Oleh: hurahura | 19 April 2011

TAJUK RENCANA Museum Kerinci di Malaysia

Lucu! Museum Kerinci dibangun di Kuala Lumpur dan pekan depan diresmikan Bupati Kerinci Murasman. Ceroboh!

Entah kelewat bersemangat membangun gedung baru seperti yang ditunjukkan DPR berikut ikutannya atau tidak tahu, keputusan itu kita nilai ceroboh. Lebih banyak mudarat daripada manfaat Museum Kerinci dibangun di Malaysia, negara yang giat berburu identitas diri. Diikuti rencana pemindahan benda-benda purbakala ke Kuala Lumpur untuk dipamerkan, makin jelas kita sendiri tidak peduli terhadap kekayaan hasil peradaban kita.

Ketidakpedulian itu merata, bahkan diidap oleh mereka yang duduk di tingkat pimpinan pemerintahan. Benda purbakala yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan— bagian dari historisitas suatu bangsa—kita biarkan hilang atau rusak. Kelak kita berang setelah dihaki, tetapi umumnya serba sudah terlambat.

Bahwa biaya pembangunan museum disediakan Pemerintah Malaysia bukan jawaban tepat, termasuk bahwa benda kuno Kerinci yang akan dibawa ke sana hanya replika. Inti persoalan adalah rendahnya kepedulian kita kepada barang milik sendiri. Kilah bahwa hanya replika, semoga bukan pernyataan retorik, sebenarnya hanya menggarisbawahi parahnya sikap ketidakpedulian.

Pembangunan Museum Kerinci di Malaysia, yang akan diresmikan Bupati Kerinci, hanya salah satu dari sekian peristiwa ketidakpedulian. Negeri kita kaya dengan peninggalan benda-benda purbakala. Karena kebat kelewat-nya nafsu bisnis, dengan ringan situs dirusak. Mendingan untuk bertahan hidup, sebaliknya justru dilakukan karena dorongan nafsu serakah, bahkan oleh kesalahan konsep tentang menggalakkan pariwisata.

Kasus perusakan situs Majapahit di Trowulan untuk pembangunan proyek pariwisata kita sebut spontan. Kejadian itu menunjukkan rendahnya tingkat pemahaman tentang makna peninggalan purbakala. Amat memprihatinkan sebab tindakan itu dilakukan tidak untuk kepentingan bertahan hidup, tetapi secara terstruktur dan terlembaga sebagai bagian dari proyek pemerintah.

Ada sesuatu yang salah dalam pengertian kita tentang peninggalan budaya. Sebagai bagian dari perjalanan kehidupan bangsa, pengenalan sedetail-detailnya sebaiknya menjadi prioritas, bahkan keharusan, daripada buru-buru memperkenalkan bahkan membawanya ke luar.

Secara legal ada aturan yang melarang benda bersejarah dibawa ke luar tanpa izin, tetapi dalam keadaan hukum serba tidak pasti, semua jadi serba nisbi. Apa saja bisa terjadi. Banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan, bukan hanya tugas ahli arkeologi. Merawat, melestarikan, dan mempelajari hasil peradaban merupakan bagian dari tugas kita untuk terus meningkatkan mutu sebagai bangsa Indonesia. Untuk jangka pendek, apabila mungkin, batalkan peresmian Museum Kerinci. Bereskan betul persyaratan barang kuno yang dibawa ke Kuala Lumpur. Untuk jangka panjang, kita cegah kecerobohan semacam ini!

Iklan

Responses

  1. hmmmm, boleh-boleh aja klw mau pamer kekayaan dinegeri orang, tp hrus n mesti cuma untuk pameran sesaat saja.. gak lebih! klw smpai hrus meninggalkan benda2 bersejarah untuk dikelola oleh orang lain alangkah rendahnya nilai negeri ini dipandang negara lain…

  2. Hal itu karena perhatian pemerintah dan masyarakat kita kepada warisan budaya dan museum sangat kecil…Kita adalah bangsa reaktif, kalau sudah dibawa ke negara lain baru memberikan reaksi…Coba kalau dari dulu pemerintah daerah mendirikan museum, pasti bisa menyelamatkan kekayaan budaya kita sekaligus menyedot arus wisatawan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori