Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Tembikar dan Upacara Religi  

Kendi-03Pecahan gerabah/tembikar bisa menjadi data arkeologi (Foto: Djulianto Susantio)

Menurut laman wikipedia, tembikar dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu objek. Tembikar memiliki perbedaan dengan gerabah sebagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Dikatakan tembikar adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap (pengkilap). Fungsi tembikar yang utama adalah sebagai aksesoris atau penghias ruangan karena memiliki nilai estetika yang tinggi. Berbeda dengan tembikar, gerabah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan. Jadi, tembikar dan gerabah hanya memiliki perbedaan dalam fungsinya. Secara bahan baku keduanya sama.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Penggunaan Tembikar dalam Upacara Keagamaan

Kendi-02Kendi dari tanah liat koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik (Foto: Djulianto Susantio)

Tembikar merupakan salah satu artefak yang ditemukan di situs masa prasejarah maupun masa klasik (Hindu-Buddha). Temuan tembikar di suatu situs berupa fragmen atau bentuk utuh. Melalui data artefaktual itu para arkeolog dapat menganalisis bentuk dan fungsinya pada masa lampau. Menurut Sumijati Atmosudiro (1994: 1) tembikar sebagai budaya materi diciptakan manusia dari bahan tanah liat, dikerjakan melalui proses yang saling berkaitan dan berurutan.

Baca Lanjutannya…

Artikel-06Beberapa lemari terlalu tinggi sehingga pengunjung sulit mengamati detil bagian atas

Belum banyak orang tahu keberadaan tempat ini. Maklum baru diresmikan pada 13 Maret 2017 lalu. Begitu orang masuk ke dalam, yang tersaji adalah benda-benda yang kelihatannya kurang menarik. Namun siapa sangka benda-benda tersebut bernilai ilmu pengetahuan tinggi.

Baca Lanjutannya…

Wayang-01Wayang umpet koleksi Museum Nasional (Sumber: Katalog Pameran Wayang Merentang Zaman)

Sebelum berbicara mengenai persebaran wayang di Indonesia, kiranya perlu diselidiki terlebih dahulu mengenai asal-usul pertunjukan wayang. Menurut James R. Brandon, wayang timbul akibat tradisi pemujaan kuno yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Menurutnya, pada manusia lama di Jawa (Pra Islam) yang belum diketahui secara pasti waktu munculnya, sudah terdapat tanda-tanda adanya pertunjukan dengan bayang-bayang selayaknya wayang sekarang. Diungkapkaan juga oleh Brandon, bahwasanya kesenian ini mulanya berasal dari dataran Asia Tengah lalu menyebar ke India, Tiongkok, dan Asia Tenggara (Marsono, 1991, hal. 3).

Baca Lanjutannya…

Batujaya-01Candi Segaran I (Candi Jiwa) setelah dipugar, kondisi 2003 (Foto: Hasan Djafar)

Candi adalah hasil budaya berupa bangunan yang berkembang di Indonesia pada masa klasik (Hindu-Buddha). Pengaruh budaya India yang membawa agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia abad ke-5 dengan ditemukannya Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Berdasarkan paleografi (huruf dan bahasa) para ahli arkeologi yang mendalami epigrafi berpendapat bahwa prasasti tersebut berasal dari abad ke-5 Masehi. Menurut Poerbatjaraka (1952), Prasasti Yupa merupakan sumber tertua mengenai kerajaan bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia. Menurut Endang Sri Hardiati dalam Renville Siagian (2001: 1), perkembangan budaya India di Indonesia mulai pada abad ke-5 Masehi dengan ditemukannya prasasti berhuruf Pallawa dan Bahasa Sanskerta di Muarakaman, Kalimantan Timur dan Bogor, Jawa Barat. Tetapi bangunan peninggalan arsitektural yang berupa bangunan monumental baru mulai abad ke-8 Masehi.

Baca Lanjutannya…

Kumitir-yogi-1Situs Kumitir setelah penjarahan bata kuno (Foto: Yogi Mahadev)

Kumitir bukan tidak dikenal pada masa lampau, lebih-lebih pada masa kerajaan Majapahit atau negara Wilwatikta. Nama kumitir disebutkan setidaknya dalam beberapa bukti sejarah, misal saja yang paling terkenal adalah Nāgarakṛtāgama/Deśawarnana karya Prapañca, Pararaton, dan sebuah kidung yaitu Wargasari. Selain itu, sebaran tinggalan arkeologi pada wilayah ini jelas memperlihatkan eksistensi Kumitir pada masa lampau. Karakter alam Kumitir juga sangat penting untuk mendukung letak pusat kerajaan Majapahit secara geografis.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 26 Maret 2017

Wayang: Bukti Persebaran Budaya Tanpa Batas

Pameran-01Pengunjung menikmati pameran wayang di Museum Nasional (Foto-foto: Djulianto Susantio)

Wayang adalah salah seni pertunjukan yang sudah mengalami perjalanan sejarah cukup panjang. Wayang diciptakan sesuai dengan konsep-konsep seni tinggi yang dimiliki para empu dan pujangga wayang sejak beberapa abad yang lalu, atau paling tidak sejak zaman Airlangga (Zoetmoelder, 1981: 21). Wayang sebagai warisan seni budaya dunia yang sudah diakui oleh UNESCO memiliki nilai-nilai budaya secara fisik maupun nonfisik. Sebagaimana yang dituliskan oleh Kasidi Hadiprayitno, Wayang sebagai a Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity: Sebuah Museum Hidup Dalam Budaya Indonesia, wujud fisik wayang itu diikuti oleh sejumlah nilai spiritualitas yang tinggi yang berguna bagi kehidupan dan pembangunan karakter manusia secara universal. Dibalik bentuk fisik wayang, dapat ditemukan kandungan atau isi-isi kisah wayang yang di dalamnya terdapat keterkaitan, antara tokoh wayang dengan karakter yang membentuknya, antara wayang dengan sistem pranata sosial, nilai moralitas, keluhuran budi pekerti, nilai religiusitas atau spiritualitas, dan lain sebagainya.

Baca Lanjutannya…

Prasasti-harinjing-1Prasasti Hariñjing, Koleksi Museum Nasional-Jakarta (Foto: Aang Pambudi Nugroho, 2013)


A. PENDAHULUAN

Prasasti Hariñjing memiliki riwayat panjang mulai pertama kali ditemukan hingga mendapat perhatian dari para peneliti arkeologi kebangsaan Belanda, Prancis, dan Indonesia. Sekitar tahun 1916 seorang bernama W. Pet selaku Administratur Perkebunan Kopi (Koffie-Onderneming) yang bertugas di Desa Sukabumi, Daerah Pare-Karesidenan Kediri melaporkan kepada Dr. P.V. van Stein Callenfels tentang adanya sebuah temuan prasasti batu dari daerah dekat Kampung Baru. Saat itu prasasti tersebut berada di depan rumah administratur. Berita temuan tersebut termuat dalam laporan O.D. (Oudheidkundige Dienst/Dinas Purbakala Masa Hindia-Belanda) tahun 1916. Selanjutnya setelah W. Pet digantikan oleh Th. Klusman, prasasti batu tersebut dipindahkan lagi ke sebuah bangunan dekat dengan beranda depan rumah administratur. Pada akhirnya prasasti batu tersebut dipindahkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschaapen (Sekarang Museum Nasional) di Jakarta dan dicatat dengan nomor D 173. Sampai saat ini prasasti batu tersebut berada di Museum Nasional dengan kode yang sama yaitu D 173. Batu prasasti ini ditranskripsi pertama kali oleh Stein Callenfels dalam karyanya yang berjudul “De Inscriptie van Soekaboemi”. Selanjutnya mendapat koreksi analisis penanggalannya dari seorang sarjana Prancis ternama bernama L. Ch. Damais. Mengenai koreksi selanjutnya dilakukan oleh ahli epigrafi (ilmu tulisan kuno) berkebangsaan Indonesia bernama M.M Soekarto Kartoarmodjo (Atmojo, 1985:47). Awalnya prasasti ini disebut dengan inskripsi dari Sukabumi karena ditemukan di daerah Sukabumi. Namun setelah adanya pembacaan dan ditemukan kalimat yang berisi tentang pembuatan sungai di Hariñjing, dengan demikian dinamakan Prasasti Hariñjing.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 20 Maret 2017

Rangka Manusia Purba Ditemukan di Gua Pawon

Pawon-02Temuan rangka manusia purba di Gua Pawon. Karena sudah rapuh perlakuannya harus secara khusus (Foto-foto: Lutfi Yondri)

Ekskavasi (penggalian arkeologi) di Gua Pawon hingga Senin, 20 Maret 2017 masih berlangsung. Ekskavasi ini dilakukan oleh Balai Arkeologi Jawa Barat. Menurut Dr. Lutfi Yondri, pada ekskavasi kali ini ditemukan rangka manusia purba yang kondisinya sudah rapuh. Ini merupakan temuan rangka yang ke-6 sejak ekskavasi 2003 lalu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 19 Maret 2017

Manusia Prasejarah di Gua Kidang Sudah Cerdas

Gua-kidang-05Ekskavasi di Gua Kidang (Foto: suaramerdeka.com)

Di Pulau Jawa ada dua gua yang potensial mengandung temuan-temuan arkeologi. Yang pertama, Gua Kidang di Jawa Tengah. Yang kedua, Gua Pawon di Jawa Barat. Saat ini Gua Kidang sedang diekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, sementara Gua Pawon diekskavasi oleh Balai Arkeologi Jawa Barat.

Baca Lanjutannya…

Benteng_0002Benteng Marlborough di Bengkulu (Foto-foto: Forts in Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012)

Benteng atau Tembok kota bukan lagi suatu hal yang asing bagi masyarakat di Indonesia. Benteng sudah dikenal sejak masa klasik hingga pada zaman pendudukan Jepang. Benteng telah menjadi semacam kebutuhan pokok, utamanya bagi kota-kota besar yang memiliki arti penting dalam politik dan ekonomi guna menjaga kedamaian dalam kota. Hal ini karena keamanan dalam suatu kota, menentukan perkembangan politik dan ekonominya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 6 Maret 2017

Candi Klodangan Berada di Persawahan Penduduk

klodangan-03Bagian fondasi Candi Klodangan. Bagian-bagian lain belum ditemukan, sehingga belum bisa direkonstruksi (Foto-foto: Maria Tri Widayati)

Nama candi ini terdengar aneh, Klodangan. Entah siapa yang memberi nama itu. Candi Klodangan terletak di Dusun Klodangan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY.

Baca Lanjutannya…

pameran-01Pameran Arsip Sejarah Istiqlal (Dokpri)

Dalam rangka merayakan milad ke-39, Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengadakan Pameran Arsip Sejarah Istiqlal pada 22-27 Februari 2017. Selain berupa arsip yang tidak pernah dimuat media mana pun, ada juga dokumentasi gambar dan foto seputar masa pembangunan Masjid Istiqlal. Misalnya suasana sekitar Wilhelmina Park atau Taman Wilhelmina, tempat Masjid Istiqlal sekarang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 10 Februari 2017

Agama dan Tradisi Saling Memberi Arti

prambanan-sewuKompleks Taman Wisata Candi Prambanan, di dalamnya terdapat beberapa candi Hindu dan Buddha

nalika ana wong sěmbahyang dibom
nalika ana sanggar pamujan dibongkar
nalika ana buku-buku suci padha dibakar
kayané saiki Gusti lagi saré
(Ki Romonadha)

Harus diakui bahwa di tengah pusaran politik kedaerahan yang kian memanas seperti beberapa bulan belakangan pasti ada sendi-sendi kebangsaan yang ikut terkoyak. Semakin santer terdengar keributan yang mengatasnamakan kebenaran agama. Lantas di belakang sana ada rakyat yang heran mengapa isu agama dan sektarian selalu dibesar-besarkan. Padahal mereka tidak pernah mempersoalkan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 9 Februari 2017

Fenomena Politik Dinasti

goenawan-1Diskusi dokter Goenawan di Museum Kebangkitan Nasional, Oktober 2016 (Foto: Djulianto Susantio)

Menurut dokter Goenawan Mangoenkoesoemo, idealnya jabatan pemerintahan dipegang oleh orang berpendidikan, tidak berdasarkan keturunan

Bagi seorang calon kepala daerah, memenangkan suatu kontestasi pilkada bukanlah suatu hal yang mudah, segala jurus ampuh untuk merebut simpati masyarakat dilakukan. Bisa dibilang saat-saat inilah seorang kepala daerah berada dalam titik terdekat dan terakrab bersama warga masyarakatnya. Tentunya butuh kerja keras, modal yang tidak sedikit dan sedikit pencitraan dilakukan dengan harapan dapat mendulang suara sebanyak mungkin saat pemungutan suara dilaksanakan. Dengan proses yang panjang dan butuh perjuangan akhirnya kursi kekuasaan tersebut jatuh juga pada salah satu kandidat, maka sebuah sejarah baru telah tercipta pada suatu daerah.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori