Oleh: hurahura | 4 Januari 2018

Persembahan untuk Pejabat Menurut Prasasti

Prasasti-sankharaIlustrasi: Prasasti Sankhara (Sumber: Sejarah Nasional Indonesia 2, 1984)

Pembicaraan mengenai prasasti dalam usaha untuk mengetahui lebih jauh mengenai gambaran kehidupan masyarakat kuno di Indonesia, selalu saja menarik perhatian. Sampai saat ini di Indonesia telah dibuat lebih dari 3.000 cetakan kertas (abklats) dari prasasti batu dan prasasti logam yang ditemukan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Di antara keterangan-keterangan pada prasasti, terdapat penyebutan perintah raja yang diturunkan kepada sekelompok pejabat tinggi kerajaan dan diteruskan lagi kepada pejabat-pejabat yang lebih rendah kedudukannya (Boechari, 1977:8). Dari keterangan tentang jalannya perintah raja ini, dapat diperoleh gambaran tentang adanya kelompok-kelompok pejabat dalam suatu pemerintahan.

Setelah menyebutkan pejabat-pejabat kerajaan yang menerima perintah raja, prasasti kemudian menyebutkan hal pokok yang menyebabkan prasasti tersebut dikeluarkan. Peristiwa ini dapat bermacam-macam, namun yang paling banyak ditemukan adalah prasasti yang berkenaan dengan upacara penetapan sima suatu daerah yang biasanya juga dilengkapi dengan alasan yang menyebabkan daerah tersebut dilimpahi anugerah sima.

Penetapan sima pada suatu wilayah merupakan peristiwa yang cukup penting karena menyangkut perubahan status sebidang tanah, yang di dalam masyarakat Indonesia selalu mempunyai hubungan religiomagis dengan penduduk yang tinggal di atasnya. Keterangan selanjutnya adalah penyebutan kelompok mangilala drawya haji, yaitu suatu kelompok pejabat yang sering dianggap sebagai pejabat pemungut pajak yang sejak dikeluarkannya prasasti itu tidak diperkenankan lagi ‘memasuki’ daerah tersebut.


“Pasak-pasak”

Pada prasasti penetapan sima sering disebutkan tentang pemberian pasak-pasak atau persembahan yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dilimpahi anugerah kepada pejabat yang hadir dalam upacara tersebut.

Keterangan tentang pemberian pasak-pasak dalam prasasti penetapan sima merupakan bagian yang sangat penting. Ini karena besar dan kecilnya pasak-pasak yang diterima dapat membantu memberi keterangan tentang kedudukan para pejabat dalam suatu hirarki pemerintahan. Dari adanya pemberian pasak-pasak dalam prasasti ini pula kita dapat mengetahui bagaimana masyarakat Jawa Kuno menghargai arti sebuah pemberian.

Entah apa alasannya, penulisan pasak-pasak dalam sejumlah prasasti kadang berbeda-beda. Beberapa prasasti menuliskannya dengan pasak-pasak atau pasek-pasek. Prasasti-prasasti lain menyebutkan pasak atau pasek saja atau pasek pageh.

Istilah pasak-pasak banyak ditemukan pada masa Rakai Watukura Dyah Balitung (898-913 M) dan Pu Sindok Isanawikramadharmottunggadewa (929-948 M). Pasak-pasak tidak hanya diberikan kepada satu orang atau satu jenis jabatan saja, tetapi kepada beberapa orang yang jelas mempunyai kedudukan berbeda baik dalam struktur pemerintahan maupun struktur sosial masyarakatnya. Di dalam prasasti ditemukan unsur pasak-pasak yang berbeda baik jenis maupun jumlahnya.


Emas

Pada masa Balitung dan Sindok dari kerajaan Mataram ini pasak-pasak berupa mas (emas) hampir selalu ditemukan. Emas yang digunakan sebagai persembahan ini biasanya diberikan dengan satuan ukur berupa ma (masa), su (suwarna), ku (kupang), dan ka (kati). Dalam Prasasti Poh (903 M), misalnya, dikatakan …diberi pasak-pasak berupa wdihan kalyaga 1 yu emas sebanyak 1 su 4 ma…. Untuk gambaran, 1 suwarna = 0,038601 kg, 1 masa = 0, 002412 kg, dan 1 kupang = 0, 000603 kg.

Sayangnya tidak semua prasasti menyebutkan bagaimana bentuk dari hadiah emas tersebut. Hanya dari prasasti Kayu Ara Hiwang (901 M), Taji (901 M), dan Panggumulan (902 M) diketahui adanya istilah simsim pasada, singsim prasada, dan sisim pasada yang semuanya berarti cincin emas.

Sama seperti halnya emas, persembahan berupa pirak (perak) tidak disebutkan bentuknya. Sementara satuan ukuran yang dipakai adalah dha (dharana), ma (masa), dan ka (kati). Informasi ini diperoleh dari prasasti Panggumulan. Ini agak berbeda dengan prasasti Turu Mangambil (908 M) yang menggunakan satuan tahil. Untuk gambaran, 1 kati = 0,61761 kg dan 1 dharana = 0,038601 kg.

Unsur pasak-pasak berupa wdihan lebih banyak dijumpai pada prasasti masa Sindok daripada masa Balitung. Wdihan adalah sebutan untuk pakaian laki-laki, karena itu biasanya diberikan kepada pejabat laki-laki. Prasasti Alasantan (939) menyebutkan wdihan diberikan dalam satuan yu (yugala) yang berarti pasang dan dalam satuan hlai (helai).

Setiap pejabat diberitakan mendapat satu pasang atau satu helai wdihan. Yang menerima lebih dari satu dan dari jenis yang berbeda-beda hanya raja sebagaimana diinformasikan oleh prasasti Sangsang (907 M).

Persembahan lain berupa ken atau kain dalam satuan ukur berupa hle, blah, atau wlah yang berarti helai. Kain diberikan untuk beberapa pejabat pria dan wanita. Ada kesan bahwa jenis kain yang diberikan sesuai dengan jabatan. Artinya makin tinggi jabatan, makin berkualitas kain yang diberikan.

Tidak hanya berupa barang, para pejabat pun sering kali menerima uang sangu. Dalam prasasti disebutkan berupa pangangkat panungsung atau sangu nira mulih yang berarti semacam ongkos jalan yang digunakan untuk pergi dan pulang dari tempat upacara. Selain itu diberikan hewan ternak berupa kbo (kerbau) dan wdus (kambing).

Tidak dimungkiri pasak-pasak merupakan persembahan atau hadiah balasan karena suatu desa telah ditetapkan menjadi sima. Masyarakat suatu desa tentu saja harus bekerja keras terlebih dulu untuk mengumpulkan dana sebagai kelengkapan upacara. Kebiasaan tersebut rupanya terus berlanjut hingga kini.***

Diolah dari tulisan Rita Fitriati, Pasak-pasak dari Prasasti Masa Balitung dan Sindok, Monumen, 1990/Djulianto Susantio)


Responses

  1. Salam Pak Djulianto Susantio, Saya Mehdy Zidane dari penerbit BUPINDO. Mohon minta nomor kontaknya, ada beberapa project penulisan dan penerbitan buku yang ingin saya komunikasikan kepada Bapak. Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: