Oleh: hurahura | 28 Maret 2012

Konservasi – Mengabadikan Jejak Sumedanglarang Sebelum Tenggelam

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO
Petugas dari Balai Konservasi Purbakala Borobudur mengoperasikan laptop yang menggerakkan pemindai tiga dimensi dari jarak jauh, Senin (16/1). Mereka tengah memindai makam Mbah Janggot, atau Janggot Jayaperkasa, satu dari 46 situs yang nantinya ditenggelamkan oleh Waduk Jatigede. Pendokumentasian ini dilakukan agar kekayaan purbakala itu tidak musnah dan bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.

KOMPAS, Kamis, 22 Maret 2012 – Bramantara (35) beserta empat orang dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur akhirnya tiba di makam Mbah Janggot, panggilan dari Janggot Jayaperkasa, di Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tak seperti dua lokasi pendataan sebelumnya, lokasi terakhir, pada pertenghan Januari lalu itu, relatif lebih mudah dijangkau. Hanya berjarak 150 meter dari Jalan Raya Sumedang-Wado.

Berjalan melewati kompleks kuburan, sampailah mereka di areal terbuka yang dikelilingi pohon yang menjulang, lebih dari 10 meter. Sang kuncen makam, Rasma, mengangguk, yang diartikan bahwa mereka sudah tiba di makam karuhun atau leluhur desa tersebut. Penandanya hanya berupa tumpukan batu dengan formasi tak simetris di atas tanah yang sudah menghijau karena lumut.

Pekerjaan mereka pun dimulai. Diawali dengan memasang pemindai tiga dimensi di atas tripod, yang kemudian disambungkan ke laptop dengan kabel LAN. Tidak lupa, ada yang meletakkan target berbentuk lingkaran dan persegi di sekitar makam Mbah Janggot, gunanya untuk membantu pemindaian. Laptop yang diletakkan di atas tanah langsung dinyalakan anggota tim untuk mengoperasikan pemindai dari jarak jauh.

Pemindai pun memulai kerjanya dengan berputar untuk mengambil gambar 360 derajat, yang kemudian ditempel secara otomatis sehingga mendapatkan gambar utuh dan tidak terpotong. Tahap berikutnya, alat buatan Leica itu menembakkan laser dengan kecepatan 25.000 titik per detik di sekelilingnya. Menurut Bramantara, fungsinya adalah mendapatkan penggambaran utuh secara tiga dimensi tanpa harus disentuh. Kali ini, tugas mereka terbilang ringan karena bentuk situs yang tidak terlalu rumit sehingga posisi pemindai hanya perlu dipindah sekali.

Dengan pemindaian seperti ini, hasilnya bisa berupa animasi, foto, dan penggambaran situs ini secara tiga dimensi.

Menurut Bramantara, timnya sudah merampungkan pemindaian 13 situs di Sumedang sejak seminggu sebelumnya. Sebelum Jumat (20/1), pihaknya harus merampungkan total 31 situs yang tersebar di Sumedang karena setelah itu harus bergerak ke daerah lain. Pasalnya, hanya Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sebagai instansi pemerintah yang memiliki pemindai seharga Rp 2 miliar, itu pun bantuan dari UNESCO pada tahun 2004.

Selama bekerja, hambatan utama mereka adalah medan yang berat serta cuaca yang berubah-ubah. Tak jarang, Bramantara dan kawan-kawannya memaksa mobil mereka menyeberangi sungai atau menapaki jalan berbatu yang licin.

Nunun Nurhayati dari Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Waduk Jatigede mengatakan, yang dilakukan Bramantara dan timnya adalah bagian dari dokumentasi dari situs-situs yang nantinya terendam oleh Waduk Jatigede. ”Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 mengenai cagar budaya, kewajiban pemerintah hanya mendokumentasikan,” ujarnya.


Tenggelam

Lokasi pemindaian tersebut direncanakan sebagai areal genangan pembangunan Waduk Jatigede yang sedang berlangsung dan diperkirakan usai pada akhir 2013. Waduk Jatigede adalah proyek yang digulirkan sejak tahun 1960, tetapi baru direalisasikan dalam 10 tahun terakhir. Nantinya, wilayah seluas 4.896,22 hektar di Sumedang ditenggelamkan untuk waduk. Wilayahnya meliputi 30 desa dari lima kecamatan, yakni Situraja, Cisitu, Darmaraja, Jatigede, dan Wado.

Selain pembebasan dan relokasi warga di daerah genangan, sebetulnya juga ada masalah pelik lain, yakni situs-situs yang tersebar di sana. Menurut sejarah yang disepakati bersama, Darmaraja pernah menjadi pusat Kerajaan Tembong Agung yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Aji Putih, raja terakhir Tembong Agung, menikah dengan Dewi Ratna Inten dan memiliki empat anak, salah satunya Bratakusumah.

Putra sulungnya ini kemudian menjadi penerus takhta setelah mengubah namanya menjadi Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal dengan nama Prabu Tajimalela. Nama kerajaannya pun menjadi Sumedanglarang. Nama Sumedang dipercaya berasal dari lontaran Bratakusumah sewaktu bersemedi yakni ”insun medal, insun madangan” atau ”aku dilahirkan, aku menerangi”.

Sejarah itu pun terancam karam oleh program nasional pemerintah dengan pembangunan Waduk Jatigede. Beberapa alasannya, antara lain, waduk tersebut jadi sumber pengairan bagi sawah seluas 130.000 hektar di wilayah utara seperti Majalengka dan Indramayu, pengendali banjir siklus 100 tahunan, dan penghasil listrik 175 megawatt. Tujuan besar pendirian waduk itu adalah menangani kekeringan di daerah pantai utara, peningkatan produksi padi, produksi listrik, hingga penyediaan air baku.

Sebagai daerah yang mendeklarasikan diri sebagai puseur budaya atau pusat budaya Sunda, tentu saja hal tersebut dilematis bagi Kabupaten Sumedang. Program nasional tersebut harus mengubur sebagian kekayaan kisah mengenai kejayaan masa lalu.

Menurut Romlah, Kepala Seksi Purbakala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Barat, tercatat ada 46 situs dengan 96 obyek di daerah calon genangan. Kebanyakan dari obyek tersebut berupa makam dan monumen.

”Hingga kini, kami terus mencari situs-situs untuk didokumentasikan sehingga masih terbuka kemungkinan jumlahnya bertambah,” kata Romlah.


Mengabadikan

Dari ke-46 situs tersebut, ternyata baru lima situs yang menyatakan keinginan untuk direlokasi. Menurut Nunun, ada dua opsi yang bisa dipilih, yakni menggunakan lahan 3 hektar yang disiapkan pemerintah atau membawa serta bersama masyarakat ke tempat yang baru. ”Mustahil memang memindahkan situs karena bukan saja mengenai makam, melainkan juga ruang sekelilingnya,” ujar Nunun.

Ada juga masyarakat yang memilih untuk membiarkan situs tidak dipindah, seperti makam Aji Putih yang terletak di Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Menurut sang penjaga, Iyat Ahdiyat, daerah tersebut hanya digenangi oleh genangan siklus 100 tahunan sehingga masyarakat juga meminta agar tidak dipindah.

Di sanalah kemudian Bramantara dan temannya dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur bertugas. Dengan memindai satu per satu situs yang nantinya tenggelam, pengetahuan mengenai kekayaan sejarah Sumedang masih bisa diteruskan kepada generasi yang belum sempat melihatnya. Setidaknya, dengan gambar panorama 360 derajat, siapa pun, masyarakat ataupun peneliti, masih bisa memahami bagaimana sejarah Sumedang di masa lalu.

Menurut Nunun, pemerintah juga mempersiapkan pembangunan Museum Jatigede yang nantinya memuat seluruh data tentang situs yang tergenang. Di dalamnya juga terdapat ruang audio visual sehingga seolah-olah bisa berada di tengah sebuah situs, padahal sekarang sudah berada di dasar danau.

Barangkali itulah warisan yang sedang dipersiapkan bagi generasi Sumedang di masa mendatang. Mengabadikan sejarah dan cikal bakal dari Kerajaan Sumedanglarang yang dulu wilayahnya terbentang dari Brebes hingga Tangerang. (Didit Putra Erlangga Rahardjo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori