Oleh: hurahura | 12 Mei 2016

Situs Kota Rosan di Lamongan

Rosan-3Ekskavasi di situs Rosan dengan temuan tembikar

Situs Rosan terletak di Dusun Jatenan, Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedung Pring, Kabupaten Lamongan. Berjarak sekitar 27 kilometer arah barat daya dari Kota Lamongan. Situs ini ditemukan dan terletak dalam area tanah kawasan Perhutani Lamongan, yang oleh warga sekitar ditanami secara tumpang sari.

Di sekitar situs banyak ditemukan pecahan gerabah atau terakota yang diperkirakan buatan abad X-XIV. Ada juga temuan fragmen keramik bermotif lukisan khas Cina dan keping uang gobog. Pecahan keramik dan terakota tersebar luas di lahan tersebut pada permukaan tanah. Terakota yang lebih berbentuk pernah ditemukan pada kedalaman 10-20 sentimeter dari muka tanah.

Temuan pada situs tersebut hampir semuanya tidak utuh. Area tanah milik Perhutani ini adalah ladang tebu sejak masa lalu. Dalam proses penanaman tebu, lazim dilakukan perbaikan muka tanah dengan jalan meratakannya. Hal ini kemungkinan membuat terakota di sana rusak dan banyak pecah.

Situs Kota Rosan dapat juga memiliki arti suatu daerah yang menghasilkan tebu dengan mutu yang baik dan berlimpah. Kata ‘rosan’ berasal dari bahasa Jawa “ros-rosan” yang memiliki arti ruas-ruas yang memisahkan ruas batang tebu satu dengan yang lain. Ada dugaan bahwa dulu Kota Rosan merupakan sentra perajin terakota aneka bentuk dan fungsi, khususnya cobek. Sampai sekarang di Lamongan banyak pengrajin cobek yang berbahan dasar tanah liat.

Rosan-2Tembikar berbentuk wadah di situs Rosan

Tak hanya tinggalan era klasik yang ditemukan di sana. Tidak jauh dari situs ini terdapat waduk yang dibuat pada era kolonial.Warga sekitar menyebutnya Waduk Prijetan. Dibangun tahun 1909 dan diresmikan tahun 1917. Waduk Prijetan berfungsi mengairi sawah seluas 50 hektar dan membentang dari Dusun Jatenan hingga Dusun Kayen Kecamatan Ngimbang. Waduk tersebut memiliki fungsi tunggal untuk irigasi dengan membendung sungai guna meninggikan muka airnya. Waduk yang membendung sungai Bengawan Solo tersebut juga memiliki fungsi lain sebagai objek wisata. Waduk ramai pengunjung pada pagi hari dan bertambah ramai ketika bulan Ramadhan tiba.

Terdapat pula makam seorang Belanda di sana. Kemungkinan besar, ia merupakan salah satu pengawas pembangunan waduk. Masyarakat sekitar menyebutnya Makam Mbah Londo Watu Ireng karena makam tersebut tersusun dari batu berwarna hitam.

Laporan dan foto: Soleh Hoetama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: