Oleh: hurahura | 8 April 2011

Sekolah Tionghoa di Batavia

Warta Kota, Rabu, 30 Maret 2011 – Sejak datang di Batavia rupa-rupanya orang-orang Tionghoa peranakan tidak banyak memperhatikan pendidikan buat anak-anak mereka. Mungkin ini karena leluhur mereka datang dari kelas tidak berpendidikan. Memang kebanyakan datang ke Batavia, termasuk ke daerah-daerah lain di Nusantara, hanya untuk mencari uang. Meskipun begitu, beberapa orang Tionghoa kaya mampu menggaji guru untuk mengajari anak laki-laki mereka.

Menurut buku Oud Batavia, sekolah tradisional Tionghoa pertama didirikan di Batavia pada 1729. Ketika itu sekolah menampung sekitar 30 siswa. Namun karena kurang manajemen, sekolah tersebut sempat ditutup untuk sementara waktu. Sekolah Tionghoa mulai meningkat pada akhir abad ke-19. Pada 1899, tercapat 217 sekolah semacam itu di Jawa dan 152 sekolah di luar Jawa. Di Batavia sendiri terdapat sekitar 20 sekolah.

Sekolah Tionghoa tradisional juga dikenal sebagai sekolah Hokkian karena bahasa pengantar pengajarannya adalah bahasa Hokkian. Di sekolah ini tekanan pengajaran adalah hafalan, bukan pemahaman. Karena itu, meskipun sudah belajar selama beberapa tahun, para siswa tetap tidak bisa berbicara atau menulis dalam bahasa Tionghoa sederhana. Akibatnya, sekolah tersebut ditinggalkan. Mereka pindah ke lembaga-lembaga pendidikan berbahasa Belanda atau bahkan Melayu.

Di Batavia sekolah Belanda mulai didirikan pada 1816, namun anak-anak Tionghoa baru boleh masuk pada paruh kedua abad ke-19. Jumlah siswa yang terdaftar 80-90 per tahun. Itu pun kebanyakan anak laki-laki opsir Tionghoa dan pengusaha kaya Tionghoa. Pada waktu bersamaan, sekolah-sekolah berbahasa Belanda swasta didirikan oleh pensiunan pejabat dan perwira Belanda. Sekolah-sekolah ini mengenakan uang pendidikan lebih murah ketimbang sekolah-sekolah milik pemerintah.

Pemerintah kolonial pernah melarang anak-anak pribumi dan Tionghoa masuk sekolah Belanda. Namun larangan tersebut dicabut pada 1864. Meskipun begitu, anak-anak pribumi dan Tionghoa hanya diterima masuk bila masih ada tempat kosong. Sikap seperti inilah yang kemudian membuat Phoa Keng Hek (1857-1937) mendirikan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada 1901 untuk memaksa penguasa Belanda membuka sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak peranakan.

Sekolah THHK pertama, sebagaimana diungkap buku Kebudayaan Minoriras Tionghoa di Indonesia, dirancang menurut sekolah Tionghoa peranakan di Jepang. Kini bahasa pengantar bukan lagi Hokkian tetapi Kuo-yu (Bahasa Nasional, sekarang Mandarin). Baru ketika Shanghai Commercial Book Store mulai mencetak buku pelajaran, THHK meninggalkan bahan Jepang-nya. Sekolah ini mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing pilihan, bukan lagi bahasa Belanda. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori