Oleh: hurahura | 7 Desember 2016

Benteng di Pulau Api, Saksi Sejarah Mulanya Kolonialisme Belanda di Banda

banda-01Sisa benteng di Pulau Api

Gunung Api Banda adalah sebuah gunung berapi sekaligus sebuah pulau. Tingginya tidak seberapa, hanya 656 meter dari permukaan laut, tapi medannya luar biasa. Wilayah ini dapat dicapai sekitar 10 menit perjalanan dari Pulau Neira dengan perahu motor kecil.

Meskipun tidak tinggi, namun bagi orang seusia saya mencapai puncak Gunung Api sungguh sulit. Paling-paling kemampuan saya hanya 200 meter. Itu pun saya berhenti di pos yang disediakan. Setelah beristirahat beberapa menit, saya dan beberapa teman turun kembali.

Saya ke Bandaneira akhir 2013 lalu. Sayang, ketika itu saya lupa posting tulisan ini. Ternyata file-nya masih ada di dalam komputer. Mungkin tidak mengapa yah, saya posting sekarang. Yang penting informasinya, kan?

Terdapat 23 jenis burung di Pulau Api yang merupakan jenis endemik di Kepulauan Banda. Kepulauan ini memang adalah salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat keendemikan satwa tinggi, terutama dari segi jenis burung. Pulau Api ditetapkan sebagai kawasan taman wisata alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 1135/Kpts-II/1992 tanggal 28 Desember 1992, dengan luas 734,46 ha.

Di bagian puncak ada catatan, gunung api telah meletus sejak abad ke-16. Yang tidak tercatat, tentu saja masih ada. Terakhir, Gunung Api meletus pada 1988. Letusan itu membuat ribuan warga di sekitar gunung dan pulau dievakuasi.

Dulu Pulau Api dihuni ratusan kepala keluarga. Tapi kini hanya tinggal 40-70 kepala keluarga. “Mereka trauma, jadi tidak mau kembali ke sini,” kata seorang warga. Letusan 1988 itu memakan tiga korban jiwa. Mungkin karena gunungnya tidak tinggi, maka letusannya tidak sedahsyat Merapi atau Sinabung.

banda-02

Sejak letusan Gunung Api 1988 sekolah taman kanak-kanak ini dibiarkan

Bukti-bukti kepadatan penduduk masih bisa dilihat. Banyak rumah penduduk yang ditinggalkan, kondisinya rusak parah. Sebagian rumah malah dihancurkan untuk dijadikan kebun. Sekolah taman kanak-kanak terlihat masih dibiarkan teronggok.

Karena langka penduduk, saat ini tak ada sekolah. Akibatnya para orang tua menyekolahkan anak-anak mereka di pulau terdekat. Mereka harus menyeberang dengan tarif Rp2.000 sekali jalan memakai ojek perahu motor.


Diselimuti Lumut

Pulau Api sudah dikenal sejak zaman kolonialisme. Belanda menyebutnya Goenong Api. Ada sebuah benteng yang menjadi saksi sejarah mulanya kolonialisme Belanda di pulau ini.

Sisa-sisa benteng hanya terlihat secuil di Dusun Kota, Desa Nusantara, Bandaneira. Soalnya, benteng yang menghadap langsung ke Desa Lonthoir ini, porak-poranda disapu lahar dan lava yang dilontarkan dari beberapa kali gempa dan letusan Gunung Api. Hanya serakan batu hitam yang tersisa, diselimuti lumut di antara belukar membentuk setengah lingkaran. Seluruhnya mencapai luas sekitar 150 meter persegi.

Kondisi Benteng Colombo atau Fort Kota ini jadinya memrihatinkan. Hampir seluruh bagian benteng tercemar tumbuhan. Begitu pun lingkungannya. Jelas sekali tidak ada upaya perawatan, padahal sisa-sisa bangunan cagar budaya ini menunjukkan betapa pentingnya peranan Banda waktu itu.

banda-03

Rumah yang ditinggalkan penghuninya pasca letusan Gunung Api pada 1988

Nama asli benteng ini Kijk In Den Pot, dibangun oleh Van der Vliet pada 1664. Untuk menuju ke benteng ini tidak harus mendaki gunung api, cukup berjalan kaki di tanah datar kurang lebih satu kilometer dari tempat perahu merapat di tepian gunung. Dulu  benteng ini dibangun untuk mengawasi dan mengintai lalu lintas kapal di sekitaran gunung api dan Pulau Banda Besar.

Saat ini kawasan Kota menjadi tempat mancing favorit penduduk. Bahkan sebagian laut di depannya dipasang keramba untuk memelihara ikan kerapu.

Sebetulnya di Kepulauan Banda terdapat banyak benteng yang hancur akibat gempa bumi dan letusan Gunung Api. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali gempa bumi dan letusan gunung melanda kawasan Banda. Sebagai kawasan yang diincar orang-orang Eropa karena hasil rempah-rempahnya, memang perlu sekali didirikan benteng pertahanan untuk melindungi perkebunan pala sekaligus gudang rempah-rempah.

Beberapa sisa benteng menjadi ajang “Field Study for Conservation” yang diselenggarakan Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, 27 Nopember – 2 Desember 2013 lalu. Tiga kelompok peserta mengobservasi benteng di setiap pulau.


Perdagangan Pala

Benteng Hollandia terdapat di Desa Lonthoir. Semula benteng itu merupakan benteng peninggalan Portugis. Pada 1624 Peter Vleck mengubahnya, lalu menamakannya Hollandia. Tujuannya tidak lain sebagai upaya jaga-jaga dari serangan lawan dalam rangka memonopoli perdagangan pala.

Kini sebagian benteng yang terbuat dari karang itu sudah rontok. Pastinya akibat terkena letusan Gunung Api pada 1743 dan setelahnya. Beberapa bagian benteng nyaris rata dengan tanah. Bahkan karena tidak terurus, pohon besar tumbuh di atas benteng itu. Kini benteng tersebut hanya meninggalkan puing kebesaran sekaligus puing kenangan.

Benteng Nassau merupakan kelanjutan dari benteng Portugis. Dibangun pada 1607 oleh Laksamana Belanda, Verhoeven. Benteng Nassau merupakan bangunan pertahanan pertama VOC di Kepulauan Banda. Pamor benteng ini turun sesudah dibangun Benteng Belgica. Benteng Nassau juga dikenal sebagai waterkasteel.

Pertama kali Benteng Nassau terkena letusan Gunung Api pada 1615. Kondisi benteng semakin merana sejak gempa bumi pada abad ke-18. Banyak batu benteng kemudian digunakan warga sekitar untuk pengeras jalan.

Ada lagi Benteng Concordia atau Benteng Wayer yang agak jauh letaknya dari Neira. Bentuknya sudah berupa puing bangunan, bahkan tertutup semak. Benteng ini dibangun VOC pada 1630 untuk mengawasi perdagangan pala antara penduduk lokal dengan pendatang.

Di Pulau Ay dijumpai Benteng Revengie, yang berarti pembalasan dendam. Belanda mendirikan benteng ini sebagai bukti kemenangan setelah merebut Pulau Ay pada 1616. Sebelumnya kapal-kapal dagang Belanda diusir penduduk setempat saat mendarat di Pulau Ay.

Benteng yang kini paling banyak dikunjungi wisatawan adalah Benteng Belgica di Pulau Neira. Benteng ini sudah dipugar dan dilengkapi pertamanan sehingga tampak asri.

Sebagai pulau bersejarah, seharusnya ada perhatian khusus untuk Kepulauan Banda. Banyak temuan arkeologi terdapat di sini. Banyak bangunan terbengkalai juga ditemukaan di sini. Pada 2009 terbentuk Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Ternate yang wilayah kerjanya meliputi Maluku dan Papua. Instansi inilah yang kita harapkan benar-benar melakukan pelestarian.***

Penulis: Djulianto Susantio

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: