Oleh: hurahura | 21 Februari 2018

Peran Manik-manik, Dulu hingga Sekarang

Manik-buniManik-manik Situs Buni, Bekasi (Foto: Jofel E Malonda)

Manik-manik adalah benda yang banyak dijumpai dalam kehidupan manusia. Temuan manik-manik terdapat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Manik-manik banyak ditemukan dalam penelitian arkeologi karena daya tahan dari benda tersebut relatif kuat. Benda yang berbahan batu ataupun kaca tidak mudah terurai oleh alam. Manik-manik merupakan butiran benda kecil dari biji-bijian, kulit telur, merjan, kerang, tulang, gading, kaca, logam atau batuan yang diberi lubang dan diuntai menjadi perhiasan (Permana, 2016: 206).

Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: hurahura | 29 Januari 2018

Bangunan Gaya Indis dan Bisnis Kopi

Indis-01Rumah bergaya Indis di Jalan Wot Gandul Barat Semarang (Foto-foto: dokumentasi pribadi)

Sebuah bangsa yang besar berawal dari peninggalan sejarahnya. Gambaran itulah yang membuat sebagian masyarakat di Indonesia mulai peduli dengan sekitarnya. Tidak berbeda dengan masyarakat Tionghoa, mereka juga banyak menaruh perhatian kepada peninggalan leluhur dan peninggalan lainya. Salah satunya adalah keluarga Basuki Dharmowiyono yang saat ini tinggal di Semarang, Jawa Tengah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 28 Januari 2018

Kompleks Pemakaman Belanda di Ampel, Boyolali

Dezentje-01Tinus Dezentje (Sumber: Djokja Solo; Beeld van Vorstenlanden)

Pada sebuah lahan yang cukup luas di daerah Ampel Boyolali terdapat sebuah kompleks pemakaman Belanda yang kondisinya memprihatinkan. Padahal, kompleks makam ini sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya. Beberapa makam tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 28 Januari 2018

Pramuka Kediri Belajar Prasasti Poh Sarang

Pohsarang-aang-01Prasasti Poh Sarang (Foto: Reno Septian)

Kegiatan pramuka antara lain mengajari peserta didik untuk berlatih dalam beradaptasi dengan lingkungan alam. Hal ini sesuai dengan isi dari Dasa Darma kedua, yaitu “cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”. Berdasarkan pengamalan isi Dasa Darma itulah anggota pramuka di Kediri yang tergabung dalam Ikatan Pramuka Lintas Generasi mengadakan Kemah Sastra pada 6-7 Januari 2018 di Lapangan Desa Poh Sarang Kabupaten Kediri.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 Januari 2018

Publikasi Arkeologi di Era Kekinian

Konservasi-borobudur-fbHalaman milik Balai Konservasi Borobudur di Facebook (Ilustrasi)

Arkeologi dikenal sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan hal kuno. Paling tidak jika seseorang diminta mengatakan satu/dua kata yang berhubungan dengan arkeologi, sering muncul kata ‘kuno’ itu di antara kata lain misalnya fosil, batu, purba, dan prasejarah. Kalangan pecinta situs dan cagar budaya bahkan sering menyebut segala tinggalan arkeologi yang mereka temukan saat ‘blusukan’ dengan frasa ‘kekunoan’, lawan kata dari ‘kekinian’. Sepertinya memang arkeologi itu sangat jauh dari istilah kekinian karena arkeologi identik distereotipkan dengan kekunoan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 Januari 2018

Strategi Penyebarluasan Hasil Penelitian Arkeologi

Konservasi-borobudur2-fbBerbagai publikasi arkeologi (ilustrasi)

Arkeologi merupakan disiplin ilmu yang berusaha mengungkap kehidupan masa lalu melalui hasil budaya materi. Hasil budaya materi tersebut berupa artefak yang ditemukan di berbagai tempat. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh arkeolog akan lebih baik jika dipublikasikan secara luas. Seorang arkeolog dalam melakukan penelitian arkeologi harus melibatkan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Tanudirjo (2013: 11) arkeologi Indonesia membutuhkan strategi yang tepat agar hubungan antara arkeologi dengan masyarakat dapat terjalin secara timbal balik dengan baik dan berkelanjutan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 4 Januari 2018

Persembahan untuk Pejabat Menurut Prasasti

Prasasti-sankharaIlustrasi: Prasasti Sankhara (Sumber: Sejarah Nasional Indonesia 2, 1984)

Pembicaraan mengenai prasasti dalam usaha untuk mengetahui lebih jauh mengenai gambaran kehidupan masyarakat kuno di Indonesia, selalu saja menarik perhatian. Sampai saat ini di Indonesia telah dibuat lebih dari 3.000 cetakan kertas (abklats) dari prasasti batu dan prasasti logam yang ditemukan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Baca Lanjutannya…

Bunul-03Prasasti Kanuruhan di balik arca Ganesya dari Bunulrejo (Foto-foto: Dok. Pribadi)


Abstrak

Kelurahan Bunulrejo adalah salah satu wilayah kelurahan di Kecamatan Blimbing Kota Malang. Terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah no.15 tahun 1987. Sebelum itu nama yang dikenal adalah ‘Bunul’. Menurut Perda Kotamadya Malang no.4 tahun 1967, Desa Bunul masuk dalam Lingkungan VI Kecamatan Blimbing. Pada zaman Belanda, Desa Bunul menjadi wilayah Asisten Wedana Blimbing menurut ketetapan Gemeenteblad no.108 tahun 1937. Sejarah desa Bunul dapat diketahui berdasarkan data-data sejarah dan arkeologis yang ada di dalamnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Desember 2017

Bangunan Kolonial di Pasuruan

Pasuruan-1Rumah Singa yang masih utuh, hanya sudah beralih tangan dari keluarga Han (Dokpri)

Kabupaten Pasuruan di Jawa Timur berada di pesisir utara Pulau Jawa. Letak yang cukup strategis dengan adanya pelabuhan, merupakan salah satu faktor pendukung munculnya kolonialisasi di Jawa Timur. Selain itu adanya akses menuju ke beberapa Kota/Kabupaten di Jawa Timur terutama Surabaya, mempermudah komunikasi dengan pemerintah Belanda pada waktu itu.

Baca Lanjutannya…

Kerkhof-1Kerkhof Peutjoet (Sumber: indonesiakaya.com)

Selama masa penjajahan Belanda, di Indonesia terdapat berbagai tinggalan budaya. Banyak di antaranya sudah menjadi Cagar Budaya,  seperti rumah tinggal, benteng, gereja, pabrik, dan kantor. Selama ini tinggalan-tinggalan masa kolonial yang masih kurang serius untuk dilestarikan adalah kerkhof atau kompleks makam Belanda.

Baca Lanjutannya…

Suwardono-malang-02Punden Joko Lola (letaknya ±150 m di sebelah timur Sumur Windu). Dilihat dari timur laut (Dokpri)


Abstrak

Polowijen adalah sebuah wilayah Kelurahan, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Blimbing Kota Malang. Di Polowijen terdapat beberapa tempat yang dianggap keramat yang dapat dihubugan dengan sejarah masa lampau Polowijen. Jejak-jejak arkeologis tersebut dapat ditelusuri dan dapat dikorelasikan dengan naskah kuna, prasasti, maupun cerita tutur masyarakat Polowijen. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan historis dan etnoarkeologi berkenaan dengan data situs dan pola pemanfaatan benda tinggalan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 7 Desember 2017

Cagar Budaya dan Pariwisata Budaya

MelukatKegiatan Melukat pada Situs Tirta Empul (Foto: Jofel E Malonda)

Perkembangan Iptek, komunikasi, dan transportasi menjadi penyebab tingginya interaksi sosial yang berdampak pada kemudahan dalam pertukaran kebudayaan. Bali memiliki keistimewaan yaitu kebudayaannya masih kental menjadi daya tarik wisata untuk berinteraksi secara langsung dengan kebudayaan tersebut. Perbedaan dan otentisitas kebudayaan menjadi target dalam pariwisata budaya.

Baca Lanjutannya…

Kamalagyan-1Prasasti Kamalagyan (Sumber: situsbudaya.id)

Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, menurut sumber sejarah arsip kolonial Belanda, merupakan sebuah wilayah bernama ‘Sidokare’, bagian dari Kabupaten Surabaya. Berdasarkan Keputusan Pemerintah Netherland Indies No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Empat bulan kemudian, yaitu tanggal 28 Mei1859, nama Kabupaten Sidokare, diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo. Dengan demikian Hari Jadi Pemerintahan Sidoarjo dapat diambil tanggal 31 Januari atau tanggal 28 Mei.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 18 November 2017

Di Candi Gumpung Pernah Ditemukan Arca Prajnaparamita

Gumpungku-1Candi Gumpung (Foto: Djulianto Susantio)

Dari kejauhan candi itu terlihat anggun. Warnanya merah, menandakan berbahan bata. Rupanya candi itu sudah dipugar karena bentuknya sudah tidak berantakan lagi.

Baca Lanjutannya…

Soekmono-satyawati-1R. Soekmono (kiri) dan Satyawati Suleiman (kanan)/Foto diambil dari panel pameran Kedatuan Sriwijaya di Museum Nasional

Generasi “zaman now” mungkin belum mengenal nama R. Soekmono dan Satyawati Suleiman. Mereka berdua adalah arkeolog-arkeolog pertama, sama-sama lulus dari Universitas Indonesia (UI) pada 1953. R. Soekmono arkeolog pertama secara keseluruhan, sementara Satyawati Suleiman, perempuan pertama yang menjadi arkeolog. Soekmono menulis skripsi Candi Merak, sementara Satyawati Suleiman tentang Candi Penataran.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori