Oleh: hurahura | 25 Januari 2012

Jejak Pemujaan: Dua Arca Penjaga Puncak Kahyangan

Repro dari Buku Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2009)

Norman Edwin (almarhum) ketika menemukan sepasang arca kuno atau Arcopodo pada tahun 1984 dalam perjalanan pelacakan yang dipandu oleh Pak Tumari.

KOMPAS, Sabtu, 21 Jan 2012 – Penemuan kembali Arcopodo telah mengonfirmasi banyak hal. Selain bahwa foto nampang pendaki kawakan, Norman Edwin, bersama arca ini benar adanya, Arcopodo juga menjadi penanda jejak pendakian suci di masa lalu menuju Puncak Mahameru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Berada di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut, hampir bisa dipastikan Arcopodo merupakan arca tertinggi di tanah Jawa, bahkan mungkin di Nusantara. Namun, dua arca batu, yang salah satunya terpenggal kepalanya ini, masih diliputi misteri, termasuk kenapa dua arca ini dibuat dan siapa sosok arca ini.

Salah satu kendala untuk meneliti Arcopodo ini adalah sulitnya menjangkaunya. Bahkan, di beberapa literatur dan catatan perjalanan pendakian ke Semeru, Arcopodo statusnya dianggap hilang.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, awalnya juga terkejut saat mengetahui bahwa arca kuno itu ternyata masih ada. ”Oh, arca itu benar masih ada, ya?” kata arkeolog yang kerap mendaki Semeru ini.

Sejak publikasi berupa tulisan dan foto yang menggambarkan keberadaan dua arca ini oleh pendaki Mapala Universitas Indonesia, Norman Edwin, pada 1986 di Suara Alam, arca ini tak pernah lagi disebut- sebut. Norman pertama kali datang ke Arcapodo bersama rekannya, Herman O Lantang.

Keduanya diantar oleh Tumari, cucu juru kunci Semeru pada waktu itu. Tumari yang memberi tahu Norman dan Herman bahwa kedua arca batu itu benar ada di Semeru. ”Reco itu sesungguhnya masih ada. Tempatnya memang di sekitar Recopodo, tetapi tidak terlihat orang,” ujar Tumari, sebagaimana ditulis Herman dalam buku Soe Hok-Gie, Sekali Lagi, 2009.

Namun, sejak publikasi Norman itu, menurut Dwi, belum ada arkeolog yang datang dan mengidentifikasinya.

Bagi Dwi, keberadaan arca kuno di ketinggian itu sebenarnya cukup aneh karena di gunung tinggi, semuanya dianggap suci karena itu sudah tidak dibutuhkan bangunan suci. Meskipun demikian, jika dilihat dari bentuknya, keanehan menjadi terjawab karena terkait dengan fungsi dari tempat arca tersebut.

Dengan memperhatikan detail foto arca yang kami ambil, Dwi menyimpulkan, salah satu arca itu adalah sosok Bima. Dia kemudian membandingkan dengan foto arca Bima di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. ”Badan dan tangannya mirip Bima. Jika memang benar Bima, itu sangat masuk akal karena Bima adalah perwujudan tokoh untuk tolak bala,” kata Dwi. Dengan demikian, tempat tersebut merupakan pemujaan yang difungsikan untuk ritual menghalau bencana dari puncak Gunung Semeru yang aktif.

Dwi mengatakan, Arcopodo dengan danau di bawahnya, yaitu Ranukumbolo terkait, dan keduanya adalah tempat pemberhentian pendakian spiritual ke Semeru atau disebut satre. Jejak di Ranukumbolo bisa dilacak tahun pembuatannya karena adanya prasasti, sedangkan di Arcopodo tak terlacak sama sekali kapan pembuatannya.

Menurut Dwi, sesuai namanya Arcopodo sebenarnya berasal dari kata arca dan pada, yang dalam bahasa Jawa yang terpengaruh Sansekerta, pada artinya tempat. ”Jadi, arca pada adalah tempat arca,” katanya.

Arcopodo, sudah mendekati daerah berpasir hasil muntahan dari kawah Semeru. “Itu adalah satre tertinggi karena di atasnya sudah berupa pasir dan menuju puncak. Jadi perjalanan ke puncak gunung merupakan ritual yang sangat utama,” jelas Dwi.

Menurut Dwi, di kedua satre di Gunung Semeru itulah mereka melakukan ritual. Ranukumbolo tak hanya tempat upacara, tetapi juga tempat pengambilan air. Karena itu, di prasasti Ranukumbolo disebutkan tentang tirta yatra, yaitu perjalanan ke air atau tirta (ranu).

”Prasasti Ranukumbolo kemungkinan dibuat pada masa Kerajaan Kadiri atau pada akhir abad ke-12, sedangkan Arcopodo lebih muda lagi, di era Majapahit,” kata Dwi. Di sekitar Ranukumbolo juga ditemukan reruntuhan candi. ”Menandakan pendakian spiritual ke Semeru itu sudah ada sejak dulu, diduga jalur lamanya melewati Ngadas,” katanya.

Perjalanan spiritual ini, menurut Dwi, mirip dengan akhir kisah Mahabarata ketika Pandawa yang menuju ke suwarga loka di puncak gunung. Gunung Semeru, seperti disebut naskah kuno Tantu Panggelaran, yang dibuat sekitar abad ke-15, awalnya merupakan gunung suci yang berasal dari Gunung Meru di India dan dipindahkan ke Pulau Jawa.


Pemujaan gunung

Guru besar arkeologi dari Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, mengatakan, keberadaan Arcopodo semakin menguatkan bukti-bukti pemujaan nenek moyang terhadap gunung. Manusia zaman dulu mempunyai kepercayaan roh-roh akan bersemayam di tempat tinggi.

Di Jawa, bukti arkeologi tertua pemujaan terhadap gunung terdapat pada Prasasti Canggal (732 M), yang mengisahkan tentang usaha Raja Sanjaya mendirikan lingga di Bukit Sthirangga dengan tujuan agar rakyatnya selamat. Sthirangga artinya yang abadi dan kuat, diduga sebagai simbol Gunung Mahameru.

Adapun bukti tertua berupa bangunan candi yang berorientasi pada tempat tinggi, ditemukan di kompleks candi di Dieng yang berasal dari abad ke-8. Di Jawa Timur, bukti arkeologi terkait pemujaan gunung ditemukan bersamaan pindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno dari wilayah tengah Pulau Jawa ke daerah lebih timur lagi oleh Mpu Sindok pada awal abad ke-10.

Berdasarkan bukti candi yang memiliki angka tahun di Jawa Timur, bisa dikatakan bukti pemujaan gunung pada periode awal Jawa Timur adalah petirtaan Jalatunda di lereng barat Gunung Penanggungan. Angka tahun yang didapat adalah 899 saka atau 977 Masehi.

Bukti tua itu mengindikasikan jauh sebelum abad ke-10, gunung-gunung sudah dijadikan tempat ritual. Hampir semua tempat tinggi di Jawa Timur selalu ada bukti-bukti arkeologis adanya tempat pemujaan, tetapi angka tahunnya setelah abad ke-10.

Mengapa hingga ke ketinggian bangunan arca atau apa pun yang bersifat sakral itu ada? ”Itu jelas, makin tinggi makin sakral, paling penting adalah puncaknya, yang merupakan dunia para dewa atau swarloka. Jadi kadang-kadang kita masih menjumpai ada bangunan-bangunan suci atau obyek suci atau arca di puncak gunung,” kata Agus.

Walau sebenarnya bangunan itu sudah tak diperlukan karena puncak gunung itu dianggap puncaknya para dewa, tidak perlu sesosok arca atau apa pun karena seluruh area sudah suci. ”Sangat mungkin, kebudayaan materi seperti itu masih diperlukan bagi para pemula yang baru belajar mendalami agama Hindu atau Buddha karena itu mereka masih membutuhkan wujud visual,” kata Agus.

Jika Arcopodo tersebut merupakan perwujudan Bima, itu adalah aspek Siwa yang ditonjolkan, bukan Bima seperti dalam cerita pewayangan. ”Bima adalah penjelmaan Siwa. Karena dalam kitab Jawa kuno Brahmanda Kurana, disebutkan ada 8 penjelmaan Siwa, salah satu penjelmaan itu adalah Bima. Di gunung yang aktif, Siwa menguasai karena dia simbol kekuasaan destruktif,” kata Agus.

Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, mengatakan, ritual-ritual di tempat ketinggian gunung api itu adalah simbol warga dulu untuk akrab dengan alam. Ketika teknologi belum berkembang, manusia lebih peduli dengan alam, lebih pandai membaca tanda-tanda alam, dan sadar dengan gejala-gejala bahaya.

Mereka tahu juga soal mitigasi bencana, tetapi dengan caranya mereka sendiri. ”Buktinya apa? Yaitu ritual yang mereka gelar di banyak tempat. Semakin semaraknya ritual-ritual itu, orang semakin sadar soal bencana gunung api,” kata Margana.

Jika para ahli masih terkejut dengan penemuan Arcopodo dan masih belum bisa memberi kepastian soal arca kuno, masyarakat di sekitar Gunung Semeru sebenarnya tak kaget lagi.

Bambang Sutejo (60), dukun Tengger di Ranupane, desa terakhir di lereng Semeru, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, mengatakan, hingga kini perjalanan spiritual ke Semeru masih dilakukan. ”Jika tak dilakukan, selalu ada kejadian tak diinginkan, misalnya pendaki hilang,” katanya. Masyarakat Tengger juga masih percaya, petilasan di Ranukumbolo dan Arcopodo itu digunakan sebagai tempat untuk berdoa.

”Orang-orang masih memberi sesaji pada dua petilasan itu. Kalau sekarang biasanya dikaitkan dengan permintaan kesuburan tanamannya,” katanya.

Bambang juga pernah melakukan perjalanan hingga Arcopodo. ”Arca itu masih ada, tapi satu arca kepalanya hilang pada zaman Belanda. Dulu tempat itu untuk semadi dan berdoa. Saya pernah ke sana bersama orang- tua saya. Sayalah yang memberi payung seng di tempat situ,” katanya.

Jejak pendakian spiritual itu memang masih terlihat jelas di Arcopodo. Di sekitar arca yang tersembunyi di tengah hutan tersebut, jejak sesajen seperti bunga aneka rupa, menyan, dan dupa tampak masih berserak. (Amir Sodikin, Idha Saraswati, Indira Permanasari, dan Ahmad Arif)

Iklan

Responses

  1. masihkah terlintas tanya anak cucuq kan mencumbui pasirnya???
    mahameru memberikan apa yg q cari,membuatq membuka mata akan arti kehidupan…

  2. mahameru gunung terindah di pulau jawa…akan kah anak cucu kita bisa menikmati keindahan alam mu….mahameru oh mahameru.kangen dingin na ranu kumbolo,dan tanjakan cinta yg menantang serta hutan pinus mu yang teduh yaitu oro-oro ombo.serta savana yg luas yaitu kali mati.diselimuti kabut arcopodo,dan cemoro mu yg tumbuh di tengah2 pasir dan bebatuan.

  3. menurut pengkajian filosofi saya setelah beberapa kali melakukan ritual ke mahameru,arcapada adalah gerbang penghubung dari alam dunia ke alam kematian khayangan. .
    oleh sebab itu arcapada salah satunya d buat tanpa kepala bukan dipotong dgn sengaja,hal itu melambangkan untuk menuju kehadirat sang pencipta haruslah meninggakan nafsu dan hanya berbekal hati yg suci ,letak nafsu itu berada dalam kepala yaitu akal fikiran. . seperti kisah bima dlm pewayangan. . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori