Dieng-01Kompleks Candi Arjuna (Dok. Naufal)

Dieng merupakan kawasan dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Di daerah ini banyak ditemukan bangunan candi, baik yang masih utuh maupun tinggal reruntuhan. Pada masa Hindu-Buddha, Dieng merupakan kawasan peribadatan yang disucikan oleh masyarakat. Saat ini kawasan Dieng berkembang menjadi tujuan pariwisata. Daya tarik wisata utama di wilayah Dieng adalah bangunan candi, antara lain Kompleks Candi Arjuna, Candi Setyaki, Dharmasala, Gangsiran Aswatama, Candi Bima, Candi Dwarawati, Tuk Bimolukar, dan Watu Kelir.

Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: hurahura | 13 Oktober 2017

Arkeologi dan Kebencanaan

Tambora-01Gunung Tambora setelah meletus tahun 1815 (Sumber: Pratomo, 2015)

Saat ini Bali sedang banyak dibicarakan di berbagai media sosial, cetak, dan TV lokal maupun nasional pasca meningkatnya status Gunung Agung dari level “siaga” ke level “awas”. Artinya gunung yang telah tertidur selama 54 tahun ini mulai bangun kembali. Hal itu ditandai dengan turunnya hewan-hewan dari gunung, munculnya beberapa kali gempa kecil, dan tercium bau belerang. Menurut catatan Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pos pengamatan Gunungapi Agung tertanggal 25 September 2017 terjadi beberapa kali gempa yaitu vulkanik dangkal (75 kali), vulkanik dalam (72 kali), dan tektonik lokal (9 kali). Dengan begitu masyarakat dilarang beraktivitas di Zona Perkiraan Bahaya dalam radius 12 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung.

Baca Lanjutannya…

Gringsing-01

Kain Gringsing (Foto: Bella)

Bali Aga merupakan sebutan untuk masyarakat keturunan orang Bali asli yang belum mendapat pengaruh Majapahit dan belum tercampur oleh klen lain. Sistem pemerintahan desa adat Tenganan diatur dalam aweg-aweg desa yang wajib ditaati oleh seluruh masyarakat desa adat. Aweg-aweg mengatur kehidupan masyarakat Bali Aga, Desa Tenganan Pegringsingan, sesuai konsep Tri Hita Karana. Ini dimaksudkan agar dalam kehidupan masyarakat terwujud keselarasan dan keharmonisan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam serta hubungan antara manusia dan manusia lainnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 September 2017

Tulisan Arkeologi dapat Anugerah Jurnalistik

Anugerah-02Memperoleh Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin dari PWI Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta (Foto: istimewa)

Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin yang merupakan kerja sama Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta Raya (PWI Jaya) dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta digelar Rabu, 20 September 2017. Tahun ini kegiatan tersebut merupakan yang ke-43 kali.

Baca Lanjutannya…

Prambanan-perpusnasIlustrasi: Candi Prambanan (Sumber: candi.perpusnas.go.id)

Dusun Glondong, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, merupakan salah satu desa budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Desa Tirtomartani terdapat peninggalan arkeologi dari masa Hindu Buddha, tepatnya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Peninggalan tersebut berupa Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Kedulan. Selain ketiga candi tersebut, Desa Tirtomartani terletak dekat dengan Kompleks Candi Prambanan. Keberadaan candi atau bangunan arkeologis yang ada di masyarakat biasanya dihubungkan dengan kisah-kisah legenda.

Baca Lanjutannya…

Joglo_0001Ilustrasi: Rumah Joglo (Sumber: Rumah Tradisional Jawa, Museum Nasional, 1985) 


Pendahuluan

Rumah merupakan salah satu dari tiga kebutuhan utama dalam kehidupan. Demikan bagi masyarakat Jawa, rumah adalah tempat tinggal dengan salah satu tujuan hidup idealnya (Ronald 1990, 185). Rumah sendiri memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Arti penting ini dapat ditelusuri dari filosofi orang Jawa sendiri yaitu, sandhang, pangan, dan papan. Ketiga unsur tersebut diartikan sebagai pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Sebagai kebutuhan utama ketiga setelah pakaian dan makanan, tempat tinggal menentukan nyaman atau tidaknya sebuah keluarga (Wibowo 1998, 25).

Baca Lanjutannya…

Tirtha-empulTirtha Empul (Sumber: Ardika, 2016)

Tirtha Empul (tirtha = air) merupakan salah satu warisan budaya Bali Kuna yang masih bertahan hingga saat ini. Keberadaannya memberikan berkah bagi masyarakat sekitar maupun pemerintah daerah. Kunjungan wisatawan ke Tirtha Empul dapat dikatakan cukup banyak dibandingkan objek wisata lainnya di Bali. Bagi mereka yang berkunjung ke Bali, tidak afdol apabila tidak menyambangi Pura Tirtha Empul.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 11 Agustus 2017

Arkeologi dan Politik Identitas

Balar-sumsel-01Ekskavasi (penggalian) arkeologi di Bukit Siguntang oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Foto: Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Juli 2017 lalu publik dihebohkan oleh besarnya pemberitaan yang berhubungan dengan disiplin Arkeologi. Media-media online, cetak, dan media sosial dijejali berita yang menjadi viral itu, yaitu tentang Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit.

Baca Lanjutannya…

Harry-03Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dr. Harry Widianto (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Benarkah Gajah Mada beragama Islam sebagaimana viral di media sosial? Agus mempertanyakan apa dasarnya. Menurut data tertulis dipercaya Gajah Mada beragama Buddha. Kitab Nagarakretagama menyebutkan setelah pensiun, Gajah Mada dihadiahi tanah Kasogatan (Kebuddhaan) yang bernama Madakaripura. Saat ini Madakaripura terkenal sebagai objek wisata air terjun di sekitar Pasuruan-Ponorogo.

Baca Lanjutannya…

Hilmar-diskusiDiskusi Terpumpun tentang Sejarah Kerajaan Majapahit (Foto: Djulianto Susantio)

Kerajaan Majapahit jelas bercorak Hindu dan Buddha, bukan Islam. Memang di sekitar Trowulan pernah ditemukan beberapa nisan Islam, yang tertua bertarikh 1203 Masehi. Namun bukti Islam dalam kenegaraan tidak ada. Demikian Dr. Hasan Djafar, pensiunan pengajar arkeologi UI, dalam Diskusi Terpumpun tentang “Sejarah Kerajaan Majapahit” oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kamis, 22 Juni 2017. Diskusi dipandu oleh Dr. Harry Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Tembikar dan Upacara Religi  

Kendi-03Pecahan gerabah/tembikar bisa menjadi data arkeologi (Foto: Djulianto Susantio)

Menurut laman wikipedia, tembikar dibuat dengan membentuk tanah liat menjadi suatu objek. Tembikar memiliki perbedaan dengan gerabah sebagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Dikatakan tembikar adalah barang dari tanah liat yang dibakar dan berlapis gilap (pengkilap). Fungsi tembikar yang utama adalah sebagai aksesoris atau penghias ruangan karena memiliki nilai estetika yang tinggi. Berbeda dengan tembikar, gerabah hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan. Jadi, tembikar dan gerabah hanya memiliki perbedaan dalam fungsinya. Secara bahan baku keduanya sama.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 22 Mei 2017

Penggunaan Tembikar dalam Upacara Keagamaan

Kendi-02Kendi dari tanah liat koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik (Foto: Djulianto Susantio)

Tembikar merupakan salah satu artefak yang ditemukan di situs masa prasejarah maupun masa klasik (Hindu-Buddha). Temuan tembikar di suatu situs berupa fragmen atau bentuk utuh. Melalui data artefaktual itu para arkeolog dapat menganalisis bentuk dan fungsinya pada masa lampau. Menurut Sumijati Atmosudiro (1994: 1) tembikar sebagai budaya materi diciptakan manusia dari bahan tanah liat, dikerjakan melalui proses yang saling berkaitan dan berurutan.

Baca Lanjutannya…

Artikel-06Beberapa lemari terlalu tinggi sehingga pengunjung sulit mengamati detil bagian atas

Belum banyak orang tahu keberadaan tempat ini. Maklum baru diresmikan pada 13 Maret 2017 lalu. Begitu orang masuk ke dalam, yang tersaji adalah benda-benda yang kelihatannya kurang menarik. Namun siapa sangka benda-benda tersebut bernilai ilmu pengetahuan tinggi.

Baca Lanjutannya…

Wayang-01Wayang umpet koleksi Museum Nasional (Sumber: Katalog Pameran Wayang Merentang Zaman)

Sebelum berbicara mengenai persebaran wayang di Indonesia, kiranya perlu diselidiki terlebih dahulu mengenai asal-usul pertunjukan wayang. Menurut James R. Brandon, wayang timbul akibat tradisi pemujaan kuno yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Menurutnya, pada manusia lama di Jawa (Pra Islam) yang belum diketahui secara pasti waktu munculnya, sudah terdapat tanda-tanda adanya pertunjukan dengan bayang-bayang selayaknya wayang sekarang. Diungkapkaan juga oleh Brandon, bahwasanya kesenian ini mulanya berasal dari dataran Asia Tengah lalu menyebar ke India, Tiongkok, dan Asia Tenggara (Marsono, 1991, hal. 3).

Baca Lanjutannya…

Batujaya-01Candi Segaran I (Candi Jiwa) setelah dipugar, kondisi 2003 (Foto: Hasan Djafar)

Candi adalah hasil budaya berupa bangunan yang berkembang di Indonesia pada masa klasik (Hindu-Buddha). Pengaruh budaya India yang membawa agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia abad ke-5 dengan ditemukannya Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Berdasarkan paleografi (huruf dan bahasa) para ahli arkeologi yang mendalami epigrafi berpendapat bahwa prasasti tersebut berasal dari abad ke-5 Masehi. Menurut Poerbatjaraka (1952), Prasasti Yupa merupakan sumber tertua mengenai kerajaan bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia. Menurut Endang Sri Hardiati dalam Renville Siagian (2001: 1), perkembangan budaya India di Indonesia mulai pada abad ke-5 Masehi dengan ditemukannya prasasti berhuruf Pallawa dan Bahasa Sanskerta di Muarakaman, Kalimantan Timur dan Bogor, Jawa Barat. Tetapi bangunan peninggalan arsitektural yang berupa bangunan monumental baru mulai abad ke-8 Masehi.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori