Oleh: hurahura | 17 Agustus 2010

Pencurian Benda Purbakala: Berkabung untuk Museum Sonobudoyo

Kompas Jogja, Jumat, 13 Agustus 2010 – Koleksi Museum Negeri Sonobudoyo yang paling diminati dunia internasional adalah koleksi emas. Topeng emas, arca berlapis emas, hingga aneka perhiasan emas dari masa Kerajaan Mataram Kuno sering kali dipinjam ke berbagai pameran di luar negeri. Sedang tertatih-tatih menuju museum bertaraf internasional, Museum Sonobudoyo tersandung kasus pencurian.

Sebagian koleksi agung Museum Sonobudoyo digondol maling, Rabu (11/8). Koleksi emas yang terdata hilang terdiri atas 17 jenis koleksi atau 87 buah. Pada Kamis, pegawai Museum Sonobudoyo sibuk mendata ulang barang-barang koleksi. Dimungkinkan koleksi yang menghilang bisa lebih banyak lagi.

Pencatat koleksi yang hilang, Winarsih, mengaku tidak bisa tidur sejak mengetahui adanya kasus pencurian di museum yang didirikan Java Instituut dan diresmikan Sultan Hamengku Buwono VIII pada 6 November 1935 itu. Ketakutan dan keresahan juga tergambar jelas di wajah semua pegawai museum.

Kepala Museum Sonobudoyo Martono yang biasanya tenang dan ramah pun lebih banyak terlihat bingung dan resah. Meskipun dirundung duka, Museum Sonobudoyo tetap terbuka untuk masyarakat. Hanya ruang emas di sudut bagian belakang museum yang terlarang bagi pengunjung dan dilingkari pita kuning polisi.

Menurut Martono, koleksi tertua dan paling berharga yang hilang dalam kasus pencurian kali ini adalah topeng emas dari zaman Kerajaan Majapahit. Topeng emas ini bergambar wajah Ratu Gayatri. Cucu Ratu Gayatri, Hayam Wuruk, mempersembahkan topeng emas itu kepada neneknya pada tahun 1400-an.

Topeng emas Sang Yang Puspasarira biasanya berfungsi sebagai bekal kubur dalam agama Hindu di masa Majapahit. Koleksi ini sekaligus simbol perubahan identitas dari manusia biasa ke roh. Topeng emas dipuja sebagai lambang keabadian sehingga dipercaya tetap hidup bersama masyarakat.

Koleksi lain dari masa Kerajaan Majapahit yang turut diangkut maling adalah empat buah lempengan emas silhuette yang berbentuk bayangan tokoh wayang. Kekayaan Museum Sonobudoyo yang dicuri antara lain 19 lempengan emas, 2 lempengan perak, 15 fragmen perhiasan, 8 wadah emas, serta 33 kalung dan bandul aneka motif seperti motif bintang, buah, hingga untir.

Maling juga mencuri hiasan berbentuk bulan sabit, hiasan berbentuk ular, serta fragmen lapisan emas. Benda koleksi agung lain yang menghilang adalah Arca Dewi Tara dan Arca Awalokitecwara. Arca Dewi Tara terbuat dari bahan perunggu berlapis emas yang menggambarkan bagian kepala tokoh agama Buddha, Dewi Tara (Cacti Dhyani Bodhisatwa Awalokiteswara).

Pada awal pendiriannya, Museum Sonobudoyo merupakan museum sejarah dan etnografi dengan koleksi dari Sunda, Jawa, Madura, dan Bali. Dengan keberagaman dan tingginya kualitas koleksi menjadikan Museum Sonobudoyo memiliki nilai lebih dibandingkan dengan museum di provinsi lain.

Untuk menemukan satu benda koleksi purbakala saja, para arkeolog harus melakukan penggalian hingga bertahun-tahun. Mayoritas penggalian bahkan kerap tidak membuahkan hasil. Ibarat kemarau setahun dihapus hujan sehari, kerja keras puluhan tahun itu sirna dalam sekejap mata. Ini perkabungan besar bagi dunia purbakala Indonesia. (WKM)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: