Oleh: hurahura | 21 Desember 2010

Seminar Konservasi: Konservasi Arsitektur Kota di Jakarta*

Oleh : Djauhari Sumintardja
(Pusat Dokumentsi Arsitektur)

Abstrak
Permasalahan konservasi arsitektur di kota Jakarta dapat dibahas dari berbagai sudut pandang diantaranya seperti yang diangkat oleh penulis di dalam makalah ini yaitu sebagai kelompok dasarnya modal budaya, modal teknologi dan modal ekonomi.

Makalah ini menguraikan secara singkat hal tersebut di atas, baik secara teoritis maupun contoh-contoh terapannya di berbagai kota di dunia sebagai perbandingan antara teori dan terapan praktisnya seperti yang terjadi di kota Jakarta; serta apa yang dapat di pertimbangkan untuk dilakukan selanjutnya dari perspektif sebuah balai konservasi seperti yang dimiliki oleh Pemprop DIK Jakarta.

Abstract
Urban architecture conservation in the city of Jakarta city can be dealt with from different perspectives as the author will apply in this writing such as basically a cultural capital, technological capital, and economy capital Theories and practices on these matters can be studied from many experiences or cases in the world’s cities and this paper intents to compare certain aspects which a conservation centre under the Jakarta Local Government installation can do ,in enhancing the process and development of the architectural conservation of the city.


PENDAHULUAN

Arsitektur bagi sebuah kota adalah sebagai perwujudan dari apa yang dibangun oleh manusia dalam mengembangkan kota temapt mereka tinggal, dan merupakan sebuah manifestasi fisik yang teraba dan terlihat dari sejarah sebuah masyarakat, bukti sejarah dari gaya hidup masa lalu, kemahiran seni dan teknologi bangunan dari generasi terdahulu, serta cerminan kekayaan budaya secara keseluruhan dari masyarakat tersebut.

Demikianlah arsitektur kota Jakarta di masa kini yang dari segi budaya kota ingin menggambarkan lintasan sejarah. Yaitu mulai dari masa kejayaan era Fatahilah dengan pelabuhan Sunda Kelapanya, era jaman VOC dan kolonial Belanda dengan warisan arsitekturnya yang terbanyak jumlahnya, termasuk hasrat menunjukkan citra ke-Betawi-annya dengan rumah Si Pitung di Jakarta Utara dan kampung Betawi di Situ Babakan – Jakarta Selatan. Dan tidak kalah penting adalah keinginan untuk melestarikan bangunan yang layak dilestarikan sebagai karya putra bangsa sejak Indonesia memasuki era kemerdekaan.

Mengapa perlu Konservasi?

1. Dari sudut pandang modal budaya, konservasi perlu karena sebuah kota tumbuh dan berkembang secara menerus dan dinamis, yang dalam kebutuhannya akan perkembangan tersebut memerlukan ruang dan tempat yang kadang terkendala keterbatasan dalam penataan ruang dan pembangunan prasarana dan sarana kota yang sering dengan menghapus bagian-bagian kota yang lama termasuk gedung-gedungnya dan menggantikannya dengan lingkungan-lingkungan yang baru termasuk generasi baru dari gaya dan citra dari bangunan-bangunannya.

Namun sejarah kota akan lebih mudah dikenal oleh generasi-generasi berikutnya bila di ’sisakan’ contoh untuk mengenal lebih nyata tentang masa lalu untuk menjadi pengetahuan tentang gaya kehidupan dan memahami perubahan jati diri sebuah kota.khususnya mengenai arsitektur dan lingkungannya karena hal ini dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi pengenalan dan pemahaman budaya dan peradaban di masa lalu dan keterkaitannya dengan masa kini.

2. Dari segi teknologi di beberapa dasawarsa terakhir ini timbul beberapa perubahan pandangan dalam metodologi atau cara konservasi.Yaitu dengan adanya perkembangan dalam teknologi beton dan bahan komposit organik lainnya ternyata cara-cara yang diperkirakan sudah umum dalam proses pemugaran sudah dinilai kurang memadai dan perlu dicari kiat-kiat baru.Di dalam hal ini diperlukan kesertaan para ahli yang profesional (profesional skills) baik dari segi pendekatan filosfi pemugaran ataupun dari segi teknologi pemugaran bangunan Di dalam pemugaran bangunan tidak ada dua situasi yang sama. Setiap kasus memerlukan perlakuan yang khas secara profesional dari segi pengenalan fisik dan konteks sejarah dari bangunan tersebut. Di Eropa Barat banyak sekali bangunan gedung tua yang bersejarah yang dimanfaatkan kembali untuk berbagai fungsi yang baru namun terancang terpadu dengan pembangunan gedung yang baru sama sekali dalam penggunaannya.

3. Dalam perkembangan kota di masa kini, pemugaran arsitektur kota terancang terpadu dengan program-program revitalisasi kota. Salah satu sasarannya adalah untuk meningkatkan nilai fungsi ekonomi kota tersebut antara lain potensinya sebagai pesona kepariwisataan. Menjual ruang kota dan arsitektur sebagai tempat tujuan wisata hanyalah merupakan salah satu dari kiat untuk menilai bahwa konservasi dapat bernilai ekonomi. Sudah banyak para ahkli ekonomi memberi pemikiran bagaimana bangunan dan lingkungan cagar budaya kota, dapat di berlakukan sebagai (heritage)-estate property dan dapat dihitung nilai ekonominya serta bagaimana kiat-kiat pengelolaannya.

Di Indonesia termasuk di Jakarta, arsitektur dan lingkungan cagar budaya belum sampai terangkat bahwa bangunan dan lingkungan cagar budaya sebenarnya memiliki nilai sebagai modal ekonomi, meskipun upaya ke arah ini sudah mulai ada. Umpanya pemikiran yang dikembangkan oleh tim dari Pusat Dokumentasi Arsitektur yang telah membuat pembobotan nilai ekonomi dari benteng-benteng di Indonesia termasuk benteng yang ada di Taman Arkeologi Onrust di Jakarta, dalam bulan Oktober –November 2010.

KONSERVASI ARSITEKTUR DI JAKARTA :
(KASUS YANG TERSENDAT- SENDAT)

1. Umum
Kota Jakarta di tahun 1970-an boleh dikatakan merupakan kota yang sangat maju dalam mengayomi kawasan/lingkungan dan bangunan tuanya dengan diterbitkannya beberapa Surat Keputusan Gubernur pada waktu itu Ali Sadikin, yang menetapkan beberapa kawasan dan bangunan tertentu di wilayah kota Jakarta sebagai lingkungan kota dan bangunan yang dilindungi atau sebagai Benda Cagar Budaya (BCB – istilah resmi dalam UU No.5/ Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya).

Di tahun 1993 terbit SK No. 475 dari Gubernur tentang penetapan 169 bangunan di wilayah Jakarta yang bernilai sebagai BCB.

Di dalam lampiran dari SK 475 tahun 1993 tersebut terdaftar bangunan yang berasal dari abad 17 yang dibangun oleh VOC, sampai bangunan yang didirikan di abad 20 setelah Indonesia Merdeka. Daftar terebut di atas telah dicoba untuk disempurnakan a.l. agar ada data tentang mengapa menjadi BCB, apa klasifikasi BCB-nya ( lokal atau nasional),tahun pembanguna gedung ybs), dsb.

Tentang mengapa jadi BCB hal ini dapat terkait dengan sejarah bangunan tersebut. Baik yang berhubungan dengan peristiwa penting atau terkait dengan tokoh bersejarah yang penting, dsb. Pengenalan biodata bangunan seperti itu dapat merupakan sebagai modal budaya dari pada konservasi bangunan tsb. Demikian pula tentang klasifikasi golongan A, B, dan C dari arsitektur bangunan tersebut adalah untuk menentukan krteria tentang kadar keasliannya (Authenticity) yang diperlukan untuk penilaian secara ilmu pengetahuan. Tentang kapan gedung tua tersebut dibangun, hal ini ada kaitannya dengan sejarah dan dengan teknologi bangunan ( = modal teknologi) yang di masa bangunan itu didirikan. Pengetahuan tentang jenis bahan bangunan yang digunakan di jaman ybs.diperlukan informasinya untuk menjadi rujukan teknis kalau bangunan tersebut diintervensi untuk pekerjaan konservasi. Demikian pula dengan perubahan keadaan a.l. lingkungan secara geologi dan morfologi di sekeliling bangunan tersebut akan menentukan pendekatan segi teknologi konservasi tersebut. (Contoh penggalian tembok Kota Batavia di halaman gedung BI ex Javasche Bank di kota, penggalian terowongan di Stasiun Kota, penemuan bekas rel trem di lapangan depan Gedung Sejarah Jakarta, dsb.)

Tentang penelaahan modal ekonomi dari lingkungan dan arsitektur BCB di Jakarta, sejauh belum ada yang dapat dijadikan percontohan karena umumnya kalau bangunan BCB tersebut milik Pemda maka difungsikan menjadi museum, dan kalaupun ada swasta yang berinvestasi dalam pemafaatan bangunan BCB seperti ex Kantor Transmigrasi Jakarta Pusat menjadi Budha Bar, hal tersebut merupakan kasus khusus. Kantor Pos Taman Fatahillah pernah mencoba berkolaborasi dengan swasta, namun kurang berjalan mulus dan gagal. Modal ekonomi yang tercuat selama ini adalah dari segi kebutuhan dana untuk pemeliharan dan perawatan dan belum sampai ke tahap menghasilkan kelebihan masukan sehingga gedung yang bernilai BCB tersebut dapat membiayai dirinya sendiri dengan ada keuntungannya. Di bawah ditampilkan tabel keterkaitan berbagai profesi dalam pekerjaan konservasi arsitektur di ambil dari Buku Architectural Conservation – Aylin Orbasli 2008


BAGIAN I

KETENTUAN UMUM

I.1. PENGERTIAN

1. Pedoman Teknis adalah acuan teknis yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Peraturan Pemerintah ini dalam bentuk ketentuan teknis pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi.

2. Pelestarian adalah upaya perawatan, pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung untuk memperpanjang usia, serta untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki, serta memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung yang mencakup persyaratan kelaikan fungsi dan keandalan bangunan gedung serta sebagai bagian dari upaya perlindungan dan

2. Peringkat BCB Arsitektur dan Lingkungan
Bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan dapat berbeda peringkat dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yaitu berdasarakan kepentingannya yang dapat berskala nasional ataupun internasional/dunia; berskala provinsi; dan berskala lokal.

2.1.Untuk peringkat nasional pengusulannya diajukan oleh Menteri yang terkait kepada Presiden dengan pertimbangan karena bangunan gedung dan lingkungan atau kawasan tersebut penting dari nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berskala nasional.

2.2.Bangunan dan lingkungan cagar budaya berperingkat dunia, bersyarat bahwa bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan tersebut sudah bernilai sebagai cagar budaya berperingkat nasional dan diusulkan oleh Presiden/Pemerintah Indonesia ke UNESCO melalui ICOMOS (International Council for Monuments and Sites) untuk diakui dan terima untuk masuk daftar sebagai kekayaan budaya dunia (World Heritage List) sesuai prosedur pencalonan dan penetapan yang berlaku.

Persyaratan lainnya yang harus dipenuhi adalah bahwa dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan atau kebudayaannya, cagar budaya tersebut merupakan bagian yang signifikan dari peradaban dunia, dan yang sistem pengelolaannya pun sepadan dengan standar pengelolaan bangunan dan lingkungan cagar budaya yang direkomendasikan badan kebudayaan dunia tersebut.

2.3. Untuk peringkat provinsi pengusulannya diajukan oleh kepala dinas terkait kepada Pemerintah Provinsi serta penetapannya dilakukan Gubernur dengan pertimbangan karena bangunan gedung dan lingkungan tersebut penting dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, atau signifikan sebagai mewakili citra budaya kawasan etnik atau berskala wilayah provinsi atau lintas kabupaten.

2.4. Untuk peringkat lokal pengusulannya diajukan oleh kepala dinas terkait kepada Pemerintah Kabupaten atau Kota, serta penetapannya dilakukan oleh Bupati atau Walikota dengan pertimbangan karena bangunan gedung dan lingkungan tersebut penting dari segi nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan lokal.

Kriteria yang dipenuhi dalam klasifikasi kawasan cagar budaya yang dilindungi

Klasifikasi kawasan cagar budaya yang dilindungi ditentukan oleh jumlah kriteria yang dapat dipenuhi antara semua atau separuh dari 6 (enam) kriteria seperti diuraikan di atas, dan yang penyebarannya tergambar dalam bagan berikut.

Lingkungan di kawasan cagar budaya berklasifikasi utama, memenuhi ke enam kriteria tersebut di atas dan yang secara fisik mengalami sedikit perubahan terhadap bentuk lingkungan aslinya.

Lingkungan di kawasan cagar budaya berklasifikasi madya, memenuhi 3 (tiga) kriteria dari 6 (enam) dengan pilihan alternatif dan berciri bahwa lingkungan telah mengalami perubahan terhadap keadaan aslinya tetapi masih memiliki beberapa unsur aslinya.

Lingkungan di kawasan cagar budaya berklasifikasi pratama, memenuhi 3 (tiga) kriteria dari 6 (enam) dengan pilihan alternatif namun secara fisik banyak mengalami perubahan tanpa memiliki lagi unsur keaslian.

3. Nilai dan Definisi
Definisi Konservasi Arsitektur yang direkomendasikan oleh ICOMOS adalah :

“The process of understanding, safe guarding and as necessary, maintaining, repairaing, restoring, and adapting historic property to prserve its cultural significance. Conservation is the sustainable management of a building and involves making changes ; it is not simply architectural deliberation , but an economic and social issue.The concern of concervation is the past,present and future and involves making balanced judgement in respect of :
– evidence (history)
– the present day needs and resources available
– future sustainablility

Dengan merujuk ke buku Archirtectural Conservation, secara teoritis nilai-nilai yang harus menjadi pertimbangan dalam Konservasi Arsitektur adalah Nilai :
1. Usia dan Kelangkaan)
2. Arsitektur
3. Artistik (seni)
4. Assosiatif
5. Kebudayaan
6. Ekonomi
7. Edukatif
8. Emosional
9. Sejarah
10. Lansekap (Pemandangan)
11. Kekhasan Ciri Lokal
12. Politik
13. Publik
14. Religi dan Spiritual
15. Keilmuan, Penelitian dan Pengetahuan
16. Sosial
17. Simbolik
18. Teknik
19. Townscape (Saujana Kota).

Dari segi istilah Konservasi dapat tercakup berbagai pekerjaan pelestarian yang istilah dalam bahasa Inggrisnya adalah :i :
1.Adaptive reuse / Adaptation
2.Conservation
3.Consolidation
4.Preservation
5.Prevention / Preventative measures
6.Protection
7.Reconstitution
8.Reconstruction
9. Rerplicas
10 Restoration
(Lihat lampiran untuk uraian istilah-istilah tersebut di atas)

4. HAL-HAL YANG DIANJURKAN DAN TIDAK DIANJURKAN DALAM KEGIATAN PEMUGARAN BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN YANG DILINDUNGI

Pedoman tentang apa yang dianjurkan untuk ,dan apa yang tidak dianjurkan untuk dilakukan yang disusun oleh penulis sebagai konsultan yang ditugaskan oleh Departemen PU dalam rangka melengakapi pelaksanaan tekinis UU No. 28 tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung.

Butir-butir tersebut masih cukup relevan dan merujuk kepada stándar yang berlaku di berbagai negara Eropa Barat dan di Amerika Serikat.


4.1. Lingkungan/Kawasan Cagar Budaya

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan unsur-unsur penting seperti ukuran, skala, masa, warna dan bahan dari bangunan-bangunan bersejarah, termasuk atap, serambi depan (porch), dan tangga yang memberi ciri khas atau karakter dari lingkungan yang bersangkutan. Menambah konstruksi baru di lingkungan tersebut yang dari segi ukuran, skala, warna dan bahan tidak serasi dengan karakter dari lingkungan/kawasan yang bersangkutan.
Mempertahankan unsur-unsur lansekap seperti taman, halaman, lampu/ penerangan jalan, papan tanda, bangku, jalan setapak, jalan, gang dan ruang depan bangunan yang telah menjadi ikatan tetap antara bangunan dengan lingkungannya. Merusak keseimbangan hubungan dari bangunan-bangunan dengan lingkungannya dengan cara pelebaran jalan eksisting, merubah permukaan jalan setapak, atau pembangunan jalan baru dan tempat parkir yang tidak sesuai dengan karakter dari lingkungan yang bersangkutan.
Menggunakan jenis penghijauan/tanaman baru, pemagaran, jalur pejalan kaki, jalan, penerangan jalan, papan tanda dan perabot jalan, yang dari segi ukuran, skala, bahan dan warna, serasi dengan karakter dari lingkungan ybs. Menambah papan tanda, penerangan jalan, perabot lingkungan, jenis tanaman baru; yang dari skalanya tidak serasi dengan karakter lingkungannya.


4.2. Tapak Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mengidentifikasi tanaman, pohon-pohon, pagar, jalan setapak, bangunan luar, atau elemen tapak bangunan lainnya yang penting bagi tapak dari segi sejarah dan perkembangan tapak tersebut.
Mempertahankan tanaman, pohon-pohon, pagar, jalan setapak, jalan, penerangan jalan, dan perabot lingkungan yang merefleksikan sejarah dan perkembangan bangunan di tapak yang bersangkutan. Melakukan perubahan penampilan dari tapak dengan pengahancuran pohon atau tanaman lama, pagar, jalan setapak, bangunan luar dan elemen lama lainnya sebelum terhadap masing-masing dilakukan evaluasi terlebih dahulu mengenai kepentingannya dari segi sejarah dan perkembangan tapak tersebut.
Menjadikan penelaahan tentang masa lalu dari penampilan bangunan melalui dokumentasi lama foto, gambar, koran dan arsip pajak sebagai dasar dalam pekerjaan merancang baru dari tapak.
Membuat drainase tapak dan talang atap bangunan sebaik mungkin sehingga tidak mengakibatkan tembok dan pondasi bangunan basah menerus dan menimbulkan kerusakan karena lembab akibat pengaliran air yang buruk.


4.3. Unsur Yang Bernilai Arkeologi

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Melindungi unsur yang bernilai arkeologi agar tetap utuh Memasang utilitas di bawah tanah, yang dapat mengganggu sumber yang bernilai arkeologi
Menghindari adanya gangguan terhadap lahan kawasan yang memiliki unsur arkeologi sehingga dengan maksud untuk merusak kemungkinan ada unsur arkeologi lainnya di kawasan tsb. Menggunakan alat-alat besar di kawasan yang dapat merusak atau menganggu sumber yang bernilai arkeologi.
Mengadakan penelitian arkeologi di kawasan lahan kalau dalam pekerjaan rehabilitasi diperlukan pengerukan lahan. Penelitian tersebut harus dilakukan oleh seorang ahli arkeologi.


4.4. Sistem Struktur Bangunan

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Memperhatikan dengan cermat masalah yang khas terkait dengan sistem struktur dan konstruksi bangunan bersejarah, khususnya bilamana terlihat adanya keretakan, kemiringan tiang atau dinding, atau adanya keruntuhan. Mengganggu pondasi eksisting dengan mengadakan penggalian yang dapat mengakibatkan gangguan stabilitas dari bangunan itu sendiri.
Menstabilisasi dan memperbaiki bagian-bagian struktur bangunan yang melemah atau dapat menimbulkan bahaya. Membiarkan masalah struktur bangunan yang telah diketahui dengan akibat kelalaian tersebut memperpendek umur dan struktur tersebut.
Penggantian bagian dari struktur yang bernilai sejarah hanya diterapkan kalau benar-benar diperlukan saja.


4.5. Unsur Eksterior Bangunan Gedung dan Lingkungan Cagar Budaya


a. Dinding Tembok/Bata

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan sedapat mungkin keaslian tembok dan adukannya tanpa penambahan pekerjaan apapun terhadapnya. Menggunakan cat pelapis yang tahan atau menolak air sebagai cara konsolidasi permukaan tembok kecuali kalau-kalau hal tersebut sangat diperlukan setelah dilakukan penelitian secara teknis terlebih dahulu.
Pelapisan (coating) sering tidak perlu disamping mahal namun justru dapat mempercepat kerusakan tembok.
Melakukan sesuatu terhadap sambungan adukan hanya kalau ternyata ada masalah kelembaban atau kerontokkan adukan cukup luas sehingga tidak dapat menahan air sehingga menyerap ke dalam dinding Menurap sambungan adukan yang tidak perlu diturap.
Menggunakan gergaji listrik dan martil untuk melepas plesteran dan menghancurkan atau merusak bata dari dinding bangunan tsb.
Membuat campuran adukan sesama mungkin (duplikat) dengan seasli campurannya, warna dan teksturnya. Menurap adukan dengan kekasaran ukuran, profil adukan, tekstur dan warna yang tidak sesuai dengan aslinya.
Memasang duplikasi adukan tua, hanya di bidang adanya kerusakan sesuai besarnya, profilnya dan dengan cara pengerjaannya yang tepat.
Memperbaiki plesteran dengan membuat campuran plesteran sebagai duplikat aslinya, baik dari penampilan maupun teksturnya.
Membersihkan tembok bangunan hanya kalau diperlukan untuk menghentikan kerusakan untuk menghapus grafiti atau noda dan dengan cara sehalus mungkin seperti dengan semprotan air yang tidak keras atau dengan sikat yang halus. Melakukan penyemprotan dengan pasir atau angin dengan tekanan tinggi, merusak permukaan bata atau batu dapat berakibat mempercepat kerusakan tembok.
Melakukan perbaikan dan penggantian bagian-bagian yang rusak hanya kalau sangat diperlukan dan dengan memakai duplikat dari bahan seaslinya. Menggunakan bahan baru yang asing dikurun waktu bangunan didirikan, seperti permukaan tembok bata dalam bentuk kertas tembok atau plastik dsb.
Mengganti atau menambah kembali unsur arsitektur yang khas, yang hilang atau rusak berat, seperti kornis, list, railling dan penutup jendela (krapyak). Menghilangkan dengan sengaja unsur arsitektur yang khas seperti kornis, list, railling, penutup jendela, arkitraf jendela dan pendimen pintu.
Mengembalikan warna asli atau warna semula dan tekstur dari permukaan dinding tembok. Permukaan dinding bata atau batu kemungkinan dicat atau di kapur demi kepraktisan atau keindahan. Menghilangkan atau mengganti warna permukaan dinding tembok tanpa pertimbangan yang dapat mengakibatkan kerusakan terhadap bangunan gedung atau mengubah penampilannya.


b. Dinding Kayu dan Sejenis

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan dan memelihara sedapat mungkin unsur arsitektur yang terbuat dari kayu dan memberi ciri khas dari bangunan ybs. Menghilangkan atau mengganti unsur bangunan yang terbuat dari kayu yang memberi ciri khas atau karakter thd bangunan tsb, seperti susunan papan pelapis, kornis, arkitraf jendela, pediment pintu dan penopang pada dinding.
Perbaiki atau mengganti bila sangat diperlukan bahan kayu yang rusak atau lapuk dengan cara duplikasi sedekat mungkin dengan aslinya dari segi ukuran, bentuk dan tekstur unsur kayu tersebut Melapisi bangunan konstruksi rangka kayu dengan pelapis bahan baru yang tidak sejaman atau ada ketika bangunan tsb. Terbuat dari batu buatan, asbestos, ubin aspal atau alumunium.
Mempertahankan sedapat mungkin bahan kayu yang orisinal atau seaslinya Menghilangkan atau mengganti unsur bangunan yang terbuat dari kayu yang justru telah menjadi ciri atau yang menentukan karakter dari bangunan tsb, serta menunjukkan perkembangan atau urutan perubahan dari bangunan tersebut dimasa lampau.
Bersihkan bangunan dengan cara setepat mungkin. Bahan logam harus dibersihkan dengan cara yang tidak merusak atau mengasarkan permukaan. Mengekspos bahan logam yang seaslinya dimaksudkan terlindungi dari keadaan lingkungan. Jangan menerapkan cara pembersihan logam yang dapat merubah warna, tekstur dan kekhasan nuansa warnanya.


c. Atap dan Penutup Atap

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan bentuk atap seaslinya. Mengubah bentuk dasar atap dengan penambahan unsur bangunan yang tidak sesuai dengan penambahan jendela atap, lubang angin atau lubang cahaya/skylight.
Menjaga agar atap memiliki cara pembuangan air yang baik dan yang menjamin tidak menimbulkan kerusakan terhadap struktur bangunan sebagai akibat bocor atau rembes.
Mengganti penutup atap yang rusak dengan bahan yang baru yang sesuai dengan penutup atap yang asli dari segi komposisi, ukuran, bentuk, warna dan tekstur. Mengganti penutup atap yang memburuk dengan bahan baru yang begitu beda dengan aslinya dari segi komposisi, ukuran, bentuk, warna dan teksturnya sehingga mengubah penampilan dari bangunan tersebut.
Mempertahankan atau memelihara sedapat mungkin semua ciri atau kekhasan unsur arsitektur yang menentukan bentuk atap bangunan tersebut seperti jendela, atap, kupola, kornis, penopang, lubang asap, lubang angin, atau hiasan atap lainnya. Menghilangkan semua unsur atap yang menjadi ciri khas dari bentuk atap tersebut, sehingga atap bangunan berubah karakternya.


d. Jendela dan Pintu

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan dan membetulkan semua unsur bukaan jendela dan pintu, seperti rangka, bingkai, kaca, awning dan penutupnya yang bersifat menentukan gaya arsitektur dari segi sejarah dan karakter bangunan tsb. Mengubah atau mengganti bentuk, ukuran atau letak dari bukaan jendela dan pintu yang menghilangkan karakter arsitektur dan sejarah dari bangunan tersebut.
Mengganti unsur jendela dan pintu pada tampak bangunan utama yang memiliki penentu bagi sejarah gaya dan karakter arsitektur bangunan tersebut dengan bahan baru yang tidak serasi/asing.


e. Emperan/Teras

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan dan memelihara sedapat mungkin ciri atau kekhasan unsur arsitektur seperti balustrade, cornice, entablature, kolom, lampu dan tangga


4.6. Unsur Interior Bangunan Gedung dan Lingkungan Cagar Budaya

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan denah lantai asli Merubah yang bersifat mengubah karakter dan “citra asal” interior bangunan gedung tersebut
Mempertahankan unsur interior asli Mengganti dan memasang material baru yang kualitas dan karakternya berbeda dengan citra asal


4.7. Sistem Mekanikal/Utilitas

Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Mempertahankan seluruh elemen mekanikal yang penting yang mendefenisikan karakter bangunan secara keseluruhan seperti ventilasi, kipas, jalusi, pipa, keran dan lampu
Mengganti bagian instalasi mekanikal elektrikal yang rusak yang disesuaikan dengan karakter bangunan
Memasang instalasi AC di tempat-tempat yang dapat merusak tampilan atau mengganggu estetika tampak bangunan cagar budaya, hindari suhu dingin yang berlebihan sehingga menyebabkan kelembaban interior bangunan
Memasang papan tanda/nama dengan memperhitungkan kekuatan elemen yang dibebaninya, membuat papan tanda/nama dengan warna dan bentuk yang tidak mengganggu atau bertentangan dengan karakter atau citra bangunan tersebut Membuat papan tanda/nama yang dapat merusak dinding/penampilan keasrian bangunan


5. Penutup

Secara mendasar Kota Jakarta memiliki banyak bangunan dan lingkungan kota yang bernilai BCB yang masing-masing berada di kawasan Jakarta Kota Tua, Kawasan Pemugaran Menteng dan Kawasan Pemugaran Kebayoran Baru. Untuk kawasan-kawasan tersebut telah diterbitkan melalui berbagai proyek dalam beberapa tahun terakhir ini buku-buku pedoman teknik untuk kawasan-kawasan yang bersangkutan yang disusun oleh para konsultan.

Namun pedoman teknis tersebut belum sampai di kukuhkan menjaidi keputusan yang resmo oleh pihak yang berwenang; dan sementara itu sudah ada keputusan dari dinas lain yang pada kasus-kasus tertentu merupakan keputusan yang tumpang tindih bahkan berlawanan dengan apa yang diputukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Peran sebuah balai konservasi yang dimiliki oleh Pemprop DKI Jakarta masih perlu ditingkatkan agar kesertaannya di dalam menunjang secara teknis di bidang teknik pemugaran bangunan gedung pun jelas fungsinya.

Daftar Kepustakaan
1.Donald Hankey : Notes on Conservation Planning -2008
2.Ayilin Orbasli : Architectural Conservation – 2008
3.Florian Steinberg : Revitalization of Historic Inner-city Areas in Asia 2008
4. UU. No.28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
5. PP No.36 Tahun 2005 Tentang Perauran Pelaksanaan UU No.28 Tahun 2002
Tentang Bangunan Gedung.

*Makalah disampaikan pada Seminar Konservasi di Hotel Batavia, 9 Desember 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: