Oleh: hurahura | 30 Mei 2014

Falsafah Lokal dan Gempa Sumatera

Sumatera pernah terkenal sebagai Negeri Emas, sebagaimana tercermin dari sumber-sumber kuno. Namun ternyata Sumatera pun merupakan Negeri Bencana, seperti yang tergambar dari buku Sejarah Sumatra tulisan William Marsden (Remaja Rosdakarya, 1999).

Kondisi geografis dan bentangan alam menyebabkan wilayah Sumatera selalu menderita paling parah. Tentu kita masih ingat gempa berkekuatan 9,2 Skala Richter diikuti gelombang tsunami di Aceh dan wilayah sekitarnya (2004). Kemudian gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter (2009) di Sumatera Barat dan Jambi, sampai letusan Gunung Sinabung (2010) di Sumatera Utara. Kemungkinan besar bencana alam menjadi penyebab utama keruntuhan kerajaan-kerajaan besar yang pernah termashur di Sumatera, seperti Sriwijaya dan Malayu.

Marsden pernah mengunjungi Sumatera pada abad ke-18. Dia melaporkan bahwa letusan gunung dan gempa bumi sering terjadi di Sumatera. Bahkan sebelum datang, dia mendengar gempa keras berkali-kali mengguncang Sumatera.

Marsden sendiri mengalami gempa bumi hebat pada 1770. Gempa tersebut memusnahkan sebuah kampung. Banyak rumah runtuh dan habis dilalap api. Banyak orang juga meninggal.

Di lokasi lain, terlihat tanah retak sepanjang seperempat mil, lebarnya dua depa, dan dalamnya empat atau lima depa. Benda seperti aspal mengalir dari sisi retakan dan tanah. Selain itu, banyak bagian bukit longsor. Tanahnya banyak masuk ke Sungai Manna sehingga airnya menjadi keruh dan tidak dapat digunakan oleh penduduk.

Dia melaporkan pula, gempa-gempa terdahulu meskipun keras, sedikit memakan korban. Ini karena banyak penduduk dapat membaca gejala-gejala alam. Peringatannya ditandai oleh perilaku ternak dan unggas, yakni merasakan getaran abnormal. Misalnya ayam-ayam memperlihatkan reaksi seperti yang mereka lakukan bila melihat elang.

Berbagai jenis gempa dirasakan juga di lautan, yakni oleh kapal-kapal yang membuang jangkar. Walau tempat berlabuh mereka beberapa mil dari pantai, banyak kapal merasakan guncangan tersebut.

Beberapa gempa, menurut Marsden, sering kali diiringi surf, yaitu alunan ombak tinggi dan pecah di pantai. Terkadang surf hanya membentuk satu alun ombak di pantai. Terkadang juga dua, tiga, empat ombak atau lebih berbaris di belakang.

Sehabis gempa, surf mula-mula terbentuk agak jauh dari tempatnya terhempas pecah di pantai. Sambil maju, surf lambat laun makin tinggi mencapai 15 sampai 20 kaki, lalu puncaknya menggantung dan kemudian seluruhnya jatuh seperti air terjun, hampir tegak lurus melebur dirinya. Deru yang diakibatkan oleh ini sangat keras sehingga dapat terdengar bermil-mil di daratan dalam kesunyian malam.

“Tenaga surf sangat kuat. Sebuah perahu pernah terjungkal sehingga puncak tiang layar menancap di pasir dan pangkalnya menembus dasar perahu,” kata Marsden. Mungkin inilah yang diistilahkan gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Dalam laporannya kemudian Marsden mengatakan, rumah-rumah penduduk ada juga yang rusak. Umumnya yang menderita kerusakan parah adalah rumah-rumah yang didirikan di atas bukit.

Sebaliknya, rumah-rumah yang didirikan di atas pasir dataran rendah paling sedikit merasakan efeknya. Menurut Marsden, fondasi dan struktur tanah pasir yang longgar lebih sedikit melawan goncangan dan tanah. Oleh karena itu, bangunan-bangunan di tanah pasir lebih kebal terhadap gempa.

Soal banyaknya rumah yang selamat dari gempa, menurut Marsden, karena rumah tidak dibangun dengan batu bata atau tanah liat. Mereka menggunakan bahan utama kayu. Kerangka rumah bertumpu pada tiang yang tingginya enam sampai delapan kaki yang mempunyai semacam kepala, tetapi tanpa fondasi dan melebar pada bagian atasnya.

Untuk bagian lantai, mereka menggunakan bambu-bambu bulat berdiameter 4 sampai 5 inci. Kedua belah ujung bambu diikat pada kayu kerangka lantai. Bersilangan dengan bambu-bambu itu diletakkan bilah-bilah bambu selebar kira-kira 1 inci. Silangan tersebut dijalin dengan rotan sepanjang lantai. Lantai seperti ini bergerak elastis dan bergoyang.

Bagian dinding menggunakan pelupuh, bambu yang diretak-retakkan pada ruas dan buku-bukunya. Bagian lain menggunakan kulit kayu, sementara untuk bagian atap umum dipakai daun nipah, gelumpai, dan ijuk.

Kearifan tradisional telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa bangunan-bangunan seperti ini bisa berusia berpuluh tahun dan tahan terhadap gempa. Pada gempa besar akhir September 2009 lalu, beberapa rumah gadang tradisional yang terbuat dari kayu, masih berdiri kokoh. Sementara bangunan-bangunan modern seperti Hotel Ambacang, rata dengan tanah.

Masa lalu telah mengajarkan kepada kita cara untuk bertindak atau berbuat sebijak mungkin. Kita pun tidak boleh mengabaikan falsafah lokal. Dalam falsafah Sumatera dikatakan wilayah yang memiliki tanah gembur diperuntukan tanaman padi, lereng-lereng gunung dan perbukitan bagi hutan, dan tanah yang datar bagi permukiman penduduk. Sekarang semuanya terabaikan sehingga banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda, tidak hanya di Sumatera tetapi juga di wilayah-wilayah lain. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: