Oleh: hurahura | 18 Desember 2016

Pendekatan Sains dalam Arkeologi Indonesia Masih Tertinggal

israel-2Penelitian arkeologi di Israel sudah dilengkapi peralatan sains (Sumber:www.israel21c.or)

Kita mungkin sering terkagum-kagum mendengar berita penemuan mumi Otzi berumur 5.000 tahun, makanan terakhir Raja Firaun sebelum meninggal, dan temuan artefak emas dengan pengolahan logam yang canggih dan rumit. Di balik semua itu, para arkeolog melakukan riset secara seksama untuk mendapatkan data yang terukur. Mereka bekerja keras melakukan penggalian arkeologis (ekskavasi), mencatat dan mendokumentasikan temuan, lalu membawanya ke laboratorium untuk dianalisis.

Untuk membantu analisis terhadap temuan-temuan arkeologis, para arkeolog menggunakan bantuan dari ilmu-ilmu lain terutama ilmu-ilmu sains. Penggunaan ilmu-ilmu sains dalam arkeologi setidaknya telah dimulai sejak 1960-an ketika para arkeolog menyadari bahwa untuk mengetahui kehidupan manusia di masa lampau, kita membutuhkan metode ilmiah yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesadaran ini kemudian melahirkan paradigma baru dunia arkeologi kala itu. Paradigma berbasis sains ini dikenal sebagai Arkeologi Pembaharuan (New Archaeology).

Sejak lahirnya paradigma ini, para arkeolog tidak hanya berbicara mengenai perkembangan bentuk benda dan keunikannya, akan tetapi mulai mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak terduga, seperti umur temuan yang sangat tua dari perkiraan atau bahkan penyebab hilangnya suatu peradaban. Hal-hal tersebut dapat ditelusuri dengan menggunakan metode saintifik yang melibatkan penelitian laboratorium dengan tingkat teknologi yang sederhana hingga teknologi yang luar biasa canggih.


Arkeometri: Aplikasi Sains dalam Arkeologi

Salah satu bidang kajian dalam arkeologi yang secara khusus membahas penggunaan metode-metode saintifik dalam penelitiannya adalah arkeometri. Istilah arkeometri sendiri secara umum berarti pengukuran arkeologis dengan metode dan teknik-teknik sains tertentu.

Arkeometri modern mulai berkembang sejak ditemukannya metode penanggalan Karbon pada 1950-an oleh Willard Libby, seorang ahli Kimia Fisik berkebangsaan Amerika. Penanggalan Karbon sendiri merupakan metode pengukuran usia karbon—yang merupakan unsur utama penyusun tubuh makhluk hidup—melalui mekanisme peluruhan atom. Penemuan penanggalan karbon ini telah mengubah wajah arkeologi dengan memberikan penanggalan suatu monumen kuno hingga mumi-mumi manusia dari berbagai peradaban.

Kesuksesan penemuan penanggalan Karbon ini kemudian disusul  oleh penemuan metode-metode lain seiring semakin berkembangnya sains dan teknologi pada akhir abad ke-20. Berbagai jenis alternatif penanggalan baru mulai dikenal seperti penanggalan arkeomagnetik, dendrokronologi, dan peluruhan (fisi) Uranium.

Selain penanggalan, arkeometri juga memungkinkan para arkeolog menganalisis aspek-aspek fisika dan kimia dari artefak. Sebagai contoh sebuah artefak logam kuno dapat diketahui asal bahan dan proses pengolahannya. Gerabah, dengan kemajuan ilmu kimia fisik, kini tidak hanya dapat diteliti aspek bentuk dan motif hiasnya, akan tetapi dapat ditelusuri komposisi kimia bahan, kualitas pori-pori, hingga suhu pembakarannya saat diproduksi. Lebih jauh lagi, arkeometri juga berbicara mengenai pendekatan lingkungan, metode matematis dan statistik, pencitraan dan survei geofisika, serta konservasi temuan arkeologi.


Pendekatan Biologi dan Lingkungan

Sebagai bagian dari ilmu-ilmu sains murni, biologi dan ilmu lingkungan barangkali dapat dikatakan sebagai bagian yang dominan dalam arkeometri. Biologi beserta cabang ilmu turunannya telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pemahaman aspek-aspek hayati manusia masa lampau pada tataran individu hingga interaksi mereka dengan makhluk hidup di sekitarnya.


Arkeologi Forensik dan Riwayat Hidup Otzy

Aplikasi ilmu forensik, genetika, osteologi (ilmu tulang), dan ilmu penyakit (patologi) telah memungkinkan para arkeolog untuk mengungkap penampilan fisik, jenis kelamin, umur, kemungkinan aktivitas sehari-hari hingga penyakit yang diderita seseorang dari masa lampau.

Ötzi Sang Manusia Es, panggilan bagi mumi yang ditemukan di perbatasan Austria dan Italia pada 1991, misalnya, merupakan contoh individu yang telah dipelajari dengan ilmu forensik, genetika, osteologi, dan patologi secara lengkap selama dua dekade terakhir. Berdasarkan penelitian para arkeolog, Otzi diketahui berjenis kelamin laki-laki dan berusia 45 tahun saat ia meninggal. Ia memiliki tinggi 1,65 m dan berat badan sekitar 61 kg. Selain itu, Otzy diketahui memiliki mata cokelat, berjanggut, wajah berkerut, dan mata cekung. Penelitian genetika mengungkapkan bahwa Otzy memiliki kedekatan secara genetik dengan orang-orang Eropa Selatan seperti orang Sardinia dan Korsika. Penelitian terhadap tulang Otzy mengungkapkan bahwa ia terbiasa berjalan pada lingkungan bertebing, sedangkan berdasarkan penelitian patologi, Otzy diketahui menderita alergi susu, sakit gigi, cacingan, dan sempat mengalami enam kali sakit sebelum meninggal.

Dengan cara yang sama, para arkeolog juga mempelajari riwayat hidup Firaun Ramses II dari Mesir, Putri Dai dari Cina, dan individu-individu lain, baik yang masih terawetkan sebagai mumi maupun yang hanya tinggal tulang belulangnya.


Zooarkeologi dan Arkeobotani

Kesadaran bahwa manusia selalu berinteraksi dengan dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan, baik dalam tujuan pemenuhan kebutuhan pangan, transportasi, ritual, maupun interaksi dalam sistem ekosistem, melahirkan cabang ilmu zooarkeologi dan arkeobotani.

Zooarkeologi merupakan cabang ilmu arkeologi yang mempelajari hewan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia masa lampau. Para arkeolog meneliti tulang belulang hewan yang ditemukan bersama pada situs-situs arkeologi dan meneliti jenis-jenis hewan yang ditemukan, apakah hewan-hewan tersebut merupakan hewan yang dikonsumsi atau tidak. Bila dikonsumsi, bagaimanakah hewan tersebut didapatkan, diolah, dan dimasak oleh manusia masa lampau. Bila tidak dikonsumsi apakah hewan tersebut digunakan sebagai sarana transportasi, hewan peliharaan, ataukah hewan yang memiliki nilai-nilai religius tertentu dalam kepercayaan masyarakat pada masanya.

Penelitian zooarkeologi di Indonesia, misalnya, banyak mempelajari pemanfaatan hewan sebagai komoditas konsumsi terutama pada komunitas prasejarah masa mesolitik. Komunitas mesolitik di kawasan arkeologi Maros Pangkep Sulawesi Selatan, dikenal sebagai pengonsumsi kerang dan ikan. Komunitas manusia kerdil di Liang Bua Flores dikenal mengonsumsi tikus dan burung. Di Cina, banyak ditemukan tulang belulang kuda yang merupakan bagian dari penguburan manusia dan berasal dari 2500 tahun yang lalu. Penemuan tersebut mengungkapkan bahwa kuda telah menjadi sarana transportasi orang Cina pada masa lampau dan juga dianggap sebagai hewan yang dipercaya menemani tuannya setelah meninggal.

Selain zooarkeologi dikenal pula kajian arkeobotani. Arkeobotani merupakan kajian yang mempelajari tumbuhan pada masa lampau. Para arkeolog membawa sampel biji, daun, buah, atau batang yang ditemukan pada penggalian arkeologis dan menganalisisnya dengan analisis paleobotani makro. Analisis arkeobotani makro merupakan analisis yang diterapkan pada sampel temuan tumbuhan yang berukuran besar dan dapat diamati secara kasat mata.

Para arkeolog biasanya juga meneliti jejak sisa tumbuhan pada artefak seperti alat batu dan gerabah melalui analisis residu. Selain itu, tanah yang digali diayak dan dicampur dengan air. Sisa-sisa tumbuhan dan material organik biasanya akan mengambang ke atas sedangkan material yang lebih berat akan tenggelam. Teknik ini dikenal sebagai teknik pengambangan (floatation).

Baik sisa-sisa tumbuhan yang melekat pada artefak maupun hasil penggalian melalui teknik pengambangan, kemudian dibawa ke laboratorium dan diteliti menggunakan bantuan mikroskop. Sisa-sisa tumbuhan tersebut ada yang berupa serbuk sari (polen) dan ada juga yang berbentuk mineral silika sisa penguraian jasad tumbuhan yang disebut fitolit. Bentuk mikroskopik dari serbuk sari dan fitolit ini kemudian akan dibandingkan dengan katalog referensi sehingga arkeolog mengetahui jenis tumbuhan yang dimanfaatkan atau berada pada lingkungan hidup manusia masa lampau.

Perkembangan arkeobotani selain mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan pada masa lampau kini juga telah berkembang hingga riwayat penelitian domestikasi atau budidaya tumbuhan. Tanaman jagung diketahui mulai dibudidayakan sejak 9000 tahun yang lalu oleh masyarakat Meksiko, dan kemudian setelah abad ke-16 mulai dibawa dan disebarkan oleh orang Eropa ke berbagai penjuru dunia. Padi mulai dibudidayakan pertama kali di Cina sekitar 8.200 hingga 13.500 tahun yang lalu dan kemudian menyebar ke wilayah Asia Barat dan Tenggara. Sedangkan gandum, tanaman pangan pokok di Asia Barat, Timur Tengah, dan Eropa mulai dibudidayakan sejak 11.600 tahun yang lalu oleh orang-orang di Suriah, Irak, dan Turki sekarang.


Matematika dan Arkeologi

Matematika, bidang ilmu yang berhubungan dengan angka-angka dan perhitungan juga sangat membantu arkeolog dalam berbagai hal. Pada tingkat yang sederhana, statistik,–salah satu—cabang matematika memegang peranan penting dalam pengolahan data arkeologi. Para arkeolog menghitung jumlah temuan, persentase jenis temuan, dan menyajikannya dalam grafik dan tabel-tabel. Pada tingkatan yang lebih rumit, para arkeolog menggunakan model dan persamaan-persamaan matematis yang rumit untuk mengetahui perkiraan luas situs, populasi, perkiraan jarak jangkau perjalanan, jumlah interaksi sosial, jumlah pekerja dan lama pekerjaan membangun suatu kuil dan lain sebagainya.


Kimia dan Fisika Arkeologi

Para arkeolog sering kali kesulitan dalam memahami asal, komposisi, dan sifat bahan dari suatu temuan arkeologi. Untuk membantu hal ini, para arkeolog bekerja dengan bantuan ilmu kimia dan fisika. Dengan analisis kimia dan fisika di laboratorium, para arkeolog dapat mengungkapkan darimana manusia masa lampau memperoleh bijih besi dan mengolahnya, bagaimana ramuan-ramuan dari Mesir Kuno bekerja mengawetkan mumi. Perkembangan kimia dan fisika modern telah memungkinkan para arkeolog menganalisis bagaimana sebuah benda dibuat dengan sinar X, melakukan berbagai metode penanggalan dengan fisika dan kimia nuklir, dan lama suatu benda terpendam dalam tanah dengan mempelajari radiasi elektromagnetik.


Ilmu-Ilmu Kebumian dan Perjalanan Peradaban

Oleh karena kebanyakan situs-situs arkeologi tertimbun di bawah tanah, maka para arkeolog juga mempelajari ilmu-ilmu kebumian, seperti ilmu tanah (pedologi), pembentukan dan riwayat perubahan lahan dan alam (geomorfologi), ilmu pengendapan tanah dan material lainnya (sedimentologi), dan ilmu mengenai bumi secara umum (geologi).

Para arkeolog mempelajari bagaimana suatu situs arkeologi dapat tertimbun dan bagaimana prosesnya dengan mengamati lapisan-lapisan tanah dan batuan di atasnya. Dengan cara ini para arkeolog telah banyak menemukan berbagai peradaban kuno musnah karena terkena bencana alam seperti longsor, banjir, letusan gunung api, hingga banjir besar.

Endapan-endapan fosil bakteri, sisa-sisa serbuk sari tumbuhan, dan materi lainnya diteliti oleh para arkeolog untuk mengetahui perubahan iklim dan cuaca yang mempengaruhi kehidupan manusia masa lampau. Dengan bantuan sedimentologi dan geologi, arkeolog dapat memahami iklim pada zaman es dan pengaruhnya pada persebaran manusia purba serta bagaimana mereka bertahan hidup di gua-gua serta memperkirakan sejak kapan manusia mengenal dan mengenakan baju untuk beradaptasi dengan iklim dan cuaca.


Sains dan Konservasi

Untuk merawat dan melestarikan benda-benda dari masa lampau, para arkeolog di museum dan lembaga-lembaga penelitian melakukan upaya pengawetan atau konservasi. Mereka mempelajari sifat bahan dari suatu benda dan menggunakan bahan-bahan kimia untuk merawat dan memperpanjang usianya. Ramuan-ramuan alami juga digunakan sebagai bahan pengawet yang lebih aman.

Rekayasa lingkungan dilakukan pada berbagai situs arkeologi untuk melindunginya dari berbagai ancaman kebencanaan. Para arkeolog mempelajari iklim dan keberadaan manusia dan pengaruhnya pada bangunan-bangunan kuno dan bagaimana strategi melindunginya. Di sini terlihat jelas bagaimana sains sangat bermanfaat dalam melestarikan situs-situs dan benda-benda bersejarah yang akan diwariskan pada generasi yang akan datang.


Masa Depan Sains dan Arkeologi

Perkembangan pesat penelitian arkeologi dan juga ilmu-ilmu sains telah menghantarkan manusia pada puncak peradaban sepanjang masa. Pada masa kini, teknologi-teknologi canggih hasil dari riset-riset sains telah memungkinkan para arkeolog untuk menemukan situs-situs baru yang terpendam di bawah tanah melalui pencitraan udara dan bawah tanah.

Perkembangan ilmu genetika dan bioteknologi juga memungkinkan para arkeolog untuk mempelajari DNA manusia purba untuk mengetahui asal-muasal dan evolusi manusia. Riset genetika dan evolusi juga memungkinkan riwayat suatu penyakit mulai berjangkit pada populasi manusia dan bagaimana rekayasa untuk mencegah dan menghentikannya.

Berbagai teknik dokumentasi dan rekayasa sains untuk melindungi situs dan benda-benda kuno juga semakin banyak ditemukan. Pada titik ini sains berpengaruh besar dalam perkembangan ilmu arkeologi. Di masa yang akan datang ilmu-ilmu sains dan arkeologi akan semakin berkembang dan keduanya tentu harus terus berkolaborasi untuk kemajuan peradaban umat manusia.


Perkembangan Arkeologi Sains di Indonesia

Kolaborasi sains dan arkeologi tidak dapat terelakan telah banyak membuka tabir misteri peradaban manusia dan bagaimana cara melindunginya. Di berbagai negara maju, riset arkeologi sains (baca arkeometri) terus digalakkan dan telah diakui menjadi salah satu cabang ilmu arkeologi. Universitas-universitas di Inggris, Perancis, dan Jepang menjadikan Arkeologi Sains sebagai salah satu minat dalam program perkuliahan yang ditawarkan. Begitu pula laboratorium dan peralatan-peralatan canggih, dibangun dan dipakai di berbagai lembaga riset arkeologinya. Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Penggunaan ilmu sains dalam penelitian arkeologi di Indonesia setidak-tidaknya telah dimulai sejak 1980-an. Beberapa mahasiswa dan pengajar dari jurusan Arkeologi Universitas Indonesia, misalnya, menyuarakan pentingnya penggunaan metode saintifik dalam penelitian arkeologi sebagai respons terhadap perkembangan arkeologi di Eropa dan Amerika saat itu.

Lembaga riset arkeologi di Indonesia, yaitu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menjadi salah satu corong produksi pengetahuan arkeologi sains. Bidang arkeometri telah menjadi bagian yang terintegrasi dalam penelitian arkeologinya. Begitu pula kerja sama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan para arkeolog dan lembaga riset asing, telah memberikan perkembangan yang signifikan dalam riset arkeologi sains. Kerja sama penelitian manusia purba dengan Perancis, misalnya, telah melahirkan arkeolog-arkeolog Indonesia yang cakap dalam bidang paleoantropologi, seperti Dr. Harry Widianto (sekarang Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman). Begitu pula Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, arkeolog senior di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, sejak menyelesaikan pendidikannya di Perancis telah memberikan kontribusi besar dalam pendekatan saintifik dalam arkeologi Indonesia. Selain kedua tokoh tersebut, masih banyak peneliti yang mendalami kajian-kajian arkeologi sains dengan topik-topik kajian arkeometalurgi, zooarkeologi, palinologi, dan paleoantropologi terutama peneliti di lembaga riset arkeologi (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi). Saat ini universitas-universitas yang memiliki program studi arkeologi pun telah memfasilitasi mahasiswa dengan mata kuliah yang memiliki pendekatan saintifik seperti Arkeologi Lingkungan dan Paleoantropologi.

Meskipun arkeologi sains, atau arkeometri telah dikenal dan diterapkan di Indonesia, akan tetapi masih jauh tertinggal dibandingkan dengan perkembangan di negara-negara Eropa dan Asia Timur. Salah satu penyebabnya adalah arkeologi kurang mendapat perhatian dan fasilitasi pemerintah. Ini mengingat penelitian arkeometri memerlukan biaya dan peralatan yang cukup besar.***

**********

Penulis: Dani Sunjana
Mahasiswa Program Studi Arkeologi Universitas Udayana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: