Oleh: hurahura | 16 Januari 2017

Gua Putri dan Si Pahit Lidah

guaputri-01Gua Putri (Dok. BPCB Jambi)

Pulau Sumatera bagian utara kaya akan gua-gua kuno. Penelitian terhadap artefak ini pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan di Situs Loyang Mendale. Ketika itu ditemukan situs hunian manusia, berkisar antara 3.580-1.740 BP. Di gua ini juga ditemukan kerangka-kerangka yang dikubur dengan konsep religi yang berkaitan dengan matahari. Arah hadap kerangka tersebut berorientasi ke timur (Wiradnyana, 2011: 134-135).

Di bagian lain Sumatera, gua prasejarah terdapat di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Namanya Gua Putri. Gua Putri merupakan gabungan antara cave dan ceruk paying (rock shelter). Bentuk seperti ini memberi kebebasan dan keuntungan, antara lain keleluasan bergerak dan sirkulasi udara yang baik.

Bentuk permukaan tanah pada gua sangat lebar (10,70 meter), dengan dinding-dindingnya yang mencekung, sementara langit-langit gua membentuk kubah. Tampak beberapa stalaktit-stalakmit menyatu di gua tersebut. Mulut gua memiliki tinggi 5 meter dan panjang gua sekitar 350 meter dengan lorong yang berkelok-kelok.

Di dalam gua terdapat Sungai Semohon dengan lebar sekitar 1-1,5 meter, kedalaman 0,5-2 meter. Airnya bening dan mengalir tenang. Masyarakat setempat percaya, dulu sungai tersebut tempat mandi putri yang cantik, yang menolak cinta Si Pahit Lidah sehingga dia dikutuk menjadi batu. Gua Putri memiliki dua pintu masuk yang resmi dibuka, disebut sisi depan dan sisi belakang.


Alat batu

Di Gua Putri terdapat sisa aktivitas manusia berupa temuan alat batu berbentuk rijang. Dari segi teknologinya berupa kapak perimbas alat batu masif yang dipangkas secara monofasial.

Batuan yang dimanfaatkan dalam pembuatan alat cukup beragam, namun yang paling menonjol adalah rijang (chert). Jenis lainnya seperti obsidian, kalsedon, dan batu gamping juga dimanfaatkan.

Rijang sebagai bahan dasar merupakan jenis batuan. Batu ini mudah dipangkas dan dibentuk, dengan serpihan yang cenderung mempunyai sisi yang tajam. Jenis batuan ini sangat umum digunakan dalam industri alat batu prasejarah. Sedangkan jenis batuan kalsedon dan obisidan sangat jarang ditemukan. Karena kesulitan memperoleh bahan baku, batu gamping kersikan yang dirasa cukup lunak dibandingkan rijang, tampaknya dimanfaatkan untuk pembuatan alat.

Berdasarkan warna, terdapat empat kelompok gamping kersikan, yakni berwarna keputih-putihan dan berbutir halus, berwarna abu-abu coklat tua dan berbutir kasar, berwarna abu-abu berbutir kasar, dan berwarna coklat susu.


Daftar Pustaka

Forestier, Hubert. 2007. “Les eclats du passe prehistorique de Sumatra: une tres longue histoire des techniques,” Archipel, Archeologie a sumatra, 74: 15-44.

Indriastuti, Kristantina. 2001. Laporan Penelitian Eksplorasi Situs Gua Putri dan Sekitarnya di Desa Padang Bindu Kec. Semidang Aji, Kab. Ogan Komering Ulu. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata. Palembang: Pusat Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Palembang.

_______. 2004. Laporan Penelitian Arkeologi Pola Subsistensi Pendukung Situs Goa Putri, Desa Padang Bindu, Kec, Semidang Aji, Kab. OKU. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Palembang: Balai Penelitian Arkeologi Palembang.

_______. 2008. Laporan Penelitian Arkeologi Pola Permukiman Situs Gua Putri Sektor GP I Desa Padang Bindu, Kec. Semidang Aji. Kab. OKU. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.

Intan S, M Fadlan. 2015. “Geologi Gua Karst Komering, Kabupaten Oku Selatan, Provinsi Sumatera Selatan,” Jurnal Arkeologi Siddhayatra, volume 20 (1): hal 10- 33.

Sofian, Harry Octavianus. 2011. “ Situs Hunian Gua di Kawasan Pergunungan Karst Bukit Barisan, Wilayah Provinsi Sumatera Selatan,” Jurnal Arkeologi Siddhayatra volume 16 (2): 1-21.

_______. 2012. “Survei Arkeologis Potensi Gua di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012,” Jurnal Arkeologi Siddhayatra volume 17 (2): 1-11.

Wiradnyana, Ketut. 2011. Prasejarah Sumatra Bagian Utara: Kontribusinya pada Kebudayaan Kini. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

**********

Penulis: Kurnia Sandi
Jurusan Arkeologi Universitas Jambi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: