Oleh: hurahura | 11 Agustus 2017

Kreativitas Masyarakat: Dari Legenda ke Pertunjukan Seni

Prambanan-perpusnasIlustrasi: Candi Prambanan (Sumber: candi.perpusnas.go.id)

Dusun Glondong, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, merupakan salah satu desa budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Desa Tirtomartani terdapat peninggalan arkeologi dari masa Hindu Buddha, tepatnya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Peninggalan tersebut berupa Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Kedulan. Selain ketiga candi tersebut, Desa Tirtomartani terletak dekat dengan Kompleks Candi Prambanan. Keberadaan candi atau bangunan arkeologis yang ada di masyarakat biasanya dihubungkan dengan kisah-kisah legenda.

Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki cerita berupa legenda pembangunan Candi Prambanan. Legenda tersebut diwariskan secara lisan dan berkembang di masyarakat. Legenda itu tentang kisah antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Dalam lengenda tersebut Bandung Bondowoso ingin menikah dengan Roro Jonggrang. Roro Jonggrang sebenarnya tidak berkeinginan menikah dengan Bandung Bondowoso, kemudian Roro Jonggrang mengajukan syarat. Syarat yang diajukan Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso agar dibuatkan 1000 candi dalam satu malam.


Bantuan jin

Bandung Bondowoso kemudian menyanggupi permintaan Roro Jonggrang. Dengan bantuan jin Bandung Bondowoso kemudian membangun candi yang diminta Roro Jonggrang. Merasa gelisah karena pembangunan candi hampir selesai, Roro Jonggrang kemudian meminta gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi. Hal tersebut membuat ayam berkokok sehingga para jin meninggalkan proses pembuatan candi. Roro Joggrang mendatangi candi dan menghitung jumlah candi. Ternyata candi yang dibuat jin atas perintah Bandung Bodowoso tidak genap 1000 buah. Merasa diperdaya Roro Jonggrang, Bandung  Bodowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca.

Dari legenda yang dikisahkan secara lisan oleh masyarakat di sekitar Candi Prambanan. Masyarakat Dusun Glondong Desa Tirtomartani kemudian mendirikan keseninan gejog lesung yang terinspirasi dari legenda tersebut. Anggota grup kesenian gejok lesung Dusun Glondong terdiri atas berbagai kalangan, yaitu anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Mereka berlatih gejog lesung dipandu pelatih Bapak Dr. A.M. Susilo Pradoko, dosen seni musik dan tinggal di Dusun Glondong.

Lesung merupakan alat yang digunakan oleh gadis yang diperintahkan Roro Jonggrang untuk menggagalkan pembangunan candi. Dari kisah tersebut selain dibuat kesenian gejog lesung juga dibuat kesenian  ketoprak yang menceritakan peristiwa pembangunan candi. Para warga yang tergabung di grup tersebut sangat bersemangat ketika berlatih dan pertunjukan. Patut diapresiasi bahwa banyak anak-anak Dusun Glondong yang ikut tergabung dalam grup kesenian gejog lesung Mereka sangat antusias dan lancar dalam bermain kesenian tersebut. Latihan dilakukan pada malam minggu. Waktu tersebut dipilih karena banyak anggota grup merupakan anak sekolah dan pekerja.


Menumbuk padi

Sebelum dimanfaatkan sebagai alat musik lesung merupakan alat untuk menumbuk padi. Dahulu sebelum menggunakan mesin giling, petani di pedesaan menggunakan alu (alat untuk memukul padi) dan lesung untuk menumbuk padi. Proses penumbukan padi dengan alu dan lesung dilakukan oleh kaum perempuan. Satu buah lesung bisanya digunakan kurang lebih oleh empat orang perempuan. Perempuan tersebut masing-masing memegang alu. Tumbukan antara lesung dan alu menghasilkan bunyi yang bagus sehingga kaum perempuan menumbuk padi sambil menyanyi.

Naufal-jonggrangSambutan pelatih kesenian gejok lesung dalam acara pengabdian masyarakat (Dokumentasi pribadi)

Kesenian gejok lesung yang ada di Desa Glondong dipadukan dengan alat musik lain seperti angklung, bass, dan piano. Lesung dimainkan oleh ibu-ibu, angklung dimainkan oleh bapak-bapak, remaja, dan anak-anak. Sedangkan piano dimainkan oleh anak-anak. Ketika berlatih mereka sangat kompak dan mahir dalam memainkan alat musik tersebut. Alat musik yang dimainkan diiringi oleh lagu campursari. Lagu campursari berbahasa Jawa dinyanyikan oleh ibu-ibu. Contoh lagu campursari yang dinyanyikan adalah perahu layar.

Penulis kebetulan berkesempatan untuk melakukan pengabdian masyarakat dengan tema pelestarian situs Masa Mataram Kuno dan gejog lesung di Desa Budaya Glondong. Selama pengabdian masyarakat penulis mengikuti latihan dan kirab budaya. Selain kegiatan latihan musik gejok lesung penulis juga melakukan sosialisasi pelestarian situs Masa Mataram Kuno yang ada di sekitar Dusun Glondong, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.***

Penulis: Naufal Raffi Arrazaq, Mahasiswa Arkeologi UGM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: