Oleh: hurahura | 9 April 2011

Ceramah Hashim Djojohadikusumo: Warisan Budaya dan Jati Diri Indonesia

Departemen Arkeologi dan Departemen Sejarah FIB UI, Jumat, 8 April 2011 menyelenggarakan ceramah ilmiah bertajuk ’Warisan Budaya dan Jati Diri Bangsa’ dengan pembicara Hashim Djojohadikusumo. Kegiatan berlangsung di Ruang 1103 FIB UI, dihadiri para alumni arkeologi, sejarah, mahasiswa, dan staf pengajar FIB UI.

Sebagai saudagar sejak 1985, menurut Hashim, dia pernah mengunjungi 40 negara. Ternyata kemudian beberapa negara pecah menjadi 22 negara baru. Uni Soviet, misalnya, pecah menjadi 15 negara baru. Lalu Yugoslavia menjadi 6 negara baru. Hashim menilai perpecahan tersebut disebabkan oleh adat, budaya, dan bahasa. ”Agama mereka sama, umumnya Kristen. Suku mereka sama, umumnya kulit putih. Tapi bukan itu yang menyebabkan pertikaian,” kata Hashim menekankan.

Karena itu, menurut Hashim, keutuhan NKRI harus diatasi dengan baik. Kalau tidak, Indonesia bisa pecah menjadi enam negara. ”Jadikan warisan budaya sebagai sumber inspirasi karena kalau tidak ditangani akan menjadi sumber bencana dan politik,” tegas Hashim.

Sebenarnya warisan budaya sudah menjadi kebanggaan generasi muda. Bukan DPR, kepolisian, dan korupsi tetapi budaya Nusantara. Maka, kata Hashim, penguatan warisan budaya sangat strategis, termasuk pelestarian wayang, keris, dan batik.

Pada bagian lain, menurut Hashim, kita jangan anti asing. Jepang bisa dijadikan contoh positif. Ketika baru-baru ini negaranya ditimpa gempa dan tsunami, para penduduk tetap sabar dan santun. Mereka tetap disiplin mengantre meskipun hanya makan satu kali sehari. “Kalau di sini mungkin bisa bakar-bakaran,” kata Hashim.

Menurut Hashim, kita harus belajar dari masa lalu. Belanda sebagai negara kecil, misalnya, bisa menguasai Nusantara selama 350 tahun. Dia juga mengingatkan bahwa di Indonesia ada lebih dari 300 bahasa. Hal ini bisa menyebabkan rawan integrasi bangsa.

Hashim Djojohadikusumo dikenal sebagai pengusaha yang peduli akan warisan budaya bangsa. Dia memprakarsai penelitian kolosal arkeologi dalam bentuk Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia 2008 di situs Trowulan, Jawa Timur. Penelitian ini melibatkan sekitar 100 mahasiswa dan staf pengajar arkeologi dari UI, UGM, UNUD, dan UNHAS. Hashim juga banyak membantu beasiswa untuk para mahasiswa arkeologi dan digitalisasi naskah-naskah daerah.

Sebagai orang Indonesia, Hashim dikenal cinta bahasa Indonesia. Dia, misalnya, tidak suka dengan kata edukasi dan respons. ”Mengapa kita tidak memakai kata pendidikan dan tanggapan, untuk menggantikan edukasi dan respons,” katanya di sela-sela ceramah tersebut. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: