Oleh: hurahura | 10 Mei 2016

Zonasi Kawasan Candi Kalasan: Landasan Hukum, Konsep, dan Pendekatan

Kalasan-4
Kondisi Candi Kalasan terkini (Dok. STAPAKA)


Pendahuluan: Problematika Pelestarian Cagar Budaya

Yogyakarta dan Jawa Tengah telah mewarisi ratusan candi dari Kerajaan Mataran Kuno yang usianya lebih dari seribu tahun. Candi-candi yang sebagian besar ditemukan dalam keadaan runtuh dan tertimbun tanah itu sudah mendapat perhatian yang serius sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang. Banyak candi besar telah selesai dipugar hingga bisa berdiri megah, seperti Prambanan, Sewu, Kalasan, dan Borobudur. Sebagian lain masih dipugar, seperti Plaosan, Sojiwan, dan Ijo. Selain itu, hampir setiap tahun candi-candi terus bermunculan dari muka tanah.

Selama ini candi-candi di sekitar kita sudah dipelihara dengan baik, tapi sayangnya masih dilupakan. Gara-garanya pemerintah telah mengalihkan candi sebagai pusat kultural menjadi pusat ekonomi, yakni untuk parwisiata. Selain pemerintah, para akademisi dan praktisi pun—termasuk saya—turut bertanggung jawab pada proses transformasi itu. Wisata budaya seolah telah mendapat kursi empuk dalam kesimpulan dan rekomendasi mereka tentang pengelolaan candi. Padahal, sejarah sudah menunjukkan bahwa kita tidak pernah untung dari pariwisata candi. Kalau tidak percaya, mari kita hitung biaya penelitian, pemugaran, dan pemeliharaan candi yang telah dikeluarkan negara (uang rakyat) dibandingkan dengan uang yang didapat dari retribusi dan efek keuntungan pariwisata lainnya. Sungguh, lebih besar pasak daripada tiang. Kegiatan pariwisata bahkan tidak selalu mendatangkan kebaikan bagi candinya sendiri.

Borobudur, misalnya, telah diperlakukan pemerintah sebagai mesin penghasil uang sampai-sampai kaum Budhis cukup kesulitan ketika hendak menjadikan Candi Borobudur untuk kegiatan mereka. Nilai kultural dan kesakralan Borobudur pun akhirnya tenggelam di antara hiruk-pikuk pedagang asongan, tertimbun ratusan pedagang kaki lima, dan samar tertutup hotel mewah yang dibangun pihak pengelola. Karena pengelolaan yang semrawut itu, maka pemerintah, para penggiat pariwisata, dan pencinta warisan budaya perlu kerja keras untuk menominasikan Borobudur sebagai World Heritage kepada UNESCO.

Nasib serupa juga menimpa candi-candi di Dieng. Karena uang retribusi dari Dieng begitu menggiurkan, maka Dieng pun menjadi barang rebutan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Sementara keduanya saling berebut, candi-candi di Dieng pun terbengkalai. Arca-arca sering dicuri, batu-batu candi banyak yang hilang, bahkan situsnya sendiri sudah disulap menjadi taman dan lahan pertanian. Pemerintah seolah lupa bahwa Dieng adalah tempat sakral bagi sebagian besar pemeluk agama Hindu. Pemerintah juga tidak mengindahkan upaya-upaya yang dilakukan para spiritualis Kejawen yang berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai spiritualis candi-candi dan warisan budaya lainnya di Dieng. Pemerintah juga menutup mata atas upaya masyarakat setempat untuk menjadikan Situs Dieng sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Begitulah, proses belajar atau pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari monumen itu tidak berjalan. Candi-candi akhirnya hanya menjadi objek rekreatif belaka.

Jauh sebelum Gus Dur mengajarkan pada kita tentang pluralisme, dahulu, lebih dari seribu tahun lalu, leluhur kita sudah sangat mengenal dan memahami konsep itu. Kita bisa belajar dari Kompleks Candi Kalasan yang bercorak Budhis yang dibangun eleh arsitek yang beragama Hindu. Kita juga bisa belajar pada Kompleks Candi Prambanan yang Hindu dengan Kompleks Candi Sewu yang Budha. Dua kompleks candi besar yang berbeda ideologi ini bisa berdampingan di lokasi yang sama. Bahkan, dua kilometer di timurlaut Prambanan terdapat Candi Plaosan yang berciri Budha sekaligus Hindu. Candi-candi itu ada dan berdiri di sana seolah mengingatkan pada pemilik dan pewarisnya bawa hubungan kemanusiaan begitu penting. Dari pemikiran merekalah kemudian muncul istilah Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda tapi satu jua. Meski mereka berbeda keyakinan (agama) tapi mereka tetap satu dalam jalinan sosial-kenegaraan.

Ketika nama Indonesia muncul seribu tahun kemudian semboyan Bhineka Tunggal Ika dipakai oleh para pendiri bangsa, namun kita belum benar-benar memahami maknanya. Kita benar dalam memaknai perbedaan, namun kita masih keliru dalam memaknai kesatuan. Satu jua diterjemahkan oleh pemerintah kita sebagai sesuatu yang selalu harus sama. Dari Sabang sampai Merauke harus sama seragamnya (seragam sekolah), harus sama makanannya (nasi), harus sama bentuk pemerintahannya (sistem desa), harus sama jumlah gajinya (PNS), harus sama cara pernikahannya (di catatan sipil), dan banyak lagi. Ujung-ujungnya antara konsep persamaan dan perbedaan menjadi sesuatu yang anakronistis, padahal sejatinya Bhineka Tunggal Ika itu menekankan perbedaan dalam kesederajatan seperti yang digagas para leluhur kita dalam ideologi Siwa-Budha.

Tentang semangat pluralisme dari candi itu hanya satu contoh kecil saja. Masih banyak nilai yang bisa kita pelajari dari candi-candi di sekitar kita. Masing-masing bangunan candi meninggalkan pesan tentang religiusitas, sosial, budaya, dan seni yang luar biasa. Pesan dari masa lalu tersebut tertera dalam setiap bagian bangunan candi mulai dari arsitektur, ornamen, relief, hingga seni arcanya.

Geliat pemerintah dalam upaya-upaya melestarikan candi harus direspon dan dikerjakan dengan tepat dan bijaksana, salah satunya upaya mengembangkan Candi Kalasan. Pelestarian di sini harus dipahami sebagai upaya dinamis untuk melindungi, mempertahankan, dan mengembangkan (mereproduksi) nilai yang dikandung oleh Candi Kalasan. Zonasi adalah bentuk upaya perlindungan sejak dini sebelum Candi Kalasan dikembangkan. Zonasi harus mempertimbangkan tata ruang candi masa lalu dan kondisi tata ruang sekarang. Kedua hal tersebut harus didialogkan karena Kawasan Candi Kalasan bukan ruang yang kosong. Sejak dibangun dan ditinggalkan, di sekitar candi ini tumbuh pemukiman yang tidak putus sampai sekarang.


Mengenal Candi Kalasan

Banyak orang selalu menyebut Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak candi bercorak Budha yang terdapat di Yogyakarta. Salah satu yang berkaitan erat dengan Borobudur adalah Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kalasan, ini dibangun oleh konseptor yang sama dengan Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan.

Selesai dibangun pada tahun 778 M, Candi Tara menjadi candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi yang berdiri tak jauh dari Jalan Yogya – Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, candi itu juga merupakan tanggapan usulan para raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dan biara bagi para pendeta.

Candi Tara adalah bangunan berbentuk dasar bujur sangkar dengan setiap sisi berukuran 45 meter dan tinggi 34 meter. Bangunan candi secara vertikal terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Bagian kaki candi adalah sebuah bangunan yang berdiri di alas batu berbentuk bujur sangkar dan sebuah batu lebar. Pada bagian itu terdapat tangga dengan hiasan makara di ujungnya. Sementara, di sekeliling kaki candi terdapat hiasan sulur-suluran yang keluar dari sebuah pot.

Tubuh candi memiliki penampilan yang menjorok keluar di sisi tengahnya. Di bagian permukaan luar tubuh candi terdapat relung yang dihiasi sosok dewa yang memegang bunga teratai dengan posisi berdiri. Bagian tenggaranya memiliki sebuah bilik yang di dalamnya terdapat singgasana bersandaran yang dihiasi motif singa yang berdiri di atas punggung gajah. Bilik tersebut dapat dimasuki dari bilik penampil yang terdapat di sisi timur.


Profil Candi Kalasan

Bagian atap candi berbentuk segi delapan dan terdiri dari dua tingkat. Sebuah arca yang melukiskan manusia Budha terdapat pada tingkat pertama sementara pada tingkat kedua terdapat arca yang melukiskan Yani Budha. Bagian puncak candi berupa bujur sangkar yang melambangkan Kemuncak Semeru dengan hiasan stupa-stupa. Pada bagian perbatasan tubuh candi dengan atap candi terdapat hiasan bunga makhluk khayangan berbadan kerdil disebut Gana.

Bila kita mencermati detail candi, kita akan menjumpai relief-relief cantik pada permukaannya, misalnya relief pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangan yang tengah memainkan bunyi-bunyian. Para penghuni khayangan itu membawa rebab, kerang dan camara. Ada pula gambaran kuncup bunga, dedaunan dan sulur-suluran. Relief di Candi Tara memiliki kekhasan karena dilapisi dengan semen kuno yang disebut Brajalepha, terbuat dari getah pohon tertentu.

Kalasan-1

Relief di Candi Kalasan yang sangat halus dan mengajarkan kita
tentang kehidupan (Dok. KITLV)

Di sekeliling candi terdapat stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 m berjumlah 52 buah. Meski stupa-stupa itu tak lagi utuh karena bagiannya sudah tak mungkin dirangkai utuh, kita masih bisa menikmatinya. Mengunjungi candi yang sejarah berdirinya diketahui berdasarkan Prasasti Candi yang berhuruf Pranagari ini, kita makin mengakui kehebatan Rakai Panangkaran yang bahkan sempat membangun bangunan suci di Thailand.

Candi ini juga menjadi bukti bahwa pada masa lalu telah ada upaya untuk merukunkan pemeluk agama satu dengan yang lain. Terbukti, Panangkaran yang beragama Hindu membangun Candi Tara atas usulan para pendeta Budha dan dipersembahkan bagi Pancapana yang juga beragama Budha. Candi ini pulalah yang menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Budhis asal India yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan Budha ke Tibet.


Sejarah Penemuan dan Pengelolaan

Saat ditemukan dan dipublikasi oleh orang Belanda pada akhir abad ke-19, di sekitar Candi Kalasan telah tumbuh pemukiman yang dipenuhi rumpun bambu. Dari foto-foto dokumentasi Belanda diketahui bahwa di sekitar kompleks Candi Kalasan terdapat batu-batu berserakan yang dahulunya diperkirakan sebagai Vihara, tempat tinggal para biksu. Sampai saat ini, belum ditemukan tulisan tentang riwayat pemugaran. Namun dari foto-foto dokumentasi KITLV, dapat diperkirakan bahwa pemugaran pertama kali dilakukan pada tahun-tahun pertama abad ke-20 Masehi.

Setelah dipugar oleh Belanda, pengelolaan Candi Kalasan ditangani oleh Jawatan Purbakala, kemudian oleh BPCB Jawa Tengah setelah mengalami beberapa kali perubahan nama. Selama seratus tahun setelah pemugaran, Candi Kalasan merupakan bagian dari destinasi wisata Kawasan Prambanan. Karena letaknya ada di jalur cepat lalu lintas Jogja – Solo dan di tengah pemukiman, pengunjung yang datang ke Candi Kalasan sangat sedikit dibanding pengunjung yang datang ke Kompleks Candi Prambanan.

Saat ini kondisi Candi Kalasan sangat memprihatinkan, karena terjadi deformasi karena hujan dan kotoran burung. Bentuknya miring dan hampir roboh. Itulah alasan kenapa candi ini diprioritaskan untuk dipugar. Pada tahun 2015 ini diupayakan untuk meneliti tingkat kerusakan yang ada di Candi Kalasan. Berdasarkan hasil temuan lapangan diperkirakan kerusakan lebih disebabkan karena adanya rembesan air dari saluran drainase bawah tanah. Faktor lain yang menambah parah kerusakan karena bagian atas candi tidak terdapat stupa dan air hujan dapat masuk ke bagian dalam candi. Terdapat 6 titik retakan dibagian atap yang berdiameter 0,5 – 6 centimeter.

Pada bagian bilik candi juga terdapat kerenggangan 0,5 – 6 centimeter. Pada bagian dinding bilik timur pintu masuk candi terdapat endapan oksidasi besi. Pertumbuhan mikoorganisme berupa algae (lumut) juga mempengaruhi kondisi batuan candi yang disebabkan kondisi lembab. Batuan Candi kalasan mengandung lempung, pirit (fes) dan kapur. Pada bagian atap candi yang tidak memiliki stupa diberikan lapisan polikarbonat sebagai penahan rembesan air ketika hujan.

Tim BPCB juga telah meneliti tingkat kerusakan terparah yang dialami Candi Kalasan dalam 5 tahun terakhir. Berdasarkan kajian awal tahun 2015 ini memprioritaskan pada pengkajian bahan-bahan untuk mengatasi kerusakan yang lebih parah. Pada tahun 2016 akan dibuatkan DED dan pemugaran akan dilaksanakan pada tahun 2017. Beberapa rencana BPCB untuk mengatasi tingkat kerusakan Candi Kalasan salah satunya dengan memberikan pelindung bagian atap, membuat rekayasa hidrologi dan mengadakan pembebasan lahan sekitar candi.

Landasan Hukum, Konsep, dan Pendekatan untuk Zonasi Candi Kalasan
Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 (UU 11/2010) tentang Cagar Budaya, harus dijadikan pijakan dalam menentukan Zonasi Candi Kalasan. Dalam peraturan ini secara jelas tertuang amanah bahwa muara dari pelestarian warisan budaya sebesar-besarnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam UU 11/2010 disebutkan bahwa pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan cagar budaya dan nilainya. Karena itu, sudah saatnya kita menerapkan etika pelestarian warisan budaya yang dapat memfasilitasi komunikasi dan partisipasi masyarakat, mengakomodasi kepentingan dan nilai yang berbeda, serta mempunyai prediksi jauh ke depan, sehingga dapat bermanfaat bagi banyak pihak, terutama masyarakat.

Menemukenali nilai-nilai dan makna Candi Kalasan sebagai warisan budaya, lalu mereproduksinya untuk bekal masyarakat menjalani kehidupan di masa depan, adalah landasan konsep melakukan zonasi. Upaya pelestarian warisan budaya bukan untuk romantisme masa lalu melainkan untuk bekal menapaki masa depan secara jujur dan percaya diri. Upaya pelestarian warisan budaya bukanlah upaya melestarikan fisik bangunan/struktur semata melainkan lebih pada upaya reproduksi nilai dan makna yang dikandung warisan budaya tersebut. Di sinilah titik strategis untuk melibatkan masyarakat. Selama ini partisipasi masyarakat masih diartikan secara sempit dengan diundang datang pada acara seminar dan sosialisasi, lalu tanda tangan dan mendapat uang transport. Ini salah satu bentuk partisipasi semu. Oleh karena itu, salah satu metode dalam menjaring informasi dalam kajian zonasi ini adalah melalui focus group discussion (FGD).

Dalam menentukan zonasi Candi Kalasan, kami menggunakan pendekatan bertemu di tengah. Pendekatan bertemu di tengah ini sejalan dengan UU 11/2010 yang telah menggeser paradigma pelestarian cagar budaya yang semula bersifat kaku (statis) kini menjadi pelestarian yang dinamis yang ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Penguasaan cagar budaya yang semula mutlak oleh negara, kini masyarakat diberi ruang untuk berpartisipasi. Sejak jaman pemerintahan Belanda hingga tahun 2010, masyarakat belum sepenuhnya diberi kesempatan mengelola warisan budaya sehingga mereka akhirnya cenderung tak peduli dan menyerahkan urusan pengelolaan warian budaya ini pada pemerintah. Di beberapa tempat bahkan menjadi sangat apriori pada upaya pemerintah, seperti masyarakat Bali yang pernah menolak Pura Besakih dijadikan sebagai World Heritage. Di sisi lain, pemerintah sudah sangat berpengalaman menangani pelestarian warisan budaya. Kini adalah saatnya bagi pemerintah membagi pengalaman ini dengan masyarakat melalui pendekatan yang partisipatoris.

Pendekatan partisipatoris lahir sebagai kritik terhadap peran peneliti dan aktor pembangunan yang terbelenggu oleh tradisi berpikir positivistik yang mendewakan objektivitas. Ia dengan sangat sadar memisahkan diri dengan masyarakat (biasa disebut objek) sehingga rumusan masalah, analisis, dan intervensinya menjadi sepihak, terbatas, dan eksklusif. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa masyarakat dibiarkan buta tidak mengetahui urgensi penelitian/assessment/kajian atau apapun namanya padahal itu tentang mereka. Jadi mustahil kita berharap masyarakat bisa mengambil manfaat jika mereka sendiri tidak tahu urgensinya. Banyak kajian-kajian atau studi kelayakan dalam pengelolaan warisan budaya yang tidak memihak pada masyarakat, melainkan sebaliknya, ia menyuburkan berbagai bentuk imperialisme ekonomi dan kultural dengan membentuk dan melegitimasi kebijakan-kebijakan yang memperkokoh relasi kekuasaan yang tidak adil—contohnya penggusuran perkampungan di Prambanan dan Borobudur.

Pendekatan partisipatoris dalam pelestarian warisan budaya berusaha melibatkan masyarakat dalam setiap tahapannya mulai dari kajian – perencanaan – tindakan – refleksi. Tahap-tahap itu merupakan sebuah daur yang saling terkait satu sama lain, sinergis, dan sistematis. Pendekatan partisipatoris lebih banyak dipengaruhi oleh perspektif teoritis ”fenomenologi kritis” yang memandang masyarakat sebagai entitas yang kedudukannya sangat khas, subjektif, dan kontekstual secara ruang dan waktu. Pendekatan partisipatoris selalu menekankan peran penting dialog menyeluruh antar stakeholders. Hubungan yang dibangun antar pihak bukanlah dalam peran determenistik subjek – objek, melainkan subjek – subjek. Akhirnya, pendekatan partisipatoris meletakkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam pelestarian warisan budaya, dalam hal ini Candi Kalasan.

Dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan (dialog), praktik, dan kontrol, diharapkan masyarakat menjadi lebih dekat dengan warisan budayanya sehingga lebih mudah dalam memaknai dan mereproduski nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam memahami gagasan dan praktik pelibatan peran masyarakat dalam pelestarian warisan budaya, Kalasan sangat relevan untuk dijadikan sebagai studi kasus oleh pemerintah karena candinya sudah dikelilingi pemukiman yang padat.


Deliniasi (Batas) Zonasi

Batas zonasi Candi Kalasan dibagi menjadi 3, yaitu zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan.

Zona Inti

Zona inti adalah zona perlindungan untuk candi yang harus steril dari bangunan baru. Batas zona inti merujuk pada kondisi candi pada masa lalu yang dikelilingi pagar. Saat ini pagar candi tidak ada atau tidak lengkap. Namun berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan belanda, kami menemukan denah Candi Kalasan denganpagar utama 40 x 40 meter. Kami merekomendasikan batas ini menjadi batas zona inti.

BPCB telah membebaskan beberapa lahan di zona inti. Zona ini seyogyanya memang dibersihkan agar Candi Kalasan bisa ditampakkan secara utuh dan bisa diapresiasi oleh pengunjung dan generasi mendatang. Batas zona inti setidaknya adalah halaman utama sampai pagar candi. Batas ini perlu dipastikan dengan melakukan ekskavasi.

Sejatinya, batas zona inti adalah sampai pagar terluar yang dilengkapi parit keliling. Namun, ruang ini sampai sekarang belum ditemukan—bisa berarti tidak ada atau masih tertimbun tanah. Yang ada sekarang adalah pemukiman yang padat dan jalan utama Yogya – Solo. Pemukiman dan fasilitas umum tersebut, 50 tahun ke depan adalah bagian dari sejarah dan mungkin menjadi cagar budaya jika memiliki nilai penting.


Zona Penyangga

Zona penyangga adalah zona di luar zona inti (pagar utama), ditarik hingga sisi baratlaut berbatasan dengan Jalan Raya Yogya – Solo; sisi tenggara berbatasan dengan jalan kampung; Sisi baratdaya dan timur laut berhimpit dengan pemukiman dengan batas sebagaimana tampak pada bagian yang diarsir.


Zona Pengembangan

Candi Kalasan sebenarnya bisa menjadi gudang spirit dari masa lalu untuk menjalani kehidupan di masa depan. Candi menjadi saksi hubungan kita dengan India nun jauh di sana. Candi-candi yang dibangun selama ratusan tahun menggambarkan totalitas para pembuatnya pada tanggung jawab. Bandingkan dengan karya-karya kontraktor kita yang membangun secepat mungkin dengan bahan seminim mungkin tapi terus roboh atau rusak hanya dalam hitungan bulan bahkan hari. Relief-relief tentang membajak sawah, kapal, pedati, pakaian, bentuk istana, bentuk rumah, menggambarkan pada kita tentang kebesaran pada masa lalu. Masih banyak nilai, makna, dan spirit dari candi-candi yang bisa kita pelajari dan menjadi sumber inspirasi yang tak akan pernah habis. Maka, sudah saatnya menjadikan candi tak sekedar untuk suguhan pariwisata.

Karena semua candi di Indonesia sudah dikemas menjadi barang jualan untuk wisatawan, maka fungsi candi sebagai warisan budaya pun tenggelam dalam bungkus itu. Wajar bila baru sedikit orang yang tahu bahwa candi merupakan bangunan suci yang dibuat untuk tujuan religius dan kemanusiaan. Aspek religius terletak pada fungsinya sebagai rumah dewa. Sebagai tempat pemujaan, candi menjadi poros yang menghubungkan manusia dengan sang pencipta dan pemelihara alam semesta. Di sisi yang lain, candi juga menjadi tetengger yang mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan antarsesama manusia. Keletakan, bentuk, arca, dan ornamen candi, termasuk relief-reliefnya, sarat akan makna yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan.

Zonasi Candi Kalasan harus bisa mengakomodasi tujuan pariwisata dan pendidikan nilai dan karakter secara bersamaan dan intact. Artinya, sebagai sebuah warisan budaya dan warisan pemikiran, tentu saja kita jangan sampai terlena pada kegiatan pariwisata semata. Demikian pula, dengan alasan demi pendidikan kemudian mengabaikan urusan pariwisata. Bagaimanapun pariwisata penting untuk menopang kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Aspek pendidikan dan kebudayaan pun perlu dikedepankan dalam pengelolaan pariwisata Candi Kalasan yang telah diwarisakan oleh leluhur kita.
Bangsa yang lupa sejarah tidak beda dengan manusia yang lupa ingatan. Ia tak hanya lupa akan jatidirinya, melainkan pula tidak memiliki orientasi masa depan.

Pemangku candi, dalam hal ini BPCB DIY, sejak awal sudah koopratif dengan masyarakat barangkali bisa menjadi pelopor untuk mengelola candi secara sinergis sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata—tentu dengan tolok ukur bukan uang semata lagi.

Untuk Zona Pengembangan ini, deleniasi bisa ditarik hingga Candi Sari dan Selokan Mataram. Zona Pengembangan yang saat ini menjadi lahan pemukiman yang padat, dari aspek pelestarian candi justru menjadi tekanan. Oleh karena itu perlu dikendalikan dengan mengangkat lahan pertanian di sekitar Candi Kalasan sebagai Zona Lindung. Zona ini akan tetap berkelanjutan jika Selokan Mataram tetap berfungsi untuk pengariran dan dikelola dengan baik.

Candi Sari yang termasuk dalam Zona Pengembangan Candi Kalasan menarik disentuh dalam kajian ini. Candi yang bercorak Budha ini secara administratif masuk Dusun Bendan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berjarak 2 km dari Candi Prambanan, 700 m dari Candi Kalasan, 3 km dari Candi Sambisari dan 1,5 km dari Candi Ratu Boko. Candi ini memiliki koordinat S7⁰ 45’ 41.4” E110⁰ 28’ 27.2”. Sesuai dengan nama desanya candi ini juga disebut dengan nama Candi Bendan.

Candi ini diperkirakan dibangun pada abad 8 Masehi dan hampir bersamaan dengan masa pembangunan Candi Kalasan. Hal tersebut didasarkan pada beberapa persamaan baik dari segi arsitektur maupun relief di kedua candi. Keterkaitan Candi Sari dan Candi Kalasan ini dijelaskan dalam Prasasti Kalasan (700 ç atau 778 Masehi) yang berisikan para penasihat keagamaan Dinasti Syailendra menyarankan Rakai Panangkaran mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Budha.

Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan sedangkan untuk biara pendeta dibangunlah Candi Sari. Fungsi sebagai asrama atau tempat tinggal terlihat dari bentuk keseluruhan dan bagian-bagian bangunan dan dari bagian dalamnya. Bahwa candi ini merupakan bangunan agama Buddha terlihat dari stupa yang terdapat di puncaknya.

Candi Sari ditemukan pada awal abad ke-20 dalam keadaan rusak berat. Pemugaran pertama dilakukan antara tahun 1929 hingga 1930. Mengenai pemugaran tersebut, Kempers berpendapat bahwa hasilnya belum bisa mengembalikan keutuhan bangunan aslinya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya bagian candi yang hilang. Selain itu bagian candi yang bukan terbuat dari batu juga rusak termakan usia.

Menurut Kempers, Candi Sari aslinya merupakan bangunan dengan dua tingkat atau bahkan tiga. Lantai atas digunakan untuk menyimpan barang – barang guna kepentingan keagamaan, sedangkan lantai bawah untuk kegiatan keagamaan seperti kegiatan belajar mengajar dan diskusi. Tembok Candi Sari dilapisi oleh Vajralepa yaitu bahan pelapis dinding semacam plaster putih kekuningan untuk memperhalus dan memperindah sekaligus untuk melindungi dinding dari kerusakan. Bahan ini dibuat dari campuran pasir vulkanik dan kapur halus. Konon campuran bahan lain juga digunakan seperti getah tumbuhan, putih telur, dan lain-lain. Selain Candi Sari, Varjalepa juga ditemukan di Candi Kalasan.

Candi Sari mempunya denah persegi panjang dengan ukuran 17,30 m x 10 m dan ting¬gi 17 m. Seperti pada umumnya bangunan candi, secara vertikal Candi Sari dapat dibagi menja¬di tiga bagian, yaitu bagian kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki hanya tampak sebagian, karena banyak batu yang telah hilang sedangkan bagian tubuh candi mempunyai konstruksi bertingkat dan denahnya persegi panjang. Candi Sari menghadap ke arah timur, dan mempunyai tangga masuk ke dalam candi di sisi timur. Pintu masuk dihiasi dengan kala dan pada bagian bawah terdapat pahatkan relief orang sedang menunggang gajah.

Di dalam candi terdapat tiga ruangan berjajar yang masing-masing berukuran 3,48 m x 5,80 m. Kamar tengah dan kedua kamar lainnya dihubungkan oleh pintu dan jendela. Bilik-bilik ini aslinya dibangun sebagai bilik bertingkat. Tinggi dindingnya dibagi dua dengan lantai kayu yang disangga oleh empat belas balok kayu yang melintang, sehingga dalam candi ini seluruhnya terdapat 6 ruangan. Dinding bagian dalam kamar polos tanpa hiasan. Pada dinding belakang masing-masing kamar terdapat semacam rak yang letaknya agak tinggi yang kemungkinan dipergunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan arca. Di lantai bawah terdapat relung yang diduga bekas tempat meletakkan arca. Tak satupun dari arca-arca tersebut yang masih tersisa saat ini.

Candi Sari memiliki 36 buah arca yang dipahatkan pada dinding Candi Sari; 8 arca di dinding timur, 8 arca pada dinding selatan, 8 arca di dinding utara, dan 12 arca di dinding barat. Selain arca, pahatan dengan berbagai bentuk juga memenuhi dinding Candi Sari. Relief kinara-kinari, suluran, kumuda, dan kalamakara.

Atap candi berbentuk persegi dengan hiasan 3 buah relung di masing-masing sisi. Bingkai relung juga dihiasi dengan pahatan sulur-suluran dan di atas ambang relung juga dihiasi dengan Kalamakara. Puncak candi berupa deretan stupa, yang terdiri atas sebuah stupa di setiap sudut dan sebuah di pertengahan sisi atap.

Pengembangan kawasan Candi Kalsan mesti mempertimbangakan interkonektivitas Candi Kalasan – Candi Sari – Selokan Mataram kini, sebab, Seokan Mataram bisa menghidupkan kawasan pertanian yang menjadi Zona Lindung Kawasan Candi Kalasan. Terlebih, Selokan Mataram juga merupakan salah satu peninggalan yang bersejarah bagi Penduduk Yogyakarta. Selokan ini dikenal sebagai monumen sejarah terpanjang di Indonesia karena panjangnya mencapai 31,2 km. Selokan ini adalah bukti kerja keras penduduk Yogyakarta di masa lalu. Ia menjadi simbol kemandirian dan kemakmuran penduduk Yogyakarta yang berhasil tumbuh dan berkembang di bidang pertanian.

Selokan ini merupakan saluran aliran irigasi yang menghubungkan antara Sungai Progo di sebelah barat Yogyakarta dengan ke Sungai Opak di bagian timur Yogyakarta. Aliran ini melintas di atas 24 sungai dan mengalir di bawah sungai Bathang, Sungai Krasak dan Sungai Code. Saluran irigas ini pun mengalir di bawah pemukiman penduduk seperti Pedukuhan Jetis, Dusun Ngluwar dan Krajan Desa Bligo.

Pembangunan selokan ini diprakasai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pada saat itu, beliau mengusulkan pembangunan selokan ini untuk mengairi daerah yang kurang produktif dalam sektor pertanian. Dengan adanya saluran ini, lahan-lahan tersebut dapat menghasilkan padi dan memasok pangan kebutuhan Tentara Jepang. Di tahun 1942 selokan ini mulai dibangun bersama-sama oleh penduduk Yogyakarta. Pada tahun yang sama, saat itu pemerintah Jepang menetapkan kebijakan kerja paksa romusha yang memaksa penduduk Indonesia dari berbagai wilayah untuk ikut dalam kerja paksa tersebut. Pekerja-pekerja tersebut dipekerjaka di berbagai proyek pembangunan seperti pembangunan jalan, sector pertanian dan perkebunan. Hal ini dilakukan agar jepang dapat memenangkan perang. Namun pada saat itu, penduduk Yogyakarta hanya terfokus dalam pembangunan selokan tersebut.

Sampai saat ini, selokan ini masih bisa ditemukan dan berfungsi dengan baik. Keberadaan selokan mataram ini mempengaruhi kondisi lingkungan terutama air dan tanahnya. Kondisi Selokan Mataram kini masih sesuai dengan fungsi pembangunannya yaitu sebagai saluran irigasi. Selokan Mataram ini dibagi menjadi tiga bagian sesuai karakteristiknya, yaitu
a. Sisi barat – Bagian selokan yang berhulu di Sungai Opak. Daerah ini biasanya dikenal dengan daerah Ancol. Aliran ini mengalir ke sisi timur menuju wilayah sisi utara Kota Yogyakarta. Di sekitar aliran selokan ini masih dominan areal persawahan. Masyrakat yang tinggal dekat dengan selokan ini pun menggunakan air selokan ini pun untuk kebutuhan sehari-hari seperti dari mencuci pakaian dan kendaraan. Sampai sekarang, kondisi Selokan mataram di sisi barat ini masih menarik sebagai tempat bereaksi maupun berolah raga seperti bersepeda, jogging ataupun jalan-jalan.
b. Sisi tengah-Bagian selokan yang membentang di sisi utara Kota Yogyakarta. Perubahan yang signifikan terjadi dari tahun ke tahun terhadap penggunaan lahan di sekitar selokan ini. Perubahan tata lahan dari perumahan menjadi area komersial menurunkan kualitas lingkungan selokan ini. Pola hidup masyarakat di daerah ini telah berpengaruh perubahan yang terjadi sekarang.
c. Sisi timur- Bagian di luar Kota Yogyakarta hingga hilir di Tempuran Kali Opak, Randuguntingg Tamanmartani Kalasan. Pada sisi daerah ini karakteristik lahannya adalah persawahan dan permukiman. Padatnya area permukiman tersebut tidak sepadat dengan selokan pada sisi tengah sehingga lingkungan sekitar selokan ini masih terjaga dengan baik.

Keberadaan selokan ini saling berpengaruh dengan masyarakat sekitar selokan. Pola hidup yang bersih sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar Selokan. Sebenarnya dengan adanya selokan ini sangat mendukung dalam proses penghijauan kawasan Yogyakarta terutama pada bagian sisi barat dan timur. Pada bagian sisi barat dan timur selokan mataram sampai sekarang masih baik dan lingkungannya yang masih terjaga dalam mendukung kegiatan penghijauan yang baik. Kondisi ini pun cocok untuk mendukung pembangunan perencanaan kawasan kalasan yang ingin menciptakan suasana yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.


Penutup

Arah zonasi bukan untuk romantisme masa lalu, karena kami percaya bahwa kebudayaan itu tidak statis. Candi harus ditempatkan sebagai entitas yang memiliki nilai-nilai tertentu dan mencerminkan gagasan dari masyarakat pendukungnya di masa lalu yang dapat diambil hikmahnya untuk pegangan generasi-generasi penerus. Jadi, candi bukanlah entitas yang mati yang hanya berfungsi kanggo sawangan thok seperti yang terjadi selama ini. Candi sangat berpotensi menjadi sumber ilham dan daya cipta yang mempunyai kekuatan untuk membantu dan melindungi bangsa ini dalam menapaki masa depan, misalnya kita bisa berguru pada para pembuat Candi Kalasan melalui pembacaan pada hasil karyanya yang menggambarkan pluralisme.

Dalam proses pewarisan candi dari generasi ke generasi, pemaknaan nilai-nilai tentu saja akan mengalami perubahan karena kita perlu menyesuaikan dengan konteks sosial kini dan masa depan. Di Kompleks Candi Kalasan, nilai-nilai kebudayaan dan kehidupan dapat ditafsirkan dan direproduksi, lalu semangatnya disebarkan kepada khalayak. Akhirnya Candi Kalasan tidak hanya dipelihara dan dikembangkan untuktujuan pariwisata semata, tapi juga yang lebih penting, tidak dilupakan nilai-nilai dan spiritnya. Untuk tujuan itu, masyarakat sekitar perlu dilibatkan sejak dari perencanaan.


Referensi

Aksa, Laode Muhammad. 2004. “Integritas Sumberdaya Budaya Arkeologi dan Pembangunan”. http://www.arkeologi.com.

Byrne, Denis, Helen Brayshaw dan Tracy Ireland. t.t. Social Significance a Discussion Paper. NSW National Park and Wildlife Service. Research Unit Cultural Heritage Division. Hurstville.

Carman, John. 2001. Archaeology and Heritage: An Introduction. Continuum. London-New York.

Cleere, Henry F. 1990. Archaeological Heritage Management in The Modern World. Unwim-Hyman. London.

Cotter, Maria; Bill Boyd dan Jane Gardiner. 2001. Heritage Landscapes: Understanding Place and Communities. Southern Cross University Press. Lismore, Australia.

Darvil, Timothy. 1995. “Value System in Archaeology”. Dalam Malcolm A. Cooper dkk. Managing Archaeology. Routledge. London and New York.Hlm. 40 – 50.

Fagan. Brian, M. 2003. Recent Trends In Archaeology. http://www.arkeologi.com.

Hodder, Ian. 1989. Reading the Past: Current Approaches ti Interpretation in Archaeology. Cambridge University Press.

Howard, Peter. t.t. Heritage: Management, Interpretation, Identity. Continuum. London-New York.

http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_sari

http://www.kompasiana.com/ariflukman/menelusuri-asrama-para-biksu-di-candi-sari_54f4574f745513a02b6c896c

Mayer-Oakes. 1990. “Science, Service and Atewardship – a Basis for the Ideal Arcaheology of the Future”. Dalam H. F. Cleere (Ed.). Archaeological Heritage Management in the Modern World. Unwim-Hyman. London.

Mikkelsen, Britha. 1999. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan. Terjemahan oleh Matheos Nalle. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Siagian, Renville, dkk. Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia. Yayasan Cempaka Kencana. Yogyakarta.

Sonjaya, Jajang Agus. 2010. Candi untuk Masa Depan. Kedaulatan Rakyat, 12 Januari 2010. Yogyakarta.

Sulistyanto, Bambang, dkk. 2012. Laporan Penelitian Dampak Lahar Dingin Gunung Merapi Terhadap Kelestarian Candi – Candi di Prov. D.I. Yogyakarta dan Sekitarnya. Pusat Arkeologi Nasional – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

 

Foto/ilustrasi:

Kalasan-7

Kalasan-5

Zona Inti: Candi Kalasan dan Pagar luar

**********

Penulis: Jajang Agus Sonjaya, Theodorus AB, Yuliadi Tunjung P, Camell Sukma Dara


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: