Oleh: hurahura | 22 Desember 2017

Bangunan Kolonial di Pasuruan

Pasuruan-1Rumah Singa yang masih utuh, hanya sudah beralih tangan dari keluarga Han (Dokpri)

Kabupaten Pasuruan di Jawa Timur berada di pesisir utara Pulau Jawa. Letak yang cukup strategis dengan adanya pelabuhan, merupakan salah satu faktor pendukung munculnya kolonialisasi di Jawa Timur. Selain itu adanya akses menuju ke beberapa Kota/Kabupaten di Jawa Timur terutama Surabaya, mempermudah komunikasi dengan pemerintah Belanda pada waktu itu.

Munculnya Kabupaten Pasuruan selain didukung lokasi strategis dan pelabuhan juga adanya koloni Inggris yang sudah menempati beberapa titik strategis. Benteng De Wilde yang kemudian berubah menjadi Fort Rijstvelden merupakan tonggak awal masyarakat Belanda mulai melakukan ekspansi ke Pasuruan. Kolonialisasi Belanda di Pasuruan dimulai pada 1707 ketika kongsi dagang Vereniging Oost-Indie Compagnie atau VOC mulai melirik Pasuruan dengan segala sumber daya alam yang dimiliki.


Menyehatkan

Dalam laporan petualang dan tentara Inggris dijelaskan Pasuruan merupakan tempat yang cocok dan didukung dengan kondisi yang menyehatkan. Hal inilah yang membuat pendirian rumah residen dan beberapa bangunan pendukung lain dimulai segera dilaksanakan pada 1811 (Donald Macline Champbell, 1915; 497).

Seiring dengan perkembangan waktu dan munculnya industri di bidang perkebunan tebu, Pasuruan dilirik oleh beberapa pengusaha, terlebih Eropa dan Tionghoa. Latar belakang masuknya pengusaha ini adalah kebijakan cultuurestelsel yang digalakkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa pemerintahan Graff Johanees van den Bosch. Ketika itu banyak sekali bermunculan perkebunan tebu dan pabrik gula di Indonesia, salah satunya Pasuruan.

Pasuruan sendiri sampai saat ini dikenal dengan surganya pabrik gula, meskipun banyak yang sudah mati bahkan dibongkar pada masa Clas II oleh pejuang Indonesia demi mencegah alih fungsi oleh tentara Belanda. Beberapa pabrik yang pernah berdiri di Kabupaten Pasuruan didasarkan atas arsip Lijst Van Naamlooze Venootschappen 1891 in Nedherlandsch-Indie antara lain Maatschappij tot exploitatie der Suikerfabriek Sempal Wadak, Koffiecultuur Maatschappij Soember Djero, Koffiecultuur Maatschappij Donowari, Cultuur Maatschappij Madoeardjo, Cultuur Maatschappij Kali Bakar,  dan Maatschappij tot Exploitatie van het land Wonokoijo.

Adanya perusahaan dan lokasi yang strategis ini mendorong Belanda banyak mendirikan bangunan di sekitar alun-alun Kota Pasuruan dengan tujuan sebagai tempat tinggal masyarakat Eropa, Tionghoa serta sarana dan prasarana pendukung lainya. Bangunan-bangunan yang berdiri beraliran Indische Empire banyak ditemui di beberapa sudut kota, di antaranya Societeiet Harmonie dan rumah milik keluarga Han dan Kwee atau biasa disebut rumah singa. Juga beberapa bangunan lain di sekitar alun-alun dan Jalan MT Haryono atau kawasan Pecinan Pasuruan.

Pasuruan-2

Rumah keluarga Kwee yang beralih fungsi menjadi Gedung Yayasan Pancasila (Dokpri) 


Dampak pelestarian

Dalam buku Preservation and Conservation, Eko Budihardjo menjelaskan bahwa pelestarian tidak hanya fokus terhadap upaya perlindungan akan tetapi juga cara untuk memfungsikan bangunan kuno sesuai perkembangan zaman dan sesuai dengan kaidah yang berlaku (Eko Budihardjo, 1997; 26). Pengetahuan inilah yang menyebabkan rumah singa dan Yayasan Pancasila dalam kondisi utuh. Kondisi yang sama terjadi pada beberapa bangunan lain, yakni pada bangunan Societeit Harmonie dan sebuah villa bertuliskan Villa NGO.

Dampak dari pelestarian yang dilakukan oleh pemilik rumah di Pasuruan ternyata cukup besar, yakni menarik minat para peneliti dari luar negeri untuk mencoba menelisik bagian demi bagian sudut kota Pasuruan. Dalam pelestariannya, beberapa rumah ada yang dialihfungsikan dan beberapa sudah beralih kepemilikan. Akan tetapi dalam realisasinya tidak mengalami perubahan yang cukup berarti karena beberapa bangunan dipertahankan keasliannya oleh pemilik saat ini.

Rumah Singa dan Gedung Yayasan Pancasila merupakan contoh pelestarian yang dapat dikatakan utuh. Mereka hanya melakukan perbaikan pada beberapa titik, mengacu pada UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Saat ini  pelestarian bangunan kuno bersejarah di Pasuruan dapat dikatakan cukup memuaskan, meskipun sebagian besar bangunan kuno di pusat kota belum mendapat perhatian khusus.


Daftar Pustaka

  • Anonim, 1915. Lijst van Ondernemimngen Nedherlandsch-Indie. Batavia: Landslukkerij.
  • Anonim, 1892. Lijst van Naamlooze Venootschappen in 1891. Nederlandsch-Indie.
  • Budihardjo, Eko (ed). 1997. Preservation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Maclaine Campbell, Donald. 1915. Java; Past & Present. London: William Heinemann.
  • Knight Robert. G, 2014. Sugar, Steam and Steel: The Industrial Porject in Colonial Java 1830-1885. South Australia: University Adelaide Press.
  • UU No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

**********

Penulis: Ibnu Rustamaji

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: