di makam ‘Kesek’ Arjosari (Dokpri)

 

Dalam pada ini kita tidak perlu merasa terikat oleh sebuah wilayah kelurahan yang terbentuk pada masa kemudian, artinya wilayah Kelurahan Polowijen dan wilayah Kelurahan Arjosari yang sekarang ini terbentuk pada zaman Belanda, yaitu menurut Gemeenteblad no.108 tahun 1937 (Suwardono dan Rosmiayah, 1997:52). Secara geografis dua wilayah kelurahan itu satu dan tidak amat luas. Kelurahan Polowijen saja sekarang wilayahnya terbagi di barat dan timur jalan poros Malang-Surabaya (lihat peta gambar 1), yang kebetulan wilayah sebelah timur jalan, bagian utara sepanjang Sungai Mewek, adalah wilayah Kelurahan Arjosari, yang diduga dahulunya merupakan satuan dukuh dari desa Polowijen.

Melihat kenyataan itu tidaklah keberatan apabila Polowijen dahulunya memiliki sebuah parhyangan dan sebuah gurubhakti. Parhyangan berada di ujung timur desa, sementara gurubhakti berada di barat desa. Kondisi alamnya sesuai dengan pemberitaan dalam prasasti Wurandungan. Tanah di sebelah barat parhyangan merupakan tanah gaga (memang demikian adanya bahwa wilayah Kelurahan Arjosari juga tidak ada sumber air, sedangkan sumur pun kedalamannya sama dengan di Polowijen, kecuali Sungai Mewek yang curam). Sementara tanah di sebelah barat gurubhakti juga merupakan tanah gaga. Memang demikian adanya. Sungai irigasi kecil yang sekarang melintas di sebelah selatan situs Sumur Windu itu menurut keterangan penduduk, dibuat pada zaman Belanda. Mengingat prasasti Wurandungan hanya menyebut suwakan 1 jung (700m2), sementara masa pendeta Pu Purwa juga mengindikasikan tidak adanya sumber air dalam sumpahnya. Maka sangat signifikan kondisi tanah di Polowijen dengan pemberitaan naskah Pararaton dan prasasti Wurandungan, yaitu sebagai tanah yang kering tidak berair.

Analisa berikutnya berhubungan dengan sumpah serapah yang dilontarkan oleh Pu Purwa kepada orang yang melarikan anaknya serta para penduduk di Panawijen. Teks dalam Pararaton menyebutkan sebagai berikut: ya ta sira Pu Purwa anibakên samaya tan rahayu, lingira:”lah kang amalayokên anakingsun mogha tan tutuga pamuktine matia binahud angêris; mangkana won Panawijen asata pangangsone, mogha tan mêtua banune bejine iki, dosane nora awarah iringsun yen anakingsun den walating wong”. maka Pu Purwa menjatuhkan sumpah yang tidak baik:”Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam Kenikmatan, semoga ia ditusuk dengan keris dan diambil istrinya. Demikian juga orang-orang di Panawijen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tidak keluar air kolamnya ini, dosanya karena mereka tidak mau memberitahu bahwa anakku dilarikan orang dengan paksa”.

Suatu kenyataan yang tidak terbantahkan di lapangan, memang di Polowijen sekarang tidak ada sumber air. Jangankan artesis, sumur saja kedalamannya sekitar 25 meter. Sumber air (beji) didapat di tepi sungai Mewek yang kontur tanahnya menurun di bawah wilayah desa. Menurut cerita penduduk, kondisi ini dihubungkan dengan sumpah pendeta Pu Purwa saat itu, karena kesalahan penduduk Panawijen yang tidak memberitahu kepada Pu Purwa ke mana hilangnya anaknya.

Sekarang marilah kita tinjau dari sisi rasional. Wilayah Polowijen kalau kita perhatikan menurut prasasti Wurandungan tahun 948 M. tentang kondisi tanah di Panawijyan, dikatakan bahwa tanah di Panawijyan itu ‘sīmā sawah ring panawijyan 13 jöng kingkaboringaranya’. Sima sawah di Panawijyan seluas 13 jung, yang dapat dikatakan bercampur kering.

Yang dimaksud dengan bercampur kering itu adalah tanah yang gersang tidak subur. Memang demikian adanya. Dalam kenyataan penghasilan dari pertanian di Panawijyan saat itu sebagian adalah padi gaga dan sangat sedikit padi basah. Padi gaga dihasilkan secara proses ditanam di ladang dengan bergantung kepada air tadah hujan, sementara padi basah dihasilkan dari ladang yang diairi. Lahan yang diairi itu menurut prasasti hanya 1 jung (7 are atau 700m2). Kiranya apa yang diberitakan dalam prasasti dengan istilah ‘suwakan’, yaitu lahan yang diairi dengan cara membedah/menyobek bibir sungai dan kemudian airnya dialirkan) dapat kita jumpai di wilayah Polowijen sebelah barat. Di sana terdapat sebuah bendungan kecil dari sungai Mewek. Ketika dikonfirmasikan kepada warga berkenaan dengan bendungan kecil tersebut, didapat keterangan dari kakek-buyut mereka bahwa bendungan kecil tersebut sudah ada sejak dahulu yang pada zaman Belanda dan zaman Jepang diperbaiki. Sebelum itu bendungan kecil tersebut hanya dibendung dengan menggunakan batang-batang pohon kelapa.

Suwakan yang dimaksud di dalam prasasti memang sudah tidak sesuai dengan kondisi yang ada sekarang. Aliran sungai yang disobek untuk irigasi, sekarang mengalir jauh sampai ke timur hingga melintas jalan raya (di bawah fly over) dan bertemu dengan sungai Bango. Tetapi pada zaman prasasti itu dibuat, sesuai dengan pemberitaan ‘suwakan yang hanya 1 jung’, kiranya teridentifikasi di sisi timur bendungan. Indikator lahan yang luasnya ± 700 m2 itu memang sisa-sisa aliran suwakan (lihat gambar 13). Ada semacam aliran sungai kecil (bhs. Jawa: wangan) yang berbelok ke utara menuju sungai Mewek lagi (lihat gambar 14).

Menarik perhatian pula tentang adanya ‘suwakan’ yang disebut di dalam prasasti. Menurut arti khusus, suwakan adalah jenis tanah yang telah diolah dan ditanami yang khas (Zoetmulder, 2004:1164), atinya juga sebuah empang dipinggir sungai untuk memelihara ikan (Poerwodarminta,t.t:236). Dilihat dari konteks kalimatnya, yang dimaksud dengan suwakan di sini tentunya jenis tanah yang telah diolah dan ditanami yang khas (padi basah). Lahan untuk menanam padi yang suplai airnya diambil dari air sungai yang pinggir sungainya disobek (suwak). Kata ‘suwak’ (Jawa baru: suwek, Indonesia: sobek), apabila mendapat awalan ‘ma’, menjadi ‘masuwak’. Awalan ‘ma’ dalam tatanan bahasa Jawa Kuna dapat menyatakan perbuatan, sifat, dan keadaan, yang diterjemahkan dengan awalan ‘ber’, ‘menjadi’, ‘dalam keadaan’, dan ‘me’ (Wojowasito, 1982:8). Dalam hal ini ‘Masuwak’ dapat berarti menjadi sobek. Yang menjadi sobek (masuwak) tersebut adalah sungai induk yang dibedah tersebut. Kata ‘masuwak’ ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan bunyi dari ‘masuwak’ –  ‘masuwek’‘maswek’‘mawek’– dan akhirnya ‘mewek’. Demikianlah sampai sekarang sungai tersebut memang bernama Sungai Mewek.

Analisa terakhir adalah tentang cerita tutur penduduk Polowijen berkenaan dengan tokoh putri Dedes, atau tokoh Ken Dedes dalam naskah Pararaton.  Dalam cerita tutur diketahui bahwa putri Dedes sebelum menjadi istri dari akuwu di Tumapel yaitu Tunggul Ametung, sudah pernah dijodohkan dengan pemuda yang bernama Joko Lola. Sementara naskah Pararaton menyebutkan bahwa Ken Dedes berasal dari Panawijen putri pendeta agama Budha Mahayana bernama Pu Purwa, yang dilarikan oleh Tunggul Ametung untuk dijadikan istrinya.

Terdapat beberapa titik persamaan antara cerita rakyat Polowijen dengan naskah Pararaton. Beberapa pokok yang dapat diambil dalam cerita tutur penduduk Polowijen tersebut adalah: 1) tokoh putri Dedes, 2) tokoh pemuda Joko Lola yang buruk rupa, 3) toponim daerah yaitu Panawijen dan Dinoyo, 4) hilangnya putri Dedes di Sumur Windu.

Marilah sekarang menganalisa satu persatu pokok-pokok permasalahan yang terdapat di dalam cerita tutur penduduk Polowijen tersebut. Pertama, tokoh putri Dedes adalah Ken Dedes yang disebut di dalam Pararaton. Di sini tentunya penduduk Polowijen secara turun temurun masih mengingat namanya hingga sekarang bahwa Ken Dedes pernah hidup dan tinggal di desa Panawijen yang sekarang berubah nama menjadi Polowijen. Kedua, bahwa putri Dedes pernah dilamar oleh seorang pemuda yang bernama Joko Lola. Nama ini tidak terdapat di dalam naskah Pararaton apalagi  Negarakertagama. Nama ini merupakan nama panggilan yang diberikan oleh penduduk Polowijen terhadap seorang pemuda buruk rupa yang dikatakan berasal dari Dinoyo. Pararaton menceritakan tentang asal-usul Ken Angrok yang buruk kelakuannya tetapi kelak menjadi raja  bahwa dirinya dilahirkan dari seorang ibu dengan seorang ayah yang gaib (dewa Brahma). Dengan demikian Ken Angrok mempunyai seorang ibu yang jelas, yaitu Ken Endok dan seorang ayah yang tidak jelas. Hal ini kelak memunculkan anggapan di kalangan masyarakat dengan menyebutkan bahwa Ken Angrok anak yang ‘lahir tanpa ayah’. Sementara  Negarakertagama yang digubah di dalam lingkungan istana menyebutkan bahwa pendiri kerajaan Singasari, yaitu Rajasa adalah putra dari sang Girinata (sang Siwa) yang lahir tanpa ibu. Hal ini pun kelak dalam kalangan bangsawan istana akan menimbulkan persepsi baru bahwa leluhurnya (Ken Angrok), dikenal sebagai seorang yang ‘lahir tanpa ibu’. Jika mengikuti keduanya, maka akan didapatkan bahwa Ken Angrok itu orang yang ‘lahir tanpa ibu-tanpa ayah’. Seorang anak yang sudah tidak mempunyai bapak dan tidak mempunyai ibu dalam lingkungan masyarakat Jawa disebut ‘Lola’ (Poerwadarminta, t.t.:126). Dari argumentasi tersebut membawa kepada sebuah indikasi bahwa Joko Lola tersebut sama dengan Ken Angrok.

Ketiga, tentang toponim desa Panawijen dan desa Dinoyo, tempat asal kedua calon pengantin. Panawijen disebut-sebut di dalam Pararaton sebagai tempat tinggal Ken Dedes bersama orang tuanya, yaitu Pu Purwa. Sementara dalam cerita rakyat disebutkan bahwa putri Dedes tinggal bersama kedua orang tuanya di Polowijen. Yang menarik perhatian adalah asal desa ‘Joko Lola’, yaitu Dinoyo. Mengapa harus Dinoyo yang dipilih oleh penduduk Polowijen sebagai tempat asal Joko Lola? Mengapa tidak desa di sekitar Polowijen yang lebih dekat? Sehingga sampai pada akhirnya menimbulkan sebuah kutuk berkepanjangan bahwa orang Polowijen tidak boleh berjodohan dengan orang Dinoyo? Terdapat catatan menarik tentang desa Dinoyo ini. Dekat dengan desa Dinoyo terdapat sebuah dukuh bernama Karuman, tempat Ken Angrok diaku anak dan diasuh oleh Bango Samparan. Dengan demikian ketika Ken Angrok dewasa, ia dikenal orang bukan seorang pemuda dari Pangkur, tetapi dikenal sebagai pemuda dari Karuman anak Bango Samparan.

Penduduk Polowijen lebih mengingat nama Dinoyo, dan bukan Karuman dapat dimaklumi, mengingat Dinoyo merupakan kota pemerintahan sejak zaman dahulu. Ingat, di sini dulu pernah berdiri kerajaan yang tertua di Jawa Timur, yaitu kerajaan Kanjuruhan. Pada masa-masa berikutnya sampai zaman Sindok daerah Dinoyo tetap menjadi kota pemerintahan, yaitu wilayah ‘watak’ dari Rakryan Kanuruhan. Sementara desa Karuman yang lokasinya pada waktu itu terdapat di dalam wilayah Dinoyo, namanya baru tercatat pada saat Pararaton digubah. Tidak diketahui dengan pasti kapan nama desa ini mulai muncul. Yang jelas di dalam prasasti-prasasti yang berkenaan dengan daerah Malang, tidak didapat nama desa Karuman, yang tertulis justru nama Kawangyan (Kawangian bentuk karma dari Karuman). Atas dasar ini cerita tutur penduduk Polowijen secara mudah lebih menyebut daerah Dinoyo daripada Karuman.

Keempat, cerita tutur penduduk Polowijen menyebutkan bahwa putri Dedes hilang karena masuk ke sumur windu. Beberapa waktu lamanya baru diketahui bahwa putri Dedes menjadi istri pembesar di Tumapel. Naskah Pararaton menyebutkan bahwa hilang (dilarikan)nya Ken Dedes oleh akuwu Tunggul Ametung tanpa diketahui penduduk Panawijen, ketika Pu Purwa sedang tidak ada di rumah.

Dari analisis di atas ternyata antara cerita tutur penduduk Polowijen dengan Pararaton terdapat hubungan yang signifikan. Untuk lebih jelasnya lihat bagan di bawah ini:

Indikator Naskah Pararaton Cerita Penduduk Polowijen
Tokoh Putri Ken Dedes Putri Dedes
Kasus Putri Dedes hilang dibawa lari akuwu dari Tumapel Dedes hilang  masuk sumur windu, lama kemudian menjadi istri pembesar Tumapel
Tokoh Pemuda Ken Angrok (Pararaton menyebut ayahnya gaib,  Negarakertagama menyebut tanpa ibu) Joko Lola (pemuda yang tidak mempunyai bapak dan tidak mempunyai  ibu)
Kasus Pemuda Berkelakuan buruk Berwajah buruk
Toponimim Angrok dari Karuman (wilayah Dinoyo) Joko Lola dari Dinoyo (membawahi  Karuman)


KESIMPULAN

Dari beberapa ulasan tentang jejak-jejak arkeologis di Polowijen dengan naskah kuna, prasasti, dan cerita tutur dapat disimpulkan bahwa:

  1. Situs Sumur Windu yang di sekitarnya banyak didapat struktur bata merah, fragmen batu kenong, dan situs lorong/goa bawah tanah merupakan indikator kuat bahwa dahulu di Polowijen terdapat ‘gurubhakti’ menurut prasasti Wurandungan tahun 948 M. Dan pada abad XII M menjadi suatu mandala ‘setra’ bagi agama Budha Mahayana sekte Tantra. Akhirnya masa Majapahit abad XV M. menjadi semacam tempat mandala kadewaguruan bagi kepercayaan asli. Sementara sisa-sisa parhyangan berada di timur desa, yang sekarang berada di wilayah Kelurahan Arjosari.
  2. Prasasti Wurandungan menyebutkan bahwa di Panawijyan ada ‘suwakan’ yang mengindikasikan adanya suatu aliran sungai yang disobek. Sungai yang disobek tersebut sebuah sungai yang sekarang bernama Sungai Mewek (asal kata dari Masuwak/Masuwek: yang disobek).
  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara cerita tutur penduduk Polowijen dengan Pararaton berkenaan dengan Tokoh Putri, Kasus Putri, Tokoh Pemuda, Kasus Pemuda, dan Toponimim


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1986. Antropologi Budaya. Surabaya: CV. Pelangi.

Bahn, Paul (ed). 1992. Dictionary of Archaeology. Glasgow: Harper Collins Publishers.

Blom, J.Oey. 1976. Kepurbakalaan Singasari. Terjemahan Mudjadi & Agus Salim. Surabaya: FKIS IKIP.

Brandes, J.L.A. 1913. Oud-Javaansche Oorkonde, nagelaten transcripties van wijlen  Dr. J.L.A. Brandes, uitgegeven door N.J. Krom. VBG, LX. Batavia: Albrecht&Co’s – Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Damais, Louis-Charles. 1955. “Études Javanaises: IV. Discussion de la date des Inscription”. BÉFEO 47:1

Habib Mustopo, dkk. 1986. Upacara Tradisional Jawa Timur. Surabaya: Kanwil Depdikbud Jatim dan Ditjarahnitra.

Hari Lelono, T.M. 2003. Seni Tradisi dan Folklor Sebagai Suatu Elemen Pendukung Data Arkeologi dalam Mencari Hari Jadi Sebuah Kota/Wilayah.. Dalam Berkala Arkeologi Tahun XXII Edisi No.2. Yogyakarta: Balai Arkeologi

…………………..  2013. Publikasi Hasil Penulisan Arkeologi Untuk Publik: Kasus Situs Liyangan. Dalam Arkeologi dan Publik. Yogyakarta: Kepel Press.

Hopkins, Thomas, J. 1971. The Hindu Religions Traditions. Belmont-California: Wadsworth Publisting Company.

Ismuhendro, Henky. 1999. Entas-Entas pada Masyarakat Tengger di Desa Ngadas Sukapura Probolinggo Jawa Timur. Surabaya: Kanwil Depdikbud Jatim.

Kriswanto, Agung. 2009. Pararaton. Alih Aksara dan Terjemahan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Mardiwarsito, L. 1986. Kamus Jawa kuna-Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Moendardjito. 1981. Etnoarkeologi: Peranannya dalam Pengembangan Arkeologi Indonesia. Dalam Majalah Arkeologi IV (1-2): 17-24. Jakarta: Puslit Arkenas.

Noto Susanto, Nugroho. 1976. Masalah Penulisan Sejarah Kontemporer: Suatu Pengalaman. Jakarta: Yayasan Idayu.

…………………………  1986. Mengerti Sejarah (Terjemahan). Jakarta: Gramedia.

Padmampuspita, ki, J. 1966. Pararaton. Yogyakarta: Taman Siswa.

Pitono, R.  1965. Pararaton. Jakarta: Bhratara.

…………. 1969. Pengaruh Tantrayana pada Kebudayaan Kuno Indonesia. Dalam Majalah Basis 18 No.2 Hal:389-399.

Poerbatjaraka, R.M. 1975. Calon Arang Si Janda dari Girah. Terjemahan Soewito Santoso. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Poerwadarminta, WJS. tanpa tahun. Katrangan Tegesing Temboeng-Temboeng. Groningen-Batavia: JB. Wolters.

Rita Istari, T.M. 2002. Pelaksanaan Upacara Ritual dalam Tantrayana. Berkala Arkeologi Tahun XXI No.1/Mei :40-48. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Rostiyati, Ani. 1994. Fungsi Upacara Tradisional bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini. Yogyakarta: Proyek P2NB.

Soepanto. 1991. Upacara Tradisional Sekaten D.I.Y. Yogyakarta: Proyek IPNB.

Santiko, Hariani. 1990. Kehidupan Beragama Golongan Rsi di Jawa. Dalam Monumen Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Hal.156-171. Depok: Fak. Sastra Universitas Indonesia.

Suaka Peningalan Sejarah dan Purbakala. 1999. Benda Cagar Budaya dan Usaha Pelestariannya. Mojokerto: SPSP Jawa Timur.

Suwardono dan Rosmiayah, S. 1996. Monografi Sejarah Kota Malang. Malang: Sigma Media.

Team Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. 1980. Manfaat Pengumpulan Crita Rakyat dalam Rangka Penyelamatan dan Pemeliharaan Warisan Budaya. Dalam Analisis Kebudayaan Tahun 1 No.1. Hal.65-71. Jakarta: Balai Pustaka.

Zoetmulder, P. J. dan Robson, BD. 2004. Kamus Jawa kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia.


DAFTAR INFORMAN

Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Alamat
Wahyu Subroto 46 SMA Swasta Jl. Polowijen II/410-412
Moh. Djaid Harsono 74 SMA Purn. TNI Jl. Polowijen II/395A
Sentot Prihadjani Sugito 57 S2 Dosen Perum Cakalang Asri A/6 Malang
Didik Dwi Tjahyono 53 Sarjana PNS/Guru Jl. Cakalang 245 Malang
Wahyu Subroto 48 SMA Swasta Jl. Polowijen II/410 Malang
Heru Sutjahjo 66 Sarjana PNS Jl. Polowijen II/485B
Hendry Priyanto, AP.M.Si 41 S2 PNS/Mantan Lurah Polowijen Jl. Selat Karimata E G/1 Malang


Penulis
: Suwardono
Guru Sejarah SMA Negeri 7 Kota Malang dan Purbakalawan Jawa Timur bidang Klasik(masa Hindu-Buddha) spesialisasi epigrafi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: