Oleh: hurahura | 6 November 2019

Menempatkan Arkeologi dalam Rangka Pembebasan

Ilustrasi: ekskavasi situs Tondowongso (Foto: Antara/Prasetia Fauzani)

Penafsiran data dan publikasi arkeologis yang ada, secara tak langsung membentuk klaim dan pemahaman bahwa bangsa Indonesia dahulu adalah bangsa yang besar dan banyak pencapaian. Sebagaimana yang sering diungkapkan, tinggalan arkeologis menunjukan bahwa bangsa Indonesia memiliki teknologi kemaritiman yang canggih pada masa prasejarah dan masa klasik.  Toleransi juga terjadi di masa lampau, sebagaimana yang ditunjukan dalam peninggalan Kerajaan Majapahit. Selain itu, akulturasi yang diwujudkan dalam arsitektur bangunan, menunjukan kearifan dan kekayaan spiritual bangsa Indonesia di masa lampau. Kesimpulan-kesimpulan semacam itu mudah kita temukan dalam tulisan arkeologis belakangan ini.

Tidak seharusnya kita berputar pada satu sisi saja dalam mengembangkan data arkeologis, apalagi sibuk membanggakan kebudayaan dari masa lampau. Romantisisme dan kelupaan pada sisi lain dari kebudayaan di masa lampau, akan menjadi konsekuensinya. Konsekuensi ini semakin diperburuk apabila mengingat bahwa sejarah manusia menampilkan perubahan makna dan cara berpikir. Makna dan cara berpikir dari masa lampau barangkali tidak bisa menghadapi era postmodern. Akhirnya arkeologi di Indonesia belum bisa menjawab kebutuhan ‘kepala’ pubik, yaitu memunculkan antitesis sebagai rangsangan untuk dialektika.


Cara berpikir

Tidak heran apabila produk pikiran manusia yang lama, masih menjerat kepala manusia saat ini. Kasta, rasisme dan mitos adalah sebagian produk pikiran yang dimaksud. Manusia yang masih terjebak dalam wacana atau ide semacam itu, tentu saja mengalami keterbelakangan cara berpikir, sehingga terdapat kecacatan dalam menyikapi fenomena masyarakat dan eksistensi dari berbagai gagasan. Dalam menghadapi hal semacam inilah arkeologi dapat lebih berguna.

Dengan menyadari konsekuensi tersebut, kita bisa membangun tujuan yang berbeda dalam mempelajari sejarah kebudayaan, yaitu bukan dalam rangka mengulanginya, tetapi untuk terbebasnya darinya. Tujuan ini bisa dianggap sebagai langkah yang radikal (sikap yang merangsang kemajuan dan perubahan). Nasionalisme yang masih mempengaruhi penafsiran data arkeologis, harus disingkirkan terlebih dahulu supaya tujuan ini bisa dipegang. Artinya, kita perlu keberanian dalam melihat masa lampau.

Jika menggunakan sudut pandang tertentu, kita dapat mengungkapkan bahwa makna, ide, hingga fiksi yang dipercayai sebenarnya tidak terlepas dari realitas sosial dan cara memenuhi kebutuhan yang terkurung dalam kondisi lingkungan (aspek material dalam kebudayaan materi). Hal ini karena arkeologi tidak hanya mencari tahu atribut dan latar belakang tinggalan dari masa lampau, tetapi juga bisa menyelidiki proses terbentuknya. Latar belakang artefak sebagian memiliki makna, ide dan fiksi yang dipercayai di masa lampau. Jika ditelusuri lebih lanjut, boleh jadi kita akan menemukan hal yang dipercayai dan dianggap benar, sebenarnya merupakan hasil dari penghayatan terhadap realitas yang kemudian dituangkan dalam kebudayaan materi. Karena itu, kajian arkeologi yang kritis dapat menunjukan bahwa realitas sosial dan cara manusia memproduksilah yang menentukan kesadaran dan bentuk dari ide, bukan sebaliknya.

Selain sudut pandang di atas, kita bisa menggunakan pemikiran Michel Foucault saat melihat masa lampau. Michel memerkenalkan konsep diskontinuitas, karena sejarah manusia menampilkan perubahan episteme. Untuk mengetahui episteme dalam masyarakat dari masa lampau, apriori atau pengetahuan dan wacana yang tersembunyi harus diketahui terlebih dahulu. Hal ini bisa saja kita lakukan dalam menganalogikan artefak sebagai teks. Kita bisa sampai pada kesimpulan sederhana bahwa perubahan kebudayaan merupakan perubahan wacana dan pengetahuan yang menguasai, bahkan sampai menentukan bentuk kebenaran.


Diskontinuitas

Dengan mengetahui proses terbentuk makna dan ide yang menjadi dogma, kemudian dalam sudut pandang yang lain kita mengenal diskontinuitas, kita mungkin bisa terbebas dari keterbatasan yang membentuk sistem pemahaman di masa lampau. Di sinilah peran arkeologi  dalam proyek pembebasan. Akhirnya, kita bisa mengakhiri pengaruh dari kepercayaan tertentu yang sebenarnya terbentuk karena suatu kondisi ekonomi; atau kita tidak perlu percaya bahwa manusia memiliki derajat sesuai keturunan (kasta atau fiksi berupa hierarki dalam kerajaan) dan juga tidak lagi terjebak dalam rasisme, karena kedua ide itu dahulu bisa saja muncul karena membenarkan eksploitasi manusia dan menjalankan kekuasaan, atau untuk membentuk pendisiplinan.

Potensi ini harus direspon dengan keterbukaan pada berbagai teori dan sudut pandang. Hal ini dapat mengundang kita untuk menggunakan sudut pandang yang radikal. Beragam interpretasi data arkeologis juga akan timbul, sehingga kita tidak perlu dikuasai oleh satu interpretasi. Dengan begitu, kita bisa menggunakan arkeologi untuk terbebas dari masa lampau dengan memunculkan antitesis, tapi juga tidak perlu terperangkap dalam suatu hasil interpretasi data.


Referensi

Magetsari, Noerhadi. 2016. Perspektif Arkeologi Masa Kini. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Harari, Yuval Noah. 2017. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
———.2015.Marx, Kapital & Antropologi: Kumpulan Tertulis Antropologis Marxis. Ultimus.
Wiradnyana, Ketut. 2018. Michel Foucault: Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Malaka, Tan. 2014. Madilog; Materialisme, Dialektika dan Logika. Penerbit Narasi.
Adlin, Alfathri.——. Michel Foucault: Kuasa/Pengetahuan, (Rezim) Kebenaran, Parrhesia. UIN Gunung Djati Bandung
http://teraserwin.blogspot.com/2015/07/michel-foucault-kekuasaan-wacana-dan.html


Oleh:
M. Sobar Afahri
Arkeologi Universitas Jambi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori