Oleh: hurahura | 11 Agustus 2016

Penemuan Candi Banjarsari

Banjarsari-munif-3Bagian dari Candi Banjarsari

Candi Banjarsari terletak di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Desa Banjarsari sendiri berjarak 27 kilometer arah tenggara kota Nganjuk, Jawa Timur. Situs ini terletak di ujung sebuah gang kecil dekat tangkis pembatas sungai.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 20 Juli 2016

Jejak Sejarah di Desa Poh Sarang

Prasastipohsarang-1Prasasti Lucem atau Prasasti Poh Sarang

Prasasti Lucem atau warga sekitar menyebutnya watu tulis Poh Sarang terletak di Desa Poh Sarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Artefak ini cukup sulit dijangkau karena berada di lereng sebelah timur Gunung Wilis dan pada salah satu sisi Sungai Kedak.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 15 Juni 2016

Kepurbakalaan di Sekitar Sidoarjo, Jawa Timur

Kojakun-01Petilasan Watu Tulis

Sejarah merupakan kisah–kisah masa lalu yang bersinar kebenarannya. Kisah yang bisa diambil intisarinya dan pesan–pesan yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Setiap daerah pastilah mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Demikian pula dengan Sidoarjo di Jawa Timur.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 7 Juni 2016

Kendi di Nusantara

Kendi-01Kendi tembikar masa prasejarah. Ditemukan di Liang Bua, Flores Barat oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Diperkirakan berasal dari abad ke-1. 

Kendi, sosok wadah air tanah liat (water pitcher) kini nyaris hapus dari ingatan kita penduduk Nusantara. Bangun dasar kendi begitu khas, serupa anatomi tubuh. Kepalanya tengadah, lubang mulutnya sempit, tempat mengisi air. Kendi, lehernya tinggi seukuran genggaman tangan, gampang dipegang erat. Kendi, tubuhnya serupa bulatnya bumi, cukup menyimpan air, dindingnya tipis ringan dijinjing.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 5 Juni 2016

Candi Dermo Dipugar

Dermo-03Hiasan suluran pada Candi Dermo

Candi Dermo terletak di Dusun Dermo, Desa Candi Negara, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berjarak kurang lebih 12 kilometer arah barat kota Sidoarjo. Candi ini terletak pada permukiman padat penduduk. Oleh karena pada halaman rumah penduduk sekitar ditanami pohon mangga, maka jalan desa Candi Dermo sulit diketahui penggunjung.

Baca Lanjutannya…

Garudeya-1Gambar: Hiasan Garudeya dilihat dari depan.


Abstrak:

Koleksi Garudeya adalah sebuah benda dari emas yang ditemukan oleh saudara Seger tahun 1989, sekarang tersimpan di Museum Pu Tantular, dan merupakan suatu koleksi unggulan. Oleh masyarakat umum benda tersebut dikenal dengan nama hiasan ‘Garudeya’. Berdasarkan pengamatan, beberapa identitas diperoleh bahwa terdapat gambar pergelangan dan telapak tangan kiri yang di dalamnya terdapat hiasan lidah api, gambar burung garuda membawa guci amerta, mengenakan kain bawah motif jlamprang, gambar raksasa membawa gada, mengenakan kain bawah motif jlamprang, gambar figur manusia yang bersifat demonis sedang menari, gambaran pemandangan hutan dengan beberapa orang yang sebagian berpakaian pertapa, dan hiasan circir yang terdapat pada sisi-sisi kanan-kirinya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 12 Mei 2016

Situs Kota Rosan di Lamongan

Rosan-3Ekskavasi di situs Rosan dengan temuan tembikar

Situs Rosan terletak di Dusun Jatenan, Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedung Pring, Kabupaten Lamongan. Berjarak sekitar 27 kilometer arah barat daya dari Kota Lamongan. Situs ini ditemukan dan terletak dalam area tanah kawasan Perhutani Lamongan, yang oleh warga sekitar ditanami secara tumpang sari.

Baca Lanjutannya…

Kalasan-4
Kondisi Candi Kalasan terkini (Dok. STAPAKA)


Pendahuluan: Problematika Pelestarian Cagar Budaya

Yogyakarta dan Jawa Tengah telah mewarisi ratusan candi dari Kerajaan Mataran Kuno yang usianya lebih dari seribu tahun. Candi-candi yang sebagian besar ditemukan dalam keadaan runtuh dan tertimbun tanah itu sudah mendapat perhatian yang serius sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang. Banyak candi besar telah selesai dipugar hingga bisa berdiri megah, seperti Prambanan, Sewu, Kalasan, dan Borobudur. Sebagian lain masih dipugar, seperti Plaosan, Sojiwan, dan Ijo. Selain itu, hampir setiap tahun candi-candi terus bermunculan dari muka tanah.

Baca Lanjutannya…

Profesi-2Dari kiri ke kanan: Junus Satrio Atmodjo (IAAI), Restu Gunawan (MSI), Candrian Attahiyyat (moderator), Ahmad Djauhari (IAI), dan Idham Bachtiar Setiadi (AAI).

Selasa, 26 April 2016 lalu berlangsung diskusi bersama bertopik “Peran Organisasi Profesi dalam Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Perkotaan”. Para peserta terdiri atas Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Baca Lanjutannya…

Bungtomo-6Bangunan bersejarah yang sudah dirobohkan (Foto: kompas.com)

Sebuah rumah yang pernah digunakan oleh Bung Tomo—tokoh yang dihubungkan dengan Hari Pahlawan 10 November—untuk melakukan siaran radio kemerdekaan, tiba-tiba diketahui sudah rata dengan tanah. Mulanya para pemerhati sejarah yang mengungkapkan hal itu pada 3 Mei 2016 di media sosial. Rumah bersejarah itu berlokasi di Jalan Mawar 10-12, Surabaya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 8 Mei 2016

Prasasti Kranggan di Situs Kemuning

Kemuning-1Prasasti Kranggan

Desa merupakan pola permukiman yang penting bagi masyarakat sebagai pusat kegiatan sehari-hari. Toponimi (arti asal-usul kata) dari desa memiliki beberapa sebutan, seperti “dusun” dan “desi” (berasal dari kata swa-desi) yang memiliki padanan kata seperti halnya “negara”, “negeri”, “negari”, “nagari”, “negory” (berasal dari perkataan nagarom). Secara harfiah kata-kata tersebut berasal dari bahasa Sanskrit (Sansekerta), yang berarti tanah air, tanah asal, tanah kelahiran. Arti desa dengan cakupan luas adalah suatu kesatuan hukum, di mana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri (Kartohadikoesoemo, 1984: 15-16).

Baca Lanjutannya…

Romie-1Perdhikan lurah i wetan daha…Candi Surawana

Uraian Nāgarakrtāgama (Dĕsawarnnana) dalam Pupuh 61:2 memberikan penjelasan perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju ke selatan Blitar:
ndan ri çakha tri tanu rawi riɳ weçaka, çri natha muja mara ri palah sabhrtya, jambat siɳ ramya pinaraniran/ lanlitya, ri lwaɳ wentar mmanuri balitar mwaɳ jimbe (Kern 1919).

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 6 Mei 2016

Rumah Radio Bung Tomo Dirobohkan

Bungtomo-1Prasasti yang menyatakan rumah Pak Amin adalah bangunan cagar budaya

Sebuah rumah yang pernah digunakan oleh Bung Tomo untuk melakukan siaran radio kemerdekaan, tiba-tiba diketahui sudah rata dengan tanah pada 3 Mei 2016. Rumah bersejarah yang dikenal sebagai Rumah Radio Bung Tomo itu berlokasi di Jalan Mawar 10-12, Surabaya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 6 Mei 2016

Temuan Yoni di Dekat Rumah Bung Karno

Setiawan-03Yoni dengan cerat yang patah, mungkin disengaja atau terkena pacul

Akhir Mei 2014 lalu warga di Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri dihebohkan oleh penemuan sebuah Yoni. Sebelum diberitakan media elektronik, penemuan Yoni ini hanya terdengar santer di sekitar Desa Pojok. Walau letaknya agak jauh dari Kota Kediri, sekarang Desa Pojok termasuk desa yang ramai dikunjungi wisatawan, terutama oleh mereka yang ingin melihat Ndalem Pojok.

Baca Lanjutannya…

Pambudi-1Foto 01: Prasasti Kalasan Tahun 700 Saka (778 Masehi) Berisi Penghormatan Kepada Guru
(Foto oleh Santiko, 2012)


A. Pendahuluan

Sebutan raja pastinya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat. Sebutan itu, baik dalam dongeng maupun cerita rakyat, sering diucapkan untuk menyebut seorang tokoh pemimpin sebuah kerajaan. Dalam dongeng, misalnya, ada tokoh raja singa yang menguasai hutan rimba, serta dalam cerita rakyat ada Raja Aji Saka yang membawa aksara hanacaraka ke tanah Jawa dan Raja Angling Darma yang bisa berbahasa binatang. Selanjutnya di dalam sejarah juga dikenal istilah raja. Pada pelajaran sejarah mulai dari tingkat sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi, tokoh raja diceritakan sebagai pemimpin kerajaan yang bijaksana, yang memiliki banyak prajurit, menguasai daerah yang sangat luas, selalu melakukan peperangan demi menjaga kedaulatan wilayahnya dari tangan musuh-musuh yang ingin menguasainya, mendirikan tugu-tugu prasasti sebagai tanda kemenangan dan pencitraan namanya, mendirikan bangunan-bangunan suci yang disebut dengan istilah candi sebagai tempat pemujaan kepada para dewa, serta ada yang bilang bahwa raja itu memiliki banyak istri. Cerita tentang raja-raja memang sangat populer, bahkan pada masa akhir Majapahit terdapat sebuah naskah kuno berupa prosa (gancaran) yang menceritakan tentang raja-raja mulai dari masa awal Kerajaan Singhasari sampai akhir Kerajaan Majapahit bernama Naskah Pararaton. Namun dari beberapa peristiwa sejarah di dalam kehidupan raja hal-hal di atas itulah yang banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya di tanah Jawa.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.232 pengikut lainnya