Oleh: hurahura | 7 September 2012

Monumen Kenangan Para Pahlawan

Warta Kota, Jumat, 7 September 2012 – Pembuatan patung, termasuk monumen, dalam sejarah perkembangan manusia dapat dijadikan sebagai salah satu usaha untuk memanifestasikan perasaan manusia, tentang peristiwa sejarah ataupun tentang sesuatu yang paling berkesan dalam pikiran dan perasaan manusia. Bahkan patung dan/atau monumen dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan memberi penghayatan berbagai peristiwa penting yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Maka untuk mengenang, meresapi, dan menghayati nilai-nilai perjuangan dalam peristiwa Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta mendirikan Monumen 19 September 1945 atau Monumen Ikada di Lapangan Monas. Peresmian monumen dilakukan oleh Gubernur Wiyogo Atmodarminto pada 20 Mei 1988. Pembuatan Monumen Ikada dimaksudkan untuk menambah sarana rekreasi. Selain itu merupakan pelengkap sarana ilmu pengetahuan dan pendidikan, terutama bagi generasi muda.

Gagasan pendirian monumen berasal dari Dewan Harian Daerah Angkatan ’45. Gubernur DKI Jakarta waktu itu, R. Soeprapto pun menyambut gagasan tersebut. Segera beliau mengeluarkan SK Gubernur No. 2261 yahun 1986 tentang Pembentukan Panitia Pelaksana Pendirian Monumen 19 September 1945. Pada 19 September 1987 dilakukan peletakan batu pertama pendirian monumen di Plaza Syamsudin Mangan.

Monumen Ikada dirancang oleh Sunaryo, seorang dosen ITB dan pematung terkenal. Spesifikasi monumen adalah tinggi landasan 4 meter, tinggi patung 5 meter, dan ukuran plaza patung 19 meter x 19 meter. Semua angka memiliki makna, yakni 4 + 5 = 9 (September) dan tahun 1945. Angka 19 mengacu pada 19 September. Sementara itu terdapat lima sosok patung dan landasan patung dibagi tujuh segmen. Angka 5 melambangkan Pancasila dan angka 7 menyimbolkan Sapta Patria, yaitu sari-sari nilai perjuangan ’45, yang meliputi nasionalisme, patriotisme, heroisme, tidak mengenal menyerah, kebersamaan, tanpa pamrih, dan percaya diri.

Patung dibuat dari bahan plat tembaga dengan teknik las, ketok, dan patina. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan patung sekitar lima bulan. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori