Oleh: hurahura | 8 September 2012

Tinju, Hiburan Umum di Batavia

Warta Kota, Sabtu, 1 September 2012 – Di samping lari, tinju merupakan cabang olahraga tertua di dunia. Saling memukul sudah dikenal sejak lama. Ketahanan fisik ini sangat dibutuhkan untuk mempertahankan negara dari serangan musuh. Semula fungsi utamanya memang untuk membela diri. Pada abad ke-17 olahraga saling memukul mulai dipertandingkan di Eropa. Tinju yang paling awal bercampur baur dengan gulat.

Setelah berlangsungnya Olimpiade Athena pada 1896, tinju dan gulat mulai terpisah menjadi cabang olahraga sendiri. Di Nusantara tinju dipopulerkan oleh tentara Hindia Belanda KNIL. Beberapa tahun lalu sisa-sisa ring tinju masih ada di Jasdam V Jaya (Jakarta) dan Jasdam VII Diponegoro (Semarang). Setelah munculnya petinju legendaris kelas berat AS Jack Dempsey pada 1920-an disusul Joe Louis pada 1930-an, tinju mulai dikenal di Batavia.

Cikal bakal organisasi tinju di Indonesia adalah Boksbond Batavia En Omstreken. Kantornya terletak di Postweg Noord 11, Batavia, dekat Kantos Pos Pasar Baru sekarang. Dulu bertinju hanya dilakukan para marinir Belanda yang bertugas di Indonesia. Ada anggapan sangat tabu jika dikalahkan petinju inlander. Biarpun begitu ada satu petinju pribumi yang tetap tekun dan rutin berlatih, yakni Kid Darlin. Dia dilatih Jimmy Kick Stall bersama petinju Belanda. Darlin merupakan petinju pribumi pertama yang tampil di atas ring. Dia tidak segan-segan bertanding melawan petinju Belanda. Sejak itu banyak pemuda Batavia ikut-ikutan berlatih tinju, sehingga pertandingan tinju pada zaman penjajahan semakin marak.

Pertandingan tinju biasanya dilangsungkan di Princen Park (Lokasari), Deca Park (Lapangan Monas), Varia Park (Krekot), Pasar Gambir, dan Bioskop Sawah Besar. Di luar Batavia, pertandingan tinju pernah diselenggarakan di Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan. Di Batavia sendiri banyak berdiri sasana tinju. Pertandingan yang paling ramai berlangsung antara Tan Gue Tek melawan Ricks. Juara dunia tinju kelas berat saat itu, Max Schemeling, bertindak sebagai wasit. Pertandingan tinju umumnya dilangsungkan bila ada pasar malam.

Pada 1954 didirikan Pertigu (Persatuan Tinju dan Gulat), dengan ketua pertamanya Frans Mendur, seorang wartawan. Ketika itu tinju dan gulat termasuk hiburan umum. Maka untuk menggelar pertandingan harus memperoleh rekomendasi dari Pertigu, selanjutnya mengajukan izin ke pihak kepolisian. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori