Oleh: hurahura | 9 Mei 2016

Organisasi Profesi dan Pelestarian Cagar Budaya

Profesi-2Dari kiri ke kanan: Junus Satrio Atmodjo (IAAI), Restu Gunawan (MSI), Candrian Attahiyyat (moderator), Ahmad Djauhari (IAI), dan Idham Bachtiar Setiadi (AAI).

Selasa, 26 April 2016 lalu berlangsung diskusi bersama bertopik “Peran Organisasi Profesi dalam Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Perkotaan”. Para peserta terdiri atas Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Dalam pandangan arkeologi, dewasa ini banyak kota besar di Indonesia melakukan penataan kota untuk mewujudkan peningkatan akses penduduk terhadap lingkungan permukiman yang berkualitas, sekaligus mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019. Penataan kota juga ditujukan untuk menghindari bencana seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, dan erupsi gunung.

Penataan atau revitalisasi biasanya dilakukan pada kawasan yang terjadi penurunan kualitas fisik dan nonfisik yang disebabkan antara lain penurunan produktivitas ekonomi, degradasi lingkungan dan/atau kerusakan warisan budaya.

Salah satu contohnya, saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menata kawasan Pasar Ikan dan Luar Batang. Sebagian orang yang terdampak penataan akan direlokasi ke rumah susun.


Ilmuwan

Sejak lama dalam kasus di kota-kota besar, utamanya Jakarta, yang menjadi masalah adalah ketidakhadiran atau tidak dilibatkannya para ilmuwan terkait dalam proses pembangunan. Misalnya arkeolog yang berurusan dengan kawasan cagar budaya, antropolog yang berurusan pada sosial budaya setempat, arsitek yang berurusan dengan rencana pembangunannya, dan sejarawan terkait sejarah perkembangan kota. Ketidakhadiran ini membuat masalah menjadi mudah dipolitisasi.

Profesi-1Para peserta diskusi dari empat bidang keilmuan ditambah undangan dari instansi terkait

Seharusnya keempat profesi, yang masing-masing memiliki organisasi, bersatu menjadi kekuatan pelestari dan memberi masukan yang konstruktif. Bahkan dapat membantu tercapainya pengertian tentang bagaimana seharusnya melaksanakan penataan kawasan yang mempunyai predikat bersejarah maupun etnografis tersebut.

Pengalaman yang sudah lalu memang suara para ilmuwan tidak pernah ditanggapi positif. Malah mereka dituding negatif, yakni menghambat pembangunan. Akibatnya sejumlah bangunan bersejarah dan situs, terutama di kota-kota besar macam Jakarta, roboh secara perlahan-lahan untuk digantikan bangunan modern berorientasi bisnis.

Sejak 1970-an pembangunan jalan, properti, dan fasilitas lain telah mengubah wajah Jakarta menjadi Kota Metropolitan. Berbarengan dengan itu, perpindahan penduduk pun mulai marak. Ironisnya, berbagai tempat kosong seperti kolong jembatan dan bantaran sungai, perlahan-lahan mulai berubah fungsi menjadi tempat tinggal kaum pendatang itu. Kawasan cagar budaya pun sering kali ditempati. Muncullah permukiman kumuh yang kita kenal sekarang.

Sayangnya berbagai bentuk pembangunan kota tidak terencana dan terkontrol dengan baik. Dalam kurun waktu sekitar 40 tahun tercatat banyak bangunan kuno dan situs bersejarah rusak, hilang, hancur, dan beralih fungsi karena proses pembangunan fisik itu.

Sekadar membuka catatan lama, Hotel der Nederlanden digantikan Gedung Bina Graha. Situs Tugu rusak karena perluasan permukiman penduduk. Situs Pejaten hancur karena proyek real estate. Situs Ancol tertutup tempat rekreasi. Sejumlah situs tergerus pembangunan jalan layang, kondominium, dan pusat-pusat perekonomian.

Pesatnya kegiatan pembangunan kota menyebabkan keberlangsungan sisa-sisa masa lalu tersebut semakin menghadapi masa kritis. Pembangunan fisik memang akan menggairahkan roda perekonomian masyarakat. Namun pembangunan kota modern itu mengesampingkan aspek-aspek sejarahnya. Di lain pihak, ada tuntutan untuk mempertahankan atau melindungi bangunan-bangunan lama agar sifat khas kota terjaga dengan baik.


Pasar Ikan

Sebenarnya mempermodern kota dan mempertahankan warisan budaya sama-sama melaksanakan pembangunan. Karena salah mengartikan pembangunan, maka acap kali yang menjadi korban adalah bangunan-bangunan lama. Untuk itu, kita perlu memikirkan dilema ini dan memecahkannya bersama agar semua pihak yang berkepentingan dapat menjalankan porsinya masing-masing tanpa mengecilkan atau merugikan pihak lain. Artinya, pembangunan fisik itu harus dapat terus berlangsung tanpa menghilangkan atau merusakkan warisan masa lalu. Diharapkan pembangunan fisik dapat berjalan bersama pelestarian sejarah/budaya.

Bahkan kalau memungkinkan menciptakan keharmonisan di antara pihak-pihak yang saling bertentangan. Dengan demikian secara bersama-sama dapat menghasilkan sebuah strategi perencanaan kota untuk mempertahankan nilai sejarahnya yang unik sekaligus mengembangkannya menjadi tontonan berkualitas tinggi (Martono Yuwono, 1987).

Saat ini situs-situs yang rawan terdapat di pusat kota lama. Lebih dari 200 situs dan bangunan kuno terdapat di sana. Puluhan, bahkan mungkin ratusan situs lagi, terdapat di luar pusat kota, termasuk di daerah pinggiran dan sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

Melestarikan keindahan kota agar generasi mendatang dapat menikmati bangunan-bangunan bukti sejarah kota Jakarta, jelas merupakan kegiatan penting. Meskipun pihak pelestari memiliki program konservasi didukung Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), tetap saja program pelestarian belum dapat berjalan lancar. Begitu pun adanya Studi Kelayakan Arkeologi (SKA), sering kali diabaikan.

Dimensi ekonomi memang selalu dianggap lebih penting daripada dimensi budaya. Padahal, upaya konservasi akan memperkaya khasanah pengetahuan sejarah, arkeologi, budaya, dan arsitektur. Apalagi warisan-warisan lama di Jakarta pada dasarnya memiliki nilai-nilai arsitektur perkotaan, sebuah modal untuk menarik pelancong.

Saat ini di kawasan cagar budaya Pasar Ikan dan Luar Batang terdapat berbagai objek, seperti masjid, tembok kota Batavia, Museum Bahari, Menara Syahbandar, tempat pelelangan ikan, dan pasar heksagon. Pemerintah provinsi DKI berencana memugar kawasan tersebut menjadi kawasan wisata bahari dan wisata religi. Saat ini tim ahli tengah mengkaji bangunan mana saja yang hendak dipugar beserta komponennya.

Diharapkan keempat organisasi profesi terkait bisa diajak bekerja sama untuk revitalisasi Pasar Ikan dan Luar Batang. Misalnya kemungkinan mendirikan museum terapung dengan kapal layar persis berhadapan dengan Museum Bahari. Atau juga menghidupkan wisata etnik dan wisata religi, dengan melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam wilayah tertentu sebagaimana kehidupan pada masa kolonial.

“Mari kita mengindahkan semua pertimbangan mulai dari segi antropologis, arkeologis, dan menimang sejarahnya. Kita harus paham konsekuensinya,” jelas Ketua Umum IAI Ahmad Djauhari.

Ketua Umum AAI Idham Bachtiar Setiadi mengharapkan, “Peran organisasi profesi di sini adalah sebagai komunikator pengetahuan, menghimpun dan mendistribusikan ilmu, serta membantu dan mengawal konseptualisasi pengetahuan untuk aplikasi dalam perencanaan.”

Menurut Sekretaris Umum MSI Restu Gunawan, dari segi sejarah diharapkan mendorong aktivitas masyarakat untuk melakukan peningkatan kemampuan dan minat terhadap sejarah perkotaan. “Pada awalnya masyarakat harus peduli terlebih dahulu. Hal ini dimulai dengan mendorong guru sejarah di daerah untuk mengenalkan berbagai situs bersejarah di kotanya masing-masing melalui proses pembelajaran media luar ruang,” kata Restu.

Ketua Umum IAAI Junus Satrio Atmodjo meminta, publik tidak dibingungkan oleh berbagai kebijakan mengenai cagar budaya. Hal ini perlu disosialisasikan dan membangun living culture collecting memory.

Kita harap hasil kegiatan akan membuat kesepakatan bersama untuk membentuk satuan tugas perencanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan penataan kawasan (bersejarah) dengan tetap memperhatikan pelestarian tangible dan intangible. Semoga hasil yang disampaikan keempat organisasi profesi ditindaklanjuti oleh pihak pengambil keputusan. (Djulianto Susantio)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: