Oleh: hurahura | 21 November 2016

Ajaran Moral dari Candi

fabel-01Relief kura-kura terbang pada Candi Mendut (Foto-foto: Istimewa)

Masyarakat kuno mempunyai berbagai cara untuk mengajar generasi mudanya. Ajaran yang bersifat mendidik dipandang merupakan tonggak untuk mencapai hidup rukun. Pada masa sekitar seribu tahun lalu, candi merupakan tempat ibadah yang banyak didatangi masyarakat. Maka, agar segala ajaran baik tentang kecerdikan, tingkah laku, dan nasihat mudah diserap oleh masyarakat, dipahatkanlah ajaran-ajaran itu pada dinding candi-candi dalam bentuk panil relief.

Kisah dalam relief dibuat beragam, namun yang paling dikenal dalam bentuk fabel. Kisahnya berupa pengalaman dan petualangan tokoh hewan. Dulu fabel bisa diterima dengan baik oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Ajaran moral nenek moyang banyak tergambar dari candi-candi Buddha dan Hindu di Jawa dari berbagai masa. Salah satu kisahnya terdapat pada Candi Mendut. Candi yang bersifat Buddha ini berlokasi tidak jauh dari Candi Borobudur. Kisah fabel pada candi-candi Buddha biasanya bertema ajaran moral, misalnya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, tolong-menolong selalu dibutuhkan, dan kecerdikan mampu menyelesaikan masalah.

Panil batu yang berisi relief memang tidak begitu banyak. Para arkeolog berhasil mengidentifikasinya berdasarkan fungsi candi pada masa dulu. Diketahui bahwa kisah-kisah itu dipahat berdasarkan petikan dari kitab Jataka dan Tantri Kamandaka. Kedua kitab itu dikenal penuh dengan ajaran tamsil ibarat dan falsafah kehidupan yang dalam.


Kisah Kura-kura Terbang

Ada gambar relief yang tampak agak ganjil dan lucu pada Candi Mendut itu. Pada panil berukuran 1,5 meter x 0,75 meter terpahat seekor kura-kura sedang menggigit sepotong kayu, yang dibawa terbang oleh dua ekor angsa dengan cara memegangi kedua ujung kayu menggunakan cakar mereka. Sementara itu di bawahnya dilukiskan beberapa orang sedang berteriak-teriak. Tampak pula dua ekor anjing sedang menengadahkan kepalanya ke atas, mungkin sedang menggonggong. Di bagian lain, masih di dalam bingkai panil yang sama, tampak orang-orang dan anjing sedang memperebutkan kura-kura yang rupanya telah terjatuh ke tanah.

Cerita kura-kura terbang tersebut dipetik dari kitab Tantri Kamandaka, sebuah kitab fabel berbahasa Jawa Kuno. Ceritanya ringan, menarik, penuh amsal, perlambang, dan pendidikan. Dikisahkan, di sebuah danau yang permai dan jernih airnya, tinggal seekor kura-kura. Kura-kura itu bersahabat dengan sepasang angsa suami istri, Cakrangga dan Cakranggi. Persahabatan mereka telah lama terbina. Suatu ketika di musim kemarau saat air danau mulai berkurang, Cakrangga dan Cakranggi minta diri pada sahabatnya itu untuk mengungsi ke sebuah telaga di Gunung Himawan. Ini karena air di telaga tersebut tidak pernah kering walau pada musim kemarau sekali pun. Sang kura-kura rupanya ingin turut mengungsi. Dia pun memohon, “Bawalah aku serta. Di sini aku akan sengsara karena kurang air.”

Masalahnya kemudian adalah bagaimana cara kedua angsa itu membawa si kura-kura. Akhirnya mereka mengusulkan agar kura-kura menggigit sepotong kayu dan kedua angsa itu akan mencengkeram kedua ujung kayu sambil terbang. Sebelum terbang kedua angsa berpesan, “Kami akan membawa terbang dirimu, kura-kura. Ingat kamu harus memagut kuat-kuat batang kayu itu dan jangan berbicara apa pun. Jika ada yang menegur, janganlah dijawab.”

Segeralah mereka terbang. Kura-kura merasa kagum pada keindahan alam yang dilihatnya dari atas. Tak terasa sampailah mereka di atas ladang Wilanggala. Di ladang itu ada dua ekor anjing jantan dan betina sedang bermain. Ketika mereka menengadah, tampaklah sesuatu yang ganjil, yaitu seekor kura-kura yang bergelayutan pada sepotong kayu yang sedang dibawa terbang oleh dua ekor angsa. Maka berkatalah anjing betina, “Hai, lihatlah! Ada kura-kura dibawa terbang oleh dua ekor angsa!”

Menjawablah si anjing jantan, “Aneh, ya! Tampaknya ada kura-kura tolol sedang belajar terbang pada angsa. Mungkin itu bukan kura-kura, tapi kotoran kerbau kering yang berisi cacing untuk makanan anak-anak angsa.”

Mendengar percakapan kedua anjing itu, marahlah si kura-kura. Mulutnya mulai berdenyut-denyut. Karena gusarnya dia tidak ingat lagi pesan angsa sahabatnya. Dia ingin sekali menjawab ejekan itu. Maka dibukalah mulutnya untuk berbicara. Akibatnya tubuh gemuk si kura-kura melayang jatuh berdebam di atas tanah. Kedua anjing itu segera melompat memburu si kura-kura. Keduanya makan besar menikmati daging kura-kura.

Kesimpulan kisah ini dalam kitab Tantri Kamandaka adalah demikian,  “Jika tidak memperhatikan nasihat dari kawan baik dan tidak memahami maksud yang tersirat, hal itu akan membuat celaka. Perlu pula diingat jangan cepat-cepat menerima kata-kata orang begitu saja untuk ditanggapi.”


Muslihat Seekor Kambing

Pada bagian lain tampak relief  seekor harimau yang lari menghindari seekor kambing. Sementara di pinggang harimau melilit seutas tali yang menyambung dan terikat pada pinggang seekor kera. Kera itu terseret berguling-guling terbawa lari harimau. Mimik wajah harimau sangat ketakutan sambil menoleh ke arah kambing. Si kambing digambarkan sedang berdiri dengan tenangnya. Di sekitar hewan-hewan itu digambarkan tanaman sulur-suluran yang berdaun lebat, juga ada burung yang sedang terbang.  Kisah tersebut merupakan cuplikan dari kitab Jataka.

Tersebutlah ada seekor harimau Warani hendak memangsa anak kambing yang sedang merumput bersama ibunya, Maseba. Lalu mendekatlah harimau itu sambil berkata, “Eh, sedang apa kalian berkeliaran di wilayah kekuasaanku? Akan kuhukum kau dan kuantarkan ke kerajaan Sang Yama (Dewa Maut) karena telah sembarangan datang ke tempat ini.” Namun si induk kambing menjawab dengan berani, “Harimau, tak tahukah engkau bahwa telah sepuluh ekor harimau berhasil kucabik-cabik? Aku dapat mengeluarkan api setinggi menara dan membakar matahari terik itu. Apalagi cuma seekor harimau macam kau. Tunggulah, rasakan kesaktianku ini.”

Mendengar bualan kambing itu, harimau merasa ngeri. Akhinya dia buru-buru lari menghindar. Seekor kera melihat harimau itu lari ketakutan, lalu bertanya, “Mengapa kau lari terbirit-birit, Warani?” Diceritakan oleh Warani bahwa ia bertemu seekor kambing sakti, meski tidak sesakti Siwa, dewa tertinggi penguasa alam, tapi cukup membuatnya keder. Tahulah si kera bahwa kambing itu adalah bekas sahabatnya, Maseba. Kera menganjurkan kepada Warani untuk mendatangi Maseba lagi dan membuktikan kesaktian Maseba, tapi harimau menolak. Akhirnya kera berkata, “Jika kau takut, aku akan menemanimu. Ambillah tali untuk mengikat pinggang kita berdua. Dengan demikian segala bahaya akan kita hadapi bersama.”

Mereka berdua segera berjalan ke tempat Maseba.  Anak kambing itu sangat ketakutan, namun sang induk dapat membujuknya agar tetap tenang. “Eh kera, selamat datang! Untunglah engkau masih ingat akan janjimu dahulu ketika kau kalah taruhan denganku. Katamu kau sanggup menyerahkan dua ekor harimau untuk santapanku. Sekarang kau datang hanya membawa seekor. Tak apalah. Bawa kemari biar cepat kukunyah habis!”

Dengan ketakutan harimau berpikir, “Oh, rupanya aku dibawa kemari untuk membayar hutang. Lebih baik aku segera menyelamatkan diri!” Maka larilah harimau itu. Kera yang terikat pinggangnya terbawa terseret-seret. Karena terburu-buru, harimau terperosok ke dalam jurang. Si kera pun turut terbawa masuk jurang sehingga matilah mereka berdua. Maseba segera mengajak anaknya pergi dari tempat itu, takut bersua dengan harimau lain yang lebih ganas dan tidak mudah ditipu. Pesan moral dari kisah ini adalah jangan memandang rendah kaum lemah. Dengan kecerdikan maka kaum kuat pun bisa dikalahkan.


Kisah Kutu dan Kepinding

Ada lagi kisah seekor kutu gemuk bernama Asada. Dia tinggal di tilam seorang raja dan merasa betah di sana, sehingga tidak pernah terpikir untuk meninggalkan tempat itu. Sementara itu di celah-celah dinding kamar tempat raja beristirahat, terdapat seekor kepinding bernama Candila. Candila merasa heran melihat hidup Asada yang tampaknya makmur. Maka didatangilah si Asada, dan katanya, “Wahai Asada, ingin saya bertanya kepadamu, mengapa hidupmu begitu makmur? Tubuhmu gemuk sehat, tampaknya kamu banyak makan. Coba lihat diriku yang kurus kering karena selalu kekurangan makan. Makanan hanya kuperoleh jika ada orang yang bersandar di dinding. Itu pun hanya sekejap. Tolonglah, Asada, beritahukan rahasia kemakmuran hidupmu.”

Menyahutlah kutu Asada, “Hai kepinding, rahasia kemakmuran hidupku sebenarnya tidak ada, hanya aku mencari makan dengan memperhatikan prinsip kaladesa (waktu dan tempat). Karena aku tinggal di kasur raja, tentunya yang kuhisap adalah darah raja. Tapi dalam mencari makan itu, aku selalu berpegang pada ketentuan tadi. Desa berarti tempat, maksudnya tempatku sekarang ini sudah cukup baik untuk mencari makan dan tidak mau meninggalkan tempatku, yaitu peraduan Sang Raja. Kala artinya waktu, aku akan memilih waktu yang tepat dalam menjalankan aksi mencari makan. Waktu Sang Raja sudah lelap tidur, nah, saat itulah aku mulai beraksi menghisap darahnya sepuasnya. Namun jika kesempatan itu tidak ada, lebih baik aku tidak makan, sampai satu malam, dua malam, bahkan lebih lagi. Aku selalu menunggu kesempatan yang terbaik dan tidak terburu-buru menuruti hawa nafsu.”

Demikianlah uraian hidup makmur si Asada kepada Candila. Akhirnya diperbolehkannya Candila bertempat tinggal di tilam sang raja. Pada suatu hari raja berkesempatan untuk beristirahat pada siang hari. Si kepinding merasa telah mendapat kesempatan yang baik. Dilihatnya paha raja yang keputih-putihan sehingga menimbulkan hasratnya untuk segera menggigit dan menghisap darahnya. Tetapi maksud itu dicegah oleh kutu. “Jangan tergesa-gesa sahabat, bukan kesempatan baik saat ini. Sabarlah sampai nanti malam dan saat itu kau boleh makan sepuasnya.”

Candila tidak mau mengindahkan nasihat sahabatnya. Jiwanya telah dipenuhi nafsu terburu-buru. Ia bersikeras pada kehendaknya, karena sangat lapar. Maka digigitlah paha sang raja. Sang raja terkejut dan terbangun lalu diperintahkannya para pengawal untuk mencari kepinding yang menggigit pahanya. Dicarilah tempat persembunyiannya, tapi tidak ditemukan, karena ia dengan cepat telah menyelinap ke celah-celah anyaman. Malah yang ditemukan adalah kutu Asada, lalu dibunuhlah kutu itu. Si kepinding terus dicari, tak berapa lama ia pun ditemukan dan dibunuh.

Akhir cerita itu dicatat dalam kitab Tantri Kamandaka dalam bahasa Jawa Kuno yang artinya, “ ….barang siapa memberi perlindungan tanpa mengetahui baik buruknya yang dilindungi, pasti menemukan kesusahan…. Tamsil ibarat yang nyata dalam cerita ini adalah prinsip kaladesa tersebut, yaitu dalam mencari rezeki atau mencari kehidupan, hendaknya kita memperhatikan tempat dan waktu yang memungkinkan.


Tak Tahu Membalas Budi

Cerita fabel juga terdapat pada Candi Panataran di Jawa Timur. Berbeda dengan Candi Mendut, Candi Panataran bersifat Hindu.  Berbagai ajaran budi pekerti yang mengandung pembelajaran diselipkan oleh nenek moyang kita di sini, di antara relief-relief cerita lain seperti Ramayana dan Kresnayana.  Misalnya saja cerita tentang buaya yang tak tahu membalas budi.

fabel-02

Relief buaya dan kerbau pada Candi Panataran

Dikisahkan, seekor buaya tiba-tiba tertimpa sebatang pohon. Beruntung, dia jatuh ke tempat yang berlubang  sehingga mampu menyelamatkan diri. Ketika seekor lembu melintas di depannya, buaya meminta pertolongan. Sang lembu yang baik hati itu pun berhasil menyingkirkan pohon yang tumbang.

Sang buaya yang sudah terbebas kemudian meminta pertolongan lagi agar sang lembu bersedia mengantarkannya ke sungai. Setibanya di sungai, sang buaya bukannya berterima kasih malah menggigit sang lembu. Terjadilah perkelahian seru. Namun karena sang buaya terkenal dengan julukan ’raja air’, maka sang lembu pun terdesak.

Sekonyong-konyong datanglah sang kancil bertindak sebagai wasit perkara. Kancil meminta agar buaya dikembalikan ke tempat kejadian semula sewaktu tertimpa pohon dengan alasan untuk memudahkan penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah. Di tempat itu buaya ditinggal sendirian sampai menemui ajal.  Relief ini terdapat pada dinding kolam sisi barat dan bagian belakang arca dwarapala yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bagian candi induk sisi utara. Pelajaran yang bisa diambil tentu saja adalah persoalan balas budi dan kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.

Sebenarnya di Candi Mendut dan Candi Panataran masih banyak terdapat relief fabel. Belum lagi pada candi-candi lain. Ajaran moral ini telah terpahat selama ratusan tahun di dinding-dinding candi, bahkan ada yang lebih dari seribu tahun. Meskipun begitu, ajaran moral demikian tetap relevan dan abadi sampai kapanpun. Kearifan dari masa lampau ini tentu saja patut menjadi perhatian generasi masa kini. (diolah dari berbagai sumber)

Penulis: Djulianto Susantio


Responses

  1. Reblogged this on Semangat Pagi!.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori