Suwardono-malang-02Punden Joko Lola (letaknya ±150 m di sebelah timur Sumur Windu). Dilihat dari timur laut (Dokpri)


Abstrak

Polowijen adalah sebuah wilayah Kelurahan, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Blimbing Kota Malang. Di Polowijen terdapat beberapa tempat yang dianggap keramat yang dapat dihubugan dengan sejarah masa lampau Polowijen. Jejak-jejak arkeologis tersebut dapat ditelusuri dan dapat dikorelasikan dengan naskah kuna, prasasti, maupun cerita tutur masyarakat Polowijen. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan historis dan etnoarkeologi berkenaan dengan data situs dan pola pemanfaatan benda tinggalan.

Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: hurahura | 7 Desember 2017

Cagar Budaya dan Pariwisata Budaya

MelukatKegiatan Melukat pada Situs Tirta Empul (Foto: Jofel E Malonda)

Perkembangan Iptek, komunikasi, dan transportasi menjadi penyebab tingginya interaksi sosial yang berdampak pada kemudahan dalam pertukaran kebudayaan. Bali memiliki keistimewaan yaitu kebudayaannya masih kental menjadi daya tarik wisata untuk berinteraksi secara langsung dengan kebudayaan tersebut. Perbedaan dan otentisitas kebudayaan menjadi target dalam pariwisata budaya.

Baca Lanjutannya…

Kamalagyan-1Prasasti Kamalagyan (Sumber: situsbudaya.id)

Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, menurut sumber sejarah arsip kolonial Belanda, merupakan sebuah wilayah bernama ‘Sidokare’, bagian dari Kabupaten Surabaya. Berdasarkan Keputusan Pemerintah Netherland Indies No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Empat bulan kemudian, yaitu tanggal 28 Mei1859, nama Kabupaten Sidokare, diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo. Dengan demikian Hari Jadi Pemerintahan Sidoarjo dapat diambil tanggal 31 Januari atau tanggal 28 Mei.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 18 November 2017

Di Candi Gumpung Pernah Ditemukan Arca Prajnaparamita

Gumpungku-1Candi Gumpung (Foto: Djulianto Susantio)

Dari kejauhan candi itu terlihat anggun. Warnanya merah, menandakan berbahan bata. Rupanya candi itu sudah dipugar karena bentuknya sudah tidak berantakan lagi.

Baca Lanjutannya…

Soekmono-satyawati-1R. Soekmono (kiri) dan Satyawati Suleiman (kanan)/Foto diambil dari panel pameran Kedatuan Sriwijaya di Museum Nasional

Generasi “zaman now” mungkin belum mengenal nama R. Soekmono dan Satyawati Suleiman. Mereka berdua adalah arkeolog-arkeolog pertama, sama-sama lulus dari Universitas Indonesia (UI) pada 1953. R. Soekmono arkeolog pertama secara keseluruhan, sementara Satyawati Suleiman, perempuan pertama yang menjadi arkeolog. Soekmono menulis skripsi Candi Merak, sementara Satyawati Suleiman tentang Candi Penataran.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 5 November 2017

Mengenal Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh

BPCB-01Kantor BPCB Aceh 

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) bertugas melaksanakan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya dan yang diduga cagar budaya yang berada di wilayah kerjanya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 28 Oktober 2017

Pribumi dalam Lensa Arkeologi

Sangiranku-04Ilustrasi: Kehidupan manusia purba di Museum Sangiran (Foto: Djulianto Susantio)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pribumi adalah penghuni asli, yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Menjadi sebuah pertanyaan umum bahwa penghusi asli Indonesia itu seperti apa atau siapa? Bangsa Indonesia terdiri atas beragam suku, adat-istiadat, hasil karya, kepercayaan bahkan perbedaan fisik manusia pendukungnya. Keberagaman ini dan banyaknya sudut pandang masyarakat dalam memahami kata “pribumi” membuat kata tersebut menjadi bias. Arkeologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lampau secara khusus memiliki tanggung jawab untuk membantu menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan melalui pernyataan “pribumi” tersebut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 28 Oktober 2017

Kolonisasi Austronesia ke Wilayah Banyuwangi

Evolusi-sangiran-1

Ilustrasi: evolusi manusia purba di Museum Sangiran (Dok. Djulianto Susantio)

Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi magnet tersendiri bagi siapa pun. Setahun terakhir ketika terjadi kontestasi politik, banyak hal menarik untuk dibahas, mulai dari wayang kulit hingga dikotomi antara pribumi dan nonpribumi. Meski kontestasi itu sudah berakhir dan pemimpin baru resmi dilantik, rupanya Jakarta masih menyisakan tanya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 21 Oktober 2017

Peran Epigrafi untuk Menyusun Sejarah Indonesia

Prasasti-harinjing-2Ilustrasi: Prasasti Harinjing (Koleksi Museum Nasional)

Sejak kajian sejarah Indonesia populer di kalangan para peneliti Eropa, prasasti sudah menempati posisi penting untuk menyusun gambaran lengkap mengenai sejarah Indonesia. Terutama tentang sejarah kuno (klasik) karena mayoritas prasasti yang ditemukan mewakili masa itu. Menjadi suatu keniscayaan jika dalam penyusunan sejarah secara lengkap pasti mempergunakan prasasti yang merupakan bukti sejarah otentik. Patut disadari bahwa hingga saat ini kajian epigrafi sangat identik dengan sejarah kuno, bahkan banyak yang menyamakan kajian ini dengan kajian sejarah kuno. Satu hal lagi adalah terjadinya pengkhususan kajian epigrafi yang hanya dilakukan oleh para arkeolog. Meskipun ada istilah lain untuk ahli epigrafi, yaitu epigraf, akibatnya arkeolog yang mengkhususkan minat untuk meneliti prasasti juga disebut  epigraf.

Baca Lanjutannya…

Dieng-01Kompleks Candi Arjuna (Dok. Naufal)

Dieng merupakan kawasan dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Di daerah ini banyak ditemukan bangunan candi, baik yang masih utuh maupun tinggal reruntuhan. Pada masa Hindu-Buddha, Dieng merupakan kawasan peribadatan yang disucikan oleh masyarakat. Saat ini kawasan Dieng berkembang menjadi tujuan pariwisata. Daya tarik wisata utama di wilayah Dieng adalah bangunan candi, antara lain Kompleks Candi Arjuna, Candi Setyaki, Dharmasala, Gangsiran Aswatama, Candi Bima, Candi Dwarawati, Tuk Bimolukar, dan Watu Kelir.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 13 Oktober 2017

Arkeologi dan Kebencanaan

Tambora-01Gunung Tambora setelah meletus tahun 1815 (Sumber: Pratomo, 2015)

Saat ini Bali sedang banyak dibicarakan di berbagai media sosial, cetak, dan TV lokal maupun nasional pasca meningkatnya status Gunung Agung dari level “siaga” ke level “awas”. Artinya gunung yang telah tertidur selama 54 tahun ini mulai bangun kembali. Hal itu ditandai dengan turunnya hewan-hewan dari gunung, munculnya beberapa kali gempa kecil, dan tercium bau belerang. Menurut catatan Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pos pengamatan Gunungapi Agung tertanggal 25 September 2017 terjadi beberapa kali gempa yaitu vulkanik dangkal (75 kali), vulkanik dalam (72 kali), dan tektonik lokal (9 kali). Dengan begitu masyarakat dilarang beraktivitas di Zona Perkiraan Bahaya dalam radius 12 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung.

Baca Lanjutannya…

Gringsing-01

Kain Gringsing (Foto: Bella)

Bali Aga merupakan sebutan untuk masyarakat keturunan orang Bali asli yang belum mendapat pengaruh Majapahit dan belum tercampur oleh klen lain. Sistem pemerintahan desa adat Tenganan diatur dalam aweg-aweg desa yang wajib ditaati oleh seluruh masyarakat desa adat. Aweg-aweg mengatur kehidupan masyarakat Bali Aga, Desa Tenganan Pegringsingan, sesuai konsep Tri Hita Karana. Ini dimaksudkan agar dalam kehidupan masyarakat terwujud keselarasan dan keharmonisan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam serta hubungan antara manusia dan manusia lainnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: hurahura | 23 September 2017

Tulisan Arkeologi dapat Anugerah Jurnalistik

Anugerah-02Memperoleh Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin dari PWI Jaya bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta (Foto: istimewa)

Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin yang merupakan kerja sama Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta Raya (PWI Jaya) dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta digelar Rabu, 20 September 2017. Tahun ini kegiatan tersebut merupakan yang ke-43 kali.

Baca Lanjutannya…

Prambanan-perpusnasIlustrasi: Candi Prambanan (Sumber: candi.perpusnas.go.id)

Dusun Glondong, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, merupakan salah satu desa budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Desa Tirtomartani terdapat peninggalan arkeologi dari masa Hindu Buddha, tepatnya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Peninggalan tersebut berupa Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Kedulan. Selain ketiga candi tersebut, Desa Tirtomartani terletak dekat dengan Kompleks Candi Prambanan. Keberadaan candi atau bangunan arkeologis yang ada di masyarakat biasanya dihubungkan dengan kisah-kisah legenda.

Baca Lanjutannya…

Joglo_0001Ilustrasi: Rumah Joglo (Sumber: Rumah Tradisional Jawa, Museum Nasional, 1985) 


Pendahuluan

Rumah merupakan salah satu dari tiga kebutuhan utama dalam kehidupan. Demikan bagi masyarakat Jawa, rumah adalah tempat tinggal dengan salah satu tujuan hidup idealnya (Ronald 1990, 185). Rumah sendiri memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Arti penting ini dapat ditelusuri dari filosofi orang Jawa sendiri yaitu, sandhang, pangan, dan papan. Ketiga unsur tersebut diartikan sebagai pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Sebagai kebutuhan utama ketiga setelah pakaian dan makanan, tempat tinggal menentukan nyaman atau tidaknya sebuah keluarga (Wibowo 1998, 25).

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori