Oleh: hurahura | 3 Agustus 2012

Gedung Harmonie Jadi Lahan Parkir

Gedung Societeit de Harmonie (Sumber: kitlv.nl)

Warta Kota, Rabu, 1 Agustus 2012 – Gedung Harmonie, lengkapnya Societeit de Harmonie, dibongkar pada Maret 1985. Alasan pembongkaran sangat sepele. Lahan bangunannya akan digunakan untuk perluasan areal parkir Kantor Sekretariat Negara dan pelebaran jalan di samping gedung. Sebenarnya rencana pembongkaran gedung pernah ditentang keras kalangan arkeolog, sejarawan, budayawan, dan arsitek. Namun saat itu golongan konservasionis hampir selalu dicap “menentang kebijakan pemerintah dalam bidang pembangunan” karena “pembangunan itu ditujukan untuk kemakmuran rakyat banyak”.

Gedung Harmonie atau Harmonie Club dulu merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda. Pendirian gedung itu dipelopori oleh Reinier de Klerk tahun 1776, dimaksudkan agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan. Awalnya, banyak orang mengajukan keberatan atas gagasan Klerk. Namun akhirnya tempat yang diinginkan terlaksana di Jalan Pintu Besar Selatan sekarang.

Gubernur Jenderal Daendels (1808) menganggap bahwa gedung itu perlu dipindahkan karena keberadaannya sangat jorok. Maksud lain Daendels adalah agar masyarakat bersedia tinggal agak ke pinggir kota. Hal ini dipandangnya bermanfaat sekali untuk menghirup udara yang lebih segar. Waktu itu yang disebut kota Batavia kira-kira batasnya hingga Jalan H. Juanda sekarang. Mulai Jalan Veteran ke arah selatan sudah termasuk luar kota.

Agar uang semakin terkumpul, Daendels memerintahkan semua pegawai negeri, militer maupun sipil, harus menjadi anggota societeit yang baru itu. Gubernur Jenderal Inggris Raffles lah yang kemudian memberikan perhatian kepada kelanjutan pembangunan gedung. Bahkan Raffles membukanya secara resmi pada 18 Januari 1815. Gedung Harmonie begitu mentereng dan bergengsi pada zamannya. Di dalamnya terdapat ruang marmer yang luas dengan tiang-tiang indah, lampu-lampu kristal yang bergelantungan, cermin dinding, dan patung-patung perunggu. Gedungnya megah dan kokoh, ditandai tulisan HARMONIE di bagian tengah. Di dalam gedung juga terdapat sejumlah meja biliar. Hanya orang-orang Eropa dari kelas atas boleh menjadi anggota perkumpulan. Gedung Harmonie secara sinis sering disebut Jenewerpaleis atau Gin Palace (Istana Jenewer). Jenewer atau gin adalah nama sejenis minuman keras.

Fungsi lain gedung itu adalah untuk mengakrabkan pejabat Belanda-Inggris. Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan di sini. Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 pernah juga berlangsung di sini.

Selepas kemerdekaan, gedung itu terbengkalai. Hanya pernah dipakai sebentar sebagai kantor pariwisata. Tahun 1970-an hingga 1980-an Gedung Harmonie dipakai sebagai kantor Gabungan Importir Nasional Indonesia. Setelah itu namanya tenggelam, bahkan gedungnya lenyap dari muka bumi. Hanya nama Harmoni tetap lestari sampai sekarang. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Responses

  1. sedihnya… miris banyak artikel ini, kenapa pemerintah kurang peduli dg gedung2 kolonial yg sarat nilai sejarah itu.. padahal kalau dipikir gedung itu masih layak pakai setidaknya pemerintah bisa menggunakannya sebagai gedung pemerintah dg cukup direnovasi, dibandingkan harus bangun baru yg unjung2nya proyek itu berbau korupsi…

  2. Mas Adrian, kalau saya justru yakin bahwa dibalik upaya meruntuhkan gedung2 bersejarah itu memang dasarnya proyek2 korupsi dan kolusi!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori