Oleh: hurahura | 27 Oktober 2014

Ekspektasi Berlebihan Ancam Kelestarian

Ekspektasi yang berlebihan tentang Situs Gunung Padang dikhawatirkan justru akan mengancam kelestarian situs tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu diberi penjelasan ilmiah yang benar tentang isu-isu yang berkembang selama ini seputar Gunung Padang.

Pembahasan tentang kontroversi penelitian Situs Gunung Padang menjadi tema yang paling menarik perhatian dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XIII, di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (14/10) malam. Total, ada sembilan makalah yang disampaikan maraton sejak pukul 19.00 hingga 00.00 dalam PIA XIII yang digelar bersamaan dengan Kongres IAAI 2014.

Pembahasan Gunung Padang Berperspektif Ilmiah

Lutfi Yondri, anggota IAAI dari Komisariat Daerah Jawa Barat yang juga peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, dalam makalahnya ”Seputar Kontroversi Arkeologi di Situs Gunung Padang”, menyebutkan, muncul 34 isu tentang Gunung Padang sejak tahun 2011. Beberapa isu, antara lain, adalah tentang katastropik purba, piramida di dalam Gunung Padang, cawan raksasa di dalam Gunung Padang, adanya lapisan pasir peredam gempa, lintasan pertanggalan, dan karbon sampel Gunung Padang yang berumur 500-23.000 sebelum Masehi. Isu lain, adanya semen purba berumur 13.000-23.000 tahun sebelum Masehi, sketsa konstruksi Gunung Padang yang seperti Machu Picchu di Peru, dan isu keberadaan 3 ton emas di bawah teras lima Gunung Padang berdasarkan pemindaian geo radar dan geo listrik.

Sejumlah peneliti juga mengungkapkan adanya perbandingan yang tidak setara dan tidak lazim dalam dunia ilmiah. Hal itu tampak dari perbandingan Gunung Padang sebagai produk budaya prasejarah dengan Candi Borobudur sebagai produk budaya klasik.

Dari begitu banyaknya isu yang berkembang di tengah masyarakat, isu keberadaan emas pun dilebih-lebihkan menjadi tidak hanya 3 ton, tetapi 30 ton. ”Ini isu yang dipercaya masyarakat. Bagaimana jika masyarakat beramai-ramai menggali. Jika dilanjutkan, tentu merusak dan membahayakan kelestarian Gunung Padang,” ujar Lutfi.

Gagasan lain sempat muncul dari Ketua Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang Ali Akbar. Sempat muncul gagasan, susunan batu columnar joint (batu balok panjang yang terbentuk saat lava atau magma membeku) sudah disusun oleh manusia masa lampau, termasuk batuan di bagian paling bawah yang dikatakan sebagai penyusun struktur punden berundak-undak. Hal itu didasari penelitian TTRM di Gunung Padang pada bulan lalu.

Menurut Lutfi, terdapat salah kaprah penjabaran tentang pembentukan columnar joint yang arah kolomnya selalu tegak lurus. ”Karena saat ditemukan kondisinya horizontal, mereka (TTRM) menyimpulkan batu itu sudah diubah oleh manusia masa lampau. Padahal, karena perbedaan tingkat pendinginan, batuan seperti ini bisa membentuk tiga pola kekar, mulai kolom berbentuk reguler (colonnade), kolom terpotong-potong (hackly), dan rekahan-rekahan yang tidak beraturan (entablature),” tuturnya.


Pencerahan

Lutfi berharap dunia arkeologi di Indonesia tetap berpegangan pada ilmu pengetahuan sebagai pedoman penelitian. ”Arkeologi bukan untuk politik, melainkan untuk ilmu pengetahuan yang menjelaskan jalan panjang sejarah kita,” ujarnya.

Arkeolog senior Pusat Arkeologi Nasional, Harry Truman Simanjuntak, mengatakan, di tengah kontroversi tentang Situs Gunung Padang, IAAI sebagai forum ilmiah arkeologi tertinggi di Indonesia harus hadir memberikan pencerahan bagi masyarakat. Menurut Harry, pembahasan tentang Gunung Padang harus tetap berlandaskan pada perspektif ilmiah, bukan sekadar dari asumsi atau proyeksi semata.

Ketua IAAI Junus Satrio Atmodjo mengatakan, IAAI akan memberikan pernyataan sikap terkait kontroversi Gunung Padang. Rencananya, pernyataan sikap akan disampaikan dalam Kongres IAAI 2014 yang akan ditutup, Kamis (16/10). (ABK)

(Sumber: Kompas, Kamis, 16 Oktober 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: