Oleh: hurahura | 21 November 2016

Konservasi Candi Borobudur, ‘Membuang-buang Duit’ Demi Pariwisata

konservasi-borobudur-2Perbaikan batu candi. Biasanya ada tanda khusus untuk batu baru (Dok. Pribadi)

Ada beberapa hal yang membedakan Candi Borobudur dengan candi-candi lain. Pertama, Candi Borobudur berbentuk paling besar. Karena itu Candi Borobudur dianggap sebagai monumen milik dunia. Kedua, Candi Borobudur termasuk bangunan unik, dalam arti badan candi bisa dinaiki banyak pengunjung sekaligus. Lokasi demikian sering menjadi sasaran utama para wisatawan.

Sesuai hukum alam, suatu benda semakin lama semakin lemah. Begitu pula tentunya dengan Candi Borobudur. Karena sering dinaiki pengunjung, kini kondisi candi semakin mengkhawatirkan. Hampir seluruh batu pada lantai dan undakan tangga, aus terkena gesekan alas kaki pengunjung. Batu-batu pada bagian lain, terutama pada sejumlah arca, juga rusak terkena jamur. Tidak dimungkiri, ini akibat kerap tersentuh tangan pengunjung yang berkeringat atau kotor. Beberapa kepala arca malah pernah patah, gara-gara sering digoyang tangan usil.

Selain manusia, Candi Borobudur acap mendapat ancaman dari kondisi cuaca, seperti panas, hujan, dan angin yang ekstrem. Menurut hasil penelitian, aliran air telah merusak batu-batu candi yang ada di bagian bawah. Penyebabnya adalah curahan air hujan yang merembes melalui sela-sela batu itu.

Sebenarnya perusakan dan pelapukan batuan candi, sudah diketahui sejak zaman Hindia Belanda. Upaya pencegahan pun pernah dilakukan seadanya. Namun setelah proklamasi kemerdekaan 1945, upaya tadi terlupakan kembali. Sebelum akhirnya tertangani lewat pemugaran besar-besaran pada 1970-an.

Sejak meletusnya Gunung Merapi akhir Oktober 2010 lalu, beban Candi Borobudur semakin berat karena abu-abu vulkanik menutupi seluruh permukaan candi. Abu ini dinilai membahayakan karena mengandung pH atau derajat keasaman sangat tinggi. Kalau tidak segera ditangani batu-batu candi bisa cepat lapuk karena proses kimiawi tersebut.


Amblas

Di antara sekian banyak faktor penyebab kerusakan, sejak lama faktor manusia paling sering disorot. Karena itu pernah ada wacana untuk membatasi jumlah pengunjung yang akan menaiki candi. Hal demikian dimaksudkan untuk mencegah perusakan dan pelapukan batuan candi akibat beban pengunjung. Biasanya pengunjung memang membludak pada hari-hari tertentu.

Pihak pengelola Candi Borobudur awalnya sangat berharap pada pembangunan sarana berupa taman wisata. Taman tersebut dimaksudkan untuk memecahsebarkan pengunjung yang mendatangi objek ini. Dengan banyaknya objek, seperti museum, atraksi gajah, dan art-shop, diharapkan pengunjung tidak akan terkonsentrasi pada satu objek saja, yakni bangunan candi.

Pada hari-hari biasa jumlah pengunjung Candi Borobudur 2.000-4.000 orang per hari. Namun pada saat liburan sekolah dan lebaran, jumlah pengunjung bisa mencapai 40.000-50.000 orang per hari. Bisa dibayangkan beban yang harus ditanggung Candi Borobudur. Semakin berat beban di atas, berarti semakin lemah dayadukung lingkungan candi.

Kelestarian Candi Borobudur pada dasarnya sangat tergantung dari prinsip-prinsip konservasi arkeologi. Di dalam arkeologi dikenal berbagai faktor perusak bangunan purbakala, yang secara umum terbagi dua, yakni non-manusia dan manusia. Di Candi Borobudur, sebagaimana penelitian 1985 (Djulianto Susantio, ‘Pengunjung dan Masalah Konservasi Candi Borobudur’), diketahui bahwa Candi Borobudur memiliki pondasi tanah yang labil karena terletak di atas bukit yang dipangkas bagian atasnya.  Kondisi akan semakin membahayakan apabila terjadi bencana alam atau gempa bumi.

Menurut penelitian 1985 itu, berbagai kerusakan yang terjadi karena faktor non-manusia antara lain tumbuhnya lumut dan jamur pada batu. Sementara yang disebabkan manusia adalah pengotoran, corat-coret, dan pengrusakan batu. Dalam kurun waktu 20 tahunan, ternyata pondasi Candi Borobudur telah amblas sedalam beberapa sentimeter. Selain akibat labilnya bukit penyangga, penyebab lain adalah tidak dapat menahan beban berat pengunjung di atasnya.


Konservasi dan Pariwisata

Salah satu tugas pokok arkeologi adalah melakukan konservasi. Konservasi menyangkut pengertian upaya memelihara dan memperbaiki peninggalan purbakala. Saat ini lembaga yang khusus menangani konservasi Candi Borobudur adalah Balai Konservasi Borobudur (BKB).

Dulu upaya penyelamatan Candi Borobudur selalu dikaitkan dengan program pemerintah di bidang kepariwisataan. Pemugaran yang memakan biaya jutaan dollar itu dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Rupanya kurang prediksi bahwa kepariwisataan malah menimbulkan kerusakan batu yang lebih besar pada Candi Borobudur sehingga menimbulkan kekhawatiran.

Pada masa Hindia-Belanda pernah terlontar upaya konservasi Candi Borobudur dengan membatasi jumlah pengunjung. Gagasan tersebut dikemukakan oleh panitia pemugaran pimpinan Th. Van Erp. Maksud utama pembatasan adalah untuk memperkecil jumlah kerusakan mekanis  yang disebabkan oleh manusia.

Menurut panitia itu, sebaiknya para pengunjung dikelompokkan menjadi rombongan tidak lebih dari 20 orang. Setiap kelompok itu harus disertai dan diawasi oleh seorang petugas pemandu. Pemikiran mereka sederhana saja, yakni karena terkoordinasi, maka keamanan candi lebih terjamin.

Namun kesulitan di lapangan adalah kedatangan pengunjung sukar dicegah atau dibendung. Ini karena sasaran utama pengunjung justru menaiki candi. Bahkan mencari-cari arca Kunta Bhima atau melakukan aktivitas potret-memotret di atas. Karena itu upaya memberlakukan peraturan kunjungan tidak membuahkan hasil maksimal.

Untuk waktu ke depan, seyogyanya perlu dipikirkan bagaimana cara untuk memecahsebarkan pengunjung candi. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak melulu menaiki candi. Diharapkan pengunjung akan memiliki sejumlah alternatif yang sama berkesannya seandainya mereka tidak menaiki candi secara langsung.

Secara teoretis, semakin banyak pengunjung yang menaiki candi, maka lantai candi akan semakin rusak atau aus karena gesekan alas kaki pengunjung. Karena itu pemakaian alas kaki karet atau bahan yang lembut, perlu diadakan untuk pengunjung. Masalah lain adalah kedisiplinan pengunjung. Mereka masih suka membuang sampah sembarangan. Ini juga perlu ditindaklanjuti oleh pengelola.

Candi Borobudur pernah diyakini akan mampu menampung dua asas sekaligus, yakni konservasi dan pariwisata. Namun tampaknya segi pariwisata lebih diuntungkan karena lapangan kerja semakin tersedia. Masyarakat sekitar bisa menghasilkan sekaligus menjajakan cendera mata, makanan, minuman, dan sebagainya. Devisa negara pun semakin bertambah.

Mengingat pentingnya konservasi, perlu diupayakan bagaimana pihak pariwisata berperan meminimalisasi tingkat kerusakan Candi Borobudur. Misalnya dengan menyelenggarakan kegiatan pariwisata yang terencana dan terkontrol dengan baik.

Konservasi dan pariwisata jelas hampir selalu bertolak belakang. Konservasi adalah kegiatan  yang berkesan ‘membuang-buang duit’. Sebaliknya, pariwisata adalah kegiatan yang ‘mendatangkan duit’, sehingga dianggap sebagai primadona. Dapat dikatakan konservasi Candi Borobudur  ‘membuang-buang duit’ demi kegiatan pariwisata. Bagaimana agar konservasi dan pariwisata berjalan sejajar, itulah masalah yang musti segera direalisasikan.***

Penulis: Djulianto Susantio


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori