Oleh: hurahura | 28 Oktober 2017

Kolonisasi Austronesia ke Wilayah Banyuwangi

Evolusi-sangiran-1

Ilustrasi: evolusi manusia purba di Museum Sangiran (Dok. Djulianto Susantio)

Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi magnet tersendiri bagi siapa pun. Setahun terakhir ketika terjadi kontestasi politik, banyak hal menarik untuk dibahas, mulai dari wayang kulit hingga dikotomi antara pribumi dan nonpribumi. Meski kontestasi itu sudah berakhir dan pemimpin baru resmi dilantik, rupanya Jakarta masih menyisakan tanya.

Selain di realitas, unsur dikotomi juga muncul dalam dunia sastra kita. Istilah yang digunakan pun beragam, seperti antagonis dan protagonis atau pribumi dan nonpribumi. Pemunculan istilah-istilah ini bukan tanpa alasan. Agar cerita yang dibangun menjadi seru dan dramatis, maka pengarang perlu menghadirkan dua hal yang saling berlawanan. Kita, misalnya, bisa melihat hal itu dari karya-karya Pramoedya Ananta Tor, Y.B. Mangunwijaya, dan Kuntowijoyo.


Ada Sejak Dulu

Semua masih dalam kondisi lelah pasca kontestasi. Masyarakat sebagai bagian dari publik sekarang tinggal menunggu hasil kerja keras seorang pemimpin baru. Sekarang sudah saatnya kondisi yang semula panas menjadi dingin kembali.

Kolonisasi yang menjadi bagian dari perdebatan pribumi dan nonpribumi sebenarnya sudah ada sejak dulu. Tentu dalam konteks ini kita perlu membebaskan kata koloni dari unsur penjajah. Karena istilah ‘dulu’ dalam tulisan ini tidak sebatas Belanda atau pun Jepang. Melainkan jauh sebelum manusia di Nusantara mengenal tulisan.

Inti dari kolonisasi adalah proses penghunian suatu wilayah oleh suatu komunitas tertentu. Salah satu data arkeologi yang dihasilkan oleh proses penghunian itu adalah sisa permukiman, yang salah satu di antaranya ada di Situs Kendenglembu.

Aktivitas kolonisasi sudah dilakukan oleh masyarakat Austronesia untuk merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya, baik disebabkan faktor lingkungan alam, manusia, ataupun gejala geografis yang ada. Sejauh ini berdasarkan hasil analisis arkeologis, ada dua kemungkinan yang ditempuh oleh masyarakat Austronesia untuk melakukan kolonisasi ke wilayah Kendenglembu (Banyuwangi).

Pertama, jika benar kolonis Austronesia di Jawa berasal dari Sulawesi Barat, maka lokasi yang terdekat bagi awal pendaratan mereka adalah kawasan pesisir Utara Jawa dan Madura. Dari kawasan tersebut, mereka tidak bisa langsung menjangkau Kendenglembu, karena barier alam yang sangat berat berupa busur vulkanik Gunung Raung.

Kedua, memang tidak pernah terjadi pendaratan langsung di pesisir utara Semenanjung Blambangan (Alas Purwo), namun setelah masyarakat Austronesia berangkat dari Sulawesi Barat dan keluar dari Selat Makassar mereka masuk ke Selat Bali melewati perairan Zona Wallacea. Setelah sedikit menyusuri tepian Samudera India yang ganas, kemudian mereka mendarat di pesisir selatan Jawa. Salah satu lokasi pendaratannya adalah di muara Sungai Kalibaru.


Koloni dan Disruption

Pada saat masyarakat Austronesia datang ke Jawa, kawasan ini bukanlah suatu daerah kosong yang tidak berpenghuni. Setidaknya sejak akhir Plestosen sekitar 60000 BP kawasan Gunung Sewu telah dihuni oleh masyarakat pre-Austronesia. Bahkan dominasi pre-Austronesia penghuni gua-gua di Jawa diindikasikan baru berakhir pada awal masehi sekitar 2000 BP.

Terjadinya kontak antara masyarakat Austronesia dan masyarakat pre-Austronesia peluangnya sangat besar. Interaksi tersebut kemudian menciptakan sebuah hasil yang disebut disruption. Singkatnya, disruption adalah inovasi. Clayton Christensen menjelaskan, bahwa distruption menggantikan teknologi dan menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh.

Ia membuat kualitas apapun yang dihasilkannya lebih baik, ketimbang yang sebelumnya. Contohnya, Sofwan Noerwidi dalam kajiannya mengatakan, sebelum kedatangan masyarakat Austronesia di Indonesia sudah berkembang berbagai macam teknologi alat kerang yang dimiliki masyarakat pre-Austronesia. Perkembangan teknologi kerang tersebut didukung oleh sumberdaya kerang yang sangat melimpah di Kepulauan Indonesia.

Pada saat terjadi kolonisasi masyarakat Austronesia di kepulauan ini, mereka kemudian melakukan adaptasi dan inovasi budaya. Masyarakat pre-Austronesia melakukan sharing teknologi kepada masyarakat Austronesia. Selain itu, di tahap ini juga terjadi proses distribusi alat kerang ke wilayah yang lebih luas melalui jalur perdagangan dan pelayaran.


Self Disruption pada Masyarakat Austronesia

Sekali lagi, disruption dalam hal ini bukan menjajah –menempati setelah itu mengusir atau menekan penduduk asli– tetapi berbagi dan berinovasi. Pengetahuan mengenai domestikasi tumbuhan yang dimiliki masyarakat pre-Austronesia sebelum kedatangan masyarakat Austronesia, berimplikasi pada interaksi antarbudaya yang terjadi akibat datangnya budaya baru di kawasan yang telah memiliki latar belakang budaya.

Di kawasan Pasifik, menurut Sofwan Noerwidi, masyarakat Austronesia melakukan disruption dengan cara mengganti pertanian biji-bijian seperti yang dibawanya dari daerah subtropis dengan tanaman umbi-umbian yang banyak terdapat di kawasan tropis. Hal itu jelas membuktikan adanya proses self disruption, meskipun pertanian padi merupakan sistem pertanian yang dikembangkan masyarakat Austronesia di Asia Tenggara Daratan dan Taiwan, tetapi mereka menanam beberapa jenis umbi-umbian sejak mereka mendiami Kepulauan Filipina bagian selatan, Indonesia bagian timur, dan Kepulauan Pasifik.***

Penulis: Jingga Kelana, arkeolog di Banyuwangi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: