Oleh: hurahura | 31 Desember 2016

Nisan Raja Nara Singa II dan Nisan Jendral Verdicho Marloce

laras-01Nisan Raja Nara Singa II (Do. Saharan, Jupel Situs Nara Singa II )

Pada masa Islam, makam atau kuburan merupakan salah satu gejala arkeologi sebagai hasil karya dan teknologi manusia yang cukup menonjol. Umumnya dalam Islam jenazah dikubur di dalam tanah, kemudian di atas tanah diberikan suatu tanda. Bentuk tanda tersebut, lazim disebut nisan, tergantung dari siapa yang dikuburkan ataupun tergantung kebudayaan masyarakat setempat.

Kata nisan diserap dari Bahasa Parsi, mizan. Di Minang dan Banjar, nisan dikenal dengan nama mejan, sedangkan di Jawa dan Sunda nisan dikenal dengan nama paesan atau maesan. Paesan atau maesan berasal dari bahasa Jawa Kuno, pa-hyas yang berarti hiasan. Kata pahyas kemudian berubah menjadi paes dan maes. Dalam Bahasa Jawa Baru pahyas berarti menghias. Jadi fungsi paesan (nisan), menurut Suwedi Montana (1978), sebagai tanda peringatan untuk makam dan sekaligus sebagai hiasan makam.

Di Indonesia, nisan diartikan sebagai batu atau benda lain berupa bidang yang terdapat pada ujung jirat untuk menuliskan nama orang yang dimakamkan. Nisan pada awalnya terbuat dari kayu, kemudian setelah jiratnya dibangun dari batu, barulah nisan dibuat dari batu juga (Ayatrohedi 1982: 176). Di Indonesia, nisan kubur ditampilkan dalam berbagai bentuk, di antaranya menyerupai meru, lingga, dan phalus dengan pola yang berbeda (Ambary, 1977: 26).

Ambary (1985) melakukan kajian terhadap nisan makam-makam Islam yang menghasilkan tipologi. Menurutnya,  tipe nisan yang paling menonjol di Nusantara adalah tipe Aceh, tipe Troloyo, tipe Bugis Makassar, dan tipe Ternate (Ambary, 1984: 342-363).


Raja Nara Singa  II

Makam Raja Nara Singa II terletak di komplek makam Raja-raja Indragiri, Riau. Raja Nara Singa II adalah seorang tokoh Kerajaan Indragiri pada abad ke-14 M dan menjadi Sultan Kerajaan Indragiri ke-4 dengan Gelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah FilAlam. Ia dinobatkan pada 1423 M dan wafat pada 1532 M. Makamnya terdapat di Negeri Menduyan, sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Indragiri dahulu kala. Sekarang menjadi Desa Kotalama,  Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.

Situs Makam Raja Nara Singa II dirawat oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP), sekarang menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar.  Yang masih dipertanyakan,  bagaimana tipologi nisan pada makam itu.

Nisan Makam Raja Nara Singa II telah dilakukan konservasi dan perawatan rutin. Saat ini warna batu, relief, dan ornamen terlihat jelas. Nisan tersebut terbuat dari batu andesit dengan ukuran bagian tapak bawah 32 cm x 47 cm dan bagian pinggang berukuran lebar 31 cm dengan ketebalan 21 cm. Sementara bagian sayap/tanduk berukuran 49 cm x 21 cm dengan tinggi 78 cm. Kedua batu nisan berukuran sama.

Pada bagian atas batu nisan terdapat relief atau ukiran berbentuk Trisula membentuk sebuah Mahkota Raja. Makna yang terkandung adalah Keagungan Filosofi Adat sebagai sendi dasar kehidupan yang berbunyi Adat bersendi Syarak, dan Syarak bersendikan Kitabullah. Pada Makam Raja Nara Singa II terdapat dua buah batu nisan tipe Aceh yang terbuat dari batu andesit dan sebuah jerat asli yang terbuat dari batu granit. Bentuk nisan tipe Aceh itu berasal dari abad ke-15 M.

Di kawasan tersebut juga terdapat makam Jendral Verdicho Marloce. Ia seorang panglima perang Portugis yang menjadi tawanan Raja Nara Singa II ketika merebut kota Malaka dari kekuasaan Portugis. Jendral Verdicho Marloce dibawa ke Kerajaan Indragiri, kemudian diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Ekonomi.

laras-02

Nisan Makam Jendral Verdicho Marloce (Dok. Saharan)

Pada makam Jendral Verdicho Marloce terdapat dua buah batu nisan bertipe Aceh yang terbuat dari batu granit. Makam itu dilengkapi relief ukiran mahkota dan lambang salib yang menggambarkan identitas diri dari paham agamis yang dianutnya.

Dua buah batu nisan bertipe Aceh tersebut satu di antaranya dalam kedaan rusak (patah).  Batu nisan itu memiliki ukuran pada bagian kaki 25 cm x 9 cm, bagian badan berukuran 20 cm x 9 cm x 30 cm, bagian punggung berukuran 25 cm x 7 cm x 9 cm, dan bagian kepala berukuran 9 cm x 9 cm. Ukuran tinggi keseluruhan 48 cm. Bentuk nisan tipe Aceh tersebut berasal dari abad ke-15 M.


Daftar Pustaka

Ambary, Hasan Muarif. 1991. Makam-Makam Kesultanan dan Para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, Aspek-Aspek Arkeologi. Jakarta: Puslitarkenas.

Koentjaraningrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Aksara Baru.

———————. 1974. Pengantar Antropologi. Cetakan ke-5. Jakarta: Aksara Baru.

Nurhakim, Lukman. 1987. Tinjauan Tipologi Nisan Makam Kuno di Indonesia, Proceedings Analisis Hasil Penelitian Arkeologi I, Jakarta: Depdikbud.

*********

Penulis: Laras Sahara
Mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Jambi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: