Oleh: hurahura | 20 Maret 2012

Masjid Berlanggam China di Batavia

Warta Kota, Selasa, 20 Maret 2012 – Kawin campur antara etnis Tionghoa dengan golongan Islam, dulu sering terjadi di Batavia. Bukti-buktinya masih bisa disaksikan pada bangunan-bangunan kuno, terutama masjid. Di Batavia hubungan antara etnis Tionghoa dengan orang-orang Islam terbilang akrab. Terlebih setelah terjadinya peristiwa kelam pembantaian orang-orang China pada 1740.

Masjid Angke termasuk salah satu masjid kuno yang memiliki aksen China. Masjid ini didirikan oleh seorang wanita China Muslim yang bersuamikan orang Banten pada 1761. Langgam China terlihat pada detail konstruksi atap bangunan berupa kayu bertumpuk serta bentuk dan detail ujung-ujung atap bangunan. Uniknya gaya Jawa dan gaya Eropa, ikut mewarnai masjid ini. Gaya Jawa terlihat pada tajuk, sementara pengaruh Eropa terlihat pada bagian pintu dan jendela.

Tak jauh dari Masjid Angke, terdapat masjid kecil yang disebut Langgar Tinggi. Masjid ini didirikan pada 1829. Unsur Tionghoa kentara pada penyangga balok (tuo-kung). Ketika itu hubungan antaragama dan antaretnis begitu dominan, maka pengaruh Jawa (dasar) dan pengaruh Eropa (pilar) ada juga di sini.

Masjid lain yang mendapat pengaruh China adalah Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk. Pada bagian atas masjid ini terdapat hiasan yang disebut tuo-kung. Masjid Kebon Jeruk didirikan pada 1817 atas prakarsa Chau Tsien Hwu. Chau dan penduduk Sinking yang beragama Islam melarikan diri dari negaranya karena terancam oleh pemerintah setempat. Akhirnya mereka sampai di Batavia. Di tempat baru ini mereka menemukan sebuah surau yang tidak terpelihara. Banyak tiang pada surau telah rusak. Karena mereka memiliki keterampilan dalam pekerjaan kayu dan batu, maka surau tersebut diperbaiki (Katalog Pameran Color of Uniqueness, 2011). Sumber lain menyebutkan masjid didirikan oleh Tschoa, seorang kepala kaum Muslim Tionghoa (1780-1797) pada 1786. Di halaman belakang masjid terdapat makam Nyonya Cai, isteri Tschoa, bertarikh 1792. Nisannya bertuliskan aksara Tionghoa bercampur tanggal dalam aksara Arab, dilengkapi hiasan kepala naga dan ornamen-ornamen Tionghoa lain (Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, 1997).

Sezaman dengan Masjid Kebon Jeruk adalah Masjid Krukut di Jalan Kebahagiaan. Masjid ini juga dihubungkan dengan orang-orang Tionghoa yang menganut Islam. Namun tahun pembangunannya tidak diketahui pasti, hanya disebutkan sesudah tahun 1785. Mimbar kayu di masjid ini sangat menarik, sehingga sekarang dipandang sebagai karya besar seni ukir Tionghoa. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: