Oleh: hurahura | 20 November 2011

Pulau Onrust dan Lukisan Heydt

Warta Kota, Jumat, 18 November 2011 – Pulau Onrust di kawasan utara perairan Jakarta mulai dikenal sekitar tahun 1619. Ketika itu Onrust digunakan oleh Belanda sebagai tempat perbaikan kapal-kapal VOC. Lebih dari 200 tahun, pulau ini berperan dalam sejarah. Banyak bangunan dan fasilitas didirikan di sana untuk berbagai keperluan. Sayang, data sejarah yang sampai kepada kita terlalu sedikit, sehingga kita tidak tahu bagaimana peran pulau itu di masa lampau. Satu-satunya jalan adalah menggunakan data arkeologi dengan cara ekskavasi.

Pada 1740 J.W. Heydt melukis situasi Pulau Onrust. Pada lukisan itu terlihat sebuah benteng yang cukup besar. Mungkin benteng ini kemudian hancur karena dibumihanguskan oleh tentara Inggris. Berdasarkan lukisan itulah Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta pada 1983 melakukan ekskavasi di sana. Tujuannya adalah mencari fondasi atau tembok benteng tersebut. Dalam ekskavasi berhasil ditemukan salah satu fondasi/tembok benteng yang dalam lukisan diketahui sebagai gudang peluru dan pos keamanan (Laporan Penggalian Pulau Onrust Kepulauan Seribu, 1985). Selama beberapa kali ekskavasi, diperoleh pula temuan-temuan yang sudah teraduk tanah, seperti pecahan gerabah, pecahan keramik, potongan pipa gouda, peluru meriam, dan potongan besi.

Sisa-sisa bangunan lama peninggalan pemerintah kolonial Belanda terdapat hampir di setiap bagian pulau. Sebagian besar berupa fondasi. Menurut catatan sejarah, Pulau Onrust pernah dihancurkan sebanyak tiga kali oleh tentara Inggris. Maka dapat dipastikan, sisa-sisa bangunan paling sedikit memiliki tiga periode pembangunan. Terbukti dari penelitian arkeologi, fondasi bangunan terlihat saling menindih.

Sayang pada masa-masa kemudian, bahkan hingga kini, ekskavasi di Pulau Onrust jarang sekali dilakukan oleh instansi terkait. Padahal, rembesan air laut tidak hanya menggerogoti bagian tepi pulau, tapi sudah merembes ke bagian tengah. Sejak lama bagian-bagian tembok bangunan sudah runtuh ke dalam laut. Bukan tidak mungkin bagian-bagian tembok di bagian tengah juga akan roboh. Sekarang hal yang amat mendesak adalah memugar sebisa mungkin agar tidak semakin roboh terkena air laut. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori