Oleh: hurahura | 4 April 2015

Aktivitas Geologi terhadap Sebaran Situs-situs Prasejarah: Studi Kasus Wilayah Jawa Barat-Banten


Abstrak

Berbagai aktivitas geologi dapat menyebabkan perubahan bentuk muka bumi. Hasil aktivitas tersebut menghasilkan fenomena alam tertentu yang mempengaruhi persebaran situs-situs prasejarah di wilayah Jawa Barat-Banten. Sungai, kaldera, dan gua karst merupakan hasil aktivitas geologi masa lampau. Keberadaan sungai, kaldera, dan gua karst mempengaruhi sebaran situs masa Paleolitik maupun Neolitik di Jawa Barat-Banten. Temuan-temuan arkeologis menjadi bukti nyata bahwa aktivitas geologis dan arkeologis dapat menunjukkan ilmu multidisiplin sehingga penelitian arkeologis dapat mudah dipahami masyarakat secara luas.

Kata Kunci: Aktivitas Geologi, Wilayah Jawa Barat-Banten, situs Prasejarah


Pendahuluan

Tinggalan arkeologis di Indonesia sangat erat berkaitan dengan lingkungan pembentuknya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan budayanya, semuanya saling mempengaruhi. Selama ini situs-situs prasejarah sering dihubungkan dengan lingkungan alamnya. Situs-situs prasejarah di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor geologi. Hal ini sangat berkaitan dengan proses pengawetan artefak maupun fosil prasejarah. Daerah-daerah yang memiliki tinggalan arkeologis prasejarah biasanya merupakan daerah yang memiliki aktivitas geologi yang kompleks. Situs-situs prasejarah pada hakekatnya selalu berada pada wilayah yang memiliki umur geologi tua. Tidak heran apabila banyak aktivitas geologi yang terjadi pada lingkungan pembentuk situs-situs prasejarah.

Geologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari planet bumi, terutama mengenai material penyusun tubuh planet bumi, proses yang terjadi pada planet bumi dan hasil proses tersebut, sejarah planet bumi dan bentuk-bentuk kehidupan sejak planet bumi terbentuk (Bates dan Jackson, 1990; Sungkowo dan Sastroprawiro, 2001). Proses pembentukan relief muka bumi dapat terjadi dari proses Eksogen dan Endogen. Proses Eksogen adalah proses pembentukan relief yang medianya berasal dari luar bumi. Proses Eksogen dapat berupa pelapukan dan gerakan massa. Sedangkan Proses Endogen adalah proses pembentukan relief bumi yang tenaganya berasal dari dalam bumi. Tenaga dari dalam bumi tersebut berupa aktivitas gunung api maupun gerakan lempeng yang sering disebut gempa bumi.

Wilayah Jawa Barat-Banten merupakan wilayah yang memiliki aktivitas geologi yang kompleks. Hal ini terbukti dari kenampakan fisiografisnya atau geomorfologi[1]nya. Menurut van Bemmelen kondisi fisiografis Wilayah Jawa Barat-Banten terbagi menjadi:

Theo-02Gambar 1. Peta fisiografis wilayah Jawa Barat-Banten

1. Zona Jakarta
Zona Jakarta atau sering disebut dengan dataran Aluvial Jakarta. Berada di bagian utara atau sepanjang pantai utara wilayah Jawa Barat-Banten. Zona ini terbentuk oleh endapan Aluvial sungai.

2. Zona Bogor
Zona ini merupakan suatu antiklinorium yang mengalami pelipatan pada akhir zaman tersier. Endapan terdiri atas batuan sedimen dan bebeapa intrusi yang terdapat di selatan gunung Sanggabuana dan gunung Kromong di Kadipaten.

3. Zona Banten
Zona ini terdiri atas kompleks gunung api besar yang pernah meletus di Selat Sunda. Gunung-gunung tersebut antara lain Gunung Gede, Karang, dan Pulasari.

4. Zona Bandung
Zona ini merupakan dataran-dataran tinggi yang terletak di antara zona Bogor dan pegunungan selatan. Endapan pada zona ini terdiri atas batuan sedimen serta beberapa gunung api seperti gunung Galunggung, Papandayan, Tangkuban Perahu, Pangrango, dan Malabar.

5. Pegunungan Selatan
Daerah pegunungan selatan merupakan zona pelipatan yang cukup kuat. Sedimen daerah ini terdiri atas batu gaping, batu lempung, batu pasir, dan konglomerat serta beberapa instrusi batuan beku Jawa Barat-Banten merupakan wilayah yang kaya akan pegunungan, baik gunung api aktif maupun mati. Baik gunung api purba maupun gunung api baru dapat mempengaruhi geologi wilayah ini. Berdasarkan letak geografisnya gunung api di wilayah Jawa Barat-Banten dibagi menjadi enam kelompok yaitu:

Theo-03Gambar 2. Peta sebaran gunung api di Jawa Barat-Banten

1. Gunung api di Kompleks Dano, Banten
Gunung ini membentuk kaldera yang tersusun oleh andesit yang berumur Miosen (11,4 ± 0,8 jtl) yang ditutupi oleh Tuf Cibaliung berumur Pliosen (4,9 ± 0,6 jtl)

2. Bayah-Pongkor
Daerah Bayah diperkirakan merupakan daerah gunung api sistem kaldera dimana telah terjadi perulangan kegiatan sejak Paleogen, Neogen, dan Kuarter. Sementara itu di daerah Pongkor volkanisme juga menerus dari Tersier ke Kuarter hingga Gunung Salak yang merupakan gunung api aktif masa kini (Effendi dkk., 1998; Bronto, 2008).

3. Pegunungan Selatan
Pegunungan Selatan ditandai dengan adanya fosil gunung api Tersier. Daerah ini dimulai dari Banjar-Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur hingga Sukabumi Selatan. Umur batuan deretan fosil gunung api di Pegunungan Selatan ini juga beragam mulai dari 28 jtl sampai dengan 5 jtl (Soeria-Atmadja dkk., 1994; Bronto, 2008).

4. Bogor-Cianjur
Wilayah ini merupakan zona gunung api G. Kencana dan G. Cikodang berada. Analisis radiometri terhadap intrusi andesit pasir memberikan umur 32,30 ± 0,30 jtl

5. Purwakarta
Pada daerah ini terdapat Kaldera Jatiluhur (Waduk Jatiluhur) yang berumur 2,0 ± 0,10 jtl. Terdapat pula Gunung api purba Sanggabuana yang berumur lebih tua (5,35 ± 0,15, jtl).

6. Bandung
Daerah Bandung hingga Jawa Barat bagian timur (Priangan Timur) dapat dikatakan sebagai suatu lapangan gunung api sangat besar (a megavolcanic field), karena seluruh daerah yang sangat luas ini ditempati oleh banyak gunung api. Kaldera Cibitung dan Kaldera Cupunagara, masing-masing berumur 59,00 ± 1,94 jtl (Paleosen Akhir) dan 36,88 ± 1,94 jtl (Oligosen Awal, Bronto dkk., 2004b).

Penelitian gua-gua Prasejarah di Jawa Barat-Banten sampai saat ini sangat sedikit dan jarang dilakukan. Hal ini disebabkan temuan-temuannya sedikit. Selama ini penelitian yang dilakukan di wilayah Jawa Barat-Banten selalu terfokus pada penelitian situs Megalitik. Penelitian-penelitian prasejarah yang berhubungan dengan situs-situs Prasejarah masa Paleolitik maupun Mesolitik sangat sedikit. Padahal jika dilihat dari umur geologinya, wilayah Jawa Barat-Banten tersebut memiliki umur geologi yang lebih tua daripada di kawasan Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Pengangkatan yang terjadi di Jawa Barat-Banten terlebih dahulu terjadi daripada pengangkatan di Gunung Sewu. Namun lingkungan hunian di wilayah Jawa-Barat-Banten ini belum ditemukan sebanyak di Gunung Sewu.

Gua merupakan bukti tinggalan arkeologis yang berupa tempat hunian baik sementara maupun permanen. Penghunian gua sudah dilakukan sejak zaman Plestosen Akhir sampai Holosen. Adanya gua-gua tersebut berfungsi sebagai tempat pengawetan tinggalan-tinggalan arkeologis. Pembentukan gua berlangsung secara bertahap dan dalam kurun waktu yang lama. Proses pembentukan gua berasal dari pengaruh luar berupa pengikisan oleh angin maupun air atau berasal dari gerakan dari dalam bumi. Gua-gua di Jawa Barat-Banten jumlahnya sangat banyak dan hampir tersebar di Jawa Barat bagian tengah dan selatan. Hal ini dikarenakan geomorfologi wilayah ini yang berupa pegunungan-pegunungan yang curam sehingga banyak ditemukan gua-gua. Keberadaan gua-gua ini biasanya terdapat di pegunungan baik pegunungan karst mapun tidak. Di antara sekian banyak gua di wilayah Jawa Barat-Banten ini hanya ada satu gua yang memiliki tinggalan arkeologis tinggi, yaitu gua Pawon di Kabupaten Bandung. Telah banyak penelitian yang dilakukan guna mencari bukti-bukti arkeologis di gua-gua wilayah Jawa Barat-Banten tersebut, namun belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Selain gua, sungai juga dapat menjadi objek pengawetan tinggalan-tinggalan arkeologis. Endapan-endapan sungai mengawetkan tinggalan arkeologis secara bertahap dan teratur. Sampai saat ini banyak artefak yang ditemukan di endapan sungai seperti di sungai Baksoka dan Bengawan Solo. Sungai-sungai di Jawa Barat-Banten sangat banyak jumlahnya baik sungai hulu maupun hilir. Sungai-sungai di wilayah ini juga banyak mengandung tinggalan arkeologis berupa artefak-artefak batu. Salah satu sungai yang mengandung tinggalan sungai tersebut ialah sungai Cibukur di sebelah utara Gunung Masigit.

Karst di wilayah Jawa Barat-Banten merupakan kawasan yang berada di bagian selatan wilayah Jawa Barat-Banten. Pegunungan bagian selatan wilayah ini berupa pegunungan karst yang membentang dari Tasikmalaya sampai Ciamis. Kawasan karst ini sangat menarik karena dijumpai juga di Pegunungan Sewu yang membentang dari Gunung Kidul sampai Pacitan. Kawasan karst di Jawa Barat-Banten ini diperkirakan terjadi melalui pengangkatan hasil gerakan endogen bumi. Berdasarkan umurnya, kawasan karst di Jawa Barat- Banten ini diperkirakan lebih tua dari Gunung Sewu. Hal ini dapat dibuktikan dengan penanggalan geologis yang menyatakan bahwa pengangkatan yang terjadi di Jawa Barat- Banten lebih dahulu terjadi daripada pengangkatan di Wilayah Gunung Sewu.


Rumusan Masalah

Banyaknya aktivitas geologi yang terjadi di wilayah Jawa Barat-Banten tentunya berdampak pada lingkungan alam di sekitarnya. Baik dari segi vegetasi maupun faunanya selalu menunjukkan adaptasi tersendiri. Begitu pula pola adaptasi manusia yang terjadi di wilayah ini. Adanya tinggalan-tinggalan arkeologis di wilayah ini menandakan manusia sudah mendiami wilayah Jawa Barat-Banten sejak zaman dahulu. Penelitian ini ingin mengetahui “Apa pengaruh aktivitas geologi terhadap sebaran situs-situs prasejarah di Jawa Barat?”


Tujuan

Tujuan dari makalah ini ialah untuk “Mengetahui pengaruh aktivitas geologi terhadap sebaran situs-situs prasejarah di Jawa Barat.” Dengan mengetahui pengaruhnya terhadap sebaran situs prasejarah di wilayah Jawa Barat-Banten, peneliti mengharapkan agar pengetahuan mengenai arkeologi dan geologi dapat dipadupadankan. Karena pada hakekatnya arkeologi adalah ilmu multidisiplin, sehingga pemahaman mengenai arkeologi dapat lebih mudah dimengerti masyarakat.


Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam makalah ini ialah studi pustaka.


Pembahasan

Proses geologi yang terjadi di wilayah Jawa Barat-Banten merupakan proses alam yang menjadikan wilayah Jawa Barat-Banten kaya akan sumber daya alam. Dilihat dari geomorfologinya, wilayah Jawa Barat-Banten ini merupakan wilayah yang sangat kaya dengan aktivitas geologis. Hal ini terbukti dengan adanya gunung api purba yang menghasilkan kaldera di hampir semua wilayah Jawa Barat-Banten. Selain itu keberadaan pegunungan karst yang tua dan menarik. Sungai-sungai juga memberikan peranan penting bagi tinggalan arkeologi.

Pengaruh geologi berupa tenaga endogen terhadap sebaran situs-situs arkeologi terlihat pada gunung api. Gunung-gunung api yang tersebar di wilayah Jawa Barat-Banten memberikan data perolehan bahan artefak pada situs-situs arkeologis di wilayah ini. Gua Pawon adalah contoh situs arkeologi yang dipengaruhi oleh gunung api. Gua Pawon terletak di sebelah utara Kabupaten Bandung, tepatnya di sebelah utara kaldera gunung purba. Lokasi gua ini merupakan kawasan karst. Selain itu sampai sekarang gua Pawon masih dikelilingi dengan gunung-gunung api seperti Gunung Tangkuban Perahu. Dengan kata lain aktivitas geologi berupa letusan gunung api purba mempengaruhi penghunian di sekitar gua Pawon. Kaldera yang dihasilkan dari gunung api purba kala Pleosen ini membuat daerah di sekelilingnya menjadi subur dan kemungkinan terdapat banyak sumber makanan. Selain itu kaldera tersebut memungkinkan juga membentuk danau (Tangkuban Perahu) sebagai sumber mencari kebutuhan air di sekitar gua Pawon. Hal yang memperkuat adanya danau purba ini adalah ditemukannya sisa hewan invertebrata (moluska) di dalam gua. Temuan ini didapatkan melalui hasil ekskavasi. Jenis moluska yang ditemukan ialah jenis famili Gastropoda dan Pelecypoda. Famili Gastropoda tersebut setelah diteliti lagi merupakan ciri khas Gastropoda dan Pelecypoda yang hidup di air tawar.

Theo-04Gambar 3. Letak Gua Pawon (tanda kotak bergaris)

Pengaruh aktivitas geologi yang tampak ialah pengangkatan daerah karst di kawasan Tasikmalaya. Pada kawasan ini ditemukan artefak batu masa paleolitik maupun neolitik di daerah Cihaniwung-Bantarkalong. Kawasan karst di wilayah Jawa Barat-Banten merupakan wilayah karst yang berumur lebih tua daripada di Gunung Sewu, namun tinggalan arkeologisnya sangat minim. Temuan artefak batu di Cihaniwung-Bantarkalong tersebut ditemukan tanpa ada gua di sekitarnya. Banyak dugaan yang dapat diambil dengan adanya temuan artefak batu tersebut. Dugaan yang paling masuk akal ialah bahwa penghunian di Cihaniwung-Bantarkalong merupakan tipe hunian terbuka seperti hunian di wilayah Sangiran. Hal ini sangat dimungkinkan dengan bukti pendukung yang berada di Semedo. Semedo merupakan situs di Tegal yang menunjukkan tipe hunian opensite. Wilayah Semedo merupakan terusan dari pegunungan di sekitar gunung Tasikmalaya. Adanya kemiripan antara situs ini dengan Semedo terlihat pada artefaknya. Namun terdapat kelemahan yang menjadikan keraguan yaitu penanggalannya masih menjadi misteri. Wilayah Semedo memiliki pertanggalan yang lebih tua dari artefak temuan di wilayah Cihaniwung-Bantarkalong. Analogi yang digunakan ialah jika umur geologi di Jawa Barat lebih tua dibandingkan di Jawa Tengah, maka seharusnya temuan arkeologisnya berumur lebih tua pula. Adanya faktor lingkungan kemungkinan dapat menjadi faktor minimnya temuan arkeologis di wilayah ini.

Theo-05Gambar 4. Lokasi penemuan artefak batu di Cihaniwung-Bantarkalong

Tinggalan arkeologis di sungai-sungai Jawa Barat-Banten salah satunya adalah di aliran sungai Cibukur. Sungai ini berada di sebelah utara Gunung Masigit, jaraknya kira-kira 40 meter dari gua Pawon. Sungai ini terletak di depan mulut gua Pawon. Artefak-artefak yang ditemukan ialah kapak perimbas monofacial dari bahan batu gamping. Pertanggalan artefak ini ialah pada masa Paleolitik. Tinggalan arkeologis juga ditemukan di sungai Baksoka, Bengawan Solo, dan Kali Oyo. Temuan erkeologis di sungai juga ditemui di aliran sungai dekat situs Semedo. Keseragaman temuan di sungai tersebut tetap saja memiliki kekurangan dalam hal pertanggalan. Hal ini dikarenakan artefak terdeposisi pada lapisan sungai yang mungkin sudah berpindah tempatnya.

Theo-06Gambar 5. Lokasi sungai Cibukur

Minimnya temuan-temuan arkeologis di Jawa Barat-Banten sangat kontradiktif dengan kekayaan geologis di wilayah tersebut. Hipotesis-hipotesis yang dapat diambil antara lain ialah dugaan sumber daya alam yang menyulitkan manusia zaman plestosen-holosen menghuni wilayah Jawa Barat-Banten. Adanya bencana gunung api dapat dijadikan faktor minimnya temuan arkeologis di wilayah ini. Banyaknya letusan gunung api menjadikan manusia penghuni masa plestosen maupun holosen enggan tinggal di wilayah ini dan bermigrasi ke tempat yang lebih aman dan nyaman.


Kesimpulan

Aktivitas geologi di wilayah Jawa Barat-Banten sangat kompleks. Kekompleksan aktivitas geologi ini menjadikan umur grologi di wilayah Jawa Barat-Banten berumur tua. Umur geologi yang tua tersebut tidak berbanding lurus dengan temuan arkeologis masa Plestosen-Holosen di wilayah ini. Minimnya temuan arkeologis ini dimungkinkan adanya faktor kebencanaan masa plestosen-holosen. Banyaknya gunung api di wilayah ini memungkinan menjadikan manusia penghuninya bermigrasi ke tempat yang lebih aman.

Penelitian secara intensif perlu dilakukan kembali agar temuan-temuan arkeologis lainnya dapat muncul. Survei-survei arkeologis di gua-gua maupun sungai-sungai di wilayah ini sangat diperlukan guna memperoleh data yang lebih lengkap.


DAFTAR PUSTAKA

______. _____.Kondisi Fisiografis dan Geologis Regional Jawa Barat. Makalah: _____

Bronto, Sutikno. 2008. Tinjauan Geologi Gunung Api Jawa Barat – Banten dan Implikasinya. Jurnal Geoplika:____

Djubiantono, Tony dkk. 2000. Kronik Arkeologi. Puslitarkenas: Jakarta

Ferdianto, Anton. 2008. Artefak Obsisian di Gua Pawon Kab. Bandung, Jawa Barat. Skripsi Arekologi UI: Depok

Radiansyah, Danny. 2010. Gigi Hewan dari Situs Gua Pawon (Jawa Barat): Identifikasi Hewan, Habitat, dan Pemanfaatannya. Skripsi Arkeologi UI: Depok

Sungkowo, Andi dan Sastroprawiro, Suroso. 2001. Diktat Kuliah Geomorfologi. Fakultas Teknologi UPN “Veteran”: Yogyakarta


Sumber Website


http://ebookbrowse.com/gdoc.php?id=28596168&url=719744b809138fd7495a3fea411f9884


Catatan:

[1] Geomorfologi: berasal dari bahasa Yunani kuno (Geo= bumi, Morpho= bentuk, logos= ilmu). Maka geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk muka bumi. Sasaran utama kajian geomorfologi adalah relief bumi.

Theodorus Aries Brian N. S. K.
Mahasiswa Jurusan Arkeologi UGM

Iklan

Responses

  1. Trima kasih ,sangat membantu dalam menginterpretasikan koleksi-koleksi arkeologika dan geologika yang di miliki oleh Museum Siginjei

  2. maasih yahh…..
    ngerjakan Pr yang sangat banyak membuat saya bingung.. :-}


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: