Oleh: hurahura | 6 Juli 2014

Sejarah Kegiatan Mata-mata

Kegiatan mata-mata atau spionase telah dikenal sejak lama. Kata spionase semakin populer ketika terbentuk dua blok berdasarkan ideologi, yakni blok Barat pimpinan AS dan blok Timur pimpinan Uni Soviet. Masing-masing blok berupaya memata-matai pihak lawan dengan cara menyusupkan sejumlah agen spionase.

Pada awalnya istilah mata-mata hanya berkenaan dengan perang atau kemiliteran, yakni kegiatan seseorang yang menyamar dengan tujuan menyelidiki keadaan orang atau negeri yang menjadi musuh. Dengan demikian, suatu negara bisa mengetahui kapan dan ke mana harus bergerak menghadapi musuhnya itu.

Pekerjaan mata-mata banyak dilakukan orang sewaktu di Eropa terjadi Perang Dunia pertama (1914-1918). Salah seorang legenda mata-mata internasional adalah Matahari. Wanita yang bernama asli Marguaretta Zella ini lahir di tanah Jawa lalu dibawa ayahnya ke Belanda. Dengan kecantikan dan keterampilannya berdansa, Matahari mampu mengorek banyak informasi berharga dari prajurit-prajurit muda Prancis. Akibatnya, Prancis selalu mengalami kekalahan dalam peperangan. Namun akhirnya penyamaran Matahari diketahui musuh sehingga dia dihukum tembak.

Di antara sejumlah mata-mata, memang cerita tentang Matahari tak pernah habis. Bahkan karena fenomenalnya, buku dan film tentang Matahari banyak beredar di pasaran internasional. Bahkan cerita tentang Matahari pernah dimuat secara bersambung di harian Kompas.


Ribuan tahun

Sejarah kegiatan mata-mata diperkirakan telah muncul ribuan tahun yang lalu. Dalam kitab Kejadian dikatakan, pekerjaan mata-mata mula-mula dilakukan oleh Kain, saudara dari Abel. Karena Kain benci pada Abel, maka setiap pagi dan sore dia selalu mengintip pekerjaan Abel. Rupanya Abel rajin bekerja sehingga dia disayang keluarga dan teman-temannya. Kain yang selalu iri hati, pada suatu hari membunuh Abel.

Sumber Tiongkok mengatakan, kegiatan mata-mata yang pertama kali dilakukan atas perintah Kaisar Huang Ti (sekitar tahun 4500 SM). Ketika itu Huang Ti selalu kalah perang. Maka beliau memerintahkan orang-orangnya yang setia untuk mengintip setiap gerakan musuh. Ternyata seorang pengawal kaisar, Hsu Yu, berkhianat. Dia sering memberikan informasi berharga tentang sepak terjang pasukan kaisar kepada musuh. Barulah sejak Hsu Yu ditangkap, kaisar selalu menang perang.

Diperkirakan mata-mata banyak terdapat di Tiongkok. Mulai 550 SM mungkin berdiri Dinas Rahasia Tiongkok. Sumber lain mengatakan, kegiatan spionase di Tiongkok sudah berjalan sejak 500 tahun SM. Pada tahun-tahun berikutnya kegiatan spionase di Tiongkok sering kali diwarnai dengan rujukan pada kitab-kitab primbon kuno seperti I Ching atau buku Sun Tzu.

Pekerjaan mata-mata menuntut kelihaian dan keberanian. Artinya sandi atau kode rahasia perlu dipahami. Ada cerita menarik tentang kegiatan mata-mata yang dilakukan semasa Revolusi Prancis 1852. Seorang pendeta dari pihak kaum revolusioner, ketika itu berusaha masuk kota. Namun karena gerak-geriknya mencurigakan, dia ditangkap musuh.

Di dalam penjara, dia meminta tolong seorang sipir untuk memberikan secarik kertas kosong kepada seorang temannya. Sang teman merasa aneh tatkala menerima selembar kertas yang tidak mengandung tulisan apa-apa. Hampir saja kertas itu dibuangnya.

Tiba-tiba sewaktu bangun tidur, dia menyenggol gelas minumannya. Betapa kagetnya dia ketika air yang membasahi kertas itu memunculkan tulisan. Ternyata kertas putih itu merupakan surat penting. Itulah salah satu cara untuk menyampaikan informasi rahasia agar sulit terlacak oleh musuh.

Cara lain yang digunakan mata-mata adalah menyimpan surat rahasia di dalam dasi, tutup botol, sol sepatu, perhiasan, dan pakaian dalam. Selain itu menggunakan jasa burung dara yang dilengkapi kamera mikro di tubuhnya. Yang paling canggih, tentu saja, digunakan oleh agen rahasia James Bond 007 dalam film-filmnya.

Meskipun sekarang zaman telah modern, namun profesi mata-mata tetap dijalankan orang secara sembunyi-sembunyi. Berbagai instansi penegak hukum di Indonesia, misalnya, memiliki bagian intelijen. Begitu pun kepolisian dengan bagian resersenya. Malah ada instansi resmi Badan Intelijen Negara (BIN), pengganti BAKIN.

Mata-mata swasta pun tak terhitung banyaknya. Mereka biasanya bekerja pada perusahaan-perusahaan ritel dengan tugas saling memantau harga saingan usahanya. Dengan demikian mereka berlomba-lomba memberikan harga termurah kepada konsumen. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: