Oleh: hurahura | 3 April 2018

Apresiasi dan Makna Kisah Mahabharata dalam Masyarakat Jawa Kuno*

Jalatunda-liputan6Warga mengambil air yang memancur dari Petirtaan Jolotundo di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur (Zainul Arifin/Liputan6.com)


/1/ Pengantar

Bersama dengan kitab Ramayana, Mahabharata adalah kitab epos dari India yang dikenal meluas di Nusantara dan Asia Tenggara. Di kepulauan Nusantara kedua kisah itu diapresiasi oleh masyarakat hingga sekarang, terutama di wilayah-wilayah yang pernah dipengaruhi budaya India secara mendalam, yaitu di Jawa dan Bali. Kedua kitab tersebut sebenarnya tergolong kitab keagamaan yang mengisahkan kepahlawanan tokoh-tokohnya yang sesungguhnya adalah jelmaan dewa, atau pengejawantahan dewa-dewa di alam dunia nyata, alam manusia.

Para jelmaan dewa itu bertingkah laku dan bergaul dengan tokoh-tokoh manusia dan raksasa, membuat kisah kegemilangan atau kekalahan di medan perang.  Hampir sepanjang uraiannya Ramayana dan Mahabharata memberitakan tentang kewiraan para tokohnya, para pahlawan jelmaan dewa, oleh karena itu kedua kitab tersebut digolongkan sebagai epik suci yang senantiasa dikisahkan secara berulang oleh para pemeluk agama Hindu.

Kitab Ramayana dan Mahabharata digubah dalam lingkup kebudayaan India kuno, namun sampai sekarang kedua epos besar tersebut tetap dianggap  sebagai kisah nasional bangsa India. Kitab Mahabharata  kepopulerannya melebihi kitab-kitab lainnya dalam kebudayaan India apalagi  kitab itu dilengkapi dengan narasi Bhagavad Gita yang berisikan ajaran nasional bagi pengembangan India (Nivedita & Ananda K.Coomaraswamy 1994: 118).

Kedua kitab itu tetap dihormati dalam tradisi keagamaan yang lazim dinamakan dengan pemujaan dewa-dewa personifikasi kekuatan alam. Ramayana dan Mahabharata telah dikenal sejak awal kaum Arya menetap di daerah India utara dan mengembangkan peradabannya. Mereka lalu menciptakan berbagai lembaga yang mengatur kehidupan masyarakatnya antara lain sistem kerajaan, pendidikan, perekonomian, penataan sosial, dan juga memperdalam kehidupan religi mereka. Religi mereka sebenarnya adalah akumulasi pemujaan terhadap kekuatan alam, kekuatan supernatural, pengalaman sejarah yang dirangkai dengan peperangan dan pengembaraan, serta personifikasi terhadap kekuatan alam. Demikianlah kedua karya sastra epik tersebut terlahir di tengah-tengah kebudayaan yang hampir seluruhnya didominasi oleh kepercayaan serba religi. Oleh karena itu di dalam uraian keduanya sarat dengan tema-tema dan ajaran keagamaan, sifat baik dan buruk manusia, sikap perwira, berbakti dan pasrah kepada dewata, atau upaya yang ekstrim demi mencapai apa yang dicita-citakan oleh seseorang.

Dalam masa Jawa kuno (abad ke-8—15 M) berdasarkan data artefaktualnya dapat diketahui bahwa kisah Mahabharata lebih banyak diapresiasi dalam berbagai bentuk kebudayaan materi. Kisah Ramayana tetap diapresiasi namun tidak sebanyak penggambaran kisah Mahabharata. Tokoh-tokoh Mahabharata banyak dikenal dan idolakan oleh masyarakat Jawa sejak masa silam hingga masa sekarang, mungkin karena memang banyak tokoh baik dengan beragam wataknya, sedangkan dalam kisah Ramayana yang menjadi figur sentral kebajikan hanya kepada Rama, Sinta, Laksmana, dan Wibhisana adik Rahwana.

Ramayana tidak begitu populer dalam masa Jawa Kuno karena mungkin dianggap kisah yang terlalu mitos, terbukti adanya tokoh-tokoh hewan (monyet dan burung) yang diuraikan berperilaku sama dengan manusia, mempunyai kerajaan, hulubalang, tentara, dan hadirnya para bidadari.  Cerita Ramayana agaknya dipandang jauh lebih sakral daripada Mahabharata, karena tokoh utamanya adalah salah satu dewa Trimurtti itu sendiri, yaitu Wisnu yang menjadi Rama anak raja Ayodhya. Setting kisah Ramayana juga agak sukar untuk disesuaikan dengan kondisi geografis Jawadwipa, sehingga sedikit upaya nenek moyang orang Jawa “memindahkan kisah” Ramayana ke tanah Jawa. Bagi masyarakat Jawa Kuno bahkan sampai sekarang, kisah Mahabharata dipandang terjadi di Tanah Jawa sendiri, bukan di negeri India yang jauh di atas angin. Masyarakat Jawa Tengah bagian tengah masih percaya bahwa Kerajaan Indraprastha, Hastinapura, Magadha, dahulu berada di sekitar dataran tinggi Dieng, oleh karena itu sampai sekarang masih terdapat candi-candi kuno, tembok batu, saluran air, mata air dan lainnya  di dataran tinggi Dieng yang kemudian  dihubung-hubungkan dengan epos tersebut.

Lain halnya dengan masyarakat Jawa bagian timur yang masih mengenal adanya Gunung Arjuno sebagai gunung tempat  Arjuna bertapa dalam kisah Mahabharata, adanya Gunung Semeru (Sumeru) dan Gunung Pawitra (Penanggungan) sebagai tubuh dan puncak Mahameru yang telah dipindah ke Jawa, demikian  yang diuraikan dalam kitab Tantu Panggelaran (awal abad ke-16 M) Gunung Mahameru sangat dikenal dalam kisah Mahabharata, sebagai tempat tujuan akhir para Pandawa ketika akan menemui ajalnya, dalam kisah wayang  Jawa dikenal dengan Pandawa Seda.

Sebelum membahas lebih lanjut kisah Mahabharata, sebaiknya diperhatikan terlebih dahulu perbandingannya dengan Ramayana. Beberapa data penting dari berbagai sumber yang berkenaan dengan kedua karya sastra tersebut tersaji pada Tabel I berikut ini:

TABEL I: Perbandingan data Epos Ramayana dan Mahabharata

DATA RAMAYANA MAHABHARATA
Penggubah awal Walmiki Wyasa Krsnadwipayana
Awal penciptaan 400-300 SM—200 M 400 SM—400 M
Jumlah bagian kisah 7 Kanda (Bala-, Ayodhya-, Aranyaka-, Kiskindha-, Sundara-, Yuddha-, dan Uttarakanda), terdiri dari 24 ribu bait, 500 pupuh (sargga) 18 Parwa, terbagi menjadi 100.000 bait, kisah utama terdiri dari 24.000 bait.
Sifat Uraian Kisah tunggal Banyak kisah
Dewa yang dipuja Wisnu Siwa Mahadewa
Tokoh Utama Rama avatara Wisnu Para Pandawa: manusia yang dikaruniai enerji kedewataan
Tema dasar Epos-romantis Epos-kekuasaan
Tokoh hewan Subali, Sugriwa, Hanuman dan para ksatrya monyet lainnya Tidak ada tokoh hewan yang berperan dalam cerita
Kerajaan yang terlibat dalam kisah Ayodhya, Kiskindha, dan Alengka Banyak kerajaan: Hastinapura, Indraprastha, Dwaraka (Dwarawati), Pancala, Wirata, Magadha, Nisadha, Cedi, Mandura, dll.

Demikian beberapa data hasil perbandingan ringkas antara dua epos besar tersebut yang dikenal dalam masyarakat Jawa Kuno. Ternyata dalam bentuk visual relief candi-candi kisah Mahabharata jauh lebih banyak dipahatkan daripada kisah Ramayana. Gambaran data arkeologis tentang epos Mahabharata dibahas dalam bagian berikut dari risalah ini.


/2/ Fragmen kisah Mahabharata dalam bentuk Relief Candi

Dalam bentuk peninggalan kebudayaan materi yang bersifat fisik, kisah Mahabharata diwujudkan dalam bentuk naskah lontar, penggambaran relief, dan juga tokoh-tokohnya dalam bentuk arca. Hanya beberapa naskah parwa Mahabharata versi Jawa Kuno  yang berhasil disalin ulang di Bali. Dalam naskah Adiparwa disebutkan nama raja Dharmmawangsa Tguh yang memerintah di Jawa, begitupun dalam uraian Wirataparwa disebutkan nama Prabhu Dharmmawangsa Teguh dan angka tahun 918 Saka (996 M) (Poerbatjaraka 1957: 8—9). Angka tahun tersebut memang berada dalam kisaran pemerintahan raja Dharmmawangsa Tguh (991—1016 M)  di Jawa Timur.

Jadi dapat diperkirakan sejauh ini bahwa naskah Mahabharata Jawa Kuno digubah pada akhir abad ke-10. Hal itu ternyata didukung dengan data arkeologis yang ditemukan di pemandian kuno Jalatunda di lereng barat Gunung Penanggungan. Pada masa Jawa Kuno, penggambaran kisah Mahabharata dapat diwujudkan dalam bentuk relief, atau fragmen relief cerita yang tidak lengkap. Dalam pada itu terdapat juga penggambaran tokoh dalam keluarga Pandawa dalam wujud arca tiga dimensi. Relief cerita yang dipahatkan di beberapa beberapa kepurbakalaan dengan beberapa catatan sebagai berikut:

1.Sebagaimana telah dikemukakan bahwa relief cerita dengan tema Mahabharata tertua didapatkan di pemandian kuno Jalatunda di lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto. Jalatunda berangka tahun 977 M (899 Saka), dan sangat mungkin didirikan dalam masa pemerintahan Dharmmawangsa Tguh di Jawa (Munandar 1998—99: 16—18).

2.Kisah Mahabharata selalu dipahatkan dalam bentuk fragmen relief, artinya hanya segmen cerita tertentu saja yang direpresentasikan dalam bentuk relief.

3.Terdapat relief cerita yang menggambarkan adegan pengembangan dari cerita Mahabharata, antara lain Garudeya, Arjunawiwaha, Sudhamala, Bhimaswarga dan Sri Tanjung.

Dalam penggambaran kisah Mahabharata berwujud artefaktual dibagi menjadi tiga macam bentuk, yaitu:

1.Berbentuk fragmen relief cerita dengan gaya relief pandu/leitmotiv (satu adegan yang dapat menjadi petunjuk identifikasi cerita)1.

2.Berbentuk penggambaran tokoh-tokoh cerita  berbentuk relief (seperti tokoh Garuda, Mintaraga bertapa, dan lainnya)

3.Penggambaran arca tokoh dari cerita Mahabharata2.

4.Wujud artefak lainnya.

Penggambaran dengan wujud pertama yang terbanyak dijumpai, berupa fragmen relief cerita atau relief pandu, misalnya yang didapatkan di petirtaan Jalatunda dan Candi Jago. Pada penggambarannya petikan cerita Mahabharata dipahatkan dalam bentuk relief untuk menghias dinding candi atau dipahatkan pada panil relief pelengkap bangunan. Dalam bentuk fragmen cerita, adegan-adegan yang dipahatkan cukup banyak dan berangkai. Contoh yang jelas adalah adegan kisah Parthayajna yang menyambung terus ke kisah Arjunawiwaha  yang dipahatkan di Candi Jago. Adapun dalam bentuk relief pandu, hanya yang dipahatkan hanya satu adegan saja, namun langsung dapat diketahui nama cerita yang dimaksudkan. Misalnya adanya penggambarkan dua orang ksatrya yang saling berpanahan (di Candi Kedaton, Probolinggo), segera dapat diidentifikasikan bahwa adegan itu bagian dari kisah Arjunawiwaha pula, ketika Arjuna berduel panah dengan ksatrya Kirata yang merupakan penjelmaan Siwa Mahadewa.

Wujud ke-2 yang berupa tokoh-tokoh cerita dalam bentuk relief misalnya dipahatkannya tokoh Garuda di Candi Kidal dalam tiga adegan penting, yaitu (1) Garuda sedang menggendong Naga, (2) Garuda sedang menggendong kendi Kamandalu berisi air amerta, dan (c) Garuda sedang menggendong ibunya, Winata. Di dinding goa pertapaan Kendalisada (Kepurbakalaan LXV Penanggungan) terdapat relief yang menggambarkan Bhima yang sedang berjalan di tengah gelombang lautan, hanya satu panil relief. Panil itu merupakan relief pandu, karena hanya dari satu panil dapat diketahui kisah yang dimaksudkan adalah Bhimaruci. Dalam hal ini hanya ada penggambaran seorang tokoh saja dari kisah Mahabharata, itupun berasal dari kisah carangan Jawa Kuno, yaitu Bhimaruci, kisah itu bukan berasal dari India. Di halaman pertama Candi Sukuh juga terdapat tokoh-tokoh dari kisah Mahabharata Parwa I (Adi Parwa) yang digambarkan dalam bentuk relief tinggi di tugu batu. Tokoh itu adalah Garuda, Winata (ibu Garuda) dan Kadru (ibu para Naga) dengan berbagai posenya, ada yang berdiri biasa dan ada pula yang sedang mengembangkan sayapnya (Bernet Kempers 1959: plate 329). Relief tokoh Arjuna sebagai pertapa Mintaraga yang di kanan-kirinya sedang digoda oleh para bidadari terdapat di beberapa kepurbakalaan di Jawa Timur, antara lain di Goa Pasir Tulungagung, Candi Surawana di Kediri, Candi Kedaton Probolinggo, dan dinding pertapaan Candi Kendalisada (Kepurbakalaan LXV di Gunung Penanggungan3).

Data relief yang dijumpai di beberapa candi di Jawa, ada yang relatif utuh, rusak, rusak parah, atau dewasa ini telah hilang sama sekali. Secara garis besar data arkeologis berupa relief candi yang menggambarkan fragmen epos Mahabharata adalah sebagai berikut:


TABEL II: Data Relief Cerita Mahabharata di Candi-candi
di Jawa Timur

No Kepurbakalaan Kronologi Relief Cerita Lokasi/Keterangan
01 Petirthaan Jalatunda Tahun 899 Saka (977 M) Mahabharata kisah Garudeya, sayembara Drupadi, dan adegan-adegan lainnya Lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto
02 Candi Kidal Abad ke-13 Garudeya (Parwa I, Mahabharata) Malang,

di dinding kaki candi

03 Candi Jago (Jajaghu) Abad ke-14 Parthayajna dan Arjunawiwaha Malang,

di dinding kaki candi teras III

04 Candi Surawana Abad ke-14 Saduran Mahabharata kisah Arjunawiwaha Kediri,

di dinding candi

05 Candi Tegawangi Abad ke-14 Saduran Mahabharata kisah Sudhamala Kediri,

di dinding candi

06 Candi Induk Panataran Abad ke-14 Cuplikan Mahabharata: Krsnayana Blitar,

di dinding candi Induk

07 Candi Kedaton Abad ke-15 Garudeya, Arjunawiwaha, dan Bhomantaka (saduran Mahabharata) Probolinggo,

di dinding batur

08 Goa Selamangleng & Goa Pasir Abad ke-14 Arjunawiwaha Tulungagung,

relief dipahatkan di dinding goa

09 Candi Kesiman Tengah Abad ke-15 Samuderamanthana (Parwa I Mahabharata) Mojokerto,

di dinding kaki candi

10 Candi Sukuh Abad ke-15 Bhimabungkus, Nawaruci, Bhimaswarga berupa fragmen relief cerita Karanganyar,

masih di situs Candi Sukuh, diletakkan di halaman utamanya

11 Candi Ceta Abad ke-15 Kisah belum dikenal: Adegan tokoh Mahabharata Karanganyar,

panil-panil relief lepas di halaman teras ke-7—8 (?)

12 Tugu Ampel Gading Abad ke-15 Tugu batu yang dihias relief cerita  adegan Samuderamanthana (Parwa I Mahabarata) Blitar,

sekarang di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan.

13 Arca Sirah Kencong Abad ke-15 Arca  adegan yang menggambarkan kisah Samuderamanthana ketika para dewa dan raksasa bekerja sama memutar-mutar Gunung Mandara Awalnya dari Blitar, sekarang disimpan Museum Nasional Indonesia
14 Kepurbakalaan III (Candi Kerajaan Dharmawangsa) Abad ke-14 Fragmen cerita Arjunawiwaha Lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, telah hilang sebagian besarnya
15 Kepurbakalaan XXII (Candi Gajah) Abad ke-14 Adegan pertapaan Arjuna (Mintaraga) Lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, telah hilang sama sekali
16 Kepurbakalaan LXV (Candi  Kendalisada) Abad ke-14 Fragmen cerita Mintaraga dan Bhimaruci Lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, telah hilang sama sekali
17 Kepurbakalaan LXVII (Candi Merak) Abad ke-15 Fragmen cerita Arjunawiwaha Lereng barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, telah hilang sama sekali

Berdasarkan data pada Tabel II dapat diketahui bahwa kisah Mahabharata yang dipahatkan dalam bentuk relief  dijumpai pada beberapa kepurbakalaan di Jawa bagian timur, belum pernah dijumpai adanya relief Mahabharata pada kepurbakalaan di Jawa Tengah. Hal itu menunjukkan bahwa kisah Mahabharata mulai dikenal meluas ketika ibu kota kerajaan telah dipindahkan ke Jawa bagian timur (akhir abad ke-10 M),  relief itupun tidak pernah digambarkan secara lengkap, melainkan adegan-adegan tertentu saja dari suatu parwa, potongan adegan dari kisah tertentu itulah yang dalam arkeologi Indonesia lazim disebut relief  pandu (Munandar 2011: 195—218). Telah dikemukakan bahwa relief yang menggambarkan adegan-adegan kisah Mahabharata, sejauh data yang tersedia berasal dari pemandian kuno Jalatunda. Di pemandian yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan tersebut sekurangnya terdapat terdapat 6 panil relief yang masih jelas menggambarkan adegan-adegan dari kisah Mahabharata, yaitu:

  1. Adegan di kala para Pandawa dan Kaurawa masih kecil, mereka sedang bermain bersama [relief no.VIII] (Bosch 1961: pl.7)
  2. Adegan di istana dalam rangka sayembara untuk mencari jodoh Dewi Drupadi [relief no. IX] (Bosch 1961: pl.8).
  3. Bhima dan Arjuna mengamuk mengalahkan para raja yang tidak puas karena sayembara Drupadi dimenangkan oleh para Pandawa [relief no.X] (Bosch 1961: pl.9)
  4. Adegan Dewi Ksiti Sundari sedang menunggu Abimanyu di istananya, sedangkan Abimanyu sedang berduaan dengan Dewi Untari [relief no.Xia] (Bosch 1961: pl.10)
  5. Adegan pengorbanan ular oleh raja Janamejaya [relief no.XIII] (Bosch 1961: pl.13)
  6. Adegan penculikan Dewi Mrgawati oleh Garuda [relief no.XV] (Bosch pl.15).

Selain itu masih terdapat beberapa panil relief lagi di pemandian kuno Jalatunda, namun sayang reliefnya telah rusak atau aus, sehingga adegan-adegannya tidak jelas lagi. Beberapa adegan yang masih dapat diidentifikasikan adalah “kutukan terhadap raja Sahasranika dengan Dewi Mrgawati oleh bidadari Tilottama”, “pertemuan pangeran Udayana dengan orang Sabhara yang membawa hewan buruannya” dan adegan “pertemuan antara Bhagawan Palasara dengan Dewi Durgandini”. Demikianlah bahwa bukti tertua adanya pemahatan adegan-adegan kisah Mahabharata untuk pertama kalinya terdapat di Jalatunda (977 M).  Jadi dapat dinyatakan bahwa relief cerita Mahabharata pertama kali dialihmediakan dari uraian naskah menjadi relief terjadi pada paruh kedua abad ke-10, kronologi yang lebih tua dari 977 M belum dijumpai lagi hingga sekarang.

Pada dinding utara kaki tingkat ke-3 Candi Jago dipahatkan adegan ketika Pandawa dan Kurawa sedang menyaksikan Yudhistira dan Duryudana bermain judi. Kisah permainan dadu yang diadakan oleh Kaurawa untuk mengusir para Pandawa dari negerinya itu diuraikan dalam Sabhaparwa. Mungkin inti cerita yang paling penting dalam parwa tersebut adalah main dadu, maka adegan yang dipahatkan pada relief hanyalah bangunan pendopo terbuka, di dalamnya digambarkan Yudhistira yang berhadapan dengan Duryudana, di tengah mereka digambarkan peralatan dadu. Di belakang Yudhistira duduk para pandawa lain, Bhima berdiri di luar; di belakang Duryudana duduk para Kaurawa, dan di luar pendopo, duduk di tanah para punakawan. Tidak ada lagi adegan lain, seperti ketika Dhrtarastra (ayah para Kaurawa) menenangkan Kaurawa untuk memberi kebebasan pada Pandawa akibat kekalahan dalam permainan dadu itu, dan tidak ada adegan persiapan Pandawa dan Dewi Drupadi ketika akan menjalani masa pembuangannya.

Wujud artefaktual lainnya  adalah dalam bentuk tugu tiga dimensi, hanya saja dihias dengan adegan dari fragmen cerita Mahabharata. Misalnya arca adegan Sirah Kencong (di Museum Nasional Jakarta), dan tugu Ampel Gading (disimpan di Pusat Informasi Majapahit, Mojokerto). Di Candi Sukuh juga terdapat tugu batu seperti obelisk  yang sisi bawahnya dihias dengan Garuda yang sedang mengembangkan sayapnya, jadi adegan Garuda yang sedang terbang.

Selain dalam bentuk relief cerita, relief pandu, dan arca adegan, petikan cerita Mahabharata juga ada yang digambarkan pada benda-benda lainnya, misalnya pada perhiasan, lampu pelita, atau bejana upacara.  Misalnya lampu gantung perunggu, lebar 31, 5 cm, menggambarkan burung Garuda terbang, koleksi Museum Pusat Indonesia dgn nomor inventaris 1101a (Fontein dkk. 1972: 97 dan 156). Di Museum Pusat juga terdapat lampu gantung (nomor inventaris 6027)  yang menggambarkan tokoh Mintaraga sedang bertapa dalam bentuk lampu gantung perunggu, tinggi lampu 24 cm, berasal dari Ngimbang, Lamongan. Pada lampu itu dipahatkan angka tahun 1270 Saka atau 1358 M  dan inskripsi pendek berbunyi “tan ala” (tidak ada keburukan, kejahatan, kegelapan) (Fontein dkk. 1972: 98 dan 156). Semua penggambaran tersebut sebenarnya membawa kepada penafsiran bahwa cerita Mahabharata dan tokoh-tokohnya sangat dikenal dalam masyarakat Jawa Kuno terutama ketika pusat kerajaan telah berlokasi di Jawa bagian timur.


/3/ Memaknai kisah Mahabharata

Berdasarkan data yang tersedia, masyarakat Jawa Kuno memeluk agama Hindu-saiwa dan Buddha Mahayana. Banyak bangunan suci, arca, karya sastra, dan prasasti sezaman yang bernapaskan kedua agama tersebut, walaupun demikian terdapat kemungkinan bahwa masyarakat di pedalaman yang jauh dari pusat-pusat keagamaan masih melaksanakan ritual religi asli sebelum datangnya pengaruh India, yaitu pemujaan kepada arwah leluhur (ancestor worship). Kisah Mahabharata dan Ramayana dikenal dalam masyarakat Jawa Kuno bersamaan dengan diterimanya agama Hindu dan Buddha. Apabila kedua kisah epos itu banyak diapresiasi oleh masyarakat Jawa Kuno, baik dalam bentuk penulisan ulang, saduran, atau penggambarannya dalam bentuk relief, berarti kedua kisah itu sangat diminati oleh masyarakat masa itu.

Masyarakat agaknya menyukai kisah Ramayana yang bertutur tentang kepahlawanan para ksatrya dari Ayodya (Rama dan Laksmana) dalam mengalahkan keangkaramurkaan Rahwana atau Dasamukha. Mereka juga menghargai kisah-kisah dalam uraian Mahabharata ketika para ksatrya dari pihak yang benar dapat mengalahkan ksatrya-ksatrya dari golongan jahat. Dalam kisah Mahabharata tentu para ksatrya yang dikagumi dan dipuja adalah para pahlawan dari pihak Pandawa yang senantiasa ditindas dan didzolimi, namun berkat lindungan dewata berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan memperoleh apa yang menjadi miliknya sesuai takdir dewa-dewa.

Bukti tertulis yang otentik pertama tentang adanya pengaruh India di Jawa bagian tengah adalah Prasasti Canggal yang bertitimangsa tahun 654 Saka (732 M). Berdasarkan berita dari prasasti tersebut dapat diketahui bahwa dalam pertengahan abad ke-8 di wilayah Jawa bagian tengah telah berdiri kerajaan yang bernama Mataram, dengan rajanya yang disebut Sanjaya (“Sang Pemenang”). Belum dapat diketahui apakah dalam masa sebelumnya telah berdiri kerajaan lain yang mendahului Mataram, karena sampai sekarang belum ditemukan  sumber sejarah lainnya yang bertutur tentang Jawa bagian tengah dalam abad ke-6 atau ke-7. Dalam pada itu kerajaan pertama yang berdiri di Jawa berdasarkan data yang tersedia adalah Tarumanagara yang berkembang dalam abad ke-4 di wilayah barat Pulau Jawa. Uraian sejarah antara masa Tarumanagara dan Mataram itulah yang masih “gelap”, sebab sampai sekarang belum  ada data yang bisa menjelaskannya.

Secara hipotetik masyarakat Jawa kuno mengenal kedua karya sastra tersebut paling cepat dalam abad ke-8 M, ketika agama Hindu-Trimurtti telah merebak di Tanah Jawa, ketika dewa-dewa Siwa dan Wisnu telah dipuja, dan Brahma telah dikenal sebagai kekuatan pencipta. Ramayana yang sangat bernapaskan Waisnawa dan Mahabharata yang nuansa pemujaan Siwanya sangat kentara, menunjukkan bahwa kedua kitab tersebut adalah bentuk legitimasi pemujaan kedua dewa tersebut. Agaknya kedua kitab itu diperkenalkan di kalangan masyarakat Jawa Kuno bersamaan dengan penyebaran agama Hindu di Tanah Jawa, melalui uraian kisah kedua kitab tersebut, maka budaya India dan agama Hindu perlahan-lahan diterima  oleh masyarakat Jawa Kuno yang kala itu tentunya masih berada dalam budaya proto-sejarah.

Beberapa hal yang menarik dari kehadiran kisah Mahabharata dan Ramayana dalam masyarakat Jawa Kuno adalah sebagai berikut:

a.Kisah Mahabharata dan Ramayana sebagai sarana Indianisasi.

Bersama-sama dengan kisah Ramayana, Mahabharata sangat digemari oleh masyarakat Jawa kuno. Masyarakat masa itu yang belum mengenal aksara tentunya lebih akrab dengan tuturan lisan, pada waktu itulah para pendeta-brahmana dari India mulai mengisahkan epos-epos India bersamaan dengan kitab keagamaan lainnya kepada penduduk setempat. Uraian kisah para ksatrya yang membela kebenaran dan melawan ketidakbenaran, upaya pertapaan, strategi perang, dan pengaturan pemerintahan kerajaan telah merebut perhatian penduduk Jawa di awal perkenalan dengan budaya India. Demikianlah tuturan lisan tersebut segera menarik penduduk Pulau Jawa, dari pengenalan lisan itulah kesempatan telah terbuka lebar untuk menanamkan dogma dan kepercayaan agama Hindu di kalangan penduduk setempat.

Dapat ditafsirkan bahwa kedua epos Mahabharata dan Ramayana telah menjadi sarana penyebaran agama Hindu di  Tanah Jawa. Uraian kisahnya yang berkenaan dengan sifat-sifat dasar manusia yaitu bahagia, kecewa, iri hati, benci, semangat, berbakti pada orang tua, pembela kebenaran, balas dendam dan sebagainya telah menarik minat penduduk Jawa masa proto-sejarah. Tentunya kisah itu didongengkan terlebih dahulu oleh para brahmana India yang baru datang ke Tanah Jawa. Kisah tersebut lebih mengena jika dipergunakan untuk mempelajari agama Hindu pada tahap awalnya.

Masyarakat proto-sejarah di Jawa tentu akan kesulitan apabila  langsung mendengar atau membaca ajaran-ajaran dalam kitab Weda, Purana-purana atau yang lainnya. Konsep tentang Brahman, Atman, moksa, reinkarnasi, awatara, tiga tingkatan dunia (Tri Loka), ikonografi dewa-dewa, upacara pemujaan, upacara kenegaraan dan lain-lain aspek budaya India yang bersemangat Hindu telah diterangkan dalam Ramayana dan Mahabharata dalam bentuk rangkaian ceritanya. Melalui kedua kisah tersebut, lambat laun ajaran keagamaan Hindu dan budaya India dapat diterima di kalangan masyarakat Jawa Kuno prabudaya India.

b.Kisah Epos India menjadi acuan presentasi  bentuk seni relief

Pada tahapan selanjutnya ketika masyarakat Jawa kuno telah banyak yang memeluk agama Hindu, dan mampu mendirikan candi-candi besar untuk pemujaan bagi Trimurti, kisah-kisah epos India itu kemudian dipahatkan dalam bentuk relief cerita di dinding candi. Agaknya kisah yang terlebih dahulu dipahatkan dalam bentuk relief berdasarkan data yang ada adalah Ramayana, bukan Mahabharata. Relief cerita Ramayana tertua dipahatkan di dinding Candi Siwa dan Brahma di percandian Prambanan atau Siwagrha yang dihubungkan dengan prasasti yang bertarikh 856 M. Di Candi Siwa relief cerita tersebut dipahatkan dalam 24 panil, sedangkan di Candi Brahma dalam 30 panil (Moertjipto  dkk. 1991: 7). Mungkin terdapat alasan tertentu mengapa para seniman dan kaum agamawan pada awalnya lebih memilih cerita Ramayana untuk dipahatkan di suatu candi. Alasan itu sangat mungkin berkenaan dengan:

(1) Kisah Ramayana lebih ringkas dibandingkan dengan Mahabharata, oleh karena itu (2) tidak memerlukan bidang panil relief yang banyak. Di percandian Prambanan, relief cerita Ramayana bermula di dinding sisi dalam pagar langkan Candi Siwa Prambanan dan terus berlanjut ke dinding sisi dalam pagar langkan Candi Brahma. Jelasnya panil relief di dinding pagar langkan Candi Siwa Prambanan tidak mencukupi untuk menggambarkan seluruh adegan kisah Ramayana dari awal hingga akhir,  kisah itu kemudian dipahatkan bersambung ke dinding pagar langkan Candi Brahma. (3) Tokoh dalam kisah Ramayana bukanlah manusia biasa, melainkan Wisnu yang berwujud manusia bernama Rama. Jadi kisah ini lebih suci karena berbicara tentang sepak terjang salah satu dewa Trimurtti yang mengalahkan keangkaramurkaan manusia. Sangat mungkin berdasarkan alasan-alasan itulah maka relief cerita Ramayana yang lebih dahulu ditemukan bukti arkeologisnya dalam bentuk relief.

Dalam  penggambaran relief candi kisah Mahabharata tidak mungkin digambarkan secara lengkap, melainkan segmen-segmen kisahnya saja, hal itu terjadi karena sangat luasnya uraian kisah Mahabharata dengan berbagai satuan cerita yang berbeda. Kisah-kisah dalam Mahabharata telah menjadi acuan bagi penggambaran relief candi-candi, terutama dalam zaman Singhasari-Majapahit. Mengenai segmen kisah apa saja yang kerapkali digambarkan dalam bentuk relief candi, datanya telah disajikan dalam Tabel II yang telah diuraikan pada bagian terdahulu.

Dalam masa Majapahit pun epos Ramayana tetap dijadikan acuan untuk penggambaran relief candi.  Relief cerita Ramayana dipahatkan di dinding Candi Induk Panataran dan juga Candi Yuddha (Kepurbakalaan LX) di Gunung Penanggungan, namun sama dengan kisah-kisah lainnya dalam masa Klasik Muda di Jawa Timur, Ramayana itu hanya menggambarkan adegan-adegan tertentu saja, tidak dipahatkan secara lengkap sebagaimana di percandian Prambanan. Kisah Mahabharata dalam bentuk relief pandu lebih banyak dipahatkan di dinding candi-candi Klasik Muda, kadang-kadang hanya dalam wujud 1 bingkai panil relief saja.

Adapun beberapa sumbangan kisah Mahabharata bagi pengembangan kebudayaan Jawa kuno, antara lain:

  1. a. Mahabharata mengajarkan sistem kerajaan di Jawa

Agaknya sistem pemerintahan kerajaan juga semakin berkembang  setelah kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana dikenal meluas. Memang kerajaan pertama di Pulau Jawa, yaitu Tarumanagara berdiri dalam abad ke-5, namun belum ada bukti kedua epos tersebut telah diterima oleh masyarakat Taruma. Tarumanagara dengan datanya yang terbatas tidak diketahui seluk beluk sistem pemerintahannya, susunan pejabat setelah raja, pembagian wilayah, pejabat keagamaan dan lainnya lagi. Hal yang dapat diketahui lewat prasasti-prasastinya hanyalah berita tentang telah berdirinya suatu kerajaan di Jawa bagian barat dengan corak kebudayaan India, dan lenyap tanpa diketahui lagi.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa secara arkeologis di Jawa, kisah Ramayana yang pertama dikenal daripada Mahabharata.  Kisah Ramayana telah dipahatkan di percandian Prambanan sekitar pertengahan abad ke-9, artinya percandian itu dibangun dalam era Kerajaan Mataram. Sistem pemerintahan Mataram pada waktu itu telah demikian majunya sehingga kerajaan itu mampu mendirikan candi-candi besar seperti Borobudur, Sewu, Prambanan, dan kompleks Plaosan Lor. Dalam kondisi seperti itu tentunya kekuasaan raja dihormati oleh rakyatnya, sebab untuk mendirikan percandian megah tentu diperlukan sumber daya manusia yang banyak. Rakyat dapat menuruti perintah raja, jika sang raja dipandang mempunyai berbagai kelebihan, kelebihan itu antara lain yang bersifat supernatural sebagaimana yang diajarkan dalam kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Raja sejatinya adalah jelmaan dewa, dilindungi oleh dewa tertentu, atau memiliki kekuatan selayak dewa yang menganugerahinya.

Kepala pemerintahan yang disebut raja atau sri maharaja tentunya dikenal dalam masyarakat Jawa Kuno masa Mataram lewat epos Mahabharata dan Ramayana. Konsep raja dan sri maharaja berkembang menggenapi konsep rama dan rakai sebutan lokal bagi para penguasa daerah. Penguasa daerah yang disebut rakai menguasai wilayah tertentu yang dinamakan watak. Rakai yang kuat dapat disetarakan dengan raja atau maharaja yang menguasai beberapa watak,  dalam pada itu di dalam setiap watak terdapat wanuawanua (desa) yang dipimpin oleh para rama.

Para pejabat kerajaan, seperti mahapatih, putra mahkota (rajakumara), para menteri (mantri), pejabat tinggi keagamaan, purohita (pendeta istana), dan lain sebagainya yang disebutkan dalam beberapa prasasti Jawa Kuno hingga zaman Majapahit, dapat dipastikan mengacu kepada uraian kisah Mahabharata dan Ramayana. Memang dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Jawa Kuno, dikenal pula adanya pejabat lain yang agaknya adalah pengembangan pejabat yang disesuaikan dengan kondisi di Jawa. Misalnya dalam beberapa prasasati  disebutkan adanya pejabat wredhamantri, kanuruhan, panggil hyang, dan para mangilala drwya haji [penikmat harta raja=pejabat yang dibayar oleh kerajaan] yang jumlahnya berbeda-beda pada setiap masa pemerintahan seorang raja. Pada kenyataannya dapat dinyatakan bahwa sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa kurang lebihnya telah dipengaruhi oleh sistem kerajaan yang diuraikan dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Dengan perkataan lain kisah tentang kerajaan-kerajaan dalam Mahabharata dan Ramayana menjadi acuan bagi pembentukan sistem kerajaan di Jawa.

b.Mahabharata adalah acuan tindakan bagi para raja dan ksatrya Jawa Kuno

Uraian kisah Mahabharata dan juga Ramayana telah mengajari elite kerajaan di Jawa untuk melakukan tugas dan kewajibannya sebagai ksatrya. Selain mereka belajar kesaktian, bertapa, membela yang lemah, mahir berkesenian, mengabdi pada kerajaan, menjadi pejabat atau raja; mereka juga harus tahu akan dharmanya. Ketika masyarakat Jawa proto-sejarah mencari figur-figur kepahlawanan ideal untuk dijadikan acuan dalam kehidupannya, para penyebar budaya India memperkenalkan kepada mereka kisah kepahlawanan dalam Ramayana dan Mahabharata berbarengan dengan penyebaran ajaran keagamaan yang termaktub di dalamnya. Dengan demikian tampillah Sri Rama, Laksamana, Wibhisana, Yudhistira, Arjuna, Bhima, Sri Kresna, dan lain sebagainya yang dikagumi dan diacu jiwa kesatriaannya seraya menanggalkan sisi negatifnya.

Tokoh sejarah Airlangga yang memerintah di Jawa bagian timur antara tahun 1019—1043 M, dapat dipastikan mengacu kepada tokoh Arjuna, nama raja Airlangga/Erlangga sendiri sangat dekat dengan  Arjuna/Erjuna. Kata erjuna/arjuna/airjuna tidak lain berarti  “air dalam jun/dyun”, junà dyun, dalam bahasa Jawa Kuno adalah periuk belangga dari tanah liat bakar untuk tempat air (Zoetmulder  1995, 1: 246). Pengertian lebih luas adalah “air dalam dyun yang mudah dibawa”. Adapun arti kata airlangga/erlangga berarti “yang menyeberangi air”, kata langgana antara lain berarti menyeberangi, melompati, melintasi (Zoetmulder 1995, 1: 569). Dia adalah raja Jawa Kuno yang berasal dari Bali, putra raja Udayana Warmadewa dengan putri Mahendradatta, adik raja Dharmmawangsa Tguh di Jawa (991—1016 M).  Menurut para sarjana kakawin Arjunawiwaha gubahan mpu Kanwa sebenarnya suatu kiasan dari kehidupan raja Airlangga (Berg 1938, Moens 1950). S.Supomo menyatakan bahwa ketika Arjuna menyembah puncak gunung Indraparwata untuk berpamitan setelah menyelesaikan tapanya, sama dengan ketika Airlangga melakukan sembah ke arah puncak Gunung Pawitra/Penanggungan untuk memulai perjuangannya menyatukan kerajaan yang terpecah belah (Supomo 1972: 289—90).

Dalam kitab Pararaton dinyatakan bahwa para pendeta-brahmana Kadiri menyingkir ke Tumapel setelah raja Kadiri Prabhu Dandang Gendis, meminta para pendeta itu menyembah kepada dirinya, karena ia setara kesaktiannya dengan Siwa Mahadewa. Pararaton menyatakan:

“E, ki parabhujangga sewa-sogata, paran sangkanira nora anembah ring ingsun, apan ingsun saksat bhatara Guru.” Sumahur parabhujangga sakapasuking nagareng Kadiri: “Pukulun tan wonten ing kinakina bhujangga anembahi ratu.” Mangkana lingira bhujangga kabeh (Pararaton 13: 15—20, Brandes 1920: 18).

Dalam pandangan para pendeta Kadiri, raja Dandang Gendis tersebut tidak mengerti tata-kerama seorang ksatrya dan tentu sangat melanggar adat, bahwa tidak pernah ada sejak zaman dahulu seorang ksatrya menyembah pendeta-brahmana. Ajaran tersebut tentunya telah dipahami betul oleh para ksatrya dan pendeta lewat kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Akibat kesalahan itu maka Dandang Gendis dapat dikalahkan oleh Ken Arok yang meminta izin pada para pendeta-brahmana untuk mengalahkan Kadiri dengan mengambil nama Bhatara Guru (Siwa), para pendeta merestuinya. Pihak Kadiri dikalahkan dalam pertempuran di utara Desa Ganter tahun 1222, dan berdirilah Kerajaan Singhasari dengan raja pertamanya Ken Angrok (Hardjowardojo 1965: 30—31).

Hal yang menarik dalam periode Majapahit terdapat pemujaan Bhima menjadi tokoh panutan, bukti-bukti arkeologis yang tersedia membawa kepada interpretasi bahwa Bhima digambarkan sebagai arca perwujudan. Artinya Bhima telah disetarakan dengan tokoh ksatrya yang berwatak tegas, setia kepada tugas dan negaranya. Kajian terbaru terhadap tokoh Gajah Mada menyimpulkan bahwa arca-arca Bhima yang banyak dibuat dalam zaman Majapahit sebenarnya hendak menggambarkan Gajah Mada itu sendiri (Munandar 2010a). Gajah Mada oleh masyarakat Majapahit dianggap sebagai tokoh besar yang mampu menjayakan kerajaan itu. Mengingat watak Gajah Mada yang tegas dalam pengabdiannya kepada negara, setelah kematiannya Gajah Mada diwujudkan sebagai arca Bhima  dan banyak dipuja di candi dan karsian-kadewaguruan di pelosok hutan yang jauh dari keramaian (Munandar 2010: 127—36).

Menurut uraian Kisah Panji Kuda Narawangsa,  di pesanggarahan Pranaraga tempat Raden Panji akan tinggal selama beberapa waktu didirikan bangunan-bangunan baru, dinding-dindingnya dihias dengan cerita Pandawa Jaya (Poerbatjaraka 1968:  302).  Hal itu menunjukkan bahwa keluarga istana, dalam hal ini Panji sebagai putra mahkota Janggala,  selalu mendekatkan dirinya dengan keluarga Pandawa, sebab para Pandawa berhasil menang atas kebathilan yang diusung pihak Kaurawa. Demikianlah terdapat banyak bukti  bahwa dalam masa Jawa Kuno, terutama era Majapahit,  tokoh ksatrya yang diuraikan dalam Mahabharata telah menjadi acuan bagi para ksatrya zaman itu

c.Mahabharata sebagai kisah pemujaan nenek moyang

Pada masa akhir zaman Hindu-Buddha di Jawa, terdapat kecenderungan yang menarik, yaitu tampilnya kembali semangat praIndia dalam falsafah kehidupan masyarakat. Hal itu sangat mungkin terjadi karena:

1.Jarangnya terjadi hubungan antara India dan Jawa (timur), peran niagawan India dalam abad ke-15 telah digantikan oleh para pedagang Cina yang berlalu lalang di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara memperjualbelikan barang dagangannya.

2.Kaum niagawan dari India yang datang ke Nusantara masa itu telah banyak yang beragama Islam, sehingga dapat menjadi tanda proses awal  penyebaran Islam di kepulauan Indonesia.

3.Akibatnya kaum cerdik-cendekia Jawa Kuno (para pendeta-brahmana Hindu-Buddha) masa itu menggali  konsep kepercayaan asli Jawa yang berkembang sebelum pengaruh India datang.

“Jawanisasi” kebudayaan India itu terlihat dengan digubahnya kitab Tantu Panggelaran yang isinya antara lain menguraikan pemindahan Gunung Mahameru, pusat alam semesta dari Jambhuwipa (India) ke Jawadwipa (Pigeaud 1924: 66). Bersamaan dengan pemindahan itu persemayaman para dewa pun turut pindah ke Jawa, akibatnya Jawa merupakan lokasi penting sebagai titik pusat kosmos. Dalam kitab yang sama juga dinyatakan bahwa para pendeta dari Jawa jauh lebih unggul dari rekan-rekan Indianya, karena para pendeta Jawa dipercaya sebagai jelmaan langsung Siwa atau Buddha. Kaum agamawan Jawa kuno banyak yang mengembangkan pusat-pusat pendidikan agama di gunung-gunung, dinamakan mandala atau kadewaguruan. Mandala itu tersembunyi di tengah hutan di dataran tinggi atau lereng gunung yang jauh dari keramaian.

Dalam hal cerita Mahabharata pun settingnya telah dipindahkan ke Tanah Jawa, agaknya hal itu merupakan merupakan bukti kreativitas para cerdik-cendekia Jawa Kuno.  Kerajaan-kerajaan Hastinapura, Indraprastha, Mandura, Magadha, Wirata, Nisadha, dan lainnya dianggap berada di Tanah Jawa, bukan lagi di India. Hal yang menarik lagi bahwa para Pandawa itupun dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang-orang Jawa. Kisah para Pandawa adalah cerita tentang leluhur orang Jawa yang berjaya mengalahkan keangkaramurkaan, kesewenang-wenangan, ketamakan, dan sifat negatif lainnya yang dimilki oleh Kaurawa. Menceritakan Mahabharata artinya menceritakan kemenangan para leluhur Jawa, para Pandawa itulah; oleh karena itu dalam penceritaannya harus selalu khidmat dan sakral.

Dimanakah arwah para leluhur orang Jawa itu bersemayam?, tentu saja dalam pemikiran masyarakat Jawa Kuno dalam abad ke-14—15,  kemudian menyambung dalam pemikiran masyarakat Jawa madya abad-abad selanjutnya, arwah leluhur itu berada di puncak-puncak gunung. Maka tidaklah mengherankan apabila salah satu gunung di utara Malang, Jawa Timur, dinamakan Arjuna, karena dipercaya oleh penduduk setempat bahwa di gunung itulah Arjuna pernah bertapa. Apabila dihubungkan dengan uraian kitab Tantu Panggelaran Siwa yang ditemui Arjuna dahulu bersemayam di Gunung Pawitra (Penanggungan), lalu pindah bersemayam di Gunung Kemukus (Welirang) akibat sumber-sumber air di Pawitra kering, digunakan untuk upacara Atrisandhyabrata (mandi 3 x sehari) yang dilakukan oleh Siwa (Pigeaud 1924: 100).  Dalam pengembaraan di gunung-gunung itulah Arjuna bertemu dengan ksatrya Kirata yang merupakan jelmaan  Siwa, mereka berkelahi dan ketika Kirata dibanting, segera menjelma kembali sebagai Siwa Mahadewa. Kisah Arjunawiwaha itu terjadi di Jawa, bukan di India, karena itu adegan Mintaraga (Arjuna bertapa) dalam kisah Arjunawiwaha banyak dipahatkan di dinding candi-candi di Jawa Timur.

Dataran tinggi Dieng di wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah,  dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah para Pandawa. Penduduk setempat menjelaskan bahwa candi-candi di Dieng dianggap sebagai kuil untuk memuja Puntadewa (Yudhistira), Bhima, Arjuna, Gatotkaca, Srikandi, Sembadra, Setyaki dan lainnya lagi. Bahkan di Dieng juga dikenal adanya candi-candi dengan nama Punakawan (pengiring ksatrya) dalam Mahabharata versi Jawa, yaitu Candi Semar, Nala Gareng, dan Petruk. Hal itu semakin menegaskan bahwa para Pandawa itu dahulu hidup di Tanah Jawa, dan dipuja sebagai nenek moyang orang Jawa.

Dalam pada itu bukti-bukti kegiatan keagamaan sebelum kedatangan pengaruh budaya India,  dijumpai di kawasan dataran tinggi dan lereng gunung. Temuan monumen megalitik yang tersebar di lereng-lereng gunung di Jawa menandakan bahwa aktivitas masyarakat megalitik dahulu terjadi di daerah pegunungan dan dataran tinggi (Prasetyo & Nurhadi Rangkuti 2015). Berdasarkan analogi dengan kepercayaan suku-suku bangsa yang masih hidup secara sederhana di Indonesia, dapat diketahui adanya konsep yang menyatakan bahwa nenek moyang mereka senantiasa bersemayam di dataran tinggi dan puncak-puncak gunung.  Arwah nenek moyang dipuja di kawasan pegunungan dan daerah sekitarnya, daerah itulah yang dianggap keramat, tidak boleh sembarang sikap dan bicara apabila berada di kawasan suci itu.

Dengan mengamati fenomena tersebut dapat dijelaskan bahwa sebenarnya pemujaan terhadap arwah nenek moyang di tempat-tempat tinggi terus berlanjut ketika budaya India telah berkembang. Nenek moyang itu telah diberi julukan berdasarkan tokoh-tokoh pahlawan dalam Mahabharata, dengan demikian membaca kisah, menggambarkan dalam bentuk relief, atau mempertunjukan dalam pagelaran wayang kisah Mahabharata berarti melakukan apresiasi terhadap leluhur, melakukan pemujaan kepada leluhur. Menyajikan kisah Mahabharata dalam bentuk apaun merupakan bentuk pemujaan kepada leluhur atau nenek moyang yang telah bersemayam di dunia supernatural.

  1. Tokoh-tokoh Mahabharata sebagai acuan sifat baik dan buruk.

Sampai dewasa ini, kondisi budaya, politik, ekonomi, hubungan diplomatik, dan sebagainya yang berkaitan dengan Indonesia, senantiasa banyak yang dihubungkan dengan dunia pewayangan, terutama dengan epos Mahabharata. Dalam masyarakat Jawa hal itu terjadi dengan cukup jelas, kisah wayang seringkali diasosiasikan dengan kondisi dan situasi tertentu dalam suatu periode. Jika terdapat seorang kepala daerah yang bertindak arif bijaksana membela kepentingan rakyat dan memakmurkan daerahnya, kepala daerah itu dapat disetarakan dengan Yudhistira yang memerintah kerajaannya dengan baik. Sebaliknya jika ada kepala daerah yang bertindak semena-mena, tidak memedulikan suara rakyat, dengan segera dia disamakan dengan Duryudana penguasa Hastinapura yang lalim.

Dalam budaya Jawa acapkali seseorang perempuan yang bertindak ksatrya, tegas, pemberani, membela yang benar diibaratkan sebagai Srikandi. Tokoh ini dalam cerita wayang Jawa dipandang sebagai istri kedua dari Arjuna setelah Dewi Sembadra (Subhadra). Memang agak berbeda sedikit dengan kisah Mahabharata, Sikandhin dalam Mahabharata dikenal sebagai putri raja Wirata yang gagah berani bertempur membela pihak Pandawa dalam Bharatayuddha. Kisah pedalangan Jawa lebih mempopulerkan Sikandhin menjadi Srikandi sebagai isteri Arjuna dalam kisah-kisah carangan Jawa.

Begitupun jika ada seseorang yang gagah perwira, bertindak satria, kuat dan tabah menghadapi apapun, segera orang Jawa mempersamakan orang itu dengan Raden Gatotkaca yang sangat sakti kebal terhadap berbagai senjata, karena “berotot kawat bertulang besi”. Tokoh yang culas, pandai bersilat lidah, penuh rasa iri dan selalu menimbulkan permasalahan,  orang itu seringkali disebut sebagai Sangkuni, patih Hastinapura dalam masa pemerintahan Duryudhana. Perselisihan antara dua pihak padahal mereka masih bersaudara, tanpa ragu akan disebut sebagai Bharatayuddha dan isteri cantik yang setia kepada suaminya, mendukung terus perjuangan sang suami dalam kebudayaan Jawa diibaratkan sebagai Dewi Drupadi yang menikah dengan Yudhisthira.

Demikianlah beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh kisah Mahabharata sehingga kisah itu terutama bagi orang Jawa dan Bali telah menjadi milik sendiri, bukan berasal dari seberang lautan Tanah India. Kisah itu seakan-akan dahulu pernah terjadi di Jawadwipa, jejak dan legendanya kemudian diciptakan dalam kebudayaan Jawa sendiri, melahirkan mitos bahwa memang Mahabharata adalah asli milik leluhur orang Jawa.


/4/ Kesinambungan kisah sebagai bentuk apresiasi

Banyak fenomena kebudayaan Jawa masa kini yang tetap mengacu kepada kisah Mahabharata. Dalam bentuk kesenian (seni rupa dan pertunjukan), falsafah kehidupan, mitos dan legenda, organisasi sosial, pranata kekeluargaan dan sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa tema-tema yang ditawarkan dalam kisah Mahabharata masih relevan hingga sekarang.

Sikap budaya Jawa yang sebagian masih mengacu kepada falsafah dalam Mahabharata,  dapat ditafsirkan dengan dua kondisi: pertama, masyarakat  Jawa tetap memandang nilai-nilai kebajikan dalam Mahabharata sebagai “tak lekang oleh zaman”, sebab sejatinya yang diuraikan adalah nilai-nilai kemanusiaan universal, jadi sampai kapan pun tetap abadi selama kehidupan manusia masih ada. Kedua, sampai sekarang belum ada lagi kisah tentang nilai kemanusiaan yang dihasilkan dalam kebudayaan Jawa yang mampu menggantikan kedudukan kitab Mahabharata. Kedua kondisi tersebut agaknya memang saling melengkapi, oleh karenanya sampai dewasa ini masyarakat Jawa   –bahkan Sunda dan Bali– masih tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam kisah Mahabharata.

Dalam kehidupan etnik Nusantara terdapat penghargaan terhadap sejumlah naskah atau kitab lama, jadi tidak hanya berkenaan dengan orang-orang Jawa. Naskah-naskah lama ternyata masih relevan dengan kehidupan masa sekarang, oleh karena itu tetap dipelajari dan dipertahankan beberapa kandungan tradisinya. Menurut Siti Chamamah Soeratno (1997) salah seorang pakar Filologi Nusantara, fungsi karya-karya sastra lama dalam kehidupan masa kini antara lain adalah:

1.Naskah-naskah lama menyimpan sejumlah hikmat yang berupa nilai-nilai luhur warisan nenek moyang bangsa yang relevan bagi kehidupan masa kini.

2.Menampilkan relevansi produk masa lampau yang berupa naskah pada hakekatnya merupakan salah satu darma untuk menyukseskan pembangunan.

3.Relevansi tersebut meliputi aspek fisik naskah, bahasa, sastra, dan materi-materi kandungan naskah yang mencakup sejarah, sosial, politik, pendidikan, agama, kesehatan, dan obat-obatan (Soeratno 1997: 30).

Pada hakekatnya yang diapresiasi oleh masyarakat masa kini adalah kandungan isi naskah, hal itu yang terjadi pula terhadap kisah Mahabharata dan juga Ramayana, saripati isinya sebenarnya mengajarkan  nilai-nilai kemanusiaan universal yang cukup relevan dengan kondisi manusia Jawa. Berhubung etnik Jawa banyak yang menempati kedudukan di tataran pemerintahan Republik Indonesia, maka pandangan yang mengapresiasi naskah Mahabharata tersebut terbawa dalam sistem pemerintahan Indonesia. Benedict R.O.G.Anderson seorang peneliti Indonesia sampai menyatakan bahwa untuk memahami sistem pemerintahan Indonesia modern, seorang peneliti atau pengamat harus paham terlebih dahulu tentang mitologi Jawa terutama yang berhubungan dengan dunia pewayangan (Anderson 1969). Sampai sekarang masih terdapat kredo dalam masyarakat Jawa, bahkan kaum terpelajarnya memandang kisah-kisah wayang adalah simbolisasi dari kehidupan manusia. Cerita-cerita wayang carangan yang mengacu kepada kisah “babon” Mahabharata sebenarnya digubah sebagai perumpamaan bagi perilaku positif dan negatif seseorang. Kisah wayang sebenarnya berdasar kepada pembagian keduaan (binary), ada penataan kanan-kiri, baik-buruk, tua-muda, halus-kasar, ramai-sepi, terang-gelap, dan sebagainya. Akan tetapi dalam kisah-kisah wayang kerapkali terdapat  hal yang berada di antara kedua pihak yang berbeda tersebut (Anderson 1969: 6). Segala hal yang “berada di antara dua kontras” umumnya menarik untuk dibicarakan dan dibahas, orang lalu akan menjadi maklum dan toleran terhadap hal itu.  Jika diperhatikan uraian Mahabharata selain menjelaskan hal-hal yang berlawanan, misalnya antara kebajikan dan kebathilan, namun terdapat  “hal yang samar-samar”,  apakah itu baik atau tidak; mungkin bisa disebut baik dengan argumen tertentu, namun dapat disebut tidak baik, jika argumennya berbeda pula. Membincangkan “hal yang samar-samar” itu tiada pernah habis dan berhenti bagi orang Jawa sampai sekarang, sebab itu pulalah mungkin kisah Mahabharata masih diapresiasi hingga sekarang.


/5/Epilog

Kebudayaan yang dikembangkan oleh manusia adalah sesuatu yang dinamis, senantiasa berubah dan menyesuaikan diri dengan situasi dan zamannya. Akan tetapi terdapat aspek kebudayaan yang terus bertahan melintasi masa demi masa hingga tetap dikenal sampai zaman sekarang. Salah satunya itu adalah epos Mahabharata dan juga Ramayana, yang sejak diperkenalkan kepada kebudayaan Nusantara (Jawa) terus bertahan hingga sekarang. Dapat kiranya dikemukakan adanya beberapa hal yang menjadikan kisah Mahabharata lebih popular dari pada Ramayana, selain kisah yang diuraikannya lebih panjang, penuh variasi,  dan menceritakan banyak kerajaan walaupun kerajaan utama yang menjadi fokus cerita hanya satu Hastinapura.

Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh banyak ahli selama ini, keustimewaan dari kisah Mahabharata antara lain memuat ajaran dan pandangan hidup yang dikenal oleh masyarakat manusia secara umum. Pandangan hidup yang selalu menjadi dambaan masyarakat adalah perihal kebenaran, keadilan, kebahagiaan dan sejahtera. Hal itulah yang selalu diperjuangkan oleh para Pandawa melawan Kaurawa. Bersamaan dengan itu Mahabharata juga mengajarkan harapan untuk masa depan yang lebih baik, walupun para Pandawa didera oleh penderitaan yang panjang, penghinaan dan juga kesengsaraan luar biasa  yang harus dilalui oleh golongan ksatrya, namun mereka tabah karena memegang harapan untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

Tanpa ditutupi bahkan diuraikan panjang lebar diuraikan juga tentang kegelisahan yang dialami oleh Pandawa, misalnya yang dialami oleh Arjuna ketika ia bimbang harus bertempur melawan orang-orang yang dihormatinya dalam Mahabharatayuddha. Tampillah Sri Kresna memberikan ketenteraman bagi Arjuna dalam nyanyian panjang Bhagavat Gita. Kegelisahanpun dialami oleh Karna, ketika ia mengetahui bahwa dirinya masih saudara kandung dengan para Pandawa, ia bimbang untuk menentukan pihak mana yang harus dibela dalam Bharatayuddha, namun sesuai dharma ksatrya yang harus setia kepada tugas dan kerajaan tempat ia mengabdi, ia teguh memberikan dharma bhaktinya bagi Hastinapura yang kala itu digempur oleh para Pandawa dan sekutunya.

Kisah Mahabharata juga mengajarkan tentang pengendalian diri yang luar biasa, tokoh Yudhistira adalah ahli dalam hal pengendalian diri. Ia menularkan semangat pengendalian diri tersebut kepada saudara-saudaranya agar tetap tenang tidak terpancing oleh nafsu dangkal yang bakal menghancurkan martabat dan dharma ksatrya. Pengendalian diri juga senantiasa diperlihatkan oleh Sri Kresna yang merupakan awatara Wisnu. Jika Kresna mau, maka sejak awal kebathilan para Kaurawa telah dimusnahkan, namun ia menjaga tugasnya sebagai dewa yang menjelma sebagai manusia, bukan bertindak sebagai dewa utama itu sendiri. Kresna hanya memberikan nasehat adan arahan kepada para Pandawa, tanpa turut campur menangani perselisihan antara Pandawa dan Kaurawa.

Sebagai kisah tentang epos tidak hanya berisikan pesan-pesan semangat kewiraan, namun juga pesan perubahan dan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi juga terdapat dalam Mahabharata. Suasana dinamis ditemukan dalam uraian kisah tersebut,  tidak ada yang abadi semua berubah, kebahagiaan akan berubah menjadi kesedihan, kemalangan menjadi keberuntungan, kejayaan menjadi kehinaan dan sebagainya. Di akhir ceritapun ditutup dengan perjalanan para Pandawa menuju dunia dewa-dewa, bukan dengan kebahagiaan, melainkan dengan upaya pertemuan dengan kekuatan adi-kodrati. Tidak ada yang kekal, kecuali perubahan itu sendiri, demikian menurut orang-orang bijak. Narasi yang tidak kalah penting adalah tentang ungkapan syukur  kepada Yang Maha Kuasa, dalam uraian Mahabharata terdapat segmen cerita yang menguraikan tentang upacara-upacara pemujaan, baik berupa ungkapan syukur atas berhasilnya sesuatu ataupun pemujaan sebagai tanda bakti kepada kekuatan Adi-Kodrati.

Pantas jika disebut epos Mahabharata bukanlah sembarang kisah kepahlawanan, melainkan kitab suci keagamaan yang mengajarkan secara tidak langsung nilai-nilai kemanusiaan yang dinarasikan dalam  kisah para raja. Mahabharata dikenal terus dalam masyarakat Jawa sejak awal mereka menerima budaya India (sekitar abad ke-8 M) hingga sekarang, selama perjalanan waktu itu Mahabharata telah dianggap sebagai karya susastra milik orang Jawa sendiri, bukan dari budaya lain.


Catatan:

1.Leitmotiv (bahasa Belanda) atau relief pandu (bahasa Indonesia), adalah pemahatan 1 adegan saja dari satu kisah, namun seorang peneliti akan segera mengetahui kisah apa yang sebenarnya dimaksudkan dalam adegan tersebut. Misalnya terdapat adegan relief di candi Kedaton, dua tokoh (pertapa dan ksatrya) saling berpanahan, dapat diketahui kisah yang dimaksudkan adalah Arjunawiwaha, karena yang berpanahan adalah Arjuna dan Kirata jelmaan Siwa. Contoh lain terdapat adegan relief di Candi Surawana yang menggambarkan perempuan yang sedang menaiki ikan menyeberangi sungai, kisah yang dimaksudkan dalam adegan tersebut adalah Sri Tanjung, seorang istri setia kepada suaminya, kisah asli Jawa Kuno.  Terdapat pula adegan relief di dinding teras Candi Panataran yang menggambarkan dua pertapa yang gemuk dan kurus, segera dapat dikenali bahwa cerita yang dimaksudkan adalah Bhubuksah-Gagangaking, dua orang pertapa kakak beradik yang menyepikan diri di Gunung Lawu agar dapat bertemu dewata, suatu kisah Jawa Kuno.  Untuk lebih jelas dapat dibaca tulisan Agus Aris Munandar yang berjudul “Tentang Relief Pandu (Leitmotiv relief)”, dalam buku Catuspatha: Arkeologi Majapapahit. Tahun 2011: 195—218. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

2.Beberapa tokoh cerita Mahabharata terutama pihak Pandawa ada yang diwujudkan dalam bentuk arca, terutama Bhima dalam era Majapahit. Arca-arca Bhima banyak dijumpai di wilayah Jawa Timur, sebagian arca tersebut sekarang ada yang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Salah satu arca batu yang menggambarkan tokoh Bhima adalah arca dengan No.130d, tinggi 68 cm. Arca ini ditemukan dari wilayah Gunung Penanggungan/Pawitra di Jawa Timur, dan diperkirakan bergaya seni arca abad ke-15. Dalam kisah Panji (epos Jawa Kuno), arca ini dianggap menggambarkan tokoh Kertolo (Fontein dkk. 1972: 148). Selain itu di Museum Nasional Jakarta juga disimpan arca Arjuna yang juga berasal dari Jawa Timur, batu dengan ukuran tinggi 52 cm.

3.Gunung Penanggungan (1.653 m) nama kuno adalah Pawitra, walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, namun disucikan oleh masyarakat Jawa Kuno sejak abad ke-10 sampai akhir Majapahit di awal abad ke-16 M. Di lereng gunung tersebut –terutama lereng baratnya– terdapat banyak bangunan keagamaan pemujaan dewa yang berbentuk punden berundak dan altar persajian-persembahan, terdapat juga goa-goa pertapaan untuk meditasi kaum pertapa (Rsi). Kegiatan keagamaan di Gunung Penanggungan berlansung secara meluas terutama dalam periode Majapahit dalam abad ke-14—15 M. Sarjana pertama yang melakukan kajian terhadap situs Gunung Penanggungan ialah V.R.van Romondt (1951), hasil studinya berjudul: Peninggalan-Peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan. Hasil penjelidikan di Gunung Penanggungan selama tahun 1936, 1937, dan 1940 dan Beberapa peninggalan purbakala di Gunung Ardjuno dikundjungi dalam tahun 1939. Djakarta: Dinas Purbakala Republik Indonesia. Untuk hasil kajian terbaru terhadap situs Gunung Penanggungan dapat dibaca buku Arkeologi Pawitra (2016), karya Agus Aris Munandar, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.


DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Benedict R.O.G., 1969. Mythology and the Tolerance of the Javanese. Monograph Series. Modern Indonesian Project Southeast Asia Program, Department of Asian Studies Cornell University, Ithaca, New York.

Bernet Kempers, A.J., 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P.J.van der Peet.

Bosch, F.D.K., 1961. “The Oldjavanese bathing-place Jalatunda”, dalam Selected Studies in Indonesian Archaeology. The Hague: Martinus Nijhoff. Halaman 4—107.

Brandes, J.L.A., 1920. Pararaton (Ken Arok): Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen Deel LXII. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Hardjowardojo, Pitono, 1965. Pararaton. Djakarta: Bharatara.

Fontein, Jan, R.Soekmono & Satyawati Suleiman, 1972. Kesenian Indonesia Purba: Zaman-zaman Djawa Tengah dan Djawa Timur. The Asia Society Inc. & New York Graphic Society Ltd. New York: Franklin Book Programs.

Moertjipto, Bambang Prasetyo, Indro Dewa Kusumo & Darmoyo, 1991. Relief Ramayana Candi Prambanan. Yogyakarta: Kanisius.

Munandar, Agus Aris, 1998—99. “Hubungan Bali dan Jawa Timur: Kajian terhadap Arsitektur Keagamaan dalam Abad ke-10—11 M”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, 12—16 Maret 1996. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta. Halaman 9—21.

———–—, 2010. Gajah Mada Biografi Politik. Depok: Komunitas Bambu.

————–, 2011. Catuspatha: Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Nivedita, Sister & Ananda K.Coomaraswamy, 1994. Hindus and Buddhists: Myths and Legends. London: Senate, Studio Editions.

Pigeaud, Th.G.Th., 1924. De Tantu Panggelaran: Een-Oud-Javaansche Prozageschrift Uitgegeven, Vertald en Toegelicht. Dissertasi Rijksuniversiteit te Leiden ’s-Gravenhage: Nederlandsche Boeken Steendrukerij vh.H.L.Smits.

Poerbatjaraka, R.M.Ng., 1968. Tjeritera Pandji dalam Perbandingan. Djakarta: Gunung Agung.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. dan Tardjan Hadidjaja, 1957. Kepustakaan Djawa. Djakarta: Djambatan.

Prasetyo, Bagyo & Nurhadi Rangkuti (Editor), 2015. Pernak-pernik Megalitik Nusantara. Yogyakarta: Galang Pres & Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Ras, J.J., 2014. Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univerasitas Indonesia, Yayasan Naskah Nusantara, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Satari, Sri Soejatmi, 1987. “Penerapan dan Pengaruh Karya sastra Hindu pada Relief Candi”, dalam 10 Tahun Kerjasama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Ecole Française d’Extrême-Orient (EFEO). Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Halaman 23—42.

Soepomo, S. 1972. “Lord of  the Mountais in the Fourteenth Century Kakawin”,  dalam BKI. deel 128. The Hague: Martinus Nijhoff.  Halaman 282—297.

Soeratno, Siti Chamamah, 1997. “Naskah Lama dan Relevansinya dengan Masa Kini”, dalam Tradisi Tulis Nusantara: Kumpulan Makalah Simposium Tradisi Tulis Indonesia 4—6 Juni 1996. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Halaman 7—33.

Zoetmulder, P.J., 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 1: A-O. Bekerja sama dengan S.O.Robson. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

*Makalah ini telah disempurnakan dan dikembangkan setelah disajikan dalam seminar Festival Naskah Nusantara, “Mahabharata: Epos Kepahlawanan Sepanjang Zaman”, Perpustakaan Nasional, Jakarta, September 2015

Agus Aris Munandar
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia (FIB UI)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: