Oleh: hurahura | 12 Februari 2012

Bangunan Pondok Gede Lenyap

Warta Kota, Kamis, 9 Februari 2012 – Dulu tidak jauh dari perbatasan Jakarta Timur – Jawa Barat, pernah ada sebuah bangunan kuno besar yang disebut Pondok Gede. Nama itulah yang menjadi asal nama Jalan Pondok Gede Raya sekarang. Sampai 1992 bangunan itu masih ada. Namun tiba-tiba dibongkar untuk digantikan sebuah gedung pertokoan modern. Padahal, bangunan itu dilindungi oleh Undang-undang Kepurbakalaan. Memang, sejak lama Jakarta ibarat telah menjadi ’kota gila’, sebagaimana diistilahkan para arsitek. Begitu sering terjadi penghancuran bangunan berarsitektur khusus di sini.

Pondok Gede dibangun oleh Pendeta Johannes Hooyman sekitar 1775. Gedung ini sangat panjang dengan atap sangat besar. Lantai satu dibangun dalam gaya Indonesia terbuka dengan serambi pada ketiga sisinya (joglo). Sementara bagian depan yang bertingkat dua dibangun dengan gaya tertutup Belanda. Rumah kombinasi dua gaya ini, dulu sangat lazim pada rumah-rumah tuan tanah.

Menurut Adolf Heuken dalam bukunya Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, interior rumah ini pernah menunjukkan citarasa tinggi. Plesteran terdapat pada beberapa ruangan dan serambi, ditambah aneka hiasan pada pintu dan kusen jendela. Di tanah ini terdapat makam Leendert Miero, yang pada 1800 membeli tanah Pondok Gede. Miero adalah seorang Yahudi Polandia yang kaya raya. Sebelum Pondok Gede dirobohkan, batu nisan Miero masih terlihat. Namun kemudian ikut menjadi korban vandalisme.

Sebenarnya, Pondok Gede hendak dipugar oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Survei arkeologi pernah dilaksanakan pada Januari 1988. Dari survei itu diketahui bahwa luas tanah mencapai 325 hektar, semula merupakan perkebunan sereh. Setelah berpindah tangan ke CV Handel, beralih menjadi perkebunan karet. Pada 1946 berpindah tangan lagi ke NV Pago Rado dan pada 1962 dibeli oleh TNI AU (Inkopau). Menurut laporan survei tersebut, Pondok Gede banyak dikunjungi wisatawan mancanegara terutama dari Australia dan Belanda.

Pada 1987 Inkopau pernah menulis surat kepada Gubernur DKI Jakarta. Isinya tentang rencana pembangunan pusat rekreasi dan perbelanjaan di areal Pondok Gede. Disebutkan, bangunan kuno itu akan dilestarikan bahkan akan merupakan sentra dari taman rekreasi. Nyatanya, uang mengubah segalanya, bangunan kuno bernilai historis itu tetap lenyap. Hanya namanya tetap abadi, sebagai nama jalan penghubung wilayah Jakarta dengan Jawa Barat. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. saya saksi hidup bangunan2 bersejarah itu. waktu smp kelas satu, sepulang sekolah ( SMP 81 ) saya selalu jalan kaki menuju komplek Housing di Pd Gd.
    Teduhnya pohon beringin di depan rumah besar yang berkelelawar itu masih terbayang hingga kini. belum lagi terkenang, saat saya diam diam nonton bioskop DIan Theatre..film Ayu Azhari yg kontroversial dulu hahahaha…selepas itu saya dan kawan2 duduk2 menghabiskan petang di tempat penampungan kayu di sebelah bioskop tersebut.

    Kini semua hilang nggak berbekas. bahkan banyak terjadi pembelokan sejarah. disebutkan malah Pondok Gede dan Masjid itu nyambung…. Geli saya mendengarnya…

    • Tantangan untuk generasi masa kini untuk tetap melestarikan bangunan2 kuno.

    • gw juga masih inget banget tiap kali gw pulang sekolah jl kaki dari lubang buaya ( smp 81 ) pasti lewat inkopau yang ada rumah gedenya kalo inget itu pengen banget marah karena saksi sejarah di ancurin gtu aja……

  2. mengingat ceritamu akupun teringat pula.masa2itu.kayanya kita satu angkatan SMP 81….kangen kalo inget masa itu…

  3. Saya sempat masuk ke dalamnya, ada gamelan dan lukisan tua. Bau kotoran kalelawar sangat menyengat, sangat tidak terurus.

    Sebuah kenangan pulang sekolah (SMP 157), nongkrong disitu…

  4. aku lahir di jatiwaringin yg termasuk wilayah pondok gede. pada tahun 1991 aku sekolah di daerah halim.pasti aku lewat gedung bersejarah pondok gede.sampai saat ini masih teringat rumah tua pondok gede. kadang saat aku bolos sekolah, aku duduk2 di dpn rumah tua pondok gede yg bersebelahan dgn bioskop dian teater. ah… indahnya kala itu

  5. Saat Sy sekolah di SMPN 81 dari thn 76 s.d. 79 sering lewat bangunan tua itu. Kalo pulang nonton di Dian Theater suka lewat situ malem malem. Serem juga lo

  6. saya dulu tinggal disitu,dari tahun 79 sampe tahun 89,masa kecil disitu

    • Om pernah tinggal disana?

  7. Rumah sy dulu dideket gedung itu. Sy lahir dsana. Hanya sy masih kecil saat disana. Foto2 perumahan inkopau pun masih tersimpan baik. Kebetulan kedua kakek sy tni au dan mendapatkan rumah dinas disana. Dian theater.thonk chib. Nama tsb tidak akan asing terdengar bagi yg pernah tinggal diseputaran gedung tsb. Tq..

    • saya ikut ortu tinggal di situ dari tahun 79 waktu umur masih 2 tahun,sampai terakhir penggusuran tahun 89,rumah saya di deket mushalla yg depannya ada gedung tua tempat penyimpanan kayu yg menyambung ke gedung yg banyak kelelawarnya yg dipakai buat kantor,kebetulan bapak saya pns di inkopau klo sore sampai malam operator film di bioskop dian theatre

      • Terima kasih atas tambahan info dari bapak, salam

    • Saya di inkopau dari tahun 79 sampai 89,
      Dulu d inkopaunya sebelahmana,pak?

    • Thong chib (tongkib)tongkrongan kibat,bukan?

  8. Saya lahir di Halim thn 1967. Sejak 1975 sd sekarang (2017) masih di pondok gede. Walau kecamatan pondok gede sdh dimekarkan. Skrg saya di pondok melati. Rumah hanya 200 m dari yg skrg menjadi mall


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori