Oleh: hurahura | 21 Februari 2018

Peran Manik-manik, Dulu hingga Sekarang

Manik-buniManik-manik Situs Buni, Bekasi (Foto: Jofel E Malonda)

Manik-manik adalah benda yang banyak dijumpai dalam kehidupan manusia. Temuan manik-manik terdapat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Manik-manik banyak ditemukan dalam penelitian arkeologi karena daya tahan dari benda tersebut relatif kuat. Benda yang berbahan batu ataupun kaca tidak mudah terurai oleh alam. Manik-manik merupakan butiran benda kecil dari biji-bijian, kulit telur, merjan, kerang, tulang, gading, kaca, logam atau batuan yang diberi lubang dan diuntai menjadi perhiasan (Permana, 2016: 206).

Butiran benda kecil ini memiliki ragam jenis dan fungsi yang berbeda-beda karena manik-manik memiliki nilai dalam penggunaannya. Manik-manik bernilai keindahan atau seni karena sering digunakan sebagai perhiasan, yang selanjutnya menandakan strata sosial suatu individu. Manik-manik dalam komunitas tertentu dianggap memiliki nilai magis (sakral) untuk penolak bala atau sebagai jimat (amulet), bahkan sering digunakan dalam prosesi-prosesi upacara adat. Selain itu manik-manik merupakan benda yang unik, dapat dibuat dari bahan yang sederhana seperti kerang-kerang yang diuntai ataupun dengan proses pengerjaan yang rumit. Ini karena manusia sudah mengenal cara mengendalikan api (pyrotechnology) sehingga bisa menghasilkan manik-manik berbahan kaca atau logam dengan kualitas yang lebih baik.


Manik-Manik Masa Lampau

Manik-manik banyak ditemukan arkeolog dengan konteks yang berbeda-beda, seperti yang ditemukan di Pulau Kampai, Sumatera. Ketika itu ditemukan 1797 butir manik-manik yang diperkirakan sebagai salah satu tempat peniagaan. Temuan manik-manik dengan kuantitas yang cukup banyak, yakni 768 butir, juga ditemukan di Situs Pangkung Paruk, Buleleng, Bali. Diperkirakan merupakan bekal kubur karena ditemukan pada situs penguburan.

Temuan lainnya dari Anyer, Banten yang merupakan bekal kubur karena  berasosiasi dengan kubur, seperti halnya penemuan manik-manik di Gilimanuk, Bali yang bersamaan dengan kubur tanpa wadah ataupun dengan wadah/sarkofagus. Manik-manik diletakkan di beberapa bagian rangka seperti di leher, pergelangan tangan, pinggang, dan mata kaki (Yuliati, 2012: 4-5). Temuan manik-manik tidak selalu dalam jumlah besar. Ada juga yang ditemukan dengan jumlah sedikit seperti pada Situs Kampung Kramat dan Kelapa Dua, Jakarta. Pada kedua situs masing-masing hanya ditemukan dua buah. Lain halnya dengan Situs Buni, Bekasi. Di situs itu banyak ditemukan manik-manik. Namun sulit dilakukan analisis mendalam karena banyak penggalian liar oleh penduduk. Bahkan diperjual-belikan sehingga sulit dilihat konteksnya.

Manik-manik juga tersebar luas di bagian timur Indonesia, seperti di Papua. Manik-manik kaca yang ada di Papua diperkirakan berasal dari kontak dagang dengan Cina ataupun dari industri lainnya di Nusantara. Manik-manik tertua di Papua ditemukan di Situs Yamokho (Sentani) melalui ekskavasi pada lapisan abad IX Masehi (1253 ±43 BP) berdasarkan pertanggalan laboratorium The University of Waikato (Mahmud, 2014:130).


Objek wisata

Tidak berhenti pada masa lampau, produksi manik-manik juga masih berlanjut hingga masa modern saat ini. Tempat produksi manik-manik di Jawa yang terkenal adalah Kampung Pengrajin Manik-Manik Kaca Jombang, Desa Plumbon Gambang, Jombang, Jawa Timur. Tempat ini menyediakan berbagai aksesoris manik-manik kaca dengan berbagai jenis dan ukuran, bahkan proses pembuatan manik-manik tersebut dapat dilihat secara langsung. Tidak hanya sebagai perhiasan dan objek wisata, ternyata manik-manik masih digunakan oleh banyak suku di Indonesia. Industri manik-manik oleh Suku Irires (Papua) masih ada dan diperdagangkan untuk mas kawin di daerah Teluk Cendrawasih dan Kawasan Leher Burung Pulau Papua. Manik-manik memiliki nilai tukar tinggi bagi masyarakat Papua karena dapat digunakan sebagai warisan, simbol status atau bahkan tabungan.

Di Kalimantan, manik-manik masih digunakan oleh Suku Dayak Maloh Sungulo Apalin dan Dayak Taman Mendalam sebagai sarana upacara perkawinan, seperti tanda pengikat pertunangan ataupun sebagai mas kawin. Di Sumba  salah satu fungsi manik-manik sebagai penanda stratifikasi sosial beberapa golongan berdasarkan jenisnya, seperti jenis mutisalah, mutibata, dan mutiraja.

Manik-manik sudah lama menjadi bagian dari kehidupan manusia. Seiring perkembangan kebudayaan, jenis dan fungsi manik-manik juga semakin beragam. Digunakan sebagai barang yang bersifat profan maupun sakral. Penemuan manik-manik merupakan bagian dari revolusi budaya manusia karena fungsi dan kualitasnya yang penting sehingga masih diproduksi dan digunakan dari dulu hingga sekarang.


Daftar Pustaka

  • Akbar, Ali 2007, Zaman Prasejarah di Jakarta dan Sekitarnya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Depok.
  • Mahmud, M. Irfan 2014, ‘Alat Tukar Lokal dan Impor di Papua’, Amerta, Vol. 32 No. 2.
  • Anonim, Kerajinan Manik-Manik Kaca Jombang, Jombang City Guide, diakses pada tanggal 15 Februari 2018, http://jombangcityguide.blogspot.co.id/2012/02/kerajinan-manik-manik-kaca-jombang.html
  • Permana, R. Cecep Eka 2016, Kamus Istilah Arkeologi-Cagar Budaya, Wedatama Widya Sastra, Jakarta.
  • Soedewo Ery 2015, ‘Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan dan Keruntuhan Perniagaan Pulau Kampai’, Kalpataru, Vol. 24 No. 2.
  • Susantio, Djulianto, Koleksi Manik untuk Mengurai Masa Lampau, Majalah Arkeologi Indonesia, diakses pada 15 Februari 2018, https://hurahura.wordpress.com/2010/03/15/koleksi-manik-untuk-mengurai-masa-lampau/
  • Yuliati, Luh Kade Citha 2012, ‘Kajian Manik-Manik dari Situs Pangkung Paruk, Buleleng, Bali’, Forum Arkeologi, Vol. 25 No. 1.

**************

Penulis: Jofel E Malonda, Mahasiswa Arkeologi Universitas Udayana
jofeleliezermalonda@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: